Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Matahari pagi di Los Angeles menyelinap melalui jendela kristal penthouse Valerio, membasuh lantai marmer dengan cahaya keemasan yang hangat.
Di dalam kamar utama, suasana masih diselimuti oleh aroma kopi yang baru diseduh dan sisa-sisa keintiman semalam.
Lexington berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah kemeja putihnya yang kaku. Di belakangnya, Briella muncul dengan daster sutra berwarna putih gading, wajahnya masih menunjukkan jejak kantuk yang menggemaskan.
Dengan gerakan manja yang alami, Briella melingkarkan tangannya di pinggang tegap Lexington, menyandarkan pipinya di punggung suaminya yang hangat.
"Kau harus pergi sekarang?" gumam Briella dengan suara serak khas bangun tidur.
Lexington meletakkan tangannya di atas jemari Briella, mengusapnya perlahan sebelum berbalik untuk menghadap istrinya. Ia menunduk, menatap wajah Briella yang tanpa riasan—wajah yang bagi Lexington jauh lebih berharga daripada semua aset perusahaannya.
"Aku ada kuliah pagi, Honey. Dan kau tahu bagaimana aku sangat benci keterlambatan," ucap Lexington lembut. Ia meraih kacamata bacanya yang bertengger di meja nakas, memakainya, dan seketika aura 'Profesor Valerio' yang dingin dan intelektual terpancar kuat.
Briella sedikit berjinjit, merapikan dasi Lexington yang sebenarnya sudah sangat simetris. "Kau terlihat terlalu tampan dengan kacamata ini, Lex. Aku jadi tidak rela membiarkan mahasiswi-mahasiswamu menatapmu selama dua jam penuh."
Lexington terkekeh rendah, suara baritonnya menggetarkan dada Briella. Ia menarik pinggang Briella lebih rapat, mendaratkan kecupan panjang di dahi istrinya. "Tenang saja. Di mataku, mereka semua hanyalah tumpukan angka dan teori yang membosankan. Hanya kau satu-satunya variabel yang bisa mengalihkan perhatianku."
"Janji?" Briella menatap mata Lexington dengan binar posesif.
"Janji," balas Lexington sebelum memberikan ciuman perpisahan yang dalam di bibir Briella, ciuman yang terasa seperti janji setia di tengah badai yang akan datang. "Cepatlah mandi dan ke klinikmu. Aku tidak mau asistenmu meneleponku lagi karena bosnya menghilang."
Universitas Stanford – 09.00 AM
Catalonia Vera West, atau Late Vera, berdiri di depan meja asisten dengan punggung tegak sempurna. Ia sudah menyiapkan semua dokumen riset untuk Profesor Miller, kolega Lexington yang juga akan hadir dalam rapat hari ini. Bagi Catalonia, pagi adalah ritual untuk menunjukkan dominasi intelektualnya.
Namun, ketenangannya terusik ketika pintu ruangan terbuka tanpa ketukan.
Seorang pria melangkah masuk dengan gaya yang sangat... tidak berpendidikan menurut standar Catalonia. Pria itu memiliki wajah yang identik dengan Lexington—tulang pipi yang tajam, rahang yang tegas, dan mata gelap yang menghujam—namun kemiripan itu berakhir di sana.
Jika Lexington adalah mesin yang dipoles mengkilap, pria ini adalah baja kasar yang baru keluar dari pembakaran. Ia mengenakan kaos hitam polos yang kebesaran, memperlihatkan beberapa corak tato hitam yang merambat di lengan bawahnya. Sebuah tindikan kecil berkilat di telinga kirinya, dan rambutnya yang berantakan seolah-olah ia baru saja turun dari motor besar tanpa helm.
"Keluar," kata Late Vera tanpa basa-basi. Ia bahkan tidak berdiri. "Ini ruang kerja Profesor, bukan taman bermain untuk berandal."
Pria itu berhenti, menatap Late dengan pandangan yang sulit diartikan. Dingin, namun ada siratan kasar yang membuatnya terlihat berbahaya. Ia menyeringai tipis, sebuah seringai yang tidak pernah ada di wajah Lexington.
"Aku menunggu Lexington," jawabnya singkat. Suaranya sedikit lebih berat dan serak dibandingkan Lexington.
