NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Wuxia / Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Mengubah Takdir / Dan budidaya abadi / Ahli Bela Diri Kuno / Perperangan / Barat / Tamat
Popularitas:14.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kak Vi

Kekacauan dan penderitaan kembali datang, seperti penyakit yang telah mengakar hingga tumbuh semakin ganas. Sepuluh tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari di mana haru bahagia dikumandangkan di seluruh penjuru, saat akhirnya Ratu Iblis dan Naga Es berhasil dikalahkan di tangan Xin Fai.

Ibarat api kecil yang membesar dan melahap apapun yang berada di sekitarnya, musuh lama pun mulai menampakkan jati dirinya kembali, mengguncang dunia persilatan setelah beberapa tahun dan kembali dengan membawa bencana yang jauh lebih mengerikan.

Bahkan Rubah Petir pun tak yakin Xin Fai bisa mengalahkan musuh ini dan dibanding melihat Xin Zhan yang merupakan anak tertua dengan kejeniusan tak terbandingi, dia justru menunjuk Xin Chen yang sama sekali takmemiliki bakat dalam bertarung.

Xin Chen yang sering disebut 'anak gagal' berlari melawan takdirnya, menantang langit dan mengukir namanya sendiri dalam benak orang-orang.

Meski sering kalah dari Xin Zhan namun dia tetap bersikukuh menjadi Pedang Iblis kedua. Untuk menjamin perdamaian dengan nyawanya sendiri, walaupun kebanyakan orang yang ingin dia lindungi adalah mereka yang melihatnya sebelah mata.

"Tidak ada kekalahan dalam diriku, aku hanya jatuh untuk menang. Karena pemenang sebenarnya adalah seorang pecundang yang bangkit dan mencoba sekali lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 11 - Asosiasi Pagoda Perak

Xin Chen berhenti di tempat seorang pedagang topeng, dia berpikir-pikir sejenak untuk membelinya.

"Apa yang hendak Tuan Muda beli? Aku memiliki banyak penawaran untukmu, cukup dengan 50 keping perunggu saja..." Pria itu mengambil sebuah topeng berbentuk kepala beruang. "Kau akan mendapatkannya."

Orang-orang yang berlalu lalang mulai berdesakan di belakang Xin Chen, mau tak mau dirinya harus segera memilih dan pergi dari sana. Xin Chen sendiri tak begitu menyukai topeng yang ditawarkan pria tersebut, justru dia lebih tertarik dengan topeng yang lain.

"Aku beli yang itu saja."

Sang pedagang mengalihkan pandangannya ke samping, mencoba mencari apa yang ditunjuk oleh Xin Chen. "Itu?" tanyanya.

"Iya, yang itu."

"Kau masih memiliki banyak pilihan lain, Tuan Muda. Begini, kau akan mendapatkan dua topeng sekaligus dengan hanya memberikan 50 keping perunggu."

Xin Chen mulai bosan, sembari mengembuskan napas dia berkata, "Aku akan membeli topeng itu." Tangannya menyodorkan sepuluh keping emas kemudian, membuat sang penjual membuka lebar-lebar matanya.

Dia memang tak begitu mengenali siapa Xin Chen karena sudah terlalu tua untuk melihat paras seseorang. Wajah berkeriputnya mulai terlihat gemetar, dia mengambil topeng berbentuk wajah hantu itu. Bentuknya saja sudah membuat siapapun akan ketakutan namun entah mengapa Xin Chen begitu menginginkannya.

"To-topeng ini tidak seharusnya dijual..." Pria tersebut menggelengkan kepalanya, memasukkan topeng tersebut ke dalam tasnya.

"Ada apa dengan topeng itu? Kenapa kau terlihat ketakutan?" Xin Chen menahan tangan pria kemudian mengambil topeng hantu di dalamnya, memerhatikan dengan jeli akan tetapi tak mengetahui di mana letak keanehannya.

Xin Chen tak memikirkan lebih panjang lagi dan segera memakai topeng tersebut, seketika dirinya merasakan sebuah tekanan aneh yang mengalir dalam darahnya dan tak bisa mengenali itu apa. Sang kakek penjual kelabakan melihat hal tersebut, dia membantu Xin Chen melepaskan topeng dengan buru-buru.

Hanya wajah pucat terlihat ketika pria tua itu melihat anak kecil di depannya. "Kau tidak apa-apa? Wajahmu terlihat pucat sekali..."

"Tidak, ini memang karena aku hujan-hujanan semalam. Aku beli topeng itu, ini uangnya."

