NovelToon NovelToon
GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.

Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.

Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.

Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan di Rumah Baru

Melody menatap pepohonan yang berlalu cepat di luar jendela mobil. Ia melintasi kawasan elit yang tak pernah ia bayangkan akan ia singgahi.

Semua anak dari daerah kumuh di pinggiran kota pasti tahu letak perumahan mewah ini. Mereka bisa melihat atap rumah yang megah dan taman yang terawat indah, namun tak satu pun dari mereka yang bisa membayangkan betapa nyamannya hidup di dalam salah satu rumah besar itu.

Siapa sangka, ayah kandungnya ternyata tinggal di kawasan yang sama, bersama keluarga kayanya. Hal terdekat yang pernah ia rasakan dulu hanyalah sekadar melewati pagar halaman yang tampak seperti halaman selebriti.

Dulu, ia tak pernah berani masuk ke dalam karena takut diusir. Mereka biasanya hanya berdiri di pinggir pagar, di balik rimbunnya pohon yang menutupi pandangan ke bagian belakang bangunan.

Selama ini Melody sering membayangkan suasana di dalam rumah Adden. Kini, sepertinya ia akan mendapat kesempatan tinggal di rumah impian itu, namun perasaannya mengatakan tempat itu justru akan terasa menyakitkan.

Dilihat dari mobil yang dikendarai pria yang ia sebut sebagai 'pendonor sperma' itu, ini adalah kendaraan paling mewah yang pernah ia tumpangi. Pasti interior rumahnya juga semewah ini, ia yakin sekali.

Jok kulitnya berwarna vanila, dan aromanya... sesuatu yang belum pernah ia cium sebelumnya. Wangi yang terasa mahal dan berkelas.

Ibunya dulu bahkan tak punya mobil. Satu-satunya kendaraan yang biasa ia naiki hanyalah mobil kijang tua milik ayah tirinya yang bau.

Baunya sangat menyengat, campuran antara asap rokok dan sesuatu yang mengerikan, bau ganja yang dibakar.

Sungguh menjijikkan.

Ada kalanya bau itu menempel begitu kuat di hidungnya, bahkan ia yakin aromanya meresap ke dalam serat pakaiannya. Karena malu, setiap ada kesempatan ia selalu menyemprotkan sembarang deodoran ke bajunya, terutama sebelum bertemu Adden.

Pria itu selalu wangi. Jujur, kadang ada keinginan di hatinya untuk mendekatkan wajah dan mencium bau kulit atau kaos Adden, tapi ia urungkan. Takut jika Adden menganggapnya aneh dan malah menjauh.

"Maafin aku karena kita harus ketemu dalam situasi seperti ini, Melky," suara pria di sampingnya memecah lamunan, nadanya terdengar canggung.

Kemarahan Melody kembali memuncak. Ia mengerti, mungkin pria ini tidak tahu keberadaannya atau bagaimana kehidupannya selama ini.

Tapi setidaknya pria itu sadar bahwa ada anak yang lahir dari darahnya. Anak yang tak pernah cukup berharga untuk dicarinya, atau bahkan sekadar memastikan apakah anak itu masih hidup atau sudah digugurkan.

Ia begitu saja mempercayai kebohongan ibunya, Poppy. Seandainya saja pria itu tahu kalau Melody sebenarnya selama ini ada begitu dekat.

Gadis itu memutar matanya malas, tangannya mengepal kuat hingga kuku pendeknya meninggalkan bekas setengah lingkaran di telapak tangan.

"Namaku Melody," jawabnya datar.

"Hah? Apa katamu?"

Melody tahu pria itu mendengarnya jelas. Hanya orang-orang yang benar-benar mengenalnya yang berhak memanggilnya Melky, hanya teman-teman seperjuangan yang membantunya bertahan hidup di panti asuhan dan pusat penahanan anak.

"Aku bilang, namaku Melody," ulangnya tegas.

"Staff Dinsos bilang kamu suka dipanggil Melky."

"Itu cuma untuk orang-orang yang peduli sama aku. Untuk kamu, aku Melody."

Melody mendengar helaan napas panjang dari pria itu. Ia tak pernah meminta diakui. Ia juga tak meminta pria itu memenuhi panggilan pengadilan, meski mungkin itu kewajiban.

Melody sudah terbiasa hidup tanpa ayah, dan sekarang ia harus menerima kenyataan pahit bahwa sosok itu ada dan duduk tepat di sebelahnya.

"Istriku, Pujiana, udah nungguin kedatanganmu. Aku ngerti kamu marah, tapi aku mohon ... jangan lampiaskan amarahmu pada istri atau anakku," ucapnya, terdengar seperti sebuah peringatan.

Senyum sinis terukir di bibir Melody. Jadi ini awalnya?

Ia baru saja bertanya-tanya kapan pria ini akan mulai memberinya aturan main. Dasar bodoh. Ibunya saja sudah menyebalkan, tapi ayahnya ini ... levelnya berbeda.

Melody menoleh, menatap profil wajah pria itu yang fokus menyetir.

"Kenapa kamu gak berbaik hati aja dan antar aku balik?"

Pria itu melirik sekilas dengan bingung. "Maksudmu?"

"Antarin aku ke dinas sosial, atau biarin aku turun di sini aja. Bilang aja aku kabur. Dengan begitu kalian gak perlu repot lagi mengurusku," ucapnya lantang.

Mata Melody mulai terasa panas menahan air mata amarah. Ia tak mengerti apa tujuan pria ini.

