Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Lelaki itu terlihat masih muda, mungkin tidak terlalu jauh usianya darinya. Wajahnya tampan dan bersih dengan sorot mata yang teduh. Ia mengenakan baju koko putih sederhana dan sarung gelap. Rambutnya rapi dan ada ketenangan aneh yang terpancar dari dirinya. Udara dingin subuh bergerak pelan di sekitar lorong asrama sementara lelaki itu berdiri dengan tenang di hadapan Shaka.
“Assalamualaikum,” ucap lelaki itu dengan lembut sambil tersenyum tipis.
Shaka masih diam memperhatikan sosok di depannya. Entah kenapa ia merasa sedikit heran. Karena sedari tadi ia mengira yang datang membangunkannya pasti Ustadz Haidar namun ternyata bukan. Dan mungkin karena rasa bingung itu terlalu terlihat jelas di wajahnya, lelaki muda itu akhirnya kembali bicara.
“Kamu Shaka, kan?”
Shaka mengangguk pelan.
“Iya... Kau siapa?”
Lelaki itu tersenyum kecil lagi.
“Saya Ilyas.”
Shaka masih memperhatikannya dengan tatapan hati-hati.
“Ilyas?” ulang Shaka pelan.
“Iya.” Lelaki itu mengangguk. “Ustadz Ilyas.”
Nama itu terasa asing di telinga Shaka. Namun entah kenapa pembawaannya tidak membuat Shaka merasa terancam. Tatapan lelaki itu terlalu tenang, terlalu lembut, berbeda jauh dari orang-orang yang selama ini ada di hidup Shaka.
“Kamu baru bangun ya?” tanya Ustadz Ilyas pelan dan membuat Shaka mengangguk kecil sambil mengusap wajahnya.
“Iya...”
“Maaf kalau saya mengganggu waktu tidurmu.”
Shaka menggeleng pelan.
“Enggak...”
Suasana sempat hening beberapa detik. Shaka masih terlihat bingung. Tatapannya sesekali mengarah ke belakang tubuh Ustadz Ilyas seolah mencari seseorang. Dan hal itu rupanya disadari oleh lelaki muda itu.
“Kamu nyari Abi Haidar?” tanyanya tiba-tiba dan membuat Shaka sedikit terkejut lalu tanpa sadar mengangguk kecil.
“Iya...” jawabnya jujur. “Saya kira... beliau yang bakal datang.”
Ustadz Ilyas tersenyum tipis mendengar itu.
“Abi yang menyuruh saya ke sini.” Shaka terdiam. “Beliau yang minta saya untuk mengajak kamu sholat subuh berjamaah di mushola.”
Mata Shaka sedikit berubah. Ada sesuatu yang aneh terasa di dadanya saat mendengar itu. Ustadz Haidar ternyata benar-benar memikirkan dirinya, bahkan sampai menyuruh orang lain menjemputnya untuk sholat berjamaah. Hal seperti itu terasa asing bagi Shaka. Selama ini tidak ada yang benar-benar peduli apakah ia hidup atau mati. Namun di tempat ini, Seseorang malah menyuruh orang lain datang membangunkannya untuk sholat.
Shaka menunduk sebentar. Perasaannya sedikit sulit dijelaskan, membuat Ustadz Ilyas memperhatikan perubahan kecil di wajah Shaka namun tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu orang seperti Shaka tidak bisa didekati dengan paksaan. Harus perlahan dan hati-hati.
“Kita sholat bareng yuk,” ucap Ustadz Ilyas dengan lembut. “Santri-santri yang lain juga sebentar lagi kumpul di mushola.”
Shaka mengangkat wajahnya lagi, tatapannya masih menyimpan sedikit keraguan. Jujur saja, ia belum benar-benar nyaman berada di lingkungan ini. Apalagi harus sholat berjamaah bersama banyak orang. Ia takut dipandang aneh, takut dihakimi, takut keberadaannya ditolak, Namun anehnya, saat melihat wajah tenang Ustadz Ilyas di depannya, rasa takut itu sedikit berkurang.
“Mereka tahu tentang saya?” tanya Shaka tiba-tiba dengan suara pelan.
Ustadz Ilyas memahami maksud pertanyaan itu. Ia tahu Shaka pasti takut kalau para santri tahu siapa dirinya sebenarnya.
“Tidak,” jawab Ustadz Ilyas tenang. “Dan tidak perlu dipikirkan dulu.” Shaka terdiam. “Kamu sekarang ada di sini,” lanjut Ustadz Ilyas pelan. “Itu saja dulu.”