Sang kakek mengerjapkan mata tak percaya, dia yakin penglihatannya tak salah sama sekali. Bahkan beberapa detik kemudian Xin Chen masih terlihat biasa saja, tidak ada tanda-tanda aneh terjadi pada dirinya.

Pria itu mengetahui betul Topeng Hantu Darah di tangan Xin Chen, awalnya dia sendiri tak percaya bahwa topeng tersebut memiliki kekuatan spiritual jahat yang dapat melukai manusia.

Baru satu bulan menjual benda yang dibelinya di pasar gelap itu, sudah ada lima pembeli yang meninggal dunia. Dan yang paling anehnya Topeng Hantu Darah tetap kembali padanya setelah membunuh korban.

Pria itu jelas ketakutan akan tetapi dia tidak bisa memberitahu pada siapapun tentang hal ini termasuk pada istrinya sekalipun. Selagi tidak membahayakan nyawanya dan istrinya pria itu akan tetap berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ketika malam tiba kadang kakek tersebut mendengar derap kaki dari gudang tempatnya menyimpan barang dagangan disertai bisik-bisik samar penuh ancaman.

Sekilas dia mengetahui sedikit apa yang diinginkan sang roh penghuni topeng tersebut, yakni sebuah jiwa manusia. Akan tetapi dari setiap orang yang coba dimasukinya tidak ada satupun dari mereka yang selamat.

Pria tersebut menyadari Xin Chen sudah agak jauh ketika dia sibuk melamun, maka dari itu dirinya angkat bicara untuk sekedar memberitahu begitu berbahayanya topeng tersebut.

"Nak, hati-hati dengan topeng itu. Topeng itu terkutuk dan bisa membunuhmu."

Antara yakin tak yakin mendengarnya Xin Chen hanya mengiyakan. Anak itu menghilang di balik kerumunan orang-orang hingga tak dapat dilihat lagi. Di detik berikutnya jalan tempat pedagang itu berjualan dikerumuni para penduduk. Tiba-tiba pria itu kehilangan nyawa dengan mata terbuka lebar.

Di antara kerumunan tersebut berdiri sosok misterius yang hanya berdiam tanpa ekspresi, tepat di pinggangnya terlihat sebuah kain lusuh dengan lambang segitiga yang di dalamnya berbentuk sebuah mata yang terbuka lebar. Seperti mata kakek penjual topeng tersebut saat menemui ajalnya tanpa sebab yang jelas.

**

Puas mengitari seisi desa dan tak menemukan informasi yang berguna Xin Chen beristirahat di bawah pohon, matahari mulai merangkak naik membuat udara pun turut panas. Tak lama Xin Chen mengeluarkan Topeng Hantu Darah, hanya memegangnya sebentar saja Xin Chen sudah menyadari ada sesuatu yang salah dari topeng ini.

Xin Chen memakainya sebentar memastikan kekuatan aneh yang menyerbunya tadi masih muncul atau tidak, satu menit berselang tak terjadi apa-apa akhirnya Xin Chen melepas kembali topeng tersebut.

Anggapan buruk terhadap topeng itu hanya sepintas lalu di kepalanya, buktinya saja kata-kata kakek tersebut tidak ada bukti. Mungkin kekuatan aneh yang dia rasakan tadi murni karena dirinya memang sedang kelelahan. Xin Chen melanjutkan perjalanannya mencari informasi dengan memakai topeng tersebut.

Derap langkah kakinya terhenti pada sebuah pagoda bercorak merah, tempat itu terlihat tertutup dan tidak terlalu menonjol. Hanya beberapa orang yang dipersilahkan masuk ke dalam.

"Hei, apa yang kau lakukan di sana?" Xin Chen terbatuk-batuk kecil saat seorang pendekar diam-diam memperhatikan.

"A-aku hanya sekedar lewat. Kebetulan melihat-lihat sebentar ke sana."

Pria itu mengernyitkan dahinya ketika melihat topeng yang sedang dipakai Xin Chen. "Apa-apaan dengan topeng jelek itu, enyahlah dari sini sebelum aku memenggalmu!"

Kata-kata ancaman itu keluar dari mulutnya begitu saja disertai wajah tak bersahabat. Xin Chen mundur dari sana dengan memasang wajah kesal, meskipun menurut tapi sebenarnya dia tak memiliki niat sepenuhnya untuk mematuhi perintah pria menyebalkan tersebut.

Anak usil itu mulai memikirkan cara untuk mengerjai pria tersebut, tentu saja Xin Chen takkan diam dimarahi oleh orang yang tak dikenalnya.

