Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
Pagi ini Fahri kalang kabut di dapur ditemani Sari. Dia membuat sarapan untuk Bella, Sari tidak boleh membantu, dia disuruh jadi mandor, tugasnya hanya mengajari Fahri, tidak boleh bergerak.
Sedangkan Yanti sibuk membersihkan rumah sambil memutar pakaian di mesin cuci, mereka bertiga berbagi tugas.
"Telurnya dibalik, Pak. Jangan sampai gosong!" kata Sari melihat telur dadar yang sudah coklat di dalam wajan penggorengan.
Ini percobaan yang kedua tapi masih gagal, telur keburu hangus sehingga terpaksa dibuang ke tong sampah. Fahri membelah telur lagi dan memberi garam serta sedikit penyedap, menaburi bawang prei biar harum.
"Ayo, masukin lagi!" suruh Sari.
Fahri menuang telur yang sudah diaduk ke dalam wajan, membiarkannya sebentar dan berpindah membolak-balik nasi goreng di kompor satunya lagi.
"Itu sudah kuning, Pak. Cepat dibalik!" ucap Sari.
Fahri mematikan api nasi goreng dan cepat-cepat membalik telur. Sepertinya kali ini berhasil, tidak coklat lagi seperti sebelumnya.
"Angkat, Pak! Sudah matang itu," ucap Sari.
Fahri bergegas mengambil piring dan memindahkannya ke sana.
Huh...
Akhirnya berhasil juga, Fahri menyeka keringat dengan lengan bajunya. Perkara telur dadar saja banyak sekali drama yang harus dilewati, Sari sampai tertawa berkali-kali.
Setelah menata nasi goreng di piring, Fahri menaruh telur dadar di atasnya. Menghiasnya dengan timun dan tomat yang sudah diiris dan menaburi bawang goreng.
Selesai sudah perjuangan Fahri pagi ini. Nasi goreng sudah ditata di meja makan, toples berisi kerupuk udang juga sudah tersedia, ditambah jeruk hangat kesukaan Bella.
"Pagi semuanya," sapa Bella yang sudah rapi mengenakan kemeja putih dan celana hitam panjang, rambut dikuncir seperti ekor kuda.
Mendapati Fahri yang mengenakan celemek dan berdiri di samping meja makan, alis Bella bertaut dengan mulut sedikit terbuka. "Kamu ngapain, Fahri?" tanyanya. Perlahan pipinya menggembung, tanpa bisa dia tahan tawanya menyembur, dia terbahak-bahak melihat Fahri seperti seorang koki di restoran.
"Hahaha..."
Fahri merasa kesal melihat ekspresi Bella yang seperti mengejek dirinya, dia membuka celemek buru-buru dan melemparnya ke lantai. "Sudahlah, sarapan saja sendiri." ucap Fahri, dia melengos pergi dan masuk ke kamar dengan wajah cemberut.
"Dia marah?" gumam Bella bertanya-tanya, tawa yang tadi menggema seketika hilang menyaksikan punggung Fahri yang menghilang dari pandangannya.
"Astaga, Bella." Sari mendekat dan memungut celemek yang tergeletak di lantai. "Kenapa harus ditertawakan? Suamimu sudah bersusah payah menyiapkan sarapan untukmu, tangannya sampai melepuh kena minyak panas." ungkap Sari sambil geleng-geleng kepala.
Bella membuka mata lebar-lebar, dia tidak tau Fahri baru selesai membuatkan sarapan untuknya. Lagian dia hanya bercanda, kenapa Fahri harus marah.
Setelah menatap nasi goreng yang sudah terhidang di meja makan, Bella berbalik badan dan berlari kecil menyusul Fahri ke kamar.
Di kamar, Bella tidak melihat batang hidung Fahri di sudut manapun, hanya terdengar gemercik air yang berasal dari kamar mandi.
Bella duduk di tepi ranjang, wajahnya terlihat gelisah dengan tangan saling meremas.
Krek...
Pintu kamar mandi terbuka, Fahri keluar mengenakan handuk yang melilit di pinggang dan berjalan ke arah lemari.
"Fahri..." panggil Bella dengan mata mengikuti kemana langkah Fahri.
Fahri tidak menyahut, dia fokus mengenakan pakaian seolah tidak mendengar suara apapun. Setelah memasukkan ujung kemeja ke dalam celana, Fahri memakai ikat pinggang kemudian menyambar dasi yang tergantung di lemari.
"Fahri, kamu marah?" Bella kembali bersuara, akan tetapi Fahri lagi-lagi berlagak tidak tau dan berdiri di depan meja rias mengikat dasinya.
Karena Fahri hanya diam, Bella bangkit dari ranjang dan berjalan ke arahnya. Bella berdiri di depannya dan menyingkirkan tangan Fahri. "Sini, biar aku bantu!" Bella melanjutkan pekerjaan Fahri yang belum selesai.
