Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Angin Menuju Barat
Penginapan Bulan Sabit ramai lebih awal pagi itu. Para nelayan yang baru kembali dari laut memenuhi meja-meja, menyeruput sup ikan panas dan bertukar cerita tentang tangkapan semalam. Bau garam, ikan bakar, dan teh rempah bercampur menjadi satu, menciptakan aroma khas kota pelabuhan yang tidak akan ditemukan di pegunungan.
Xiao Chen masuk dengan Hui di sisinya. Beberapa pelanggan melirik serigala hitam itu dengan gugup, tapi tidak ada yang berani berkomentar. Lian Xin, yang sedang menuangkan teh untuk seorang pelanggan, melihatnya dan memberi isyarat dengan dagunya ke arah ruang belakang.
"Makan dulu," katanya singkat. "Kau terlihat seperti mayat hidup."
Xiao Chen tidak membantah. Semalaman tanpa tidur setelah pertarungan dengan Ular Laut Bermata Satu membuat tubuhnya terasa seperti diisi pasir, bukan Energi Chaos. Ia duduk di meja sudut, dan tak lama kemudian Lian Xin datang membawa semangkuk bubur seafood panas dan sepiring ikan bakar.
"Hui juga lapar," katanya, meletakkan semangkuk tulang ikan dan potongan daging di lantai untuk serigala itu. Hui langsung melahapnya dengan ekor bergoyang.
Xiao Chen makan dalam diam. Bubur itu hangat, mengisi perutnya yang kosong. Setelah beberapa suap, Lian Xin duduk di hadapannya, melipat tangan di dada.
"Kau dapat mutiaranya?"
Xiao Chen mengangguk.
"Dan Mo Gui memberimu peta Kapal Tulang?"
Anggukan lagi.
Lian Xin menghela napas panjang. "Aku sudah menduga. Orang tua itu sudah lama ingin mati. Dia hanya menunggu orang yang tepat untuk membantunya."
"Kenapa dia tidak bisa mati sendiri?"
Lian Xin menatap cangkir teh di tangannya. "Karena kutukan dari Laut Mati bukan sekadar kutukan biasa. Itu adalah ikatan dengan sesuatu di dasar lautan itu. Semacam jangkar yang menahannya tetap hidup, entah dia mau atau tidak. Hanya Energi Chaos murni yang bisa memutus ikatan itu."
Xiao Chen teringat simbol ungu kehitaman di dada Mo Gui. "Kau tahu banyak tentang dia."
"Aku sudah tinggal di kota ini selama dua puluh tahun, Nak. Mo Gui adalah legendanya. Semua orang tahu dia tidak bisa mati. Beberapa bahkan menganggapnya dewa pelindung kota." Lian Xin menyeringai pahit. "Mereka tidak tahu bahwa dia hanya ingin bebas."
Keheningan sejenak. Xiao Chen menghabiskan buburnya.
"Aku butuh kapal," katanya kemudian. "Untuk mencapai gua di pantai barat. Tiga hari berlayar."
Lian Xin mengangguk, seolah sudah menduga. "Aku tahu seseorang. Namanya Kapten Bao. Perahunya kecil, tapi kuat. Dia sudah berlayar di perairan barat selama tiga puluh tahun. Dia tahu setiap karang, setiap arus, setiap badai."
"Bisa dipercaya?"
"Bisa. Dia berutang nyawa padaku." Lian Xin berdiri. "Aku akan bicara dengannya. Tapi dia tidak akan berlayar gratis. Kau punya uang?"
Xiao Chen merogoh sakunya. Koin-koin tembaga sisa upahnya sebagai pelayan sudah habis. Ia hanya punya beberapa keping perak dari hasil menjual beberapa pil rendah dari Ruang Warisan—pil yang tidak berguna untuk kultivasinya tapi berharga bagi kultivator biasa.
"Ini cukup?"
Lian Xin menghitung keping itu. "Cukup untuk sampai ke gua. Tidak lebih."
"Tidak apa. Aku hanya perlu sampai di sana."
Lian Xin memasukkan keping-keping itu ke sakunya. "Baik. Istirahatlah di sini hari ini. Aku akan urus kapalnya. Besok pagi kau berangkat."
---
Sore harinya, Xiao Chen duduk di kamar kecil di lantai dua penginapan. Jendela kamarnya menghadap ke pelabuhan, dan ia bisa melihat kapal-kapal berlabuh, berayun pelan di atas air yang tenang. Langit di atas masih dihiasi awan pengawas yang berputar-putar, tapi entah kenapa hari ini mereka tampak lebih pasif. Mungkin sedang mengamati dari kejauhan, menunggu momen yang tepat.
