Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|21| Rahasia Alana
Pintu ruangan Aruna ditutup pelan oleh Devara, namun tak dikunci seperti biasanya. Tangan pria itu bahkan belum melepas ganggang pintu, menyender dengan cukup lama. Tanpa maksut yang jelas, beberapa detik Ia memejamkan matanya sebelum beralih meninggalkan kamar Aruna.
"Duduk" Titah Marisa yang melihat Devara melewati ruang tengah, Ia awalnya tak menghiraukan, namun badannya berbalik seolah tak bisa mengabaikan Marisa.
Dia duduk berjarak dengan Marisa, menyender dengan santai seolah tak ada beban pikiran dalam dirinya.
"Bersihkan kamar itu dari barang-barang Alana" Ujar Marisa datar,
"Yakin kalau kamu sudah tak memiliki hubungan dengan perempuan itu?" Tanya Marisa dengan tenang, suaranya terdengar nyaring karena suasana sepi sekitar.
Angin berhembus halus seiring berjalannya detik demi detik. Devara belum juga menjawab, entah apa yang sedang dirancang dalam pikirannya sendiri.
"Aku masih ada bisnis dengan ayahnya" jawab Devara dengan jujur, Ia paham betul kalau berbohong pasti Marisa akan tau dan akan sangat marah.
"Ayahnya..?, Kamu tau gak kalau bisnis itu ilegal?" Suara Marisa mulai lebih tinggi dari sebelumnya.
Devara membenarkan duduknya, dan menegakkan badannya, Ia melirik Marisa beberapa detik seperti memastikan apa ada kemarahan yang terpancar dari raut wajahnya.
"Mam kan tau hobby aku dari dulu itu apa" Devara masih menjawab dengan tenang.
Marisa menghela napas dengan kasar, Ia mengambil secangkir teh yang ada dimeja-nya tadi, menyeruputnya tanpa suara untuk sedikit meredakan emosinya.
"Burhan..?, kemana dia?. Lalu manager devisi 1, siapa lagi yang mau kamu habisi Dev" Marisa menaruh cangkir teh nya pelan.
"Apa tikus di kamar yang lagi kamu kurung itu juga mau kamu habisi" Suara Marisa memenuhi ruang tengah yang senyap itu.
Jantung Devara seolah berhenti berdetak satu detik, Marisa tau semua tentang dirinya, tangan Devara mulai mengepal keras, Ia langsung bangkit dari duduknya, sedikit menunduk kepada Marisa. "Aku capek, mau istirahat dulu mam, selamat malam" ujarnya dengan lirih, lalu berjalan dengan santai menuju kamar pribadi-nya.
Pranggg..... Marisa melemparkan cangkir teh itu kearah Devara sambil memijit pelipisnya yang berdenyut sedari tadi, Marisa mulai kewalahan menghadapi Devara di hari pertamanya pulang dari luar negri.
Ia beralih, mengambil tas nya dan berjalan menuju kamar Aruna. Wanita itu sempat ragu untuk mengetuk pintu kamar Aruna, namun Ia memutuskan untuk mengetuknya.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.30, Setelah membukakan pintu kamarnya, Aruna terkejut dengan kedatangan Marisa ditengah malam.
"Belum tidur?" Tanya Marisa.
Aruna menggeleng pelan, "Belum bisa tidur tan" jawabnya lirih.
Marisa memasuki kamar Aruna, menyapu setiap titik ruangan tersebut, cctv yang berkedip merah mencuri perhatian Marisa, Wanita itu duduk disisi ranjang Aruna sambil menyilangkan kakinya.
"Kamu betah hidup didalam ruangan seperti ini?" Melirik Aruna sambil tersenyum tipis.
Aruna berjalan pelan mendekati Marisa, "Apa tante mau bebasin aku?" Tanya Aruna dengan polosnya, tak peduli siapa Marisa sebenarnya, namun gadis itu telah melihat sedikit celah kebahagiaan yang Marisa berikan.
"Bebas..?" Marisa tertawa pelan. Ia segera beralih dan berjalan kearah jendela kaca.
Bunyi ketukan heels-nya dilantai marmer itu membuat Aruna merinding, bukan takut melainkan ada sisi lain dari Marisa yang belum Ia ketahui. Bahkan Marisa tertawa saat dirinya bertanya tentang kebebasan.
"Aruna, saya tidak bilang kalau saya berpihak kepadamu" Ujar Marisa datar sambil menatap lautan gemerlap cahaya ditengah kegelapan.
