Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Lampu neon di langit-langit paviliun ajudan berkedip sekali sebelum menyala stabil, menerangi ruangan yang didominasi warna abu-abu dan furnitur fungsional. Langit melangkah masuk dengan sisa rasa cokelat yang masih tertinggal di ujung lidahnya—dan rasa hangat yang aneh di dadanya. Ia baru saja hendak meletakkan jasnya di sandaran kursi saat sebuah deheman keras menghentikan gerakannya.
Di sudut ruangan, Bintang sedang duduk di atas meja sambil mengayun-ayunkan kakinya, sementara Pak Bambang duduk santai di sofa kulit yang sudah agak pecah-pecah, pura-pura sibuk mengasah batu akik kesayangannya.
"Gimana, Bang? Ada kemajuan?" ledek Bintang dengan cengiran lebar yang memamerkan deretan giginya. Matanya berkilat jahil, menatap Langit yang tampak kaku seketika.
Langit mengerutkan kening, mencoba memasang wajah "datar" andalannya. "Kemajuan maksudnya? Agenda Bapak besok sudah saya susun kalau itu yang kamu tanya."
"Halah!" Bintang melompat turun dari meja, berjalan mendekati Langit dengan gaya detektif amatir. "Maksud saya bukan agenda Bapak Anggara yang terhormat, Bang. Tapi agenda 'Mas Woo-seok' sama 'Non Bintang Film' di teras tadi. Wah, tadi saya lihat dari kejauhan ada adegan suap-suapan ya? Manis bener, kayak iklan sirup lebaran."
Wajah Langit yang biasanya pucat kini memerah hingga ke telinga. Ia berbalik membelakangi Bintang, pura-pura sibuk merapikan tumpukan berkas di meja kerja. "Kamu salah lihat, Bin. Tadi Non Aurora hanya sedang... memastikan rasa cokelat yang saya beli tidak kadaluarsa."
Pak Bambang tertawa terbahak-bahak sampai tersedak kopinya. "Aduh, Ngit, Ngit! Kamu itu kalau bohong jangan kelewat pinter. Masa ngecek kadaluarsa pakai disuapin segala? Pakai tatap-tatapan kayak mau syuting video klip lagi."
"Aduh... masa harus aku jelasin sih, Bang," sambung Bintang sambil merangkul bahu Langit yang tegang. "Itu tadi murni taktik lapangan tingkat tinggi. Bang Langit harusnya berterima kasih sama Pak Bambang. Kalau Pak Bambang nggak narik saya tadi, mungkin Bang Langit masih berdiri kaku kayak tiang jemuran di sana, nggak bakal dapet 'jatah' cokelat."
Langit melepaskan rangkulan Bintang dengan pelan, lalu duduk di kursi kerjanya sambil menghela napas panjang. "Tindakan kalian tadi itu berisiko. Kalau Bapak lihat dari jendela ruang kerja, atau kalau Ibu Melati lewat, posisi saya bisa sulit. Kalian tahu sendiri kan apa yang Bapak bilang tempo hari?"
Pak Bambang meletakkan batu akiknya dan menatap Langit dengan ekspresi yang lebih serius, namun tetap hangat. "Ngit, dengerin orang tua ya. Bapak Anggara itu memang keras, dia protektif karena dia sayang sama Aurora. Tapi dia juga manusia. Dia bisa lihat mana orang yang cuma cari muka, dan mana orang yang beneran tulus jaga anaknya sampai rela lari-larian ke IGD."
"Masalahnya bukan soal tulus atau tidak, Pak," balas Langit lirih. "Masalahnya adalah garis yang sudah ditarik. Saya ini ajudan. Saya dibayar untuk menjaga, bukan untuk memiliki."
"Tapi hati kan nggak bisa dibayar, Bang," sahut Bintang, kali ini tanpa nada ledek. Ia menarik kursi dan duduk di depan Langit. "Bang, saya liat Non Aurora itu beda banget kalau lagi sama Abang. Dia yang biasanya manja dan rewel ke semua orang, kalau sama Abang itu kelihatan... apa ya... hidup? Dia berani lawan Bapak demi Abang. Apa Abang tega biarin dia berjuang sendirian di atas kursi roda itu?"
Langit terdiam. Ia teringat tatapan mata Aurora saat meminta janji agar tidak diblokir lagi. Ia teringat jemari kecil Aurora yang gemetar saat menyentuh bahunya.
"Dia masih muda, Bin. Perasaannya mungkin cuma karena rasa kagum sesaat karena saya sering ada di dekatnya," ucap Langit, lebih kepada meyakinkan dirinya sendiri.
"Halah, alasan klasik!" seru Bintang. "Kalau cuma kagum, dia nggak bakal nangis-nangis di telepon cuma gara-gara Abang centang satu. Kalau cuma kagum, dia nggak bakal bela-belain jatuh dari kuda karena ngelamunin Abang. Bang, perempuan kayak Non Aurora itu nggak butuh ajudan yang cuma bisa bilang 'siap', dia butuh laki-laki yang bisa bilang 'aku di sini'."
Pak Bambang mengangguk setuju. "Betul kata Bintang. Kamu itu terlalu banyak mikir soal protokol sampai lupa kalau kamu juga punya hak buat bahagia. Lagian, siapa sih yang nggak luluh disamain sama Byeon siapa tadi? Byeon Wooseok? Saya aja yang nggak kenal ngerasa itu pasti pujian selangit."
Langit akhirnya luluh, ia menyandarkan punggungnya dan memijat pelipisnya. "Kalian benar-benar ya... kompak sekali kalau urusan menjerumuskan saya."
"Bukan menjerumuskan, Bang. Kita ini lagi bangun jembatan," koreksi Bintang sambil nyengir lagi. "Gimana? Cokelatnya enak? Manis mana sama senyumnya Non Aurora?"
Langit tidak bisa menahan senyum tipisnya kali ini. Sebuah senyum tulus yang jarang sekali terlihat di wajah sang ajudan kaku. "Cokelatnya terlalu manis. Bikin pusing."
"Pusing apa nagih, Bang?" goda Pak Bambang.
"Dua-duanya," jawab Langit singkat.
"Nah, gitu dong! Jujur!" Bintang bertepuk tangan. "Pokoknya, Bang, besok-besok kalau Non Aurora minta martabak lagi, jangan lupa beli. Kalau perlu, beli yang paling mahal. Anggap aja itu investasi masa depan."
"Jangan ajarkan saya yang aneh-aneh, Bintang. Tugas kita tetap nomor satu," Langit kembali ke mode seriusnya, meski matanya masih tampak lebih cerah. "Dan soal stiker bunga matahari tadi... jangan berani-berani kalian bahas lagi di depan personil lain."
"Oh, yang nempel di tangan Bang Langit tadi?" Bintang tertawa ngakak. "Tenang, Bang. Rahasia aman sama kami. Tapi kalau nanti Non Aurora nempel stiker 'Milik Aurora' di dahi Abang, saya nggak tanggung jawab ya!"
"BINTANG!"
Bintang langsung lari keluar paviliun sambil tertawa keras, diikuti oleh Pak Bambang yang terkekeh pelan. Langit ditinggalkan sendirian di ruangan itu. Ia merogoh ponselnya, melihat layar yang kini sudah bersih dari blokir. Ada satu pesan masuk yang baru saja tiba.
Non Aurora: Mas, cokelatnya udah abis. Besok lagi ya? Selamat istirahat, Byeon Woo-seok-ku.
Langit menatap pesan itu cukup lama. Ia tidak membalas dengan kata-kata kaku lagi. Ia hanya mengirimkan satu emoji jempol, namun bagi Langit, itu adalah langkah terbesar yang pernah ia ambil dalam melompati garis protokol yang selama ini mengekangnya.
Malam itu, di paviliun yang sederhana, sang ajudan kaku akhirnya menyerah pada kenyataan bahwa hatinya memang sudah tidak aman lagi—dan ia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu.
***
Satu minggu berlalu seperti satu dekade bagi seorang Aurora Widjaja. Hari ini, koridor rumah sakit yang biasanya terasa mencekam berubah menjadi saksi bisu kembalinya energi sang badai. Di dalam ruang praktik dokter spesialis ortopedi, suara gergaji medis kecil yang memotong gips terdengar seperti melodi kemenangan bagi Aurora. Begitu beban putih yang membungkus kakinya selama tujuh hari itu terlepas, Aurora merasa separuh beban hidupnya ikut menghilang.
