Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelelangan
"Tuan, tolong saya!"
Mohon seorang wanita berpakaian seksi yang melewati Rayga.
Dia sengaja mencondongkan tubuhnya mendekati telinga Rayga saat berpapasan, agar Rayga bisa
mendengar apa yang dia katakan.
Suaranya pun begitu keras, bahkan bisa dibilang berteriak saat berkata seperti itu.
Rayga menoleh ke arah wanita yang tadi berbicara sekilas padanya, tetapi dia abai tanpa ada niat sedikit pun untuk memberi pertolongan pada wanita yang dikawal oleh beberapa pria berbadan besar.
Wanita yang bernama Aurelia Valensi dipaksa masuk ke dalam rumah bordir oleh anak buah ibu angkatnya.
Tangis dan teriakan permohonan Aurelia Valensi tidak ada artinya bagi mereka.
"Tuan, tolong saya!" lirih Aurellia menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Rayga yang meneguk minuman dari sebuah botol kaca yang dia pegang.
Sekilas dari sudut mata, Rayga melihat Aurellia menoleh ke arahnya, gerakan bibir Aurellia juga bisa terbaca olehnya.
"Siapa dia?" Rayga meletakkan botol bekas minumannya, lalu melangkah cepat menyusul wanita yang meminta pertolongan padanya.
Namun, Rayga terlambat, Aurellia sudah tidak terlihat di area sana.
"Ada apa, Bos?" tanya Xander-asisten pribadi Rayga, dia mengikuti langkah Rayga dari belakang.
"Tidak ada apa-apa," jawab Rayga enggan memberitahu Xander.
Rayga dan Xander kembali ke tempatnya semula.
Beberapa saat mereka di sana membahas hal random yang tidak begitu penting.
"Apa kita jadi ikut pelelangan hari ini, Bos?" tanya Xander ketika menyadari jadwal lelang hampir dimulai.
"Iya, mana tahu ada barang bagus. Minggu kemarin kita zonk," jawab Rayga.
Di rumah bordil itu setiap seminggu sekali selalu ada pelelangan.
Banyak pebisnis dan milyarder yang hadir di sana untuk ikut berpartisipasi dalam acara pelelangan.
Termasuk Rayga, dia juga sering ikut acara tersebut.
Namun, dia ikut pelelangan bukan untuk dinikmati secara pribadi, melainkan untuk koleksi dan dia jadikan alat bisnis meraup keuntungan lebih.
"Kabarnya malam ini ada yang istimewa, Bos, Barangnya terjamin bersegel dan hak pakai seutuhnya untuk pemenang lelang. Tidak ada jangka waktu perjanjian. Hanya saja, harga dibuka dengan nominal tinggi, ujar Xander memberitahukan info yang dia terima.
"Berapa?" tanya Rayga santai.
Xander mengedikan bahunya. "Belum ada bocoran untuk nominal pembuka awal. Saya rasa, barangnya akan diperebutkan dan membuat persaingan ketat."
***
Satu jam berlalu, suasana di ruang pelelangan terdengar riuh ketika pembawa acara memberitahu kalau malam ini akan ada barang spesial untuk dilelang.
Cahaya remang-remang di atas panggung membuat wajah peserta lelang awalnya tidak bisa terlihat dengan jelas.
Setelah beberapa saat, baru lah lampu sorot menerangi wajah mereka.
Mata Rayga menyipit saat melihat salah satu kandidat lelang.
Wanita itu menunduk, berbeda dengan peserta lain yang menunjukkan senyuman mereka untuk memikat para pria kaya di depan mereka.
"Wanita itu," gumam Rayga menatap intens ke depan.
Rayga terbayang saat wanita yang kini menjadi salah satu kandidat lelang meminta pertolongan padanya.
Dia yakin tidak salah orang, karena dari pakaian, postur tubuh dan rambutnya juga sama.
"Kenapa dia di urutan terakhir? Apa dia yang dimaksud-" Rayga berpikir sejenak, menerka-nerka tentang Aurellia yang terus menunduk dan sangat mencolok di antara kandidat lain.
"Apa ada sesuatu yang mengusik pikiranmu, Bos?" tanya Xander yang merasa aneh dengan tatapan tak biasa dari Rayga pada kandidat lelang di rumah bordil.
Rayga diam tanpa ekspresi, walau dia mendengar pertanyaan Xander, tetapi tidak ada niat sedikit pun di hatinya untuk menjawab.
"Okay." Xander mengangkat bahu, lalu meneguk minuman di depannya.
Dia tidak mau mengganggu bosnya yang terlihat sangat serius dengan isi kepalanya yang tidak diketahui Xander.
Sedari masuk ke dalam ruang lelang, Rayga tidak luput dari pantauan mata seseorang.
Dia adalah rekan bisnis Rayga yang selalu menyainginya dalam hal bisnis apapun.
"Aku rasa, kali ini Anda juga akan pulang dengan tangan kosong, Tuan Rayga."
