NovelToon NovelToon
Ketika Sinta Memilih Rahwana

Ketika Sinta Memilih Rahwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Perjodohan
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rani

Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.

Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 6

Manusia bermuka dua ini terlalu pandai bersandiwara. Atau, entah Rama sendiri lah yang tidak bisa menilai orang dengan baik barang kali. Sampai-sampai, dia melihat gadis itu dari sudut yang berbeda.

Aish. Entahlah. Yang jelas, hanya karena teman baru ini, Rama melupakan Sinta yang jelas-jelas adalah teman masa kecilnya. Orang yang sudah hidup bersama dengannya sejak kecil. Yang dia sendiri harusnya sudah sangat tahu dengan baik bagaimana sifat Sinta itu sendiri.

*

Sore harinya, Rama pulang ke kediaman keluarga Hermawan. Yah, biasanya, dia sering tinggal di apartemen. Hanya sesekali saja pulang ke rumah besar. Begitu pula dengan kakaknya. Wana juga punya hunian sendiri untuk ia tempati. Rumah besar itu hanya akan mereka kunjungi jika ada acara penting, atau jika mereka ada keperluan saja. Begitulah kehidupan calon penerus di keluarga Hermawan ini.

Ketika Rama hampir sampai ke pintu utama dari rumah tersebut, dia mendengarkan pembicaraan papa dan mamanya. Kedua orang tuanya sedang membahas soal pernikahan.

"Waktunya sekarang kurang dari dua bulan. Itu bukan waktu yang lama, Pah." Suara sang mama terdengar jelas.

"Fitting baju pengantin saja belum. Apakah bisa ke kejar nantinya?"

Sontak, wajah Rama langsung berubah. Kurang dua bulan lagi? Fitting baju pengantin. Sudah jelas itu soal pernikahan dirinya dengan Sinta yang sedang kedua orang tuanya siapkan.

Dengan dada bergemuruh karena kesal, Rama masuk ke dalam. "Kurang dua bulan lagi? Pernikahannya hanya kurang dari dua bulan, Ma, Pa?"

Sang mama terlihat agak terkejut. Dia yang awalnya duduk, langsung berdiri. "Rama."

"Rama. Di mana sopan santun kamu, hah? Masuk rumah tanpa salam terlebih dahulu." Suara sang papa terdengar sedikit lebih tinggi sekarang.

Namun, Rama tidak menghiraukan apa yang papanya katakan. Hatinya terlalu kesal akan apa yang baru saja telinganya dengar.

"Ma! Pah! Kalian tentukan tanggal pernikahan kurang dari dua bulan? Kenapa terlalu cepat?"

"Tidak. Pernikahan secepat ini, kenapa tidak ada yang memberitahukan padaku semua ini?" Rama gusar bukan kepalang.

Papa dan mamanya menatap anak kedua mereka dengan tatapan lekat. Wajah kesal lebih kuat dari wajah si papa.

"Pernikahan dua bulan lagi. Lalu kenapa?"

Pertanyaan yang papanya lontarkan membuat Rama semakin naik emosi. Tapi, belum sempat ia menjawab, papanya malah angkat bicara lagi.

"Hari penentuan tanggal pernikahan, kamu di mana? Kenapa kamu tidak datang, Rama!"

"Ha-- hari itu ... aku ... sedang ada urusan mendesak. Jadi, tidak datang."

Pak! Meja kaca di pukul oleh papanya dengan satu tangan. Tatapan tajam semakin terlihat.

"Urusan mendesak yang kamu maksudkan adalah, merawan wanita baru yang kamu temui beberapa bulan yang lalu?"

"Apa yang ada dalam pikiran mu sebenarnya, Rama? Kamu punya wanita lain selain Sinta. Pantas saja Sinta-- "

"Pah. Jangan lanjutkan." Mamanya memotong ucapan itu dengan cepat.

