Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Manusia bermuka dua ini terlalu pandai bersandiwara. Atau, entah Rama sendiri lah yang tidak bisa menilai orang dengan baik barang kali. Sampai-sampai, dia melihat gadis itu dari sudut yang berbeda.
Aish. Entahlah. Yang jelas, hanya karena teman baru ini, Rama melupakan Sinta yang jelas-jelas adalah teman masa kecilnya. Orang yang sudah hidup bersama dengannya sejak kecil. Yang dia sendiri harusnya sudah sangat tahu dengan baik bagaimana sifat Sinta itu sendiri.
*
Sore harinya, Rama pulang ke kediaman keluarga Hermawan. Yah, biasanya, dia sering tinggal di apartemen. Hanya sesekali saja pulang ke rumah besar. Begitu pula dengan kakaknya. Wana juga punya hunian sendiri untuk ia tempati. Rumah besar itu hanya akan mereka kunjungi jika ada acara penting, atau jika mereka ada keperluan saja. Begitulah kehidupan calon penerus di keluarga Hermawan ini.
Ketika Rama hampir sampai ke pintu utama dari rumah tersebut, dia mendengarkan pembicaraan papa dan mamanya. Kedua orang tuanya sedang membahas soal pernikahan.
"Waktunya sekarang kurang dari dua bulan. Itu bukan waktu yang lama, Pah." Suara sang mama terdengar jelas.
"Fitting baju pengantin saja belum. Apakah bisa ke kejar nantinya?"
Sontak, wajah Rama langsung berubah. Kurang dua bulan lagi? Fitting baju pengantin. Sudah jelas itu soal pernikahan dirinya dengan Sinta yang sedang kedua orang tuanya siapkan.
Dengan dada bergemuruh karena kesal, Rama masuk ke dalam. "Kurang dua bulan lagi? Pernikahannya hanya kurang dari dua bulan, Ma, Pa?"
Sang mama terlihat agak terkejut. Dia yang awalnya duduk, langsung berdiri. "Rama."
"Rama. Di mana sopan santun kamu, hah? Masuk rumah tanpa salam terlebih dahulu." Suara sang papa terdengar sedikit lebih tinggi sekarang.
Namun, Rama tidak menghiraukan apa yang papanya katakan. Hatinya terlalu kesal akan apa yang baru saja telinganya dengar.
"Ma! Pah! Kalian tentukan tanggal pernikahan kurang dari dua bulan? Kenapa terlalu cepat?"
"Tidak. Pernikahan secepat ini, kenapa tidak ada yang memberitahukan padaku semua ini?" Rama gusar bukan kepalang.
Papa dan mamanya menatap anak kedua mereka dengan tatapan lekat. Wajah kesal lebih kuat dari wajah si papa.
"Pernikahan dua bulan lagi. Lalu kenapa?"
Pertanyaan yang papanya lontarkan membuat Rama semakin naik emosi. Tapi, belum sempat ia menjawab, papanya malah angkat bicara lagi.
"Hari penentuan tanggal pernikahan, kamu di mana? Kenapa kamu tidak datang, Rama!"
"Ha-- hari itu ... aku ... sedang ada urusan mendesak. Jadi, tidak datang."
Pak! Meja kaca di pukul oleh papanya dengan satu tangan. Tatapan tajam semakin terlihat.
"Urusan mendesak yang kamu maksudkan adalah, merawan wanita baru yang kamu temui beberapa bulan yang lalu?"
"Apa yang ada dalam pikiran mu sebenarnya, Rama? Kamu punya wanita lain selain Sinta. Pantas saja Sinta-- "
"Pah. Jangan lanjutkan." Mamanya memotong ucapan itu dengan cepat.
Sepertinya, apa yang telah mereka janjikan pada Sinta, mereka ingin menepatinya dengan sangat baik. Atau mungkin juga, mereka juga ingin menghukum Rama karena perilaku Rama itu. Tapi yang jelas, setelah mereka tahu alasan Sinta yang memilih Rahwana saat itu, merekapun tidak lagi bingung. Sebaliknya, mereka kesal pada putra kedua mereka yang dianggap sedikit bodoh karena tidak bisa menjaga perasaan.
"Hah! Sudahlah. Jangan bahas lagi. Untuk apa kamu datang sekarang?"
