Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laboratorium Terlarang
Lantai marmer yang dingin di lorong bawah tanah mansion Geovani memantulkan cahaya lampu sensor yang menyala satu per satu saat mereka melangkah. Briella berjalan di samping sang dokter, merasakan perubahan suhu yang drastis dibandingkan lantai atas yang hangat. Aroma udara di sini terasa steril, tajam dengan bau ozon dan bahan kimia pembersih tingkat rumah sakit.
Geovani tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka melewati pintu baja tersembunyi di balik rak buku ruang kerjanya. Langkah kakinya yang berat dan berirama menciptakan gema yang memenuhi lorong sempit itu. Di ujung jalan, sebuah pintu dengan pemindai retina berdiri tegak, menjaga rahasia yang paling dalam dari sang dokter bedah saraf.
"Tempat ini tidak ada dalam cetak biru bangunan yang terdaftar di balai kota," ujar Geovani sambil mendekatkan matanya ke lensa pemindai.
"Kau membangun sebuah benteng di bawah rumahmu sendiri?" tanya Briella dengan suara pelan yang sedikit bergetar.
Suara desis udara terdengar saat kunci pneumatik terbuka, memperlihatkan sebuah laboratorium modern yang dipenuhi perangkat medis mutakhir. Di tengah ruangan, sebuah meja bedah baja mengkilap dikelilingi oleh monitor-monitor raksasa yang menampilkan aliran data tanpa henti. Di sinilah Geovani menyimpan apa yang tidak boleh diketahui oleh dunia luar, termasuk dewan medis Upper-Chrome.
"Aku butuh privasi untuk melakukan penelitian yang dianggap terlarang oleh etika kedokteran yang munafik itu," sahut Geovani sambil menarik sebuah kursi untuk Briella.
Briella duduk, matanya menyapu tabung-tabung reaksi dan sampel jaringan yang tersusun rapi di rak kaca. Ketegangan merayap di tengkuknya saat ia menyadari betapa kuatnya pria di hadapannya ini. Geovani melangkah ke konsol pusat, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard virtual yang muncul dari permukaan meja.
"Apa yang akan kau tunjukkan padaku, Dokter? Bukti apa yang lebih kuat dari data DNA semalam?" tanya Briella, mencoba menstabilkan napasnya.
"Aku telah meretas server inti laboratorium pusat milik Ayah Prilly sepuluh tahun yang lalu," Geovani memulai, sementara layar di depan mereka mulai menampilkan sebuah drive terenkripsi merah.
"Kau sudah tahu sejak lama?" Briella menatap Geovani dengan pandangan menuntut penjelasan.
"Aku mencurigai sesuatu saat ibumu dinyatakan meninggal karena kegagalan organ yang tidak masuk akal," jawab Geovani tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Geovani menekan satu perintah terakhir, dan sebuah folder berjudul Proyek Origin terbuka, menampilkan barisan dokumen yang disabotase. Di sana terdapat catatan digital tentang bagaimana sampel darah Elena Adijaya ditukar secara fisik di laboratorium sebelum tes dilakukan. Namun, ada satu file video yang membuat jantung Briella seolah berhenti berdetak sesaat.
"Lihat rekaman CCTV tersembunyi ini, Briella. Ini diambil di ruang arsip laboratorium medis Adijaya Medika," bisik Geovani dengan nada yang sangat rendah.
Dalam rekaman hitam putih yang kasar itu, terlihat sesosok pria yang sangat dikenal Briella tengah berbicara dengan kepala teknisi. Pria itu adalah Ayah Prilly, yang dengan tenang menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal sebelum teknisi itu mulai mengubah data di komputer. Sabotase DNA itu bukan sekadar kesalahan, melainkan kejahatan yang direncanakan dengan sangat matang.
"Dia melakukannya dengan tangannya sendiri. Dia memastikan aku dibuang seperti sampah agar Prilly bisa naik takhta," desis Briella, air mata kemarahan mulai menggenang.
"Dan ini adalah bukti sabotase DNA ibumu yang asli. Drive terenkripsi ini menyimpan data mentah yang belum sempat mereka hapus sepenuhnya," Geovani menunjukkan sebuah grafik gelombang genetik yang tumpang tindih.
"Bisakah ini digunakan sebagai bukti di pengadilan nanti?" tanya Briella sambil menyentuh layar monitor yang dingin.
"Di pengadilan biasa? Tidak. Mereka akan menyebut ini sebagai data ilegal hasil peretasan. Tapi di pengadilan opini publik? Ini adalah hukuman mati bagi mereka," sahut Geovani dengan senyum sinis.
Briella bangkit dari kursi, berjalan mendekati tabung-tabung sampel yang ada di sudut ruangan. Ia merasa seperti berada di dalam perut monster, namun monster inilah yang akan membantunya menelan musuh-musuhnya hidup-hidup. Bau khas laboratorium ini mulai terasa seperti bau kemenangan bagi hidungnya yang selama ini hanya mencium debu gudang.