Setelah dasi terikat sempurna, senyum Bella tersungging, tidak dengan Fahri yang hanya diam dengan tatapan datar. Fahri hendak melangkah, dengan cepat Bella memeluk lengannya, membuat gerakannya tertahan.
Kemudian Bella mengalungkan tangan di leher Fahri, dia berjinjit. "Fahri maaf, aku tidak bermaksud mengejek." tutur Bella meminta maaf dengan tulus.
Fahri membuang muka ke kanan, pipinya sedikit bergerak.
"Sayang maaf, aku tidak bermaksud... Aku hanya bercanda," rengek Bella sambil meraih pipi Fahri, mendorongnya kembali ke arahnya hingga tatapan keduanya bertemu.
Melihat mata Bella yang sudah merah, tawa Fahri menyembur. Dari tadi dia sudah bersusah payah menahan, tapi tidak kuat menyaksikan Bella yang hampir menangis.
Fahri menekuk kakinya sedikit, mengangkat Bella dan menaruhnya di meja rias. "Aku juga bercanda," ungkapnya sambil membelai rambut Bella.
"Fahri..." teriak Bella dengan lantang, pipinya menggembung, tangannya menyusup di pinggang Fahri, mencubitnya sekuat tenaga.
"Aduh..." rintih Fahri sambil menggeliat, pinggangnya terasa pedih. "Sakit, sayang." keluhnya dengan muka melas.
"Rasain!" ketus Bella melipat tangan di dada dan membuang muka.
"Hehe..." Fahri tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang kian hari kian terbuka. Lagi marah, ya ngamuk. Lagi sedih, ya nangis. Lagi manja, ya mesra. Tidak ada lagi yang ditutup-tutupi.
Fahri senang melihat Bella seperti ini, perubahannya jauh dengan dua tahun pernikahan sebelumnya. Yang mana ketika marah, sedih ataupun bahagia, ekspresinya sama saja, datar seperti jalan tol.
"Udah ngambeknya, sekarang waktunya sarapan." ucap Fahri yang kemudian menggendong Bella meninggalkan kamar, keduanya menikmati sarapan yang dibuat Fahri tadi.
Tidak buruk, rasanya lumayan enak meski baru pertama kali memegang wajan. Usai sarapan, keduanya pamit meninggalkan rumah.
Sesampainya di kantor, Fahri turun lebih dulu, mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Bella. Keduanya memasuki kantor dengan tangan bergandengan.
Bella tidak canggung lagi jalan berdua dengan Fahri, lagian orang-orang di kantor sudah tau siapa dia, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi.
"Pagi, Pak, Buk..." sapa para karyawan dengan sopan, keduanya mengangguk dengan sedikit senyum dan naik ke lantai lima.
Di ruangan, meja kerja Bella bergandengan dengan meja Fahri. Sekarang posisinya bukan sekretaris lagi, tapi asisten utama, berhasil menggeser posisi yang dipegang Reza sebelumnya.
Tugasnya hanya melayani kebutuhan pribadi Fahri. Dengan begitu, Bella akan tetap berada di sisi Fahri 24 jam nonstop, kemana Fahri pergi, dia harus ikut.
Sebenarnya Bella tidak ingin kerja seperti ini, kerja apaan cuma melayani kebutuhan suami. Tidak bekerja pun tetap harus melayani suami di rumah.
Tapi ya sudahlah, mau gimana lagi. Dia tidak punya keahlian apa-apa, dikasih jabatan pun percuma. Mau belajar, tapi otaknya sudah beku. Tidak mungkin lagi mengejar ketertinggalan.
"Minggir!"
"Maaf, Pak, Buk.... Anda tidak diperbolehkan lagi menginjak kantor ini."
"Kamu siapa, berani-beraninya melarang kami masuk."
"Saya bukan siapa-siapa, tapi ini tugas saya."
Di lobby, Dayat dan Hana memaksa masuk ke dalam. Meski sudah dilarang, keduanya tidak menyerah. Mereka bersikeras masuk dan mendorong satpam hingga terjatuh.
Melihat banyaknya karyawan yang menatap ke arahnya, Dayat dan Hana tersenyum licik.
"Kalian semua," seru Dayat sambil berdiri tegap, semua mata fokus menatapnya.
"Asal kalian tau, Bella bukan wanita baik-baik, dia tidak pantas bersanding dengan atasan kalian." imbuh Dayat.
"Dia anak durhaka, dia meninggalkan kami. Setelah sukses, dia membuang kami yang sudah membesarkannya." timpal Hana.
Mendengar itu, suasana lobby menjadi riuh. Suara para karyawan sahut menyahut mempertanyakan istri atasan mereka.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