"Kamu sudah diintai sejak masih duduk dibangku sekolah Run, tidak ada sedikit celah pun yang Devara tidak tau, termasuk Bayu" Ujar Marisa, wanita itu beralih menatap Aruna yang nampak terkejut dengan pernyataan darinya.
"Selama itu..?" Aruna membulatkan matanya, terkejut dengan pernyataan Marisa.
Marisa meraih kedua tangan Aruna. "Tidak, sejak kalian mulai dijodohkan saat kamu berusia enam tahun" Jawab Marisa dengan datar.
"Jodohkan?, aku gak inget apapun tan" Ujar Aruna lirih.
"Dia sedang menonton kita Run, ambilah ini. Jaga dirimu baik-baik" Bisik Marisa sambil menyerahkan saputangan berwarna biru tua, ada lambang huruf W di salah satu sisi saputangan itu. Marisa tersenyum sekilas, lalu pergi keluar dari kamar Aruna.
Diruangan lain, Devara menyaksikan adegan itu dari layar monitornya. Didepannya sudah ada satu botol wine yang tersisa setengah. Ia sudah minum setengah botol sendirian. Ia sempat tertawa pelan saat melihat apa yang Marisa lakukan di kamar Aruna.
"Saputangan.." gumam Devara seraya mencengkram gelas wine nya. Matanya masih melihat Aruna yang terus mengamati saputangan tersebut.
......................
-Apartemen lantai 22 Skyline City.
"Ampun buk, saya sudah berusaha semaksimal mungkin" Ujar perempuan yang duduk tersungkur sambil menutupi kepalanya dengan tas.
Alana didepannya, tangan kanannya menggenggam erat tongkat bisbol yang akan dilayangkan kearah perempuan itu. Alana terus tertawa tanpa ada rasa iba.
"Beri saya satu berita penting mengenai wanita j*lang sialan itu, unggah di media buat namanya hancur" Teriak Alana dengan sangat emosi.
Perempuan itu terus menangis dan memohon untuk dibebaskan. "Maaf buk, saya tidak berani sama beliau"
Alana melempar tongkat bisbolnya yang menghancurkan meja kaca diruang tengah itu, semuanya berantakan. Alana tak bisa menahan emosinya. Perempuan itu langsung berlari keluar dengan cepat sampai terjatuh-jatuh.
"Sialan.. J*lang sialan.. Beraninya pulang dan merendahkan ku di acara itu" Teriak Alana sambil menangis.
Tingtong... Suara bel dari luar apartemennya.
"Siapa sih.. Pengen gue bun.." ucapan Alana terputus, terkejut dengan seseorang yang berdiri di depan apartemennya.
Alana tertawa setelahnya, " Mata gue gak minus kan, beneran Bayu?, ha ha ha" ucapnya sambil tertawa.
"Saya mau bicara tentang kesepakatan yang menguntungkan kita berdua" Ujar Bayu dengan datar, namun matanya menunjukan keseriusan yang mampu Alana lihat.
Didalam ruangan itu, mereka berdua duduk saling berhadapan. Alana terus menatap Bayu dengan sinis. "Lo gak tau siapa gue sampai ngomongin kesepakatan segala"
Bayu tersenyum ramah. "Saya kenal sekali dengan ibu Alana, bahkan anda lebih pantas di panggil Alana Mahesa" Ujar Bayu lirih.
Alana melirik melihat Bayu, wajahnya mulai berubah. "Kesepakatan apa yang membuat lo berani datang kesini"
"Keluarkan Aruna dari rumah Pak Devara, saya akan membuat anda menikahi Pak Devara segera" Dengan lantang Bayu mengatakannya.
Alana tertawa kembali, "Apa bisa gue percaya" katanya ditengah tawa nya.
Bayu menyodorkan satu lembar kertas didalam map yang membuat mata Alana membulat terkejut, bahkan Ia mengambil map tersebut untuk memastikan apa yang dilihatnya benar.
"D-dari mana ini..?" Tangan Alana gemetar memegang map tersebut.
"Apa anda pernah hamil sebelumnya?" Dengan santai Bayu bertanya.
Alana langsung merobek kertas itu dan menginjak-injak sampai tak berbentuk lagi, emosinya mulai meledak kembali. "GAK, GAK BENER!!!!!" Teriak Alana.
"Itu hanya fotocopy, yang asli saya simpan. Hubungi saya sebelum matahari terbit, saya tunggu Ibu Alana" Ujar Bayu sambil tersenyum lalu pergi keluar apartemen.