Umurnya, tinggal beberapa bulan lagi menginjak delapan belas tahun, ia lebih baik bertahan hidup sendiri daripada di sini. Kenapa sekarang baru peduli, padahal selama tujuh belas tahun ia tak dianggap ada?

"Maafin aku, Melody. Aku gak bisa lakuin itu."

“Kenapa enggak? Kamu nggak perlu ngerawat aku, kan? Pemerintah udah ngurusin aku dengan baik selama bertahun-tahun ini.”

Pria itu mendengus kesal. Ia sama sekali tidak percaya ucapan gadis di sampingnya, mengingat selama ini mereka hanya berurusan dengan surat keputusan pengadilan.

Matanya menyapu penampilan Melody, mulai dari celana longgar hingga sweater hitam pudar yang terlihat lusuh. Pakaian itu jelas berasal dari donasi, penuh lubang, dan sudah tidak layak pakai bagi orang biasa, tapi sangat pas untuk mereka yang tersisihkan.

“Mendingan begitu. Kamu bisa pulang ke rumah, ketemu istri dan anak mu, tanpa harus ada anak perempuan yang jelas-jelas nggak pernah kamu harapin. Aku kan cuma anjing yang dibuang ke panti pas udah nggak kepakai.”

Ucapan itu tepat mengenai sasaran. Wajah pria itu berubah tegang, tangannya mencengkeram setir mobil dengan kuat hingga jam tangan emas mahalnya berkilau.

Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman sebuah rumah mewah. Bangunan dua lantai dengan dinding putih bersih, jendela berbingkai hitam, dan taman yang sangat terawat. Dua mobil mahal terparkir rapi di sana.

Pria itu mematikan mesin, lalu menghela napas panjang sebelum menoleh ke arah Melody. Gadis itu hanya menatap lurus ke depan dengan perasaan campur aduk. Ia tidak berhutang apa-apa pada keluarga ini, dan tidak ingin menerima apa pun dari mereka.

“Melody, Papa minta maaf soal semua yang kamu alami. Papa nggak tahu harus ngomong apa buat benerin semuanya. Papa cuma ambil keputusan dan bakal pertahankan ini.”

Suaranya berubah, terdengar berat dan penuh penyesalan. Ia menjelaskan bahwa Melody berhak marah, tapi meminta agar kemarahan itu tidak ditujukan pada Pujiana atau Messy.

“Mereka berdua nerima kamu sebagai keluarga. Hakim juga setuju ini jalan terbaik. Andai Papa tahu…” Ia berhenti sejenak, menelan ludah susah payah. “Pokoknya Papa minta maaf. Papa juga bingung harus bersikap gimana. Tolong, cobalah dulu. Nanti pas lulus, kamu bebas mau ngapain.”

Melody melipat tangan di dada. Yang ia dengar hanyalah rasa bersalah pria itu, bukan empati. Namun, ia memilih untuk diam. Setidaknya tempat ini lebih baik daripada panti asuhan. Ia hanya perlu bertahan sampai tamat sekolah, lalu bisa pergi dan hidup mandiri.

“Oke deh, aku mau main rumah-rumahan dulu. Tapi jangan harap aku bakal bersorak atau berterima kasih karena kamu ‘selamatin’ aku. Karena jujur, aku nggak ngerasa diselamatin.”

Pria itu menghela napas lega. “Oke. Ada beberapa aturan yang harus kamu taatin.”

Melody mengangkat sebelah alisnya, menunggu penjelasan lebih lanjut.

“Enggak boleh ada cowok masuk kamar. Papa harus tahu posisi kamu di mana aja. Jam malam pas sekolah jam sebelas malam, akhir pekan tengah malam, kecuali sama Messy. Jangan berantem di sekolah, hargai orang lain, dan semuanya bakal lancar. Di kamar udah ada HP dan seragam. Besok Papa anter beli keperluan lain.”

Melody menyandarkan kepala ke jok, menatap pintu kayu hitam itu dengan tatapan datar. “Masih ada lagi?”

“Iya. Ingat, jangan nyari masalah sama Pujiana.”

Lagi-lagi Pujiana. Pria itu pasti sangat mencintai istrinya. Sayang sekali, Melody bahkan tidak tahu rasanya dicintai seperti itu.

“Aku cuma punya satu aturan,” jawab Melody dingin. Ia menutup pintu mobil dengan suara tegas, lalu menatap pria itu dari balik atap kendaraan.

“Apa itu?”

Melody menurunkan tudung hoodie-nya, menatap tajam ke mata lawan bicaranya. “Kamu baca berkas riwayat hidup aku?”

Pria itu mengalihkan pandangan sejenak, lalu berdeham pelan. “Baca.”

Pasti ia sudah melihat foto-foto dan catatan di dalamnya. Bukti fisik dari penderitaan Melody di masa lalu, luka-luka yang terukir di kulit sebagai saksi bisu.

Namun, Melody sadar betul bahwa apa yang tertulis di atas kertas hanyalah separuh cerita. Rasa sakit yang paling dalam, luka di hati dan pikiran, itu tidak bisa dibaca atau dijelaskan dengan kata-kata. Itu adalah rahasia yang hanya ia sendiri yang mengerti.

“Yang aku minta cuma satu. Simpan aja masa lalu aku buat diri kamu sendiri. Aku udah dapet rasa kasihan dari kamu. Yang aku butuhin itu rasa kasihan dari mereka.”

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!