Kalimat sederhana itu membuat Shaka kembali terdiam. Entah kenapa lelaki di depannya bicara dengan cara yang membuat dadanya terasa sedikit lebih tenang. Tidak menghakimi, tidak memaksa ataupun bertanya macam-macam. Dan itu membuat pertahanan Shaka yang biasanya selalu naik perlahan mulai sedikit turun.
“Abi Haidar bilang...” lanjut Ustadz Ilyas pelan, “kamu ikut sholat subuh berjamaah pagi ini.”
Shaka mengusap tengkuknya pelan. Masih ada rasa canggung dihatinya namun akhirnya ia mengangguk kecil.
“Iya, saya ikut.”
Senyum tipis kembali muncul di wajah Ustadz Ilyas.
“Kalau begitu siap-siaplah dulu.”
Shaka terdiam sebentar sebelum akhirnya berkata pelan,
“Kalau begitu apa ustadz bisa menunggu saya sebentar? Saya ganti pakaian dulu.”
“Tentu.”
Ustadz Ilyas mengangguk santai. Shaka lalu sedikit ragu sebelum kembali bicara.
“Ustadz...”
“Iya?”
“Jangan pergi dulu.”
Kalimat itu keluar begitu saja tanpa sadar dari mulut Shaka. Dan setelah mengatakannya, Shaka sendiri langsung merasa aneh namun sebenarnya ada alasan sederhana di balik itu.
Ia belum mengenal tempat ini dan entah kenapa kehadiran Ustadz Ilyas sedikit membuatnya merasa aman. Ustadz Ilyas tampaknya memahami hal itu.
“Saya akan menunggumu di sini,” jawabnya lembut.
Shaka mengangguk kecil lalu segera menutup pintu kamarnya kembali. Begitu pintu tertutup, Shaka bersandar sebentar di baliknya. Napasnya keluar perlahan. Ia memejamkan matanya selama beberapa detik. Perasaannya masih campur aduk. Semua yang terjadi sejak tadi malam terasa seperti mimpi aneh. Kemarin ia masih jadi kejaran polisi, masih sempat mengancam seseorang dengan pisau dan hidup di dunia gelap penuh kebencian.
Tapi sekarang ada orang yang membangunkannya untuk sholat subuh.
Shaka menatap ruangan kecil itu sebentar sebelum akhirnya berjalan menuju baju Koko dan juga sarung pemberian ustadz Haidar semalam yang ia lepaskan sebelum tidur karena tidak mau mengotori pakaian itu. Maka dari itu Shaka bahkan tidak peduli kalau ia harus tidur menggunakan pakaian sebelumnya.
Tatapan matanya Shaka terlihat sedikit kosong lalu perlahan ia menarik napas panjang dan mulai mengganti pakaiannya. Di luar kamar, Ustadz Ilyas berdiri dengan tenang di lorong asrama. Beberapa santri mulai berlalu-lalang menuju tempat wudhu sambil membawa sarung dan peci. Udara subuh terasa dingin menusuk kulit namun suasana pesantren tetap terasa damai. Ustadz Ilyas melirik pintu kamar Shaka sebentar. Di dalam hatinya ia tahu perjalanan pemuda itu tidak akan mudah. Luka yang terlalu dalam tidak bisa sembuh dalam semalam. Namun setidaknya malam tadi Shaka tidak memilih kabur. Dan pagi ini ia mau bangun untuk sholat. Bagi Ustadz Ilyas, itu sudah langkah kecil yang sangat berarti.
Tak lama kemudian pintu kamar kembali terbuka. Shaka keluar dengan pakaian yang sudah sedikit lebih rapi. Rambutnya masih agak berantakan dan wajahnya terlihat lelah, tapi setidaknya kini ia tampak lebih segar dibanding tadi malam. Ustadz Ilyas menatapnya lalu tersenyum kecil.
“Sudah siap?”
Shaka mengangguk pelan.
“Iya.”
Beberapa detik mereka saling diam dan masih ada kecanggungan di antara mereka. Terutama dari pihak Shaka, namun Ustadz Ilyas tidak memaksa suasana menjadi akrab.
Ia membiarkannya mengalir pelan.
“Ayo,” ucap Ustadz Ilyas akhirnya.
Shaka menatap lelaki itu sebentar lalu perlahan mengangguk. Mereka pun mulai berjalan bersama menyusuri lorong asrama.
Udara dingin subuh menyambut langkah mereka. Di kejauhan suara santri-santri mulai terdengar pelan. Lampu-lampu kecil di area pesantren masih menyala redup sementara langit perlahan berubah warna menuju fajar.
Shaka berjalan di samping Ustadz Ilyas dengan langkah pelan.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.