Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
Malam hari sekitar pukul tujuh Bella dan Fahri tiba di rumah sakit, sebelah tangan Fahri menenteng rantang sedangkan sebelahnya lagi menenteng buah yang baru saja mereka beli di supermarket.
"Bik Sari..." seru Bella dari balik pintu yang terbuka sedikit. Di ranjang pasien, Sari melengos ke arah pintu, dia tersenyum melihat kedatangan Bella.
Bella melangkah masuk disusul Fahri di belakangnya. Setelah Bella duduk di kursi samping ranjang, Fahri menaruh barang bawaannya di atas nakas lalu membantu Sari duduk dan menyangga punggungnya dengan bantal.
Bella pun tampak sibuk mengeluarkan anak rantang satu persatu dan menaruhnya di meja khusus pasien.
"Ayo makan dulu, Bik!" ajak Bella yang nampak begitu bersemangat.
"Bella, kamu mau ngapain bawa makanan sebanyak ini?" tanya Sari geleng-geleng kepala melihat empat anak rantang berisikan nasi, telur balado, tumis kangkung dan ikan bakar, semua itu makanan kesukaannya.
"Bibi tenang saja, kan ada Bella."
Sebelum makan, Bella mengambil wadah kecil, mengisinya dengan air di wastafel.
"Ayo cuci tangan dulu!" Bella menyodorkan wadah berisi air itu ke arah Sari. Setelah Sari mencuci tangan, Bella menaruhnya di nakas kemudian ikut makan bersama Sari.
Dari kursi yang ada di sudut ruangan, sebelah alis Fahri terangkat menyaksikan Bella makan pakai tangan, dia pikir itu kotor, tapi dia tidak berani melarang karena melihat Bella makan dengan lahap, sesekali Bella tampak menyuapi Sari begitupun sebaliknya.
Fahri tertegun sesaat, benaknya bertanya-tanya. Anak orang kaya seperti Bella bisa-bisanya hidup begitu sederhana, terbukti selama pernikahan dua tahun sebelumnya, Bella tidak pernah membeli barang-barang mewah padahal Fahri sudah memberinya uang yang cukup besar setiap bulannya.
Apalagi setelah melihat pemandangan malam ini. Mana ada majikan yang begitu dekat dengan asisten rumah tangga sampai mau suap-suapan seperti itu. Ada apa dengan Bella sebenarnya?
"Fahri, kamu gak mau ikut makan sama kami?" sorak Bella sambil menoleh ke arah Fahri.
Mendengar suara Bella, lamunan Fahri buyar seketika. "Tidak, aku masih kenyang." jawab Fahri menolak dengan halus. Biarlah mereka berdua menikmati kebersamaan yang hangat itu.
Disaat yang sama, ponsel di saku celana Fahri berdering, dia pun meninggalkan ruangan sejenak untuk mengangkat telepon.
Di samping pintu ruangan yang tertutup, Fahri bersandar di dinding, sebelah tangannya menggenggam ponsel di telinga sedangkan tangan lainnya berada dalam saku.
Dari balik telepon, Reza berbicara panjang lebar, Fahri mendengarnya dengan tenang. Dari setiap perkataan Reza yang dia tangkap, sepertinya sudah saatnya dia bertindak. Setelah sambungan telepon terputus Fahri kembali ke dalam.
Di dalam ruangan, Bella sudah selesai makan dan membereskan semuanya, dia bersiap untuk pulang setelah menyampaikan niat baiknya pada Sari. Sari setuju ikut Bella dan Fahri, tapi tunggu keadaannya pulih terlebih dahulu.
"Bella pulang ya, Bik." Bella pamit dan mencium tangan Sari, Fahri pun ikut pamit.
Di mobil, Fahri membantu memasang sabuk pengaman untuk Bella, setelah itu mengusap kepalanya dengan sayang.
Sepanjang perjalanan pulang, Fahri fokus menyetir, sesekali dia melirik Bella sambil tersenyum. Senang rasanya melihat Bella yang mulai ceria, tidak seperti sebelumnya.
"Fahri, stop!" pinta Bella ketika mobil mereka melewati pasar malam.
