"Katanya, sebelum semua ilmu nya lepas.. nenek nggak akan bisa mati."
"Jadi sekarang nenek dimana?"
"Nenekmu sedang menjalani semua hukuman sebelum akhir nya dia mati. Selama 40 hari, dia akan dalam pengaruh Iblis."
"Tapi kan nenek udah meninggal!?"
Sebuah ilmu tua membuat seorang nenek mengalami hal di luar nalar ketika akan mendapatkan ajalnya.
Elma, gadis biasa yang baru saja datang dari Jakarta itu harus menelan bulat - bulat atas semua rentetan kejadian tak masuk akal yang dia alami selama mencari jasad nenek nya, dalam waktu 40 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.13.Menyesal!
Lalu pada ke esokan harinya, Tian yang semula di beri perintah oleh ayah nya untuk menyiarkan kabar berita duka di masjid atau mushola setempat tentang kematian nenek nya, kini malah berubah menjadi berita duka kematian ayah nya sendiri.
Suasana duka begitu terasa di kediaman Tian, padahal tidak ada 30 menit Tian pergi bersama mbak nya untuk mencari lilin, saat dia kembali.. Ayah nya sudah meninggal.
"Sabar yo mbak, mas." Ucap para pe- ziarah pada ibunya Tian dan Tian.
"Sabar yo, mas.. InsyaAllah bapakmu husnul khotimah." Ucap yang lain.
"Makasih." Ucap Tian.
Ayah Tian lalu di makamkan di TPU terdekat dari rumah nya, ibunya Tian tampak terdiam seolah kehilangan semangat nya, dia terus berdiri menatap nisan suaminya.
"Bu, ayo pulang." Ucap Tian, dia yang menyetir tubuh ibunya.
Elma juga ada di sana, dia yang malah terus - terusan menghapus air mata nya sampai ibunya keheranan.
"Kak, kenapa?" Tanya ibunya, dia menepuk pundak Elma.
"Keinget papa, ma." Sahut Elma dengan bibir bergetar.
Mendengar itu, ibunya lalu memeluk Elma. Anak perempuan nya itu begitu mencintai dan menyayangi ayah nya, sejak dia kecil bahkan sampai dia besar dia selalu melaporkan hal sekecil apapun pada ayah nya tentang keseharian nya ketika ayah nya pulang bekerja.
Dan sebagai informasi, wajah pakde nya.. atau wajah ayah nya Tian sangat mirip dengan wajah mendiang ayah nya Elma, karena mereka kakak beradik dan jarak usia mereka juga tidak jauh yakni 3 tahun jadi terlihat seperti pinang di belah dua.
"Pulang dulu, kak.." Ucap ibunya, akhir nya Elma mengangguk sambil lalu menghapus air matanya.
Mereka lalu pulang ke rumah nenek, Elma duduk di teras samping rumah di mana dari sana dia masih bisa melihat nenek nya yang masih dalam keadaan sama. Elma sekarang takut mendekat pada nenek nya setelah semua rentetan kejadian hal yang tidak masuk akal dan mengerikan terjadi padanya.
"El." Elma tertegun ketika Tian datang padanya.
Tian duduk dan dia melihat wajah Elma yang begitu sembab dan merah, Tian menyentuh kening Elma dan ternyata Elma sedang demam.
"Kamu sakit, toh?" Tanya Tian, Elma hanya menatap Tian saja dengan bibir yang sedikit bergetar menahan tangis.
"Bang, aku liat pake di cekik.. pakde meninggal di depan mataku." Ucap Elma, dengan bibir gemetar.
"Maksudmu tuh bapakku di cekik hantu? Hantu kan ngga punya fisik, El.." Ucap Tian, Elma menggelengkan kepalanya.
"Jadi yang aku liat itu apa?!" Ucap Elma, dengan tatapan nanar.
Elma lalu menoleh ke dalam ruangan, ke ruang tengah dimana nenek nya di baringkan masih dengan posisi yang sama.
"Bayangan hitam itu, masuk ke tubuh nenek. Dan lu liat sendiri kan, bang.. Setelah pakde meninggal, nenek nafas lagi." Ucap Elma, tatapan nya beralih menatap Tian.
Sementara Tian, dia kini yang gantian menatap nenek nya.. Tian pun merasa ada yang janggal dengan nenek nya, selain karena nenek nya susah ajal.. Semua masa lalu nenek nya yang dia dengar dari abah Surip yang mengatakan bahwa nenek nya itu ngelmu.. Membuatnya yakin, ada sesuatu.
"Gue rasa, pakde meninggal karena nyawanya di ganti ke nenek, bang." Ucap Elma, mendengar itu.. Tian langsung menatap Elma.
