Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih mode manja
Sebenarnya Dai tahan dengan segala bentuk rasa sakit kok. Dia juga nggak pernah semanja ini sama siapapun jika sedang nggak enak body, makanya waktu Ambar melihat Dai yang meminta Kilau mengusap-usap tangannya seperti itu jadi agak bingung. Apa iya kecelakaan mempengaruhi sifat seseorang? Atau kepala anaknya itu terbentur keras hingga menjadikan Dai jadi kayak bocil gini?
"Nja, gue rasa ada yang bermasalah sih sama otak kakak lo. Jadi lebay gitu dia." Sajen protes pada adiknya Dai dengan tingkah Dai yang menurutnya kelewat lebay.
"Kak Jen nggak pernah punya pacar ya? Makanya nggak tau kalo orang sakit itu pengennya diperhatiin sama yang tersayang. Kelamaan jomblo emang bikin sebagian otak nggak berfungsi dengan baik sih kak." Mulut pedas Senja beneran mirip sama Dai. Kalau gini mereka nggak usah tes DNA, udah ketahuan kalo mereka emang sodara kandung super julid.
"Emang pantes lo jadi adeknya Badai, mulut lo pedes bener."
Di manapun dia berada, Sajen sepertinya tak diterima dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya. Padahal aslinya dia kan baik, baik kalau nggak berbuat apa-apa dan jangan bicara apapun juga, maksudnya.
Malam tiba, luka-luka di tubuh Dai menimbulkan rasa sakit yang makin terasa menyiksa. Setiap gerakan yang dia lakukan menimbulkan sensi ngilu dan perih berlebihan.
"Iiish.." Desisan itu lolos begitu saja kala Dai menggerakkan kaki nya.
"Kenapa, Dai? Sakit ya? Mau ibuk panggilkan dokter?" yang di sebelahnya adalah Ambar. Ibu dua anak itu tampak mengusap kening anaknya memastikan suhu tubuh Dai tidak naik.
"Kilau mana buk?" Tak memperdulikan pertanyaan ibunya, mata Dai berpendar ke seluruh ruangan untuk mencari Kilau.
"Dia pulang tadi waktu kamu udah tidur. Katanya masih ada urusan di kantor. Dia bilang nanti kalau sudah beres, mau ke sini lagi." penjelasan itu membuat Dai mengangguk mengerti.
"Dari siang kamu belum makan kan? Ibuk suapi bubur ya, abis itu minum obat." tawar Ambar mau mengambilkan makanan yang tadi dibeli Senja.
Dari pihak rumah sakit sebenarnya memberikan jatah makan, tapi Ambar meminta Senja buat beli makanan hanya untuk opsional jika putranya itu nggak suka masakan rumah sakit.
"Buk, enggak buk. Mau minum aja." suara Dai terdengar serak juga parau tersebab ketika bangun tidur yang disuguhkan adalah rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Dengan telaten Ambar membantu Dai minum. Mengusap lagi kening Dai beberapa kali, kasih ibu memang sehangat itu. Meski anaknya sudah segede gaban, tetap diperlakukan layaknya bocil. Sajen baru masuk ke ruangan itu, dia sudah berganti pakaian. Mungkin tadi dia pulang, karena kehadirannya juga tidak begitu diharapkan.
"Dai, anak-anak mau pada ke sini. Tapi gue bilang besok aja jenguk lo nya. Bengkel juga udah gue suruh tutup, kuncinya gue kasih ke Senja. Dan nih.. buat lo." Sajen menaruh sekantong plastik buah di nakas.
"Makasih ya nak Jenaka. Sudah baik dan peduli sama Badai." Ambar mengucapkan terimakasih dengan senyum tulus.
"Lo emang nunggu momen kayak gini buat ngerjain gue ya?" yang diajak ngomong tertawa saja karena paham maksud pertanyaan Dai itu ditujukan untuknya.
"Ya gue kurang baik apa coba sebagai sahabat lo. Gue ke sini bawain lo buah tuh. Di makan biar cepet sembuh."
"Mulut lo minta dijejelin kulit duren, hah? Ya kali lo bawain gue salak sama nanas sepohon-pohonnya kayak gitu. Lo mau gue debus buat makan buah yang lo bawa, setan emang!" omel Dai menatap salak yang masih nempel di batangnya. Juga nanas beserta daun yang tumbuh kayak mahkota di atas buah tersebut.
"Dai. Nggak boleh gitu. Nanti ibuk kupasin kalau kamu mau makan. Temen mu udah baik begini kok digalakin terus." merasa gede kepala Sajen karena dibela sama Ambar.