Sepertinya, apa yang telah mereka janjikan pada Sinta, mereka ingin menepatinya dengan sangat baik. Atau mungkin juga, mereka juga ingin menghukum Rama karena perilaku Rama itu. Tapi yang jelas, setelah mereka tahu alasan Sinta yang memilih Rahwana saat itu, merekapun tidak lagi bingung. Sebaliknya, mereka kesal pada putra kedua mereka yang dianggap sedikit bodoh karena tidak bisa menjaga perasaan.

"Hah! Sudahlah. Jangan bahas lagi. Untuk apa kamu datang sekarang?"

"Ram, kami tidak memberitahukan padamu soal pernikahan, karena kami pikir, kamu tidak perlu tahu," ucap sang mama akhirnya.

Ucapan yang langsung membuat Rama berubah semakin kesal. Kesal bukan kepalang. "Apa mama bilang? Aku? Tidak perlu tahu? Apakah kalian benar-benar berpikiran begitu?"

"Iya. Karena kamu memilih tidak datang di hari penentuan tanggal pernikahan, jadi kami anggap, pernikahan ini memang tidak penting bagimu."

"Mah. Kalian-- agh. Kalian semua bikin aku seolah tidak punya perasaan? Kalian tahu betul apa alasan ku yang tidak datang. Kalian-- "

"Rama!" Suara papanya terdengar menggelegar memenuhi ruangan rumah tersebut.

Mata Rama membulat, menatap lekat ke arah papanya. Sedikit kaget, tapi juga ada rasa takut. Papanya jarang bersuara dengan nada tinggi. Jika suara tinggi itu terdengar, bisa dipastikan kalau saat itu, papanya sedang dalam keadaan marah besar.

"Cukup. Jangan sampai aku memukulmu, Rama." Suara itu sudah tidak setinggi tadi. Tapi nadanya masih agak keras. "Aku sudah sangat sabar sekarang. Jangan pancing amarahku keluar dari kandangnya."

"Pa. Aku-- "

"Kamu bersama wanita lain di hari penentuan tanggal pernikahan mu. Wajar jika calon istrimu menolak untuk bersama dengan kamu, Ram."

Deg. Jantung Rama tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Matanya melebar sempurna. Bibirnya sedikit bergetar. Kata-kata papanya cukup sulit untuk ia cerna. Tapi hatinya malah merasa hal yang berbeda tanpa perlu benaknya mencerna kata-kata itu lagi.

"Apa maksud, papa?"

"Tidak perlu kau tanyakan lagi apa maksudku, Rama. Yang jelas, kau akan tahu apa konsekuensi dari perbuatan mu itu. Kau akan kehilangan apa yang paling berharga dari hidupmu."

Selesai berucap, papanya malah langsung beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan Rama dengan semua kebingungan yang memenuhi hati. Tapi sayangnya, hal itu hanya sesaat saja. Amarah Rama. bangkit lagi sejenak setelah papanya hilang dari pandangan mata.

Pria itu menggenggam erat kedua tangannya. Pikirannya kesal tertuju pada Sinta. Dia pikir, semua ulah Sinta. Sinta yang menciptakan semua kekacauan ini hanya gara-gara dia tidak datang di hari penentuan tanggal pernikahan.

"Sinta .... Kamu!" Rama bergumam dengan nada penuh emosi.

"Ram."

Panggilan itu tidak ia hiraukan. Pria itu malah beranjak dengan langkah besar meninggalkan mamanya. Keluar dari kediaman utama keluarga Hermawan. Membawa hatinya yang sangat kesal untuk menjauh.

"Kamu benar-benar keterlaluan, Sinta. Hanya gara-gara aku yang berteman dengan Risa, kamu malah melaporkan hal itu pada papa dan mama ku."

"Pernikahan itu masih belum terjadi, tapi kamu sudah sangat berkuasa. Kamu sungguh anak manja yang luar biasa, Sinta. Kamu-- "

Ucapan Rama tertahan seketika. Karena saat ini, di depannya sedang berdiri tegak kakak pertama yang selalu dia hormati. Rahwana. Pria yang lebih dia segani dari pada kedua orang tuanya.

