NovelToon NovelToon
MEKANIK DARI LEMBAH BESI

MEKANIK DARI LEMBAH BESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: T28J

(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.

⚙⚙⚙

Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.

Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.

—T28J

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRAKENFORD ARC 9 - INTI MESIN

...Di kedalaman mesin yang sunyi......

......ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar berhenti berdetak....

...⚙⚙⚙...

Suara sesuatu yang seharusnya tidak bangun akhirnya bergerak di dalam tubuh Titan. Bukan sekadar bunyi gesekan logam biasa, tapi lebih dalam dari itu. Seolah suara yang datang dari sesuatu yang telah tidur sangat lama, dan kini perlahan mulai bergerak kembali.

Garis-garis cahaya tipis muncul mengikuti bentuk lingkaran pintu. Satu garis muncul, lalu diikuti yang lain. Saling terhubung satu sama lain hingga membentuk pola yang utuh.

Liora mundur setengah langkah ke belakang. Tangannya bergerak secara refleks, bersiap menghadapi apa saja yang mungkin terjadi.

“Arven… sepertinya kau menyalakan sesuatu.”

Arven menatap terus ke depan, nadanya tetap tenang. “Sepertinya Astraeus merespons Titan Wrench.” Pandangannya tak beralih sedikit pun, tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut yang terlihat.

GGRRRAAAKK...

Pintu itu mulai membuka. Gerakannya terasa berat, mengeluarkan suara dengungan rendah. Seketika cahaya berwarna biru menyembur keluar, memenuhi seluruh lorong sempit itu dengan sinar yang terasa hangat namun juga asing.

Ini bukan cahaya biasa. Kehadirannya terasa sangat nyata.

Arven melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun. Liora mendecakkan lidah pelan, namun akhirnya tetap mengikuti dari belakang.

Di hadapan mereka, ruangan luas terbuka dengan jelas. Berbentuk ruang silinder yang tinggi, seluruh dindingnya dipenuhi oleh lempengan-lempengan logam kuno yang tersusun rapi dan saling terhubung satu sama lain. Tidak ada baut yang terlihat kasar. Tidak ada sambungan yang dibuat asal-asalan. Semuanya tersusun dengan ketepatan yang sempurna.

Di antara celah-celah itu, aliran energi biru terlihat menyebar ke segala arah persis seperti akar tanaman yang hidup. Bergerak perlahan dengan irama yang teratur seolah memiliki nyawa sendiri.

Liora berhenti tepat di ambang pintu masuk. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, mengamati setiap sudut ruangan itu.

“…ini salah,” gumamnya. “Ini bukan bagian dari tambang mana pun yang pernah kulihat.”

Namun ucapan itu seolah tidak sampai ke telinga Arven. Seluruh perhatiannya kini sudah tertuju pada satu titik saja. Tepat di tengah ruangan itu, sesuatu terlihat melayang di udara.

Sebuah bola yang terbuat dari logam halus. Tampak diam di tempat, namun jelas tidak mati. Cahaya yang keluar dari dalamnya berdenyut perlahan, naik dan turun secara bergantian. Persis seperti detak napas. Persis seperti detak jantung.

Langkah Arven berhenti seketika. Matanya sedikit melebar. Tiba-tiba kenangan lama muncul kembali dengan jelas di benaknya, seolah suara itu baru saja diucapkan kemarin. Suara ayahnya yang tenang, dalam, dan terdengar pasti.

“Kalau suatu hari kau melihatnya… kau akan tahu.”

“Itu bukan sekadar inti energi.”

“Itu Proto Heart.”

Napas Arven seolah terhenti sejenak. Dadanya terasa berat, bukan karena rasa takut, tapi karena akhirnya semua pertanyaan yang selama ini ada di kepalanya mendapatkan jawaban.

“…jadi…” gumamnya pelan.

Ia kembali melangkah maju, bergerak dengan hati-hati seolah setiap langkah yang ia ambil sedang diawasi dengan teliti.

Cahaya biru itu menyentuh permukaan wajahnya. Terasa hangat, namun juga membawa perasaan yang asing.

Arven merasa benda itu mengenali siapa yang berdiri di hadapannya. “…kaulah yang disebut dengan Proto Heart.”

Liora menatapnya dengan tatapan bingung. “Proto apa?”

Arven tidak menjawab, bahkan tidak menoleh sedikit pun. Pandangannya tetap terpaku pada benda yang melayang itu.

Di tangannya, Titan Wrench mulai bergetar kembali. Gerakannya halus, stabil, dan berirama teratur. Bukan hanya mengikuti irama cahaya yang ada di hadapannya, tapi menyatu dengan sesuatu yang lebih dekat, lebih dalam, dan terasa sangat pribadi.

DUM... DUM...DUM...

