Setelah mengetahui fakta tentang penghianatan orang yang paling di cintai, Florin Eldes memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, namun di akhir hayatnya, seseorang yang begitu ia benci dan selalu ia siksa dengan sadis malah menangisi kepergiannya dan berharap ia tidak mati. " Kenapa kamu ingin menolongku? padahal aku sudah menyiksamu selama ini. bukankah kematianku adalah hal yang paling kamu inginkan..." Florin menutup matanya untuk terakhir kali setelah mengucapkan kalimat itu. Tapi di saat ia mengira ia sudah mati, ia Malah kembali ke malam dimana ia bertunangan dengan pria yang ia cintai sekaligus pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rekaman CCTV
"Valir, tidak ku sangka kamu benar benar hebat. Kamu membuat rencana yang sangat sempurna hingga kematian Daniel Eldes seperti kecelakaan biasa. Aku sangat kagum akan kepintaran mu." ujar seorang pria yang saat ini sedang menghisap rokok elektrik nya.
" Tuan Suren, saya sudah berjanji akan memberikan kabar baik untuk anda. Dan semua ini juga berkat bantuan kekasih saya. Jadi, langkah selanjutnya saya meminta bantuan dari tuan untuk melemahkan Florin. Buatlah dia hingga tak punya pilihan lain selain menikah dengan anda tuan." ujar Valir dengan tatapan tajam.
" Itu sangat mudah Valir, aku akan membuat para investor besar di perusahaan Derelick bertekuk lutut di hadapanku, akan ku buat mereka tidak percaya pada putri Daniel Eldes dalam memimpin perusahaan hingga mereka akan mengundurkan diri. Dan pada saat itu perusahaan Eldes akan bangkrut. Satu satunya cara agar perusahaan itu bisa bertahan adalah dengan menikahkan putri Daniel Eldes dengan seseorang yang memilki kedudukan tinggi di dunia bisnis. Dan yang pantas untuk itu semua hanyalah satu orang, yaitu aku. Setelah aku berhasil menikahi putri itu, aku akan mengambil alih semua usaha Daniel Eldes, dan putrinya akan ku serahkan padamu sebagai hadiah Valir. Aku sangat senang membayangkan nya." Surender memeluk senang Valir yang saat ini berada di hadapannya.
Valir tidak dapat menyembunyikan senyumnya, " Ide anda sangat luar biasa tuan Suren. Saya yakin semuanya akan berhasil. Saya harap rencana tuan secepatnya akan di laksanakan."
" Ya, saya akan mulai malam ini Valir. Tenang saja!." ucap Surender dengan tatapan jahat ke depan. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis penuh kelicikan.
.
.
Di dalam kamar, Florin masih terngiang ucapan Wilson yang mengatakan jika ia curiga pada Valir. Sebenarnya jauh dari lubuk hatinya, ia juga mencurigai pria itu.
" Di kehidupan kali ini, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menimbulkan masalah apapun. Setelah aku memutuskan hubungan dengan Valir, aku rasa semuanya sudah berakhir dan dia tidak akan mengganggu hidupku lagi. Tapi ternyata aku salah besar, aku terlalu meremehkan semuanya. Aku tidak berpikir resiko apa yang akan terjadi. Kenapa aku sangat bodoh, harusnya aku membunuh saja pria itu sama seperti dia menghancurkan aku di masa lalu. Seharusnya aku membalas hal yang sama kepadanya. Aku terlalu baik dengan membiarkannya hidup. Aku salah besar, ini semua salahku." Florin meremas ujung bajunya dengan penuh penyesalan.
Florin menyesal karena sudah membiarkan Valir terbebas begitu saja. Ia mengira setelah memutuskan hubungan dengan pria itu semuanya akan baik baik saja, tapi ternyata ia salah. Takdir sekali lagi membuatnya tak berdaya di kehidupan kedua ini. Meskipun Valir belum terbukti bersalah, tapi Florin yakin jika ia terlibat dalam masalah ini.
" Siapapun itu! Kamu tidak akan aku biarkan hidup. Nyawa harus di bayar dengan nyawa!." ujar Florin dengan tatapan penuh dendam.
di saat yang bersamaan, tiba tiba saja pintu kamarnya di ketuk dari luar, Florin langsung beranjak dan membuka pintu. " Stefany? ada apa selarut ini menemui ku?."
" Nona, Saya datang kemari untuk memberitahu anda. Besok pagi anda harus ke kantor polisi karena mereka menemukan sebuah bukti yang mengarah ke pelaku yang mencelakai tuan besar." ujar Stefany.
" Apa yang kamu katakan itu Stefany? Apa benar polisi telah menemukan bukti pelaku kejatahan yang membunuh ayah?." tanya Florin dengan penasaran.
" Iya nona, sebaiknya anda sekarang istirahat. Saya akan tidur di rumah anda malam ini jangan khawatir."
" Aku sudah tidak sabar melihat wajah pembunuh itu Stefany!." Ujar Florin dengan tatapan dendam yang membara.
" Besok kita akan melihatnya nona. Sebaiknya sekarang anda beristirahat. permisi nona."
Stefany meninggalkan kamar Florin.
.
.
Malam sudah berganti pagi, Florin yang tidak tidur kini sudah siap untuk pergi ke kantor polisi. Bersamaan dengan itu, Wilson juga baru saja tiba. Mereka akan pergi ke kantor polisi bersama sama.
