NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Pahlawan Berkaos Lecek

Bang Soni segera membawa Guntur ke sebuah gudang tua di pinggiran dermaga Jakarta Utara setelah mendapat kabar bahwa putri tunggalnya, Sekar Ayu Kencana, telah diculik oleh musuh bebuyutannya.

​Di dalam gudang yang pengap itu, Sekar duduk terikat kuat di sebuah kursi kayu dengan mulut ditutup lakban hitam, sementara di depannya berdiri Borgol, gembong preman yang sedang menimang parang tajam.

​"Jangan takut, Cantik. Ayahmu pasti akan menyerahkan semua aset hartanya demi nyawa putri tunggalnya ini," ucap Borgol sambil tertawa licik yang membuat Sekar meronta ketakutan dalam tangisnya.

​Tiba-tiba, suara debuman keras terdengar dari pintu gudang yang hancur ditendang, dan sosok Guntur melangkah masuk dengan santai sambil tetap memanggul ransel bututnya.

​"Permisi Om Borgol, maaf mengganggu waktu makannya, tapi Bang Soni titip pesan katanya disuruh jemput Mbak Galak ini buat pulang sekarang juga."

​Ucap Guntur sambil nyengir sengklek, membuat lima preman anak buah Borgol langsung mengepungnya dengan senjata terhunus di tangan mereka.

​Borgol meludah ke lantai dengan penuh hinaan. "Siapa kamu, Bocah Gembel?! Berani-beraninya kamu datang sendirian ke sini, apa kamu sudah bosan hidup?"

​"Nama saya Guntur, Om. Saya cuma asisten baru yang hobi bersih-bersih, dan sepertinya gudang ini terlalu banyak sampahnya, jadi harus saya sapu sekarang juga."

​Jawab Guntur sambil memasang kuda-kuda silat rendah, tubuhnya bergerak lincah menghindari sabetan parang pertama lalu menghantamkan sikunya tepat ke arah ulu hati lawan.

​Guntur melakukan gerakan salto ke belakang, ia menangkap pergelangan tangan preman kedua lalu memutarnya hingga terdengar suara tulang yang bergeser diikuti teriakan kesakitan yang memilukan.

​Preman ketiga mencoba menusuk dari belakang, namun Guntur dengan insting jagoannya melakukan tendangan belakang yang telak mengenai wajah preman itu hingga pingsan seketika.

​Borgol yang panik segera menarik Sekar dan menodongkan parang tepat di leher jenjang gadis itu dengan tangan yang gemetar. "Berhenti! Satu langkah lagi, maka kepala gadis ini akan terpisah dari tubuhnya!"

​Guntur menghentikan langkahnya, ia menatap mata Sekar yang berkaca-kaca penuh ketakutan, lalu ia secara diam-diam meraih sebutir batu kecil dari lantai dan menyentilnya dengan kekuatan penuh.

​CETAK!

​Batu itu menghantam saraf pergelangan tangan Borgol hingga parangnya jatuh, dan dalam sekejap Guntur melesat memberikan tendangan double kick yang membuat Borgol terbang menabrak dinding.

​Guntur segera berlutut di depan Sekar untuk membuka ikatan talinya, namun saat pandangannya sejajar dengan dada Sekar, ia mendadak mematung karena melihat kancing kemeja atas Sekar yang terbuka.

​Guntur menelan ludah berkali-kali melihat belahan dada Sekar yang sangat putih dan mulus terpampang jelas di depan matanya, membuat wajah jagoan asal Sidoarjo itu memerah padam seperti kepiting rebus.

​"Waduh... Gusti Allah, ini pemandangannya kok lebih bening daripada sumber air di desa ya? Bener-bener rejeki anak sholeh ini mah," gumam Guntur sangat pelan sampai matanya hampir tidak berkedip.

​Sekar yang menyadari arah mata Guntur langsung menendang kaki Guntur dengan sisa tenaganya. "Heh! Dasar Mesum! Cepat buka talinya, jangan malah melotot ke situ, Dasar Gembel Sengklek!"

​Guntur langsung gelagapan dan segera memutuskan tali dengan sekali sentakan kuat. "Maaf Mbak! Saya tadi lagi fokus nyari ujung tali, suwer! Saya nggak lihat 'gunung kembar' kok, beneran!"

​Sekar yang sudah bebas langsung berdiri dan merapikan kemejanya dengan wajah merah padam karena malu sekaligus kesal luar biasa kepada penyelamat anehnya itu.

​"Awas ya kalau sampai kamu cerita soal ini ke Ayah! Aku bakal pastikan kamu nggak bakal bisa melihat matahari besok pagi!" ancam Sekar sambil menatap Guntur dengan perasaan yang mulai campur aduk.

