Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Dokter Junie
Langit Jakarta sore itu tampak sedikit mendung ketika sebuah pesawat mendarat mulus di landasan bandara internasional.
Di dalam kabin kelas bisnis, seorang pria tampak melepas sabuk pengamannya dengan santai. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan kelelahan tipis setelah perjalanan panjang.
Junie Andreas, namanya sudah tidak asing lagi di dunia medis, khususnya di bidang bedah plastik. Pria itu berdiri, merapikan jas abu-abu mudanya, lalu mengambil koper kecilnya dari bagasi atas.
Tingginya menjulang, posturnya tegap, dengan garis wajah tegas khas blasteran Indonesia-Belanda. Rambutnya hitam kecokelatan, sedikit bergelombang, tersisir rapi tapi tetap terlihat santai. Lalu senyumnya, senyum yang mudah sekali membuat orang merasa nyaman.
“Welcome back, Doctor,” sapa seorang pramugari dengan ramah saat Junie melangkah keluar.
Junie tersenyum ringan. “Thank you. Perjalanan yang menyenangkan.”
“Semoga Anda menikmati waktu di sini lagi,” balas pramugari itu.
Junie mengangguk kecil sebelum melanjutkan langkahnya keluar dari pesawat.
Bandara cukup ramai, seperti biasa. Namun kehadiran Junie tidak luput dari beberapa lirikan. Bukan hanya karena penampilannya. Tapi karena sebagian orang mengenalnya.
“Eh, itu kan dokter Junie?” bisik seorang wanita pada temannya.
“Iya, iya! Yang sering muncul di berita itu, yang operasi artis-artis itu!”
Junie yang menyadari bisikan itu hanya tersenyum tipis. Ia sudah terbiasa. Namun yang menarik, dia tidak pernah terlihat sombong atau menjaga jarak berlebihan.
Seorang anak kecil tiba-tiba mendekat, menarik tangan ibunya.
“Ma, itu dokter yang di TV!” katanya polos.
Junie spontan berjongkok sedikit, menyamakan tinggi dengan anak itu.
“Halo,” sapanya ramah.
Anak itu tersenyum malu-malu.
Junie mengacak pelan rambutnya. “Belajar yang rajin ya. Siapa tahu nanti jadi dokter juga.”
Ibunya langsung terlihat canggung. “Maaf, Dok, anak saya—”
“Tidak apa-apa,” potong Junie santai. “Saya senang disapa.”
Senyumnya tulus, dan itu bukan dibuat-buat. Setelah keluar dari area kedatangan, seorang pria berkacamata langsung menghampirinya.
“Dokter Junie!”
Junie menoleh. “Ah, Raka.”
Raka adalah asistennya.
“Selamat datang kembali, Dok,” katanya sambil mengambil koper Junie.
“Terima kasih. Bagaimana keadaan di klinik?” tanya Junie sambil berjalan.
“Semua berjalan lancar. Tapi pasien Anda... menumpuk,” jawab Raka sambil tertawa kecil.
Junie menghela napas, tapi senyum tetap menghiasi wajahnya. “Seperti biasa.”
Mereka berjalan menuju mobil.
“Seminar di Amerika gimana, Dok?” tanya Raka lagi.
Junie langsung terlihat sedikit lebih bersemangat. “Menarik,” jawabnya. “Ada teknologi baru untuk rekonstruksi wajah, terutama untuk kasus-kasus seperti celah bibir dan langit-langit.”
Raka mengangguk. “Wah, cocok banget sama program amal kita ya, Dok.”
Junie tersenyum. “Iya. Aku juga pikir begitu.”
Program amal itu memang salah satu hal yang paling Junie banggakan. Setiap beberapa bulan sekali, dia membuka layanan operasi gratis untuk anak-anak dengan kondisi bibir sumbing. Dibiayai dari kantong pribadinya dan klinik yang ia dirikan sendiri.
“Daftar pasien untuk program berikutnya sudah penuh, Dok,” lanjut Raka.