"Semua sudah menyambung dengan baik, Non Aurora. Tapi tolong, jangan melakukan aktivitas berat dulu. Berjalan santai saja, ya?" pesan dokter sambil merapikan peralatannya.
Namun, nasihat dokter itu masuk ke telinga kiri dan langsung menguap lewat telinga kanan. Begitu perban terakhir dilepas dan kakinya dibersihkan, Aurora langsung melompat turun dari tempat tidur periksa.
"Aww... kaku dikit, tapi I'm back!" seru Aurora dengan mata berbinar.
"Kak! Pelan-pelan!" Haura berteriak, mencoba menangkap lengan kakaknya. "Ma, liat deh Kak Aurora, baru lepas gips udah kayak cacing kepanasan."
Melati hanya bisa menggelengkan kepala sambil merapikan tas. "Aurora, dengar kata dokter. Jangan langsung lari-lari."
Aurora tidak mendengarkan. Ia melangkah keluar dari ruang praktik dengan langkah yang awalnya ragu, namun lama-kelamaan menjadi semakin cepat. Rasa rindu pada kebebasan—dan rindu pada seseorang yang menunggunya di luar—membuatnya mengabaikan rasa kaku di pergelangan kakinya.
Ia berjalan di sepanjang koridor rumah sakit dengan sedikit berlari, mengabaikan tatapan beberapa orang yang mengenalinya sebagai model papan atas.
"AURORA! JANGAN LARI!" teriak Haura dari belakang, namun Aurora justru semakin mempercepat langkahnya saat melihat pintu keluar lobi rumah sakit.
Di area parkir VVIP, dua sosok pria berdiri tegak di samping mobil SUV hitam. Anggara Widjaja sedang memeriksa jam tangannya, sementara di sampingnya, Langit berdiri dalam posisi istirahat yang sempurna. Wajah Langit tampak tenang, namun matanya terus memindai pintu lobi dengan frekuensi yang lebih sering dari biasanya.
Begitu sosok gadis dengan summer dress berwarna kuning cerah muncul dan berlari kecil ke arah mereka, jantung Langit berdegup tak beraturan.
"Aurora! Kamu jangan lari-lari!" Anggara langsung memperingati dengan suara baritonnya yang tegas saat melihat putrinya hampir tersandung ujung sepatunya sendiri.
Aurora berhenti tepat di depan ayahnya, napasnya sedikit tersengal tapi senyumnya selebar samudera. "Refleks, Pa! Soalnya lagi seneng banget! Akhirnya kaki aku merdeka!"
Anggara menghela napas, namun sudut bibirnya terangkat sedikit melihat keceriaan putrinya kembali. "Tetap saja berbahaya. Kalau jatuh lagi, Papa tidak akan izinkan kamu berkuda selama satu tahun."
"Iya, iya, Papa Sayang. Janji nggak lari lagi... kalau nggak terpaksa," jawab Aurora jenaka. Ia kemudian beralih menatap Langit yang berdiri hanya satu meter di samping ayahnya.
Langit tetap pada posisinya. "Selamat atas kesembuhannya, Non Aurora."
Aurora menatap Langit dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang seolah berkata, 'Aku sudah bisa mengejarmu sekarang.'
"Makasih, Mas Langit," ucap Aurora lembut. Ia kemudian menoleh ke arah ayahnya. "Pa, berkas-berkas di dalam tadi udah Papa urus semua kan? Aku mau mampir beli es krim dulu sebelum pulang, boleh ya? Haura tadi katanya pengen juga."
Anggara menoleh ke arah pintu lobi mencari keberadaan Melati dan Haura. "Iya, sudah. Haura dan Mama mana?"
"Masih di belakang, tadi aku tinggalin soalnya mereka jalannya kayak siput," jawab Aurora.
Saat Anggara memalingkan wajahnya sepenuhnya untuk mencari istri dan anak bungsunya, Aurora memanfaatkan celah sempit itu. Ia melangkah satu senti lebih dekat ke arah Langit.