"Kenapa kau menyimpan ini selama sepuluh tahun, Geovani? Kenapa tidak kau hancurkan saja jika itu berbahaya?" tanya Briella, berbalik menghadap sang dokter.
"Karena aku tahu suatu hari nanti, alat ini akan menjadi sangat berguna jika kau kembali padaku dalam keadaan seperti sekarang," jawab Geovani sambil mendekati Briella secara perlahan.
Geovani mengurung tubuh Briella di antara rak sampel, meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh gadis itu. Tatapannya yang tajam seolah ingin membedah pikiran Briella, mencari setiap inci keraguan yang tersisa. Ketegangan seksual yang kental kembali muncul di tengah ruangan yang dingin dan steril itu.
"Kau sangat licik, Dokter. Kau merencanakan ini jauh sebelum aku menyadari keberadaanku sendiri di dunia ini," gumam Briella, menatap dada tegap Geovani yang hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Aku menyebutnya sebagai investasi jangka panjang. Dan sekarang, investasi itu akan memberikan hasil yang sangat manis bagi kita berdua," Geovani mengusap helai rambut Briella, jemarinya yang dingin menyentuh kulit lehernya yang sensitif.
"Kau ingin aku melakukan apa dengan drive ini?" tanya Briella, mencoba mempertahankan fokusnya di bawah intimidasi fisik Geovani.
"Simpan di tempat yang paling aman dalam ingatanmu. Aku akan memberimu salinan digitalnya setelah kau membuktikan kesetiaanmu di pesta amal nanti," instruksi Geovani dengan suara yang menggetarkan.
Briella mengangguk, ia tahu bahwa setiap informasi yang diberikan Geovani memiliki harga yang harus dibayar. Tapi melihat bukti fisik tentang bagaimana hidupnya dirampok, ia rela membayar berapa pun harganya. Laboratorium terlarang ini bukan lagi tempat yang menakutkan, melainkan sebuah rahim tempat lahirnya pembalasan dendamnya.
"Apakah Prilly tahu tentang keberadaan ruangan ini?" tanya Briella tiba-tiba.
"Dia bahkan tidak tahu bahwa suaminya adalah seorang dokter yang memiliki akses ke sisi paling gelap dari sains medis," Geovani tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat hampa.
"Bagus. Biarkan dia tetap bodoh dalam kemewahannya yang mulai membusuk," sahut Briella sambil berjalan kembali menuju pintu keluar.
Geovani mematikan semua monitor dengan satu ketukan, menenggelamkan ruangan itu kembali ke dalam kegelapan yang sunyi. Mereka berjalan kembali menyusuri lorong panjang menuju kehangatan palsu di lantai atas mansion. Briella merasa beban di pundaknya sedikit terangkat, namun bebannya di hati justru semakin berat dengan fakta baru ini.
"Kau sudah melihat apa yang ingin kau lihat. Sekarang, kembalilah ke kamarmu dan bersiaplah untuk pelajaran anatomi berikutnya besok pagi," ucap Geovani saat mereka sampai di pintu rahasia rak buku.
"Aku akan siap, Dokter. Aku akan menjadi mahasiswi yang paling patuh sekaligus senjata yang paling mematikan untukmu," jawab Briella sebelum melangkah keluar.
Geovani menutup pintu rahasia itu, menyisakan dirinya sendirian di ruang kerja yang kini terasa lebih luas. Ia menatap telapak tangannya yang tadi sempat menyentuh rambut Briella, merasakan sisa-sisa energi dari gadis itu. Ia tahu, dengan bukti di drive terenkripsi itu, ia telah mengikat Briella selamanya dalam jaring laba-labanya.
Di dalam kamarnya, Briella berdiri di depan jendela besar, menatap cakrawala Etheria yang mulai meredup. Kebenaran tentang sabotase DNA ibunya berputar-putar di kepalanya seperti badai yang tidak kunjung reda. Ia mengepalkan tangannya, membayangkan wajah Ayah Prilly yang tertangkap kamera sedang mengkhianati keluarganya sendiri.
"Kalian pikir kalian bisa mengubur kebenaran di bawah tumpukan uang?" bisik Briella pada bayangannya di kaca.
"Tapi kalian lupa bahwa kebenaran adalah seperti benih. Semakin dalam kalian menguburnya, semakin kuat akarnya akan merusak fondasi rumah kalian," lanjutnya dengan senyum tipis yang penuh dendam.
Malam itu, Briella tertidur dengan bayangan laboratorium rahasia Geovani di benaknya. Ia tidak lagi bermimpi buruk tentang gudang bawah tanah yang kotor dan bau. Kini, mimpinya dipenuhi dengan layar-layar monitor yang menampilkan kehancuran total keluarga Adijaya di bawah kendalinya.
Hari esok akan menjadi awal dari serangan yang lebih pribadi, serangan yang akan menyentuh jantung pertahanan musuhnya. Briella sudah memiliki peluru yang paling mematikan, dan ia hanya menunggu aba-aba dari sang dokter untuk menarik pelatuknya. Laboratorium terlarang itu telah memberikan apa yang ia butuhkan untuk menjadi pemenang.