Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Rumah Tanpa Suara
🍒🍒Assalamualaikum🍒🍒
Bertemu lagi Dengan Sagara Dan Shafiya di buku ini. Bukan season dua dari judul CINTA DI BALIK KONTRAK DOSA DAN PAHALA. Tapi rumah baru untuk kisah Safiya dan Sagara.
Selamat membaca ya..
Semoga Suka.
ISTRI TANPA SENTUHAN PEWARIS ADINATA.
Ia istrinya. Ia mengandung anaknya. Tapi mereka tak pernah benar-benar bersama
Bab 1. Rumah Tanpa Suara.
🍒🍒🍒
Shafiya tak bisa melawan kantuk yang selalu datang usai sholat subuh. Dan ia akan terbangun sebelum matahari benar-benar datang. Selalu begitu. Bukan karena alarm.
Tapi karena tubuhnya sendiri yang menolak untuk kembali tenang.
Tangannya refleks bergerak ke perutnya.
Masih datar. Masih sunyi.
Namun entah sejak kapan, setiap bangun tidur, bagian itu selalu terasa… berbeda.
Bukan sakit. Tapi sesuatu yang membuatnya sadar--ada yang berubah.
Ia menarik napas pelan. Dalam. Lalu melepasnya hati-hati, pandangannya mengitari ruangan.
Kamar itu terlalu luas untuk satu orang.
Langit-langit tinggi. Tirai tebal. Udara dingin dari pendingin ruangan yang tak pernah dimatikan. Semuanya rapi. Terlihat sempurna. Tapi juga terasa asing--seperti tempat yang tak pernah benar-benar menerimanya.
Shafiya duduk perlahan di tepi ranjang. Kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin. Bersamaan itu satu ketukan pintu terdengar. Ia tak perlu menjawab, pintu sudah dibuka dari luar.
"Nona, Anda sudah bangun?"
Winda berdiri di ambang.
"Iya."
Setelah mendengar jawaban itu, Winda maju dua atau tiga langkah. Seperti biasa. Setiap langkahnya mengikuti aturan sistem dalam rumah ini. Meski Shafiya sudah memintanya untuk bersikap biasa.
"Tuan Sagara sudah ada di ruang makan."
"Iya. Saya kesana."
Shafiya merapikan kerudungnya lalu bangkit. Melangkah keluar. Dan seperti biasa Winda mengikuti dua langkah di belakang.
Ruang makan tetap hening seperti biasa.
Lampu-lampu sudah dinyalakan. Beberapa tirai jendela sudah terangkat.
Di atas meja makan besar yang dikelilingi beberapa kursi, hidangan telah tersedia. Namun hanya satu kursi yang terisi. Di ujung.
Sagara duduk di sana. Ia sudah rapi dalam setelan kerjanya. Jas gelap, kemeja bersih, dan ekspresi yang sama seperti kemarin. Dan kemarinnya lagi. Datar.
Shafiya mendekat.
Pandangan mereka sempat bertemu. Hanya sebentar. Tak ada sapaan.Tak ada tanya apakah ia tidur nyenyak semalam. Hal yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Seperti sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini sebagai… istri.
Shafiya menelan ludah pelan.
Status itu masih terasa ganjil di lidahnya sendiri.
Istri.
Sebuah kata yang seharusnya hangat.
Namun di rumah ini, kata itu terasa seperti kesepakatan. Bukan hubungan.
Mereka duduk bersama. Satu meja. Sarapan bersama. Tapi, jarak tak perlu dicari. Ia ada, dan mungkin akan selalu ada.
Sagara selesai lebih dulu seperti biasa. Namun kali ini Shafiya mengikuti.
Ia mengakhiri sebelum benar-benar selesai.
“Selesai." Suara itu akhirnya terdengar.
Bukan pertanyaan. Tapi seperti konfirmasi yang tak membutuhkan jawaban.
Shafiya mengangguk pelan. “Iya.”
Hening lagi.
Ratri mendekat. Ia penguasa sistem di rumah itu. Meletakkan jam tangan milik Sagara di atas meja. Jarak sekian dari pemiliknya.
Setelahnya Ratri mundur. Dan kembali ke tempatnya. Berdiri di sisi ruangan.
"Saya mau bicara," kata Shafiya.
Sagara tak menjawab sebelum selesai memasang jam tangan mahal itu. Baru kemudian ia mengangguk.
"Abi saya sakit."
Sagara diam. Tetap datar.
"Rawat inap di Adinata Medical Center," lanjut Shafiya.
Sagara mengangguk. Setelah memastikan Shafiya benar-benar sudah mengakhiri kalimatnya.
“Kamu harus ke dokter hari ini.” Ia mengucapkan hal lain dan kalimat itu membuat jari Shafiya sedikit menegang di atas kain gaunnya.
Ia mengangkat wajah. “Hari ini?”
“Ratri sudah mengatur jadwalnya.”
Kalimat itu Bukan ajakan. Bukan diskusi.
Tapi keputusan.
Shafiya diam beberapa detik.
Lalu, "Saya baik-baik saja.”
Sagara menatapnya lebih lama, dan tatapan itu turun sekilas ke arah perut Shafiya.
“Ini bukan soal kamu,” katanya dingin.
“Yang penting... anak itu.”
Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka. Tanpa beban. Tanpa emosi berlebihan.
Seolah itu adalah hal yang paling wajar diucapkan.
Shafiya menunduk.
Jarinya kembali menyentuh perutnya.
Lebih erat kali ini. Seakan hanya itu satu-satunya hal yang benar-benar ia miliki.
“Iya,” jawabnya lirih.
“Mobil akan menunggu jam sembilan.”
Sagara bangkit, sedikit merapikan jasnya.
"Sekalian kamu menjenguk kyai Fakih."
Shafiya mengangguk. Meski ia tahu tak ada yang melihat, karena Sagara sudah menjauh. Dan pintu ruang makan ditutup.
Kembali sunyi. Tanpa suara seperti biasanya.
Shafiya masih diam cukup lama.
Hingga akhirnya, tanpa sadar, satu pertanyaan itu muncul lagi.
Pertanyaan yang tak pernah benar-benar ia ucapkan keras-keras.
Bagaimana mungkin Ia mengandung anak dari seorang pria
yang bahkan tak pernah benar-benar menyentuhnya?
..
...
Jam sembilan mobil mewah warna hitam itu meluncur dari halaman Adinata Residence 3. Melewati rute khusus, bukan melalui gerbang utama. Hampir setengah jam perjalanan, mobil menapaki halaman luas Adinata Medical Center--Rumah sakit terbesar di kota.
"Ke dokter Zulaika dulu, Nona." Winda menyampaikan pesan Ratri sebelum perjalanan tadi.
Shafiya mengangguk. Meski langkahnya ingin segera terayun ke lantai 2. Tempat abinya dirawat.
Sudah lebih satu bulan mereka belum pernah bersua. Hanya bertukar kabar lewat sambungan, itu pun bisa dihitung jumlahnya. Sebenarnya Shafiya rindu. Sangat. Tapi takut untuk bertemu. Juga merasa malu.
Begitu turun dari mobil, dua orang sudah menyambut. Terus mengawal langkah Shafiya hingga tiba di ruang prakter dokter Obgyn yang terpilih--dokter Zulaika.
Ruang praktik itu terasa berbeda kali ini.
Terasa lebih sunyi dari seharusnya.
Tidak ada suara perawat.
Tidak ada pasien yang menunggu--padahal ini masih jam praktik. Bahkan tidak ada langkah kaki, seolah sengaja diredam.
Kondisi yang terlalu rapi dan terlalu kosong.
Seolah ruangan itu memang sudah dipersiapkan. khusus. Untuk Shafiya.
Winda sempat melirik sekilas ke sekeliling. Namun tak berkata apa-apa.
Semua orang di tempat ini tahu batas.
Dan hari ini, batas itu terasa lebih jelas dari biasanya.
Dari ruangan dalam dokter Zulaika muncul. Tersenyum. "Ning Shafiya."
"Dokter Zul."
Sapaan yang cukup akrab. Bahkan kini mereka berdiri cukup dekat. Bukan karena Shafiya pasien lama yang sudah cukup dikenali. Tapi adanya ikatan kekerabatan antara Shafiya dan Zulaika sebelum semua ini terjadi.
"Sepi." Shafiya menatap sekeliling. Tersenyum kecil.
"Dikosongkan sejak tiga puluh menit lalu," sahut Zulaika. "Atas perintah dokter kepala."
Shafiya diam sejenak. Tak perlu bertanya siapa, dan kenapa. Dokter kepala Adinata Medical Center--Dokter Raka Pradipta. Teman dekat Sagara Adinata. Satu dari sedikit orang yang bisa mengatur banyak hal--tanpa perlu terlihat melakukannya.
Shafiya kemudian duduk. Jemarinya saling bertaut.
Dokter Zulaika tersenyum menatapnya.
"Ada keluhan?"
Shafiya menggeleng.
“Hanya… cepat lelah.”
“Masih mual pagi?”
“Kadang.”
Zulaika menulis sesuatu dengan cepat.
“Baik. Kita cek dulu.”
Ia berdiri. Mengarahkan Shafiya ke ranjang periksa. Memberi isyarat halus agar Shafiya mendekat.
Zulaika mulai memeriksa dengan hati-hati.
Gerakannya profesional dan terlatih. Tapi tidak dingin. Proses pemeriksaan tidak terlalu lama, juga tidak terlalu singkat.
"Janinnya baik," ucapnya pelan, disertai senyum. "Perkembangannya sesuai."
Shafiya menoleh sedikit. "Tidak ada masalah?"
Zulaika menggeleng. "Sejauh ini, tidak."
Shafiya diam sejenak. Selanjutnya ia ingin bicara lagi, tapi telepon di meja dokter Zulaika berbunyi.
Dokter berhijab itu melihat ke layar ponselnya sejenak. "Dokter Raka." Ia memberitahukan siapa yang menelepon.
"Apa ada hal penting?"
"Pasti terkait hasil pemeriksaan Ning Shafiya."
Mendengar itu Shafiya mengernyit.
"Selanjutnya... diteruskan ke pak Sagara," kata Dokter Zulaika lagi.
kali ini Shafiya diam. Ia hanya mendengarkan saja laporan dokter Zulaika ke dokter Raka terkait pemeriksaannya kali ini. Seolah itu bukan tentang tubuhnya.
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering