NovelToon NovelToon
Jebakan Hati Gadis Cupu

Jebakan Hati Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.

Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3:Perangkap Berbalut Perhatian

Matahari siang itu terasa menyengat di SMA Nusantara, namun bagi Lulu, suasana hatinya jauh lebih cerah dari biasanya. Ia duduk di bangku panjang perpustakaan yang tersembunyi di balik rak buku referensi setebal bantal. Biasanya, tempat ini adalah pelariannya dari kebisingan dunia luar. Namun, fokusnya kali ini terganggu. Bukan oleh rumus kimia yang sedang ia pelajari, melainkan oleh ingatan tentang kejadian di koridor tadi pagi.

“Lain kali hati-hati ya, Lu...”

Kalimat itu terus berputar di kepala Lulu seperti kaset rusak. Ia menyentuh punggung tangannya yang tadi sempat bersentuhan dengan Arlan. Bagi gadis yang jarang berinteraksi dengan lawan jenis, perlakuan Arlan terasa seperti adegan dalam buku dongeng yang sering ia baca diam-diam sebelum tidur.

Tiba-tiba, kursi di hadapannya ditarik. Suara gesekan kayu dengan lantai semen itu membuat Lulu tersentak hingga kacamatanya sedikit melorot.

"Lagi belajar apa, Lu? Serius banget kelihatannya."

Lulu mendongak. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Arlan berdiri di sana, tanpa jaket seragam, hanya kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang atletis. Ia membawa sebuah kantong plastik kecil dari minimarket sekolah.

"K-Kak Arlan?" Lulu tergagap, segera merapikan buku-bukunya yang berantakan. "Kok... ada di sini?"

Arlan duduk dengan gaya santai, menyandarkan dagu di atas tangannya sambil menatap Lulu dengan tatapan yang sengaja dibuat intens. Di dalam kepalanya, Arlan merasa jijik melihat poni Lulu yang sedikit lepek dan kacamata tebal itu. Duh, kalau bukan demi taruhan, ogah banget gue di ruangan pengap ini, batin Arlan. Namun, mulutnya mengatakan hal yang berbeda.

"Aku nyariin kamu," ucap Arlan lembut. "Tadi aku lewat kelas kamu, tapi temen kamu bilang kamu ke perpustakaan. Aku cuma mau kasih ini."

Arlan meletakkan satu kotak susu stroberi dingin dan sepotong roti manis di atas meja, tepat di depan buku kimia Lulu.

Lulu menatap makanan itu dengan bingung. "Buat aku? Tapi kenapa?"

"Tadi pagi kamu kelihatan pucat, Lu. Aku takut kamu belum sarapan. Cewek pinter kayak kamu nggak boleh sakit, nanti siapa yang jadi juara umum di sekolah ini?" Arlan memberikan senyuman mautnya—senyum yang selama ini selalu berhasil membuat cewek-cewek populer di sekolah histeris.

Lulu terdiam. Ia merasa ada sesuatu yang aneh di dadanya. Perasaan hangat yang belum pernah ia rasakan dari orang asing. "Makasih banyak, Kak. Tapi aku nggak enak... ini pasti mahal."

"Harganya nggak seberapa dibanding kesehatan kamu, Lu," Arlan meraih kotak susu itu, menusukkan sedotannya, lalu menyodorkannya ke arah bibir Lulu. "Minum. Atau mau aku suapin?"

Wajah Lulu langsung memerah padam sampai ke telinga. Ia dengan cepat mengambil kotak susu itu dengan tangan yang gemetar. "A-aku minum sendiri aja, Kak."

Saat Lulu menyedot susunya, Arlan memperhatikannya dengan pandangan yang bagi Lulu terasa seperti kekaguman, padahal Arlan sedang menilai seberapa "mudah" gadis ini untuk dihancurkan nantinya. Arlan mulai menjalankan taktik berikutnya: menanyakan hal-hal pribadi untuk membangun kedekatan palsu.

"Kamu suka baca ya, Lu? Selain buku pelajaran, kamu suka baca apa?"

Lulu menurunkan kotak susunya, matanya sedikit berbinar ketika topik pembicaraan beralih ke buku. "Aku... aku suka baca tentang tanaman dan bintang, Kak. Kadang baca novel fantasi juga."

"Wah, kebetulan banget! Aku juga lagi pengen belajar tentang astronomi. Kamu mau nggak kapan-kapan ajarin aku? Di sekolah ini nggak ada yang se-ngerti kamu soal itu," bohong Arlan dengan sangat lancar. Padahal, melihat bintang baginya hanya membuang waktu kecuali jika ia sedang berada di atas kap mobil mewahnya untuk pamer kekayaan.

"Beneran, Kak? Kak Arlan mau belajar sama aku?" tanya Lulu dengan nada yang sangat polos, matanya membulat penuh harapan.

"Tentu saja. Tapi ada syaratnya," Arlan memajukan tubuhnya, membuat jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Bau parfum Arlan yang maskulin benar-benar menguasai oksigen di sekitar Lulu. "Mulai sekarang, kamu jangan panggil aku 'Kak Arlan' kalau lagi berdua. Panggil Arlan aja, biar lebih akrab. Gimana?"

Lulu menelan ludah. "T-tapi kan Kakak kakak kelas aku..."

"Nggak peduli. Buat aku, kamu itu spesial, Lu. Aku ngerasa kita punya kecocokan yang nggak aku temuin di cewek lain."

Kalimat love bombing itu meluncur begitu saja dari mulut Arlan. Ia tahu persis bahwa gadis polos seperti Lulu tidak akan pernah mendengar kata-kata manis seperti itu sebelumnya. Ia sedang membangun sangkar emas untuk Lulu, dan Lulu sedang berjalan masuk ke dalamnya dengan rasa syukur yang luar biasa.

Setelah hampir setengah jam "berbincang"—yang sebenarnya adalah cara Arlan membedah informasi pribadi Lulu untuk bahan ejekan dengan teman-temannya nanti—Arlan berdiri.

"Aku harus balik ke lapangan, ada latihan basket. Kamu jangan lupa habiskan rotinya ya, Lu. Kalau butuh apa-apa, atau kalau ada yang gangguin kamu, langsung hubungi aku." Arlan mengeluarkan ponselnya. "Sini, simpan nomor aku."

Lulu dengan gemetar memberikan ponsel lamanya yang layarnya sudah sedikit retak. Arlan menerima ponsel itu dengan ujung jari, merasa geli menyentuh benda "murah" tersebut, namun ia tetap menyimpan nomornya dengan nama 'Arlan Ganteng' lengkap dengan emoji hati.

"Jangan lupa kabari aku ya, Cantik," ucap Arlan sambil mengacak rambut Lulu pelan sebelum melangkah pergi.

Setelah Arlan menghilang dari balik rak buku, Lulu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Ia menyentuh rambutnya yang tadi diusap oleh Arlan. Baginya, ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah sebuah keajaiban.

"Dia panggil aku cantik..." bisik Lulu pada dirinya sendiri. Ia menatap roti dan susu stroberi di depannya seolah-olah itu adalah benda suci.

Sementara itu, di koridor luar perpustakaan, Arlan langsung mengeluarkan sebotol hand sanitizer dari saku celananya. Ia menuangkan cairan itu banyak-banyak ke tangannya, menggosoknya dengan kasar hingga kulitnya memerah.

"Gila, debu di perpustakaan itu bisa bikin gue bersin setahun," gerutu Arlan saat Reno dan Gani muncul dari balik pilar.

"Gimana, Dewa? Udah dapet nomor hp si Upik Abu?" tanya Reno sambil menyeringai.

Arlan menunjukkan layar ponselnya dengan bangga. "Terlalu gampang. Dia itu kayak ikan yang langsung nyaplok umpan tanpa mikir. Gue kasih susu stroberi harga lima ribu aja matanya udah berkaca-kaca kayak mau nangis. Murahan banget."

Reno tertawa terbahak-bahak. "Terus selanjutnya apa? Lu mau ajak dia kencan di pinggir empang?"

"Gue bakal bikin dia makin terbang," jawab Arlan dengan kilat jahat di matanya. "Gue bakal bikin dia ngerasa kalau dia itu ratu, biar nanti pas gue jatuhin dari langit, suaranya pas kena tanah bakal kedengeran merdu di telinga gue."

Gengsi Arlan sebagai cowok populer benar-benar menutupi nuraninya. Ia tidak peduli jika saat ini Lulu mungkin sedang tersenyum sendirian di perpustakaan, merasa bahwa hidupnya yang kelabu baru saja mendapatkan warna pelangi. Bagi Arlan, Lulu bukan manusia; dia hanya selembar tiket untuk membuktikan bahwa egonya tidak tertandingi.

Arlan berjalan menuju lapangan basket dengan langkah angkuh, memikirkan rencana selanjutnya untuk mempermalukan Lulu secara perlahan namun pasti. Ia belum tahu, bahwa kepolosan yang sedang ia mainkan adalah kekuatan yang jauh lebih besar dari narsistiknya yang rapuh.

1
Valent Theashef
mreka bakal ketemu lagi tp entah brp th..
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Valent Theashef
bgus,liat coba end ny apakh mreka brsma ???
Siska Dores
😍
Valent Theashef
penuh tantangan suka deh film novel kyk gni,
Dewi Yanti
ko ada cowo ky reno yg jahat bgt
Siska Dores
next kak
Siska Dores
lanjutt kak
Siska Dores
next kak
Siska Dores
greget bngt
Siska Dores
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!