Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Menjelang siang, dia akan merasa sehat. Tetapi berbeda jika pagi hari. Sungguh ia mengidap penyakit yang langka. Hal itu membuat pengamatan Bu Alice dan Pa Regan menaruh curiga. Sebagai seorang yang tak awam di dunia kedokteran, tentu kedua orang tua itu mulai menyimpulkan sakit yang di derita putranya sejak tiga hari itu.
“Kamu mengalami sindrom cauvade Lingga?” ucap Bu Alice menyimpulkan sendiri.
“Maksud mama apa, aku bahkan belum di periksa. Baru besok akan menjalani semua tes itu.”
“Tidak perlu, sakit kamu sudah jelas dan tidak ada obatnya. Katakan pada mama sayang, atau mama akan benar-benar melaporkan kamu ke polisi?” ancam Bu Alice merasa sangat kecolongan dan kecewa.
Meski ini masih praduganya. Tetapi berdasarkan analisis dirinya dengan menghubungi kejadian yang ada, Lingga adalah terduga kuat yang di tuduhkan Sarah.
“Ma, Mama ngomong apa sih? Lingga sedang sakit, tolong jangan membuat Lingga makin down!”
Pak Re menyorot tajam putranya. Sepertinya pria itu siap membuat perhitungan untuk anak sulungnya.
“Bagaimana bisa, papa mempunyai anak sepengecut kamu! Jujur, atau kami bahkan tidak peduli lagi padamu!”
“Tapi Pa!”
“Katakan Lingga! Jangan membuat Papa murka!”
“Kenapa Papa dan Mama menuduhku seperti itu, Lingga tidak mungkin melakukan perbuatan sehina itu,” sanggah pria itu menyangkalnya.
“Karna semua bukti yang kami saring mengarah kuat padamu Lingga. Jangan membuat kebohongan lagi, atau kami akan benar-benar murka,” hardi Pak Regan menatapnya penuh intimidasi.
“Bukti yang mana Pa? Lingga bahkan tidak merasa melakukan itu.” Lingga terus berkelit. Walau dalam hati mulai was was, bahkan cenderung tidak aman dan tidak tahu setelah ini apa yang akan terjadi.
“Masih belum terlambat untuk kamu mempertanggung jawabkan semuanya, atau kamu benar-benar akan kehilangan kepercayaan kami. Bukan hanya itu, kamu juga akan kehilangan anak yang telah kamu tabur karna Sarah akan menggugurkannya.” Kali ini Bu Alice yang berbicara agak lembut. Sedih dan teramat kecewa, tetapi kenapa anak nya masih belum mengakuinya.
“Aku tidak peduli, dia bukan anakku,” ucap Lingga masih belum juga mengaku.
“Jangan jadi pengecut Lingga, apa kamu tidak sadar, sakit yang kamu alami setiap pagi ada hubungannya dengan kehamilan seorang perempuan.”
“Ma, seharunya Mama percaya sama Lingga,” seru pria itu melakukan pembelaan.
Bu Alice makin gemas saja, dia berjalan kearah nakas. Lalu membuka lemari kecil di bawah sana. Ia mengambil sekumpulan testpack dan juga sebuah hijab perempuan yang Lingga simpan menjadi satu. Bu Alice begitu paham, siapa pemilik hijab itu.
“Ini apa? Kamu masih mau menyangkalnya!” Bu Alice melempar ke muka putranya dengan begitu marah.
Lingga terperangah tak bisa mengelak. Bagaimana bisa ibunya sepaham itu sampai mengetahui benda itu tersimpan rapi di sana.
Tentu saja tidaj sulit bagi seorang Alice mendeteksi kecurangan putranya. Dia sebelumnya orang yang tidak pandai berbohong di depannya. Sejak melihat Sarah yang begitu anti dan ketakutan terhadap Lingga, hati kecil seorang ibu sudah menaruh curiga. Ditambah bukti yang kuat, membuatnya yakin. Lingga terlibat dan ada hubungannya dengan kasus Sarah.
“Masih tidak mau mengaku! Ini bukti real Lingga … ya Allah …. ya Rabb …. Kenapa mama harus melahirkan anak sepertimu. Dosa apa ya Tuhan …”
Bu Alice menangis tersedu. Sangat kecewa dengan perangai putranya yang diluar dugaan. Perempuan itu masih tidak percaya sembari menangis. Sulit sekali di terima kenyataan memalukan itu. Putra sulungnya bukan hanya membuat keluarga malu, dan mencoreng nama baiknya. Tetapi benar-benar menodai kepercayaannya dan membuat pasangan itu begitu kecewa. Sampai sulit didefinisikan.
Sementara pemuda itu tercenung, tamat sudah riwayatnya kali ini. Tak bisa menyangkal lagi, apalagi melihat ibunya menangis atas ulahnya. Membuat hatinya sakit luar biasa.
“Maafin Lingga Ma, Lingga tidak sengaja,” ucap pemuda itu bersimpuh di kaki ibunya. Ada banyak penyesalan disana. Walau Lingga tidak menunjukan dengan benar.
Bu Alice semakin tergugu dalam tangis. Merasa gagal mendidik putranya. Kecewa, marah, bergemuruh menjadi satu.
“Kamu benar-benar anak tidak berakhlak. Bagaimana bisa kamu melakukan perbuatan sebejat itu Lingga.” Pa Regan hilang kesabaran. Tidak bisa menahan emosinya lagi hingga menarik kerah baju Lingga lalu menghajarnya dengan kesal.
“Kenapa Papa harus mempunyai anak menjijikkan sepertimu! Dimana hati nuranimu! Apa kamu tidak berpikir lahir dari rahim seorang ibu!” Pa Regan benar-benar murka. Tanpa sadar beberapa kali memukul Lingga.
“Papa!” Bu Alice menarik tangan suaminya agar tidak melakukan kekerasan lagi. Darah segar terlihat begitu jelas di sudut bibirnya. Bu Alice tidak bisa melihat itu.