"Apa nih maksudmu, El. Bapaku baru aja masuk liang lahat kok kamu ngomong nya gitu." Ucap Tian, dia syok.
"Gue juga nyesel, hiks! Hiks!" Ucap Elma, dia menunduk, tangis nya kembali pecah.
"Gue nyesel, nggak minta maaf sama pakde." Imbuh nya, dadanya rasanya sangat sesak.
Rasa canggung yang dia rasa terlalu besar, sampai dia tidak terpikirkan bahwa musibah bisa datang kapan saja dan di mana saja. Elma pikir mungkin dia masih bisa memberi dirinya waktu untuk sekedar menyiapkan keberanian nya dan meminta maaf secara lugas pada pakde nya..
Tapi ternyata maut lebih dulu menjemput pakde nya bahkan belum sehari dia mendapati kebenaran tentang kematian ayah nya dan kesalah pahaman- nya pada pakde nya. Dan yang paling menyesakkan adalah, dia melihat dengan mata dan kepala nya sendiri.. Pakde nya meninggal di hadapan nya dengan cara paling tidak logis.
"Bapak nggak pernah menyalahkan kamu, kok. Bapak sedih kamu begitu benci sama dia, tapi bapak selalu sayang kamu.. Sama seperti waktu kita kecil dulu." Ucap Tian, Elma masih menunduk.
"Abah Surip mau kesini ntar, aku nggak bisa nemenin kalian di sini karena ibuku juga masih syok." Ucap Tian, Elma mengangguk.
Tian lalu pergi dari sana.. Setelah Tian pergi, langit berangsur mulai menggelap dan gerimis rintik - rintik pun turun. Tak lama Elma melihat mbak Lis membawa dua orang teknisi genset masuk ke dalam bangunan kecil yang terpisah dari rumah utama, ruang untuk genset.
Elma pun pergi kesana, dia ingin memastikan apakah kejadian semalam murni atau ada campur tangan sesuatu yang magis.
"Mbak, kok kesini?" Tanya mbak Lis.
"Mau liat, mbak.." Jawab Elma.
Elma melihat dua teknisi itu mengecek, keadaan mesin. Tapi selain melihat mereka, Elma juga mengernyit ketika melihat ada sesajen yang di letakan di ruang genset, dan itu masih segar.. Bahkan dupa nya masih menyala.
Elma tidak langsung bertanya pada mbak Lis, dia lebih dulu menunggu dua teknisi itu kelar dan pergi dari sana.
"Ini ndak ada yang rusak kok, mbak." Ucap salah satu teknisi.
"Lho, tapi semalam waktu mati lampu iki ndak langsung nyala, pak. Biasanya kan kalo listrik padam mesin iki langsung hidup." Ucap mbak Lis, dua teknisi itu kembali mengecek.
"Tapi iki masih normal, mbak. Solar masih banyak, aki aman, ndak ada apapun yang mengindikasikan kerusakan atau korslet." Ucap teknisi yang satu lagi.
Mendengar itu, Elma makin yakin.. Kejadian semalam itu ada campur tangan dari sesuatu yang tak kasat mata. Elma yang agak skeptis dengan aktivitas supra natural itu kini yakin, kematian pakde nya bukan hal yang tidak di sengaja.
"Coba tolong cek, pak." Ucap Elma, maksud nya mereka akan memadamkan listrik.
"Sek yo, tak nyalakan pake genset yang iki.. Iki manual." Ucap teknisi, Elma mengangguk saja.
Saklar listrik utama rumah itu di turunkan, dan kemudian barulah mesin genset manual itu di hidupkan. Dan benar.. mesin itu menyala. Mesin itu berfungsi seperti sebagaimana mestinya tanpa ada kendala, Elma semakin yakin bahwa semalam ada kejadian yang tidak logis.
"Makasih ya, pak. Maaf ngerepotin, ternyata mesin nya nggak rusak, tapi mungkin semalam gagal aja." Ucap Elma akhir nya, kedua teknisi itu manggut - manggut.
"Yo wes, kami pamit dulu mbak, selamat sore." Ucap dua teknisi itu, lalu pergi dari sana.
Mbak Lis mengantar dua teknisi itu pergi, dan Elma masih berdiri menatap sesajen yang dupa nya masih menyala tadi.. Dia masuk ke ruang genset dan dia ambil sesajen itu.
"Sajen buat siapa ini." Gumam Elma.
BERSAMBUNG!
hayooo kek mana coba
nenek idup lagi
masih kerabat kah?
dlm penglihatan Elma, waktu ditunjukin nenek masih muda, ada ayah dan pakde masih kecil... ada siapa lagi ya?
ato jangan-jangan Tian??
pasti ada yg msk tp lwt pintu lain