Seseorang mendekati Rayga dan berkata dengan nada ejekan.
Bahkan dia juga menyeringai seolah merendahkan Rayga yang masih fokus menatap wanita di depan sana.
Rayga mendengus, tetapi tidak menoleh pada orang yang berdiri di sampingnya.
Bagi Rayga, ejekan yang dilemparkannya bukan lah hal penting yang harus ditanggapi.
"Sebaiknya Anda pulang saja Tuan Rayga, Percuma di sini menghabiskan waktu, nanti pastinya Anda juga akan pulang dengan tangan kosong." Dia kembali mencemooh Rayga, mengungkit tentang lelang minggu lalu yang tidak dimenangkan oleh Rayga.
Tangan pria dengan rahang tegas itu mengepal erat.
Telinganya terasa panas mendapat cemooh yang sebetulnya tidak ingin dia tanggapi.
Namun, kalau terus-terusan diusik seperti itu, tentu saja Rayga tidak terima.
Apalagi harga dirinya sebagai mafia dan seorang pebisnis handal seperti diinjak-injak hanya karena sekali saja tidak memenangkan lelang.
Lagian, minggu lalu dia tidak memenangkan lelang bukan karena Rayga perhitungan tentang uang yang akan dia keluarkan, tetapi memang tidak ada hal yang menarik hati dan perhatiannya, sehingga semua kandidat lelang dia lepaskan untuk
yang lain.
Acara lelang terus berjalan, penawaran terbaik untuk beberapa kandidat lelang telah dimenangkan oleh beberapa milyarder yang ikut partisipasi.
Setiap kandidat selalu ditawarkan juga pada Rayga yang sangat berpengaruh besar di sana, tetapi Rayga selalu menolak untuk ikut berpartisipasi.
"Yuhuu... kita masih punya satu kandidat lagi, kandidat yang mempunyai tarif tertinggi untuk malam ini." Pembawa acara lelang menggandeng maju kandidat lelang terakhir.
"Dia Aurellia Valensi Perempuan yang belum tersentuh sama sekali, Segelnya masih terjaga dan pastinya sangat rapet. Kami menjamin untuk hal ini."
Pembawa acara lelang tersenyum sekilas menoleh pada Aurellia dan mengibaskan selembar kertas hasil pemeriksaan mahkota Aurellia di rumah sakit ternama.
Dua hari sebelum pelelangan dilakukan di rumah bordil tersebut, Aurellia dibawa ke rumah sakit besar dan ternama oleh ibu angkatnya untuk memeriksa kesehatan dan juga segel gadis itu.
Awalnya Aurellia menolak permintaan ibu angkatnya, karena merasakan ada hal buruk yang akan menimpanya.
Namun, dengan bujuk rayuan ibu angkat, Aurellia akhirnya luluh.
Ibu angkatnya mengatakan pada Aurellia, kalau dia membawa Aurellia memeriksa kesehatan untuk keperluan berkas Aurellia yang nanti akan dia ikut sertakan mencalonkan sebagai anggota FBI.
Aurellia memang bercita-cita ingin menjadi tim FBI, tentu dia langsung bersedia dan bahagia.
Ternyata, itu hanya akal bulus
ibu angkatnya saja.
"Baik lah, Aku buka dengan penawaran 500 Dollar." Pembawa acara membuka harga lelang, tentu suasana jadi riuh.
Penawaran demi penawaran mulai saling mendahului, kecuali Rayga yang masih membaca situasi.
Pendengarannya dipertajam tanpa menoleh kiri maupun kanan, dia tetap pada posisinya yang terlihat santai.
"Pulanglah Tuan Rayga, Sepertinya hari ini keberuntungan juga tidak memihak pada Anda." Pria yang sedari tadi selalu mengoceh di dekat Rayga tertawa menepuk beberapa kali pundak Rayga.
"Kita lihat saja nanti," jawab Rayga, lalu menyeruput minumannya.
"50 ribu dolar," teriak salah satu pria di ujung ruangan lelang dengan semangat.
"Bagaimana? Apakah masih ada yang lebih tinggi?" tanya pembawa acara lelang menyahuti.
"500 ribu dolar." Pria yang berada di dekat Rayga menepuk dadanya sombong.
Harga yang dia sebutkan memang sangat fantastis untuk harga seorang kandidat dari rumah bordil.
Suasana kembali riuh mendengar nominal yang disebutkannya.
Beberapa orang terkejut, bahkan tidak percaya mendengarnya.
Selama lelang berlangsung di rumah bordil itu dilakukan, baru kali ini ada yang menawar kandiat lelang dengan harga fantastis.
"Berikan dia padaku, tidak akan ada lagi yang bisa melebihinya." Pria yang bernama Regan itu berjalan maju ke depan dengan sangat percaya diri.
Tepuk tangan pun mengiringinya.
Baru beberapa langkah Regan berjalan, ayunan langkah kakinya terhenti mendengar suara dari arah belakang.
Bahkan dia sampai terbatuk tak percaya mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh seseorang.