Arven perlahan mengangkat tangannya. Napasnya terasa berat, dan suaranya nyaris hanya berupa bisikan. “…dan kaulah yang selama ini memanggilku.”

Suasana menjadi hening seketika. Tidak ada suara apa pun, tidak ada gerakan yang terlihat. Namun seolah seluruh bagian tubuh Astraeus di sekeliling mereka ikut menahan napas bersama-sama.

Liora menelan ludah perlahan. Matanya bergerak dari Arven, ke arah bola cahaya itu, lalu kembali lagi menatap Arven.

“…aku tidak tahu dengan siapa kau sedang berbicara,” katanya dengan suara pelan, “tapi aku benar-benar tidak suka suasana seperti ini.”

DUM...

Cahaya di tengah ruangan itu kembali berdenyut.

Kali ini terasa lebih kuat, lebih dalam, dan menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

Arven melangkah satu langkah lagi. Cahaya biru itu seolah membuka jalan, menyambut kehadirannya.

DUM...

Denyutan yang berasal dari bola logam itu tiba-tiba menjadi jauh lebih kuat. Bersamaan dengan itu, Titan Wrench di tangannya ikut bergetar dengan irama yang sama persis. Satu aliran, satu detak, menyatu sepenuhnya.

Liora langsung menegangkan seluruh tubuhnya. “Arven... jangan mendekat.”

Dalam sekejap, cahaya biru itu melebar dan memenuhi seluruh ruangan. Bukan menyilaukan mata, tapi justru terasa menyelimuti, memeluk, hingga perlahan menelan semuanya.

Segalanya menjadi sunyi. Tidak ada suara. Tidak ada rasa berat di tubuh. Bahkan rasanya seolah tubuh fisiknya sudah tidak ada lagi.

Lalu cahaya perlahan kembali, namun tampak kabur dan bergerak seperti kabut tebal. Rasanya sama seperti membuka mata, tapi pandangan ini bukan berasal dari matanya sendiri.

Arven mencoba menarik napas, tetapi tidak ada rasa udara yang masuk. Ia .encoba menggerakkan tangan atau kakinya, tetapi tidak ada yang bergerak sama sekali. Namun ia bisa melihat dengan sangat jelas. Atau lebih tepatnya, ada sesuatu yang melihat dunia ini melalui dirinya.

...⚙...

Di hadapannya terbentang sebuah gua yang sangat luas. Dindingnya menjulang tinggi, berwarna gelap dan penuh dengan retakan yang terlihat sudah ada sejak lama.

Di sana ada banyak orang. Mereka bergerak dengan langkah yang tergesa-gesa. Suara mereka terdengar samar, seolah terhalang oleh lapisan air yang tebal, namun satu perasaan jelas terasa, kepastian dan sedikit kesedihan.

Mereka membawa barang-barang penting, satu per satu dibawa keluar. Beberapa di antaranya sempat menoleh ke belakang, memandang ke arah tempat Arven berada sekarang. Namun tidak ada yang berhenti, tidak ada yang berbalik untuk kembali. Mereka semua pergi meninggalkan tempat ini, meninggalkan dirinya.

Di dalam dada Arven, atau di tempat perasaan itu muncul sekarang, ada tekanan yang perlahan terasa semakin berat. Perasaan sepi, kosong dan ditinggalkan begitu saja menyelimuti seluruh kesadarannya.

Di tengah kerumunan orang yang bergerak menjauh itu, satu sosok tiba-tiba berhenti melangkah.

Seorang wanita.

Langkahnya melambat, lalu ia berbalik sepenuhnya. Wajahnya tampak samar, tertutup oleh cahaya yang menyilaukan, namun entah mengapa rasanya sangat dekat. Terasa seperti sesuatu yang seharusnya sudah ia kenal sejak lama, seperti bagian dari dirinya yang hilang dan baru ditemukan kembali.

Pandangan itu terasa bergetar. Arven berusaha memusatkan perhatiannya sekuat tenaga. Wanita itu menatap lurus tepat ke arahnya. Dan untuk sesaat, semuanya berhenti bergerak.

Ia ingin bergerak. Ingin memanggil nama-nama itu. Namun tubuh yang ia rasakan ini diam saja. Tidak mengeluarkan suara apa pun, tidak mengubah posisi sedikit pun. Hanya berdiri diam dan menyaksikan semuanya berlalu. Hingga akhirnya... ia mengerti apa artinya ditinggalkan.

BOOOOOOM...

Ledakan dahsyat mengguncang segalanya. Langit-langit gua yang tinggi itu pecah berkeping-keping. Batu-batu raksasa jatuh dari atas dengan kecepatan yang menakutkan. Suara kerusakan bergema di setiap sudut, getarannya terasa hingga ke tulang sumsum.

Pandangan itu terhuyung-huyung hebat, namun tubuh yang menjadi tempatnya melihat ini tetap diam di tempat. Tidak berlari mencari keselamatan, tidak berusaha melawan, hanya berdiri menerima apa pun yang akan terjadi.

Sebuah batu besar menghantam tepat di depannya. Cahaya yang ada di sekitarnya terbelah menjadi ribuan bagian, debu tebal langsung menyelimuti segalanya.

Kegelapan mulai turun perlahan. Satu per satu suara menghilang hingga yang tersisa hanyalah keheningan yang panjang, dingin, dan abadi.

...⚙...

“ARVEN!”

Suara itu merobek semuanya.

Sekejap saja, semua bayangan masa lalu itu hancur sepenuhnya. Cahaya biru yang dikenalnya kembali terlihat, dan di sekelilingnya sudah kembali menjadi ruangan inti Astraeus, dengan dinding logam serta bola cahaya yang masih melayang diam di tengahnya.

Arven tersentak mundur beberapa langkah. Napasnya terengah-engah seolah baru saja berenang naik dari dasar laut yang paling dalam.

Liora langsung menyambar lengannya, menahannya agar tidak jatuh.

“Oi! Fokus!”

Matanya tajam namun jelas dipenuhi rasa cemas.

“Kau kenapa, Arven?!”

Arven tidak langsung mampu menjawab. Tangannya masih terasa sedikit gemetar, dan pandangannya masih terpaku pada bola cahaya itu. Denyutannya kini kembali pelan dan teratur, persis seperti biasa, seolah tidak ada kejadian luar biasa yang baru saja terjadi.

“…aku…” suaranya terdengar serak dan berat. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

“…aku tidak hanya melihat.”

Liora mengerutkan keningnya, kebingungannya kini berubah jadi waspada. “Apa maksudmu?”

Napasnya masih belum stabil. Matanya masih terpaku ke Proto Heart. Ia menggeleng pelan.

“…aku ada di sana.”

“Astraeus…” lanjut Arven, suaranya lebih rendah sekarang.

Ia mengangkat tangannya sedikit, seolah mencoba memastikan dirinya benar-benar kembali.

“Aku…” ia berhenti sebentar, mencari kata yang tepat. “…melihat melalui Astraeus.”

Liora menatap wajahnya dengan teliti beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya menuju bola cahaya yang melayang itu.

“…aku makin tidak suka dengan semua ini,” gumamnya pelan.

DUM...

Proto Heart kembali berdenyut. Kali ini suaranya terdengar lebih jelas, lebih dalam, berusaha memastikan bahwa keberadaannya masih nyata.

Arven menatapnya dalam-dalam. Kali ini tatapannya bukan lagi dipenuhi rasa kagum semata, melainkan ada rasa mengerti dan menerima di dalamnya.

“…kau tidak mati…” bisiknya pelan, seolah sedang berbicara langsung dengan benda itu.

“…kau hanya menunggu waktu yang tepat.”

...⚙⚙⚙...

A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, support author dengan mengirimi hadiah ya...

—T28J

1
Mystic Novel
nah seperti ini, mungkin bisa di konvert ke kata yang lebih sederhana dan bukan puitis, soalnya ini genre fantasi...

tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Mystic Novel
Thor, karena ini cerita fantasi, narasinya kalau bisa lebih sedikit di sederhanakan, karena pembaca susah nebak suasana dan dunianya.
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
seram kalo bisikan
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wow bagusnya
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
memasuki sepatu sambil lari 🤔
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
yah serius lah /Facepalm/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
keren ini /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
mantap ada transformers /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wah nasibnya gimana?
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
titan yang ada "attack on titan"
Oto,'Pemuja Hati'
Jadi keingat dengan dunia game dengan menggunakan sistem kartu.. m😌
Oto,'Pemuja Hati'
Aku masih terkagum-kagum dengan gambarnya.. m🥹 Terlalu konsisten.. m🥰
SANG
Oke Thor💪👍 tetap semangat ya💪👍
SANG
Jempol untukmu dek👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//CoolGuy/
SANG
Go go go go...💪👍
Muqimuddin Al Hasani
belum ngerti maksud kartunya
T28J: sudah rilis bab pemberitahuannya a'. How to Play Card-nya
total 1 replies
Muqimuddin Al Hasani
ini mah benar terinspirasi dari lord of the ring, yang satu panah yang satu gada
alicea0v
"Aliceee!!!" teriak Xena histeris. "Ada penduduk sebelah mau matiii!!" wanita penyihir itu berlari memutar panik, disetiap langkahnya membuat debu mengepul ke udara.

Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.

"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.

"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)
alicea0v: 🤣🤣🤣🤣 aku ngakak sumpah..
total 2 replies
alicea0v
sabar-sabar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!