Setelah berhasil melumpuhkan Borgol dan semua anak buahnya, Guntur berdiri dengan santai sambil menepuk-nepuk debu di celana jeans-nya yang sudah mulai dekil.

​Sekar Ayu Kencana masih berdiri mematung sambil terus memegangi bagian kemejanya yang terbuka, ia menatap deretan preman yang terkapar di lantai dengan perasaan tidak percaya.

​"Kamu... kamu benar-benar melakukan ini sendirian? Kamu pakai ilmu hitam atau apa sampai mereka tidak bisa menyentuhmu sama sekali?"

​Tanya Sekar dengan suara yang masih sedikit bergetar, ia tidak menyangka pemuda yang ia anggap gembel ini punya tenaga seperti monster.

​Guntur hanya nyengir lebar sambil memungut kembali ransel bututnya yang sempat terjatuh di dekat tumpukan karung pasir.

​"Waduh Mbak Sekar, ilmu hitam itu berat urusannya, saya cuma pakai ilmu 'sikat lantai' warisan kakek saya di Sidoarjo, pokoknya kalau kotor ya harus digosok sampai bersih."

​Tiba-tiba, suara deru mobil yang sangat banyak terdengar dari luar gudang, diikuti cahaya lampu yang sangat terang masuk menyinari ruangan gelap tersebut.

​Bang Soni masuk dengan langkah terburu-buru bersama puluhan anak buahnya yang bersenjata lengkap, wajahnya yang garang terlihat sangat panik sebelum akhirnya melihat Sekar aman.

​"Sekar! Kamu selamat, Nak?!" teriak Bang Soni sambil langsung memeluk putri tunggalnya itu dengan sangat erat, sementara para anak buahnya segera mengamankan Borgol yang masih pingsan.

​Sekar mengangguk pelan dalam pelukan ayahnya, namun matanya tetap melirik ke arah Guntur yang malah asyik memeriksa apakah kardus mie instannya hancur atau tidak.

​"Guntur! Kamu benar-benar luar biasa, saya tidak salah pilih orang, kamu sudah menyelamatkan harta saya yang paling berharga di dunia ini!"

​Ucap Bang Soni sambil menghampiri Guntur dan menepuk bahunya dengan sangat keras hingga Guntur hampir tersedak ludahnya sendiri.

​"Hehe, santai saja Bang Soni, yang penting Mbak Mak Lampir eh maksud saya Mbak Sekar sudah aman, gaji saya bulan ini jangan dipotong ya Bang."

​Celetuk Guntur tanpa rasa takut, membuat beberapa anak buah Bang Soni yang bertampang sangar malah menahan tawa mendengar keberanian pemuda itu.

​Bang Soni tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memenuhi seluruh gudang tua itu, ia merasa sangat cocok dengan karakter Guntur yang jujur dan apa adanya.

​"Gaji? Mulai hari ini kamu bukan cuma saya kasih gaji, tapi kamu akan tinggal di rumah saya sebagai asisten pribadi sekaligus pelindung utama Sekar Ayu Kencana!"

​Tegas Bang Soni, yang langsung membuat Sekar melotot kaget dan Guntur mendadak berhenti mengunyah rempeyek di tangannya.

​"Apa?! Ayah, jangan bercanda! Masa aku harus dikawal oleh orang yang hobi ngintip dan pakaiannya bau matahari begini ke mana-mana?"

​Protes Sekar dengan nada galak yang kembali muncul, ia tidak bisa membayangkan hidupnya harus diawasi oleh pemuda sengklek seperti Guntur.

​Bang Soni menggelengkan kepala dengan tegas ke arah putrinya. "Keputusanku sudah bulat, Sekar! Di luar sana banyak musuh yang mengincarmu, dan hanya Guntur yang sanggup menghadapi mereka dengan cara yang tidak terduga."

​Guntur hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menatap Sekar yang cemberut maksimal.

​"Waduh Mbak, jangan galak-galak, nanti cantiknya hilang lho. Lagipula, saya juga belum tentu mau, soalnya kalau jagain Mbak kayaknya saya harus siap-siap darah tinggi setiap hari."

​Sekar semakin emosi dan hampir saja melempar sepatunya ke arah Guntur, namun Bang Soni segera merangkul keduanya untuk keluar dari gudang yang pengap itu.

​Malam itu, di bawah sinar bulan Jakarta, Guntur Hidayat resmi mendapatkan mandat baru yang akan membawanya masuk ke dalam lingkaran orang-orang paling kaya dan berpengaruh di Ibu Kota.

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!