Ia mengeluarkan Mutiara Kegelapan dari Ruang Warisan. Bola hitam itu berdenyut pelan di telapak tangannya. Sejak keluar dari Teluk Tanpa Bulan, mutiara itu belum "berbicara" lagi. Tapi Xiao Chen bisa merasakan kesadarannya—seperti bara api yang tertutup abu, menunggu angin untuk menyala kembali.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanyanya dalam hati pada mutiara itu.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan.
"Mungkin dia menunggumu tiba di Laut Mati," kata Yue Que. "Mutiara itu adalah mata Naga Laut Chaos. Dia mungkin ingin kau mengembalikannya ke tubuh asalnya—atau setidaknya ke tempat ia seharusnya berada."
"Tubuh asalnya sudah jadi pulau karang."
"Maka mungkin dia ingin kau melihat sesuatu di sana. Naga itu adalah saksi pertempuran terakhir Leluhur Pertama. Dia mungkin menyimpan ingatan tentang cara mengalahkan Surga."
Xiao Chen merenung. Semakin banyak alasan untuk segera mencapai Laut Mati.
Ia memasukkan kembali mutiara itu ke Ruang Warisan, lalu duduk bersila di atas tempat tidur. Malam ini ia tidak akan tidur. Ia akan melanjutkan latihannya.
Lengan kiri.
Sembilan retakan di lengan kanan sudah selesai. Sekarang giliran lengan kiri. Ia harus mematahkan tulangnya sendiri, satu per satu, sama seperti sebelumnya. Sakit. Melelahkan. Tapi tidak ada pilihan lain.
Ia menarik napas, mengalirkan Energi Chaos ke lengan kirinya. Tulang hasta dan pengumpil di lengan bawahnya bergetar, siap diretakkan.
Krrrk.
Retakan pertama. Sakit yang sudah dikenalnya.
Krrrk.
Retakan kedua. Kali ini di dekat siku.
Xiao Chen menggigit bibirnya. Keringat mengucur. Tapi ia terus.
Malam itu, di kamar kecil Penginapan Bulan Sabit, suara retakan tulang terdengar berkali-kali. Hui yang berbaring di sudut kamar hanya menonton dengan mata merah yang tenang. Ia sudah terbiasa dengan ritual malam tuannya.
Saat fajar menyingsing, tiga retakan baru telah terbentuk di lengan kiri Xiao Chen. Tiga dari sembilan.
Ia membuka mata. Lengannya gemetar, tapi ia bisa merasakan aliran Energi Chaos mulai mengalir ke sana. Masih kaku, masih belum sempurna. Tapi itu awal.
Lian Xin mengetuk pintunya. "Kapten Bao sudah siap. Kapalnya menunggumu di dermaga nomor tujuh. Jangan sampai ketinggalan."
Xiao Chen bangkit, meregangkan tubuhnya yang pegal. Ia mengenakan Jubah Perangnya, menyelipkan Yue Que di baliknya, lalu keluar kamar. Hui mengikutinya.
Di dermaga nomor tujuh, sebuah perahu kayu sederhana dengan satu layar dan lambung bercat merah pudar menunggu. Di atasnya, seorang lelaki tua berkulit gelap dengan topi jerami dan janggut putih sedang mengikat tali. Itulah Kapten Bao.
Mata tuanya menatap Xiao Chen tajam. "Kau penumpangnya? Lian Xin bilang kau aneh. Dia tidak bohong."
"Aku hanya perlu sampai ke Gua Naga Tidur. Tidak lebih."
Kapten Bao mendengus. "Gua Naga Tidur? Tempat itu tidak ada di peta nelayan mana pun. Tapi Lian Xin sudah membayar. Jadi naiklah. Kita berangkat sebelum angin pagi hilang."
Xiao Chen dan Hui naik ke perahu. Layar dikembangkan, tali dilepas, dan perlahan perahu itu menjauh dari dermaga, menuju laut lepas di barat.
Di kejauhan, di atas bukit karang, Mo Gui berdiri di depan rumahnya, menatap perahu kecil yang semakin mengecil di cakrawala. Di tangannya, Mutiara Kegelapan berdenyut pelan.
"Selamat jalan, Pewaris," bisiknya pada angin. "Semoga kau menemukan apa yang kau cari. Dan semoga kau kembali untuk menepati janjimu."