Akhirnya mereka tiba di kantor polisi, Florin langsung menemui inspektur dan menanyakan tentang bukti kecelakaan ayahnya.
Florin, Wilson dan juga Stefany di bawa ke sebuah ruangan. Di sana mereka menyaksikan sebuah video rekaman CCTV.
" Ini kan hari dimana ayah kecelakaan. Lalu, siapa wanita yang menaiki mobil ayah itu?." ujar Florin yang melihat seorang wanita memasuki mobil ayahnya di CCTV.
" Dari rekaman CCTV jalan, tuan Daniel membawa seorang wanita masuk ke dalam mobilnya. Dan tuan Daniel berhenti di sebuah market untuk membeli sesuatu, tapi anehnya wanita itu langsung turun di sana dan tidak ikut lagi masuk ke dalam mobil. Wanita itu pergi menaiki mobil lain di seberang jalan setelah tuan Daniel meninggalkan nya di tempat itu. Dan setengah jam kemudian tuan Daniel mengalami kecelakaan tragis yang merenggut nyawanya. Kami berasumsi bahwa wanita itu yang telah menyabotase mobil tuan Daniel. Karena sebelum wanita itu masuk, mobil tuan Daniel masih normal, tapi saat wanita itu keluar dari sana mobil itu langsung hilang kendali dan mendadak remnya blong." ujar polisi yang sedang menjelaskan kejadian di CCTV yang saat ini sedang mereka saksikan.
Florin menatap penuh amarah ke arah wanita itu, ia mengepalkan tangannya dengan erat. "Tunjukkan padaku wajah wanita pembunuh itu!."
" Nona, kami sudah berusaha untuk melihat wajahnya. Tapi ia tidak bisa terdeteksi karena ia seperti menghindari sorotan CCTV. Hal itu mengakibatkan hanya punggung nya saja yang terlihat." ujar polisi itu mencoba menjelaskan.
" Temukan wanita itu bagaimanapun caranya." ucap Wilson yang saat ini juga sangat marah.
" kami akan berusaha semaksimal mungkin. Kami harap, nona Florin dan keluarga bisa bersabar menunggu hasil penyelidikan kami."
Wilson mengangguk pelan, kemudian ia menatap ke arah Florin yang hanya diam. Terlihat gadis itu sangat marah. Bahkan ia meremas tasnya dengan sekuat tenaga. Wilson menyentuh tangan itu seolah memintanya untuk berhenti. " Nona, kita pasti akan menemukan pelaku itu."
Florin menatap Wilson, ia kemudian luluh dan mengangguk pelan.
Setelah selesai melihat semuanya, kini mereka keluar dari kantor polisi. Tapi, lagi lagi banyak sekali wartawan yang sudah menunggu. Florin yang tidak mau di ganggu memutuskan untuk menghindar. Wilson sigap melindungi Florin hingga akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam mobil.
Sepanjang jalan pulang Florin hanya diam, hingga akhirnya mereka tiba di kediaman Eldes. Florin masuk ke dalam kamarnya dan lagi lagi ia mengunci pintu kamarnya. Sudah dua hari ini ia tidak makan apapun. Karin sudah berusaha untuk memasak makanan kesukaannya, tapi Florin tetap saja tidak mau makan.
Keadaan Florin yang seperti itu membuat Wilson tidak bisa tenang. Ia kemudian meminta Karin untuk menyiapkan bahan apa saja yang akan ia masak. Wilson memutuskan untuk memasak sesuatu berharap Florin mau memakannya.
Wilson mulai memasak sup ayam untuk Florin. Wilson yang terbiasa hidup mandiri memudahkannya untuk melakukan pekerjaan seperti memasak. Ia mencampurkan semua bahan dengan telaten, bahkan tangannya sampai terkena panci panas berkali kali. Tapi ia tidak mengeluh.
Di saat yang bersamaan Florin yang datang ke dapur melihat semuanya. Florin berniat untuk mengambil air putih, tapi ia melihat pemandangan yang membuatnya terdiam. Ia melihat Wilson sedang memasak dan sesekali ia meniup tangannya yang terkena panas.
Florin mengamati Wilson dari ruang makan, saat itu Karin datang dan mengatakan semuanya. Wilson ternyata memasak untuk dirinya. Florin begitu tersentuh, ia kemudian berjalan pelan ke arah Wilson.
" Biar aku bantu." ujarnya sambil mengambil alih sendok di tangan Wilson.
Wilson yang melihat kedatangan Florin begitu terkejut, kemudian ia tersenyum tipis. " Tidak perlu nona, sebaiknya nona duduk saja biar aku yang menyelesaikan ini." Wilson meraih kembali sendok dari tangan Florin.
Florin menyerah, ia memutuskan untuk duduk saja dan melihat Wilson memasak.
Tak berselang lama masakan Wilson siap, wanginya memenuhi seluruh ruangan. Florin yang awalnya tidak selera makan menjadi lapar saat mencium bau masakan Wilson.
Wilson menyajikan sup buatannya untuk Florin. Dan Wilson tersenyum senang saat Florin mau makan masakannya.
Dari kejauhan, Karin berbisik pada Stefany " Kalau aku yang masak nona tidak mau makan, tapi kalau tuan Wilson nona mau makan." ujar Karin pada Stefany.
" Jangan bersedih Karin, yang penting sekarang nona Florin mau makan." Stefany menepuk pelan bahu Karin.
" Tidak Stefany, aku justru senang melihat nona mau makan. " Tatapan penuh haru terlihat dari Karin dan Stefany.