Dari gelagatnya saja Xin Chen yakin dia bukan orang baik dan orang-orang pagoda ini sendiri memiliki wajah yang asing di matanya. Tidak seperti orang-orang dari Kekaisaran Shang pada umumnya. Saat sedang larut dalam lamunannya Xin Chen baru menyadari pria yang tadi membentaknya sudah memasuki pagoda tersebut.

'Entah kenapa tempat ini sangat aneh, mungkin saja aku akan mendapatkan informasi dari tempat ini...' batinnya ketika berdiri di muka gerbang. Setelah melihat kanan kiri tak ada penjaga di sana akhirnya Xin Chen memberanikan diri untuk masuk.

Baru saja mendapatkan tempat untuk bersembunyi tiga penjaga gerbang sudah bertugas kembali, Xin Chen menarik napas lega. Telat sebentar saja dia yakin akan ketahuan oleh orang-orang tersebut.

Samar-samar terdengar bunyi derap kaki kuda, tampaknya rombongan besar telah kembali ke sana. Terlihat seorang pemuda berusia 21 tahun yang mereka sebut sebagai Tuan Muda memasuki halaman depan.

Seorang pria yang usianya hampir setengah abad menyambut riang gembira, dari wajah anaknya yang telah kembali kelihatannya dia membawa kabar baik.

"Berkat peta yang mereka berikan kita berhasil mendapatkannya, artefak ini akan kujual dengan harga selangit!"

"Tentu saja anakku, tidak salah aku menerima tawaran kerja sama dari mereka. Sudah, sudah, ayo masuk. Kita bicarakan ini di dalam." Pria itu mempersilahkan masuk dengan memasang senyum terbaiknya.

***

1
Asep Darajat
mantap ..
Fachri Mamonto
penulisan yang baik seperti novel
novel kho ping ho
pertahankan terus author...mudah mudahan kesini bikin novel pendekar dengan karakter nusantara
VirgoRaurus 31Smile
kisah ini mirip film 300 antara Sparta vs Persia....
VirgoRaurus 31Smile
bisa bayangkan orang berlari sembari berlutut....??? oon di piara....
VirgoRaurus 31Smile
di hiasi pakaian permadani...rupanya Author ga tahu, apa itu permadani.../Facepalm/
VirgoRaurus 31Smile
lho...kan para pema ah sudah di habisin MC semua....lha ini kok masih di incar panah...panah dari mana...
VirgoRaurus 31Smile
bukankah waktu itu hujan lebat...kenapa darah ga luntur oleh air hujan...yg bener aja Thor...
VirgoRaurus 31Smile
baru tahu ada pendekar takut di lempar sandal...
VirgoRaurus 31Smile
kekaisaran Shang yg damai & tenteram....tapi keropos di dalam...
VirgoRaurus 31Smile
emangnya kerbau makan kayu juga ya....kerbau dungu namanya...kayak Author, DUNGU.
VirgoRaurus 31Smile
mereka menyahuti para prajurit....apa yg di sahuti...yg betul "memerintahkan" para prajurit...sebenarnya Author bego atau oon...?
VirgoRaurus 31Smile
kok bisa ibunya MC dg gampangnya di culik, bukankah kediamannya dekat dg kekaisaran Shang...hal ini menunjukkan betapa lemahnya penjagaan di sekitar kekaisaran Shang.
VirgoRaurus 31Smile
kalau alurnya sudah keluar dari alur sebelumnya...jangan harap Author dpt dukungan lebih.....
karena ceritanya jadi bertele tele...bikin pusing readers.
VirgoRaurus 31Smile
ini bukan jawaban atas pertanyaannya sendiri...karena ada tanda tanya...kalau jawaban ga usah di beri tanda tanya (?).
VirgoRaurus 31Smile
lari Luntang lantung...kayak gelandangan aja istilahmu Thor...
VirgoRaurus 31Smile
ke 52 orang tersisa....pada paragraf di atas disebutkan tersisa 152 orang...yg 100 orang kemana Thor, bisa hitungan ga...?
VirgoRaurus 31Smile
AREP mbebaske bapake wae kok mbulet, Melu seleksi...ora mutuuuu...
VirgoRaurus 31Smile
di paragraf atas disebutkan tinggal MC berdua Yu Xiong...kok ini masih ada yg lain...hadeh...
VirgoRaurus 31Smile
di bawah kolong kasur...?
emang kasur ada kolongnya, harusnya di bawah kolong ranjang...Thor.
VirgoRaurus 31Smile
akhirnya MC mengeluarkan kitab pengendali roh...katanya akan menghadapi Salamander api hanya dg kekuatan tubuhnya saja...dasar Author oon...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!