Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GETAR YANG TAK LAGI SAMA
Bagi Adrian, Clarissa Mahendra dulunya adalah sebuah paradoks yang menyebalkan. Gadis itu memiliki segalanya untuk dicintai, namun ia memilih untuk melakukan segalanya agar dibenci. Berbulan-bulan Adrian menghabiskan waktu dengan rasa muak setiap kali melihat stiletto merah Clarissa mendekat, karena ia tahu, setelah itu pasti akan ada keributan atau air mata dari orang lain.
Namun, sore itu di taman belakang kampus, saat ia melihat Clarissa duduk sendirian dengan hijab kremnya yang tertiup angin, Adrian menyadari bahwa ia telah kehilangan sosok "musuh" lamanya. Sebagai gantinya, ada sesosok wanita yang pancaran matanya membuat jantung Adrian berdegup dengan irama yang jauh berbeda.
"Gue nggak pernah nyangka bakal lihat lo baca buku di tempat terbuka begini, Clar," suara Adrian memecah lamunan Clarissa.
Clarissa menoleh, memberikan senyum tipis yang kini terasa begitu tulus. "Gue juga nggak nyangka, Dri. Ternyata udara di luar sini lebih segar kalau kita nggak sibuk cari masalah sama orang."
Adrian duduk di bangku kayu yang sama, memberi jarak yang sopan. Ia menatap profil wajah Clarissa dari samping. Tanpa riasan bold, garis wajah Clarissa terlihat lebih lembut, lebih manusiawi. Ada bekas luka kecil di dekat pelipisnya mungkin bekas tindakan medis yang bagi Adrian justru tampak seperti tanda keberanian.
Adrian mengingat masa-masa di rumah sakit. Saat itu, ia datang hanya karena rasa kemanusiaan dan desakan Bastian. Namun, melihat Clarissa yang rapuh, mendengar rintihannya di balik masker oksigen, telah menghancurkan dinding prasangka di hati Adrian.
Ia ingat malam ketika ia pulang dari rumah sakit dan tidak bisa tidur. Bayangan Clarissa yang kehilangan rambutnya terus menghantuinya. Saat itulah Adrian sadar, rasa "kasihan" itu telah bermutasi menjadi sesuatu yang lebih dalam. Ia peduli. Ia ingin menjadi alasan Clarissa untuk tetap bangun keesokan harinya.
"Clar," panggil Adrian, suaranya sedikit lebih berat.
"Ya?"
"Lo tahu nggak? Waktu lo koma, gue sempat buat janji sama diri gue sendiri."
Clarissa menutup bukunya, menatap Adrian penuh tanya. "Janji apa?"
"Gue janji, kalau lo bangun, gue nggak akan biarkan lo ngerasa sendirian lagi. Gue sadar, kemarahan gue ke lo dulu itu karena gue nggak paham betapa lo lagi teriak minta tolong lewat cara yang salah."
Clarissa menunduk, jarinya memainkan ujung hijabnya. "Gue nggak pantes dapet janji itu, Dri. Gue sudah terlalu banyak nyakitin orang, termasuk lo."
Adrian menghela napas, ia memberanikan diri menatap mata Clarissa dengan intens. "Clar, dengar. Orang lihat perubahan lo sekarang sebagai 'tobat' atau 'pencitraan'. Tapi gue lihat ini sebagai kemenangan. Lo menang melawan maut, dan lo menang melawan ego lo sendiri. Dan itu... itu bikin gue nggak bisa berhenti mikirin lo."
Jantung Clarissa berdegup kencang. Ia belum pernah melihat Adrian se-serius ini. "Maksud lo?"
"Gue suka lo, Clarissa Mahendra. Bukan karena lo cantik pakai baju seksi, dan bukan juga karena sekarang lo pakai jilbab. Gue suka lo karena lo adalah orang paling berani yang pernah gue kenal. Lo berani berubah saat dunia lebih suka lo hancur."
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Hanya suara gesekan daun akasia yang terdengar. Clarissa merasa matanya memanas. Selama ini, ia merasa Adrian adalah puncak yang tak tercapai, cowok yang hanya akan mencintainya jika ia menjadi "ratu". Ternyata, Adrian justru mencintainya saat ia telah menanggalkan semua mahkotanya.
"Tapi Dri... gue masih sakit," bisik Clarissa lirih. "Leukemia ini... dia bisa balik kapan saja. Gue nggak mau lo terikat sama cewek yang masa depannya nggak pasti."
Adrian tersenyum, kali ini ia memberanikan diri menyentuh punggung tangan Clarissa sekejap sebelum menariknya kembali. "Masa depan siapa yang pasti, Clar? Gue bisa saja ketabrak mobil besok pagi. Yang penting buat gue adalah sekarang. Gue mau ada di samping lo, mau itu saat lo kontrol ke rumah sakit, atau saat lo lagi belajar hijrah begini."
Momen manis itu tiba-tiba terganggu oleh kedatangan Bianca yang tampak terburu-buru. Wajahnya terlihat panik sekaligus kesal.
"Clar! Lo harus lihat ini!" Bianca menyodorkan ponselnya.
Di sebuah grup chat angkatan, seseorang menyebarkan foto Clarissa yang sedang duduk berdua dengan Adrian. Captionnya sangat pedas: "Si Ratu Drama akhirnya pakai taktik jilbab buat dapetin Adrian. Strategi yang bagus, Clarissa!"
Clarissa menatap layar itu, lalu menatap Adrian. Ia merasa dunianya kembali diuji. Apakah ia akan meledak marah seperti dulu? Ataukah ia akan menangis dan lari?
Adrian berdiri, ia mengambil ponsel Bianca dan mengetik sesuatu di sana.
"Ini bukan strategi. Ini adalah Clarissa yang baru, dan gue adalah orang pertama yang bakal dukung dia. Kalau kalian punya masalah dengan itu, silakan bicara langsung sama gue." — Adrian.
Adrian mengembalikan ponsel itu pada Bianca yang melongo tak percaya. Adrian kemudian menoleh ke arah Clarissa. "Jangan biarkan mereka ambil kedamaian lo lagi, Clar."
Sore itu berakhir dengan Clarissa yang berjalan pulang menuju parkiran ditemani oleh Adrian. Bastian melihat mereka dari jauh, ia menyandarkan tubuhnya di mobil Porsche sambil bersedekap, sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya.
"Kayaknya ada yang sudah laku niat baiknya," goda Bastian saat mereka sampai di mobil.
"Diem lo, Bas!" sahut Clarissa, pipinya memerah sempurna di balik hijab kremnya.
Adrian berpamitan, namun sebelum ia pergi, ia membisikkan sesuatu pada Clarissa. "Besok gue jemput ya? Kita ada kelas pagi yang sama."
Clarissa hanya mengangguk pelan. Di dalam mobil, saat Bastian mulai menjalankan kendaraannya, Clarissa menatap bayangan dirinya di spion. Ia melihat seorang wanita yang tak lagi butuh gincu merah untuk merasa berani. Ia memiliki cinta kakaknya, restu ayahnya, dan kini... sebuah getaran tulus dari Adrian.
Namun, ia tahu perjalanannya masih panjang. Di dalam tasnya, masih ada botol obat yang harus ia minum tepat waktu. Ia harus tetap sehat, karena sekarang, ada seseorang yang sangat ingin ia ajak melihat masa depan.