"Tau tuh tante. Emosi mulu dia kalau sama aku." Sajen tersenyum penuh kemenangan.
"Najis." cela Dai menatap jijik.
"Dai!" tegur Ambar lagi.
Orang tua emang nggak suka anaknya kelewat bar-bar, tapi mau gimana lagi.. Keseharian Dai dan Sajen kan emang kayak gitu kalau bicara. Kadang malah sampai ngabsenin penduduk kebun binatang sebagai pelengkap setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka.
Adzan isya baru saja berkumandang, Dai bosan. Sakit ini membuatnya seperti dibelenggu. Tangan dikasih infus, kaki dipasang gips, belum lagi tangan kanan yang perban, mana nggak ada apapun yang bisa membuatnya terhibur lagi. Paham lah ya, dari sekian banyak manusia di sana, mungkin hanya Kilau yang kehadirannya sangat diharapkan Dai.
Mungkin malaikat emang lagi baik sama dia, baru beberapa menit mikirin sang direktur MahaTech, perempuan itu datang bersama asisten pribadinya, Arga.
"Selamat malam tante, dan semuanya. Dai.. Udah minum obat?" Dai langsung tersenyum cerah secerah matahari di pucuk ubun-ubun menyambut kedatangan Kilau.
Kilau saat ini memakai berupa blouse model sleeveless dengan leher kotak, dihiasi pita cantik di bahu dan potongan peplum yang menonjolkan pinggang. Dipadukan dengan celana panjang model wide leg yang jatuh anggun, memberikan kesan santai namun tetap modis. Keduanya merupakan setelan warna putih. Penampilannya semakin sempurna dengan tas tangan branded yang dia pegang. Senja sebagai sesama perempuan saja sampai terkesima dengan kecantikan Kilau, apalagi para bujang di dalam ruangan itu.
"Binik lo cakep banget, anjing!" kan kan..
"Bangke lo! Jaga mata lo, iler lo tuh netesin tangan gue." Ya nggak nyampe ngiler juga kali.
Setelah berbasi-basi dengan ngobrol sebentar dengan Senja dan Ambar, Kilau mendekati Dai. Lelaki itu menekuk bibirnya, seperti sedang ngambek atau sejenisnya.
"Muka lo kenapa?" tanya Kilau pelan.
"Apanya?"
"Lo manyun gitu maksudnya apa coba? Nggak suka gue ke sini?"
"Lha lo tadi pergi nggak bilang gue dulu. Gue kan nyariin lo, Ki. Giliran ke sini yang lo ajak ngobrol malah adek sama ibu gue..." Ini misal anak buahnya di bengkel tau kalau leader mereka kayak boneka Chucky kurang sesajen, yakin Dai bakal diledekin hingga akhir tahun.
"Astaga Dai. Kan lo tidur pas gue pergi tadi, lagian udah ada ibu sama Senja kan di sini?" tak mau menjawab. Dai melengos.
"Perasaan pas lo sakit dulu, tingkah lo nggak sebegininya banget deh, Dai." Kilau membantu menata bantal dan memposisikan kepala Dai agar lebih nyaman.
"Dulu tuh kapan? Gue lupa."
Untung aja Kilau punya stok kesabaran berlimpah ruah, menghadapi Dai yang mode manja gini bukan hal sulit buatnya. "Ya udah lah, gue pulang lagi aja. Padahal gue buru-buru ke sini abis rapat tadi, gue sampai bawa kerjaan ke sini biar bisa nemenin lo lebih lama malam ini. Tapi kayaknya, mas Badai lagi nggak pengen dijenguk sama gue ya?"
"Ulangi.." ucap Dai dengan mata berbinar.
"Apa? Lo nggak suka gue jenguk---"
"Lo manggil gue apa tadi, ulang Ki."
"M-mas?" meski ragu, tapi Kilau tetap mengulang apa yang tadi dia katakan.
"Dalem dek." Dai menjawab dengan senyum terbaik yang dia punya.
"Anjaaaaaaai... Gue juga manusia kali! Wooy lagi sakit aja pamer kemesraan lo berdua ya! beneran laknat kalian! Noh ada notifikasi dari akherat, katanya Jack sama Rose nggak terima kemesraan mereka dikalahin kalian. Mau bangkit dari kubur bawa kapal Titanic ngajak kalian healing ke sana katanya." si Jones berkata dengan segala sabda unfaedah nya.
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚
jadi gak sabar aku nunggu si areng berubah jadi abu😏