Dengan gerakan yang sangat halus namun terencana, Aurora menurunkan tangannya ke samping. Ujung jemarinya menyentuh punggung tangan Langit yang sedang tertaut di samping celana taktisnya. Bukan sekadar sentuhan, Aurora sengaja menyelipkan jari kelingkingnya di antara jemari Langit, mengusap kulit pria itu dengan gerakan lembut yang provokatif.
Langit tersentak kecil. Seluruh otot di tubuhnya menegang seketika. Ia bisa merasakan kehangatan dari jemari Aurora yang kini menempel di kulitnya. Ini adalah tindakan nekat di depan mata Anggara Widjaja, namun Langit mendapati dirinya tidak sanggup menarik tangannya.
"Mas, kangen ya?" bisik Aurora sangat pelan, nyaris tak terdengar, sambil terus mengusap punggung tangan Langit dengan jemarinya.
Langit menatap lurus ke depan, wajahnya tetap seperti robot, namun rahangnya mengeras karena menahan gejolak di dadanya. Ia tidak bisa menjawab, tapi ia membiarkan jemari Aurora tetap di sana, sebuah pemberontakan diam-diam yang sangat manis.
"Nah, itu mereka," ucap Anggara saat melihat Melati dan Haura muncul.
Seketika itu juga, Aurora menarik tangannya kembali dan berpura-pura merapikan rambutnya, seolah tidak terjadi apa-apa. Langit menghela napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang berpacu kencang.
"Ayo, semuanya masuk. Kita mampir beli es krim dulu seperti permintaan Kakak kalian yang baru sembuh ini," ajak Anggara.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat ceria. Haura sibuk bercerita tentang rencana liburan mereka, sementara Aurora duduk di kursi tengah bersama Mamanya. Di depan, Langit kembali menjadi pengawal yang waspada di samping sopir.
Namun, komunikasi rahasia itu belum berakhir. Ponsel Langit di saku jasnya bergetar.
Non Aurora: Tangan Mas Langit kok dingin? Grogi ya aku pegang di depan Papa?
Non Aurora: [Stiker Kucing Pakai Kacamata Hitam Sambil Melet]
Langit melirik ponselnya, lalu melirik spion tengah. Ia melihat Aurora sedang menatapnya melalui cermin tersebut dengan senyum kemenangan.
Langit: Itu tindakan yang sangat berbahaya, Non. Jika Bapak melihat, saya tidak tahu apa yang akan terjadi.
Aurora: Tapi Bapak nggak liat, kan?
Aurora: Mas, kaki aku udah sembuh. Artinya, Mas udah nggak punya alasan buat gendong aku lagi.
Aurora: Tapi... Mas masih punya alasan buat pegang tangan aku terus, kan?
Langit terdiam. Ia menatap jalanan di depan, lalu mengetik balasan dengan ibu jarinya yang masih terasa hangat bekas sentuhan Aurora tadi.
Langit: Fokuslah pada es krim Anda, Non. Perjalanan masih jauh.
Aurora: Ciee... dialihkan. Tapi gapapa, aku tahu Mas sebenernya suka.
Aurora: Nanti pas turun dari mobil, aku mau pegangan tangan Mas lagi. Boleh ya? Sebagai bantuan 'keseimbangan' karena kaki aku masih kaku.
Langit menutup ponselnya dan menyimpannya kembali. Ia tidak membalas, tapi ada sebuah senyum tipis yang tak tertahankan muncul di wajahnya. Ia tahu, kebebasan Aurora bukan hanya soal gips yang dilepas, tapi soal keberanian gadis itu untuk terus menariknya keluar dari zona aman protokolnya. Dan entah mengapa, Langit merasa ia sudah siap untuk ikut terjatuh dalam "bahaya" yang diciptakan oleh Aurora.
"Siap, Non Aurora," gumam Langit dalam hati, sembari menatap stiker bunga matahari yang masih menempel di sudut dasbor mobil—sebuah kenang-kenangan rahasia yang ia biarkan tetap di sana sebagai pengingat bahwa hatinya memang sudah terjatuh pada sang primadona.
***
🥹🥹🥹
aurora gitu dechhhh
penyelamatttt