Sejak remaja, Wana memang selalu dingin. Tapi, juga bertanggung jawab. Rama menyegani Wana sepenuh hati.

"Kak ... Wana. Kamu ... pulang?"

"Hm." Hanya satu kata yang keluar. Kata yang datang bersama anggukan kecil. Sangking singkatnya, anggukan itu hampir tak terlihat.

Wana melanjutkan langkah menuju kediaman utama keluarga Hermawan. Dibelakangnya, Danu si tangan kanan kepercayaan Wana mengekori dengan penuh kharisma.

Rama menatap mereka hingga tiba di depan pintu. Wajah kakaknya memang tidak pernah dia lihat. Tapi aura dan kharisma yang kakaknya miliki sungguh luar biasa.

"Kenapa kak Wana datang? Ada perlu apa sebenarnya?"

1
Soraya
msih mbulet thor lanjut
partini
aihhh badan besar tapi gitu ,,yg kau butuhkan tuh seseorang yg bisa bikin hatimu yg panas jadi dingin
wana wana
partini
lah emang kamu yg di pukul semua orang juga tau dah lihat so what ?
aihhh Rama gendeng
aku
wkwkwkwk yg dihajar sopo yg ditanyai sopo 🤣🤣🤣 nyahokk kowe rama 🤣🤣🤣
Anonim
Rama bloon emang ,laki egois g tahu diri .ayo wana dan sinta harus tegas tunjukan sinta kamu itu milik wana sekaranf
Evy
gemes sama Rama ...pingin tak hiiiiih ajah 😅
partini
sejak kapan tunangan lebih berhak dari pada suami,,aihhh Ramayana emang rada"
Patrick Khan
risa sakit jiwa kah🤣🤣🤣🤣
Rani: wuahahahah.... sekarang masih belum. tapi sudah hampir mendekati🤣
total 1 replies
Patrick Khan
rama km ribet bgt sih🤣
Rani: jangan di kata. memang ribet dia
total 1 replies
Soraya
nex
Rani: sabar yuhu🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
Anonim
Si intan ibu yg oon ko bisa pilih kasih begitu,tolol.anak salah ko malah di dukung ,blok
Rani: nama juga anak sayangan dia.
total 1 replies
partini
dulu pas th 90 an ada drama India Rama dan Sinta ini kembali nya nikahnya sama wana jadi penasaran
Rani: wkwkwkw.... iya lho. tahun ini Sintanya malah milih Wana. Iya kan?
total 1 replies
partini
udah unboxing belum sih
Rani: jawabannya, udah pasti belom dong yah. ini Si Wana lho yah. Wana. Lama prosesnys. 🤭
total 1 replies
Dew666
💜
Rani: makasih buanyak😘🫰
total 1 replies
Anonim
Ah g seru si wana masa cowo gitu sih lemah amat ,gugup mulu
Rani: iya, anak angkat aku yang ini kan hidupnya penuh dengan penyisihan. jadi, wajar kalo dia kek gini kan yah
total 1 replies
Soraya
lanjut
Rani: sabara yah....
total 1 replies
Anonim
Ibu yg aneh ko bisa nanya kaya gitu bukan nya senang anak nya yg biasa menyendiri jadi ceria lagi,jangan jangan wana bukan anak kandung nya kah thor?
Rani: ish, nggak kok. anak kandung dia. Hanya saja, dia sejak kecil emang dekat dengan neneknya. Singkatnya, ibunya kek ibu tetanga aku 🤣 punya anak kesayangan gitu dia.
total 1 replies
Patrick Khan
ram ram karepmu wes..😄😄😄
Patrick Khan: sebel muak sm rama🤣🤣🤣
total 2 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
Rani: 🫰🫰🫰🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
Soraya
nex
Rani: 👍👍👍👍👍👍🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!