Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Ghaizka muncul perlahan dari arah dapur dengan Wajahnya datar.
"Gelsya... Kamu tetap harus sekolah seperti biasa. Jangan pikirkan hal lain. Masalah biaya sekolah dan kebutuhanmu, biar Mama yang tanggung dan cari caranya sendiri," kata Ghaizka dengan nada tenang.
Perkataan itu Ghaizka membuat Gelsya dan Arga sama-sama terkejut. Mata mereka membelalak.
"Bagaimana bisa...? Tadi aku berbicara dengan suara berbisik, hampir tak terdengar. Dan dia ada di dalam dapur, jaraknya cukup jauh. Bagaimana mungkin dia bisa mendengar setiap kata yang kami ucapkan dengan begitu jelas?" batin Arga tercengang.
Arga semakin yakin bahwa wanita ini bukan wanita biasa. Pendengaran luar biasa tajam.
Ghaizka mengalihkan pandangannya ke arah Arga.
"Dan Tuan Arga... Jika Anda ingin berterima kasih, lakukanlah dengan cara yang wajar saja. Tidak perlu sampai menawarkan membayar biaya sekolah anakku sampai tamat," ucapnya pelan namun menusuk.
"Saya tau Anda ingin berterima kasih karena saya sudah menyelamatkan Anda, tapi keberatan menerimanya. Saya adalah ibunya, dan saya yang bertanggung jawab penuh atas masa depan anak saya. Saya masih bisa bekerja dan berusaha. Jadi tolong, jangan memperlakukan kami seolah kami orang yang tidak mampu dan harus dikasihani. Anda cukup membayar biaya pengobatan dan perawatan Anda saja di sini. Itu sudah cukup," kata Ghaizka dingin
Arga benar-benar terpaku mendengarnya.
"Ehem..." Arga berdeham pelan. Ia merapikan bajunya sedikit.
"Maafkan saya, Nona Ghaizka... jika ucapan saya tadi menyinggung perasaan Anda. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian, saya hanya ingin membantu. Baiklah, saya mengerti. Saya tidak akan membahas hal itu lagi," jawab Arga dengan sopan.
Arga lalu berdiri tegak menghadap Ghaizka.
"Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena Anda sudah mau menyelamatkan dan merawat saya dengan sangat baik saat saya dalam keadaan kritis. Lalu... berapa total biaya pengobatan dan obat-obatan yang saya butuhkan ini?" tanyanya dengan nada formal.
"Terserah Anda saja. Berapa pun jumlahnya, akan saya terima sebagai ganti bahan bakunya," jawabnya santai.
Arga mengangguk mengerti. "Baiklah. Namun sepertinya saat ini saya tidak membawa uang tunai. Jadi izinkan saya pulang dulu mengambil uangnya, lalu saya akan datang kembali lagi ke sini untuk membayar lunas," kata Arga meminta izin.
"Silakan," jawab Ghaizka singkat.
"Terima kasih. Saya permisi dulu," ucap Arga lalu membungkuk hormat sedikit, kemudian berbalik badan meninggalkan rumah itu.
Arga baru saja sampai di halaman depan rumah yang sederhana itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kecil berlari mengejarnya dari belakang.
"Paman! Tunggu sebentar!" panggil Gelsya.
Arga menoleh dan berhenti. Terlihat Gelsya berlari kecil menghampirinya.
"Ada apa, Gelsya? Kenapa kamu lari-lari?" tanya Arga lembut, menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan anak itu.
"Paman... tolong jangan marah sama Mama ya? Mama memang kelihatannya galak dan jutek, tapi sebenarnya Mama itu orangnya sangat baik. Mama cuma gak mau merepotkan orang lain. Tolong jangan benci Mama ya, Paman?" kata Gelsya pelan.
Hati Arga seketika luluh. Ia tersenyum manis. Ia mengusap kepala Gelsya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak kok, Gelsya. Paman sama sekali tidak marah. Mana mungkin Paman marah pada orang yang sudah menyelamatkan nyawa Paman? Paman justru semakin kagum sama Mama kamu yang pekerja keras dan baik hati," jawab Arga menenangkan
"Paman janji akan datang lagi ke sini. Dan kamu... tumbuhlah menjadi anak yang pintar dan kuat ya, supaya nanti bisa lindungi Mama seperti janji kamu dulu," ingat Arga sambil mencolek hidung mungil Gelsya.
"Iya Paman!" jawab Gelsya semangat sambil tersenyum lebar, menampakkan gigi-gigi kecilnya yang lucu.
"Ya sudah, Paman pergi dulu ya. Dadah..." Arga melambaikan tangannya pelan.
"Dadah Paman!"
Arga pun melanjutkan langkah kakinya menyusuri jalanan itu.
Baru beberapa langkah ia berjalan, ia baru menyadari situasi dirinya yang sebenarnya cukup kacau saat ini.
"Astaga..." batinnya sambil merogoh saku celananya yang kosong melompong.
Ia tidak membawa uang sepeser pun. Ponselnya pun entah hilang di mana saat insiden penyerangan tempo hari, atau mungkin tertinggal di tempat kejadian.
Akibatnya, ia sama sekali tidak bisa menghubungi pasukan pengawalnya atau asistennya untuk menjemputnya.
Arga terpaksa harus berjalan kaki menyusuri jalan raya yang cukup jauh, sambil berpikir bagaimana cara ia bisa kembali ke rumah, ia hanya bisa berjalan kaki.