Fahri menepi, mencari tempat lapang untuk parkir. Setelah mobil berhenti, Bella mengajaknya turun.
Fahri celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang. Untuk apa Bella mengajaknya turun di pasar malam? Tapi Fahri tidak berani menolak, dia pun mengangguk.
Setelah turun dari mobil, Bella menggandeng tangan Fahri dan menariknya masuk ke dalam, Fahri lagi-lagi menurut.
Di dalam sana, mata Bella berbinar melihat pemandangan di sekelilingnya, banyak sekali permainan yang ingin dia naiki tapi tidak berani mengatakannya pada Fahri.
"Kenapa? Mau naik itu?" tanya Fahri ketika menangkap mata Bella mengarah pada komidi putar.
"Tidak," Bella menggeleng dalam keragu-raguan, akan tetapi Fahri bisa melihat ada keinginan di hatinya untuk naik.
"Ayo!" tanpa pikir Fahri menarik Bella ke arah petugas, membeli karcis untuk mereka berdua.
Di atas patung berbentuk kuda, senyum Bella terlukis dengan indah, sesekali dia tertawa. Seumur-umur baru kali ini dia naik komidi putar, rasanya luar biasa. Fahri yang berada di sebelahnya hanya tersenyum melihat istrinya yang begitu ceria.
Usai komidi putar, keduanya beralih naik kora-kora, Bella berteriak kencang seolah melepas beban di hatinya, lagi-lagi Fahri hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
Setelah itu keduanya naik bianglala. Sebenarnya untuk yang satu ini Fahri tidak ingin mencoba, tapi demi Bella dia harus kuat.
Ueeek...
Ueeek...
Baru saja turun dari bianglala, seisi perut Fahri keluar tanpa sisa, dia benar-benar lemas, wajahnya nampak pucat, kepalanya serasa berputar-putar, kakinya gemetaran dan terhenyak di tanah.
Melihat Fahri terduduk di tanah, Bella berlari membeli air mineral dan membantunya minum.
Ueeek...
Air yang baru saja dia teguk kembali keluar, perutnya tidak terima. Bella nampak panik dan menepuk-nepuk punggung Fahri.
Setelah menunggu beberapa saat, keadaan Fahri mulai membaik, keduanya kembali ke mobil.
Di mobil, Fahri merebahkan bangku ke belakang, dia ingin mengendurkan otot-ototnya yang sempat menegang, istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Dari arah luar, Bella membuka pintu dan masuk ke mobil membawa cemilan yang baru saja dia beli. Pelan-pelan dia menyuapi Fahri, takut suaminya masuk angin akibat perut yang sudah kosong.
Sambil mengunyah makanan yang sudah ada di mulutnya, Fahri tersenyum bahagia. Ternyata beginilah rasanya diperhatikan oleh orang yang dia cintai, sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dalam pernikahan dua tahun sebelumnya, Bella juga memperhatikannya dan merawatnya saat sakit, tidak ada yang berbeda. Hanya saja saat itu dia tidak menyadari perasaannya sendiri, dia pikir Bella melakukan itu semua hanya sebatas tanggung jawab sebagai istri, bukan karena memiliki perasaan khusus padanya.
Setelah merasa cukup nyaman, Fahri kembali mengatur tempat duduk, memiringkan tubuhnya dan meminta Bella menyuapinya kembali. Ternyata makan dari tangan istri rasanya sungguh nikmat.
Uuurgh...
Sendawa keras Fahri membuat Bella sontak tertawa, Fahri pun ikut tertawa.
"Sudah baikan?" tanya Bella setelah memperhatikan wajah Fahri yang sudah tidak pucat lagi.
"Masih pusing," jawab Fahri dengan manja, lalu merebahkan kepalanya di pundak Bella.
Bella mengusap-usap sisi kepala Fahri yang menempel di bahunya, Fahri tersenyum dan menutup mata perlahan, menikmati sentuhan lembut istrinya yang membuatnya sangat nyaman.
Entahlah, rasanya sulit diungkapkan dengan kata-kata. Andai tau rasanya seperti ini, sudah dari dulu Fahri menyatakan cintanya pada Bella, dia tidak perlu menyembunyikan perasaannya sendiri.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