Junie mengangguk pelan. “Tambah kuotanya.”
Raka langsung menoleh. “Serius, Dok?”
Junie tersenyum santai. “Kalau masih ada yang bisa kita bantu, kenapa tidak?”
Kalimat itu diucapkan dengan ringan. Seolah bukan sesuatu yang besar. Padahal bagi banyak orang, itu adalah harapan.
Mobil melaju keluar dari bandara. Junie bersandar santai di kursinya. Namun belum lima menit perjalanan, ponselnya berdering. Nama yang muncul membuatnya menghela napas panjang.
“Mom.”
Raka yang melihat itu langsung tersenyum geli.
“Angkat saja, Dok. Saya mau dengar juga,” godanya.
Junie menatapnya datar. “Kamu terlalu kepo.”
Namun tetap saja, ia mengangkat telepon itu. “Halo, Mom.”
“Junie!” suara wanita di seberang terdengar antusias. “Kamu sudah sampai?”
“Baru keluar bandara,” jawab Junie.
“Bagus! Malam ini kamu kosong, kan?”
Junie sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ia menutup mata sebentar. “Kenapa, Mom?”
“Ada anak teman Mama. Cantik, pintar, dokter juga. Kalian pasti cocok!”
Raka langsung menahan tawa di samping.
Junie memijat pelipisnya. “Mom... aku baru pulang dari perjalanan jauh.”
“Justru itu! Butuh hiburan!” balas ibunya cepat.
Junie menghela napas lagi. “Mom, aku capek.”
“Capek bisa hilang kalau ketemu jodoh,” jawab ibunya tanpa ragu.
Raka hampir tertawa keras kali ini.
Junie melirik tajam. “Mom, pasienku lebih banyak dari calon jodoh yang Mama kenalkan,” katanya akhirnya.
“Aduh, kamu ini! Kerja terus! Nanti tua sendiri baru nyesel!” omel ibunya.
Junie tersenyum tipis. “Kalau jodohnya harus lewat seleksi Mama, mungkin memang harus nunggu lama,” jawabnya santai.
“JUNIE!”
Junie tertawa kecil. “Sudah ya, Mom. Nanti kita bicarakan lagi. Aku mau istirahat.”
Tanpa menunggu jawaban panjang, dia menutup telepon. Raka langsung tertawa.
“Dokter hebat, tapi tetap kalah sama Mama,” katanya.
Junie menyandarkan kepala ke kursi. “Operasi wajah lebih mudah daripada menghadapi blind date dari ibuku.”
Raka mengangguk setuju. “Itu fakta.”
Junie menatap ke luar jendela. Wajahnya kembali tenang. Namun di balik itu ada dedikasi yang tidak pernah padam. Bagi banyak orang, dia adalah dokter sukses. Bagi sebagian orang lain, ia adalah harapan. Namun bagi ibunya, dia hanyalah lelaki dewasa yang harus segera menikah. Kadang Junie pusing menghadapi orang sekitarnya yang terus menanyakan pasangan kepadanya.
"Aku heran sama orang-orang. Kenapa ada saja yang harus mereka tuntut pada kita. Kau tahu, Raka. Aku sangat bahagia dengan hidupku sekarang. Pekerjaanku, teman-teman dan semuanya. Aku belum terpikir sama sekali untuk menikah. Lagian, tak ada wanita mana pun di luar sana yang membuatku tertarik." Junie mengeluh panjang lebar.
Raka terkekeh dan berkata, "Mungkin itu efek karena terlalu sering lihat wanita cantik, Dok!"
"Kau benar. Gara-gara terlalu sering, itu jadi hal yang sangat biasa bagiku," tanggap Junie.
"Mungkin sebaiknya anda sesekali berkunjung ke desa atau tempat tak biasa, Dok. Anda sepertinya perlu wanita yang tidak biasa," tukas Raka.
"Terserah apapun itu. Yang aku ingin lakukan sekarang adalah kembali ke klinik." Junie menghela nafasnya.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