"Ram, kami tidak memberitahukan padamu soal pernikahan, karena kami pikir, kamu tidak perlu tahu," ucap sang mama akhirnya.
Ucapan yang langsung membuat Rama berubah semakin kesal. Kesal bukan kepalang. "Apa mama bilang? Aku? Tidak perlu tahu? Apakah kalian benar-benar berpikiran begitu?"
"Iya. Karena kamu memilih tidak datang di hari penentuan tanggal pernikahan, jadi kami anggap, pernikahan ini memang tidak penting bagimu."
"Mah. Kalian-- agh. Kalian semua bikin aku seolah tidak punya perasaan? Kalian tahu betul apa alasan ku yang tidak datang. Kalian-- "
"Rama!" Suara papanya terdengar menggelegar memenuhi ruangan rumah tersebut.
Mata Rama membulat, menatap lekat ke arah papanya. Sedikit kaget, tapi juga ada rasa takut. Papanya jarang bersuara dengan nada tinggi. Jika suara tinggi itu terdengar, bisa dipastikan kalau saat itu, papanya sedang dalam keadaan marah besar.
"Cukup. Jangan sampai aku memukulmu, Rama." Suara itu sudah tidak setinggi tadi. Tapi nadanya masih agak keras. "Aku sudah sangat sabar sekarang. Jangan pancing amarahku keluar dari kandangnya."
"Pa. Aku-- "
"Kamu bersama wanita lain di hari penentuan tanggal pernikahan mu. Wajar jika calon istrimu menolak untuk bersama dengan kamu, Ram."
Deg. Jantung Rama tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Matanya melebar sempurna. Bibirnya sedikit bergetar. Kata-kata papanya cukup sulit untuk ia cerna. Tapi hatinya malah merasa hal yang berbeda tanpa perlu benaknya mencerna kata-kata itu lagi.
"Apa maksud, papa?"
"Tidak perlu kau tanyakan lagi apa maksudku, Rama. Yang jelas, kau akan tahu apa konsekuensi dari perbuatan mu itu. Kau akan kehilangan apa yang paling berharga dari hidupmu."
Selesai berucap, papanya malah langsung beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan Rama dengan semua kebingungan yang memenuhi hati. Tapi sayangnya, hal itu hanya sesaat saja. Amarah Rama. bangkit lagi sejenak setelah papanya hilang dari pandangan mata.
Pria itu menggenggam erat kedua tangannya. Pikirannya kesal tertuju pada Sinta. Dia pikir, semua ulah Sinta. Sinta yang menciptakan semua kekacauan ini hanya gara-gara dia tidak datang di hari penentuan tanggal pernikahan.
"Sinta .... Kamu!" Rama bergumam dengan nada penuh emosi.
"Ram."
Panggilan itu tidak ia hiraukan. Pria itu malah beranjak dengan langkah besar meninggalkan mamanya. Keluar dari kediaman utama keluarga Hermawan. Membawa hatinya yang sangat kesal untuk menjauh.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Sinta. Hanya gara-gara aku yang berteman dengan Risa, kamu malah melaporkan hal itu pada papa dan mama ku."
"Pernikahan itu masih belum terjadi, tapi kamu sudah sangat berkuasa. Kamu sungguh anak manja yang luar biasa, Sinta. Kamu-- "
Ucapan Rama tertahan seketika. Karena saat ini, di depannya sedang berdiri tegak kakak pertama yang selalu dia hormati. Rahwana. Pria yang lebih dia segani dari pada kedua orang tuanya.
Sejak remaja, Wana memang selalu dingin. Tapi, juga bertanggung jawab. Rama menyegani Wana sepenuh hati.
"Kak ... Wana. Kamu ... pulang?"
"Hm." Hanya satu kata yang keluar. Kata yang datang bersama anggukan kecil. Sangking singkatnya, anggukan itu hampir tak terlihat.
Wana melanjutkan langkah menuju kediaman utama keluarga Hermawan. Dibelakangnya, Danu si tangan kanan kepercayaan Wana mengekori dengan penuh kharisma.
Rama menatap mereka hingga tiba di depan pintu. Wajah kakaknya memang tidak pernah dia lihat. Tapi aura dan kharisma yang kakaknya miliki sungguh luar biasa.
"Kenapa kak Wana datang? Ada perlu apa sebenarnya?"
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️