Late Vera mengernyitkan dahi. Ia benci sesuatu yang tidak tertib, dan pria di depannya ini adalah definisi dari polusi visual dan ketidakteraturan. "Tuan Valerio tidak menerima tamu tanpa janji temu. Dan melihat perawakanmu, aku sangsi kau punya urusan akademis di sini."
"Tadi dia berkata kami bertemu saja di ruangannya," ucap pria itu lagi. Ia melangkah mendekat, sengaja masuk ke ruang pribadi Late Vera, menumpukan tangannya di atas meja kerja wanita itu. Ada nada menggoda yang provokatif dalam suaranya. "Kenapa? Kau asisten barunya? Terlihat sangat kaku... seperti baru saja menelan penggaris besi."
"Beraninya kau..." Late Vera berdiri, matanya berkilat marah. "Kau adalah polusi visual di gedung ini. Jika kau punya hubungan dengan Lexington, sebaiknya kau tunggu di luar."
Tepat saat itu, pintu terbuka lagi. Lexington masuk dengan langkah yang berwibawa, tas kulit di tangan, dan aura profesor yang kental. Ia berhenti sejenak melihat pemandangan di depannya.
"Kenapa? Kau berniat melanjutkan studimu?" tanya Lexington datar, menatap pria bertato itu.
Pria itu berbalik, menyeringai ke arah saudaranya. "Tebakanmu benar, Brother. Daddy memaksaku. Aku malas mengurus administrasinya, jadi aku siap masuk kelas Profesor Miller pagi ini. Kau tahu kan, dia benci jika aku terlambat sepuluh detik saja."
Late Vera membeku. "Kensington?" gumamnya tak percaya. Ia tahu Lexington memiliki saudara kembar, namun ia tidak menyangka perbedaannya akan se-ekstrem ini. Baginya, Kensington adalah kegagalan estetika dari genetik Valerio.
Lexington hanya menghela napas, berjalan menuju mejanya dan meletakkan tasnya tanpa mempedulikan ketegangan di ruangan itu. "Vera, berikan dia formulir pendaftaran riset untuk kelas Miller. Dan Ken, jangan membuat keributan di departemenku."
Kensington meraih formulir itu dari tangan Late Vera dengan kasar, sengaja menyentuh jemari wanita itu hingga Late menarik tangannya seolah tersengat listrik.
"Terima kasih... Late," ucap Kensington dengan nada yang sengaja merendahkan nama panggilannya. Ia berbalik untuk keluar, namun berhenti di ambang pintu, menatap Late Vera sekali lagi melalui bahunya.
"Jika pagimu rusak hanya karena melihatku, mungkin kau harus membuat surat undur diri sekarang. Dunia pendidikan terlalu berat untuk gadis yang hanya peduli pada kerapian rambut."
Setelah pintu tertutup dengan dentuman pelan, ruangan itu kembali sunyi. Late Vera berdiri dengan tangan mengepal. Wajahnya memerah karena penghinaan yang baru saja ia terima.
"Merusak pagiku saja," gumam Late Vera penuh benci.
Lexington, yang sudah mulai membuka dokumennya, tidak menatap asistennya. "Kensington memang polusi bagi siapa saja yang terlalu mencintai keteraturan, Vera. Tapi dia juga seorang Valerio. Jadi, biasakanlah."
Catalonia Vera West menyunggingkan senyum sinis yang tajam. Ia merapikan rok pensilnya dan menatap Lexington dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. "Aku tidak menerima kegagalan, Profesor. Baik itu dalam pekerjaan, maupun dalam menghadapi gangguan seperti saudaramu. Aku akan tetap di sini sampai aku mendapatkan apa yang aku inginkan."
Lexington hanya menaikkan sebelah alisnya di balik kacamata. Ia tahu, kehadiran Kensington hanyalah variabel tambahan yang membuat eksperimen hidupnya semakin tidak terprediksi.
Dan di sudut hatinya, ia bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika Briella—istrinya yang ceroboh—bertemu dengan Kensington yang kasar?
emosinya kaya nyata dapet banget.
sehat selalu yaaa, semoga hari kamu baik terus
Tuhan memberkati 😇😇😇