Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Cahaya keemasan Los Angeles perlahan meredup, berganti dengan semburat ungu dan nila yang menyapu cakrawala dari balik jendela kaca raksasa. Di dalam kamar yang remang, suasana terasa begitu kental dengan aroma sisa hujan dan wangi maskulin yang pekat. Nyx Morrigan terbangun dari tidur panjangnya, namun ia segera menyadari bahwa tubuhnya tidak lagi bebas.
Ada beban hangat yang melingkari pinggangnya. Sebuah lengan kekar dengan urat-urat menonjol sisa latihan fisik yang keras—memeluknya dari belakang dengan posesif. Nyx bisa merasakan embusan napas teratur yang menerpa tengkuknya, mengirimkan gelenyar aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Knox tidak terbangun, namun ia bergerak semakin mendekat. Pria itu menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Nyx, menghirup aroma rambut pendek gadis itu yang kini berbau sabun cendana miliknya.
"Tidurlah lagi, Nyx..." gumam Knox dengan suara parau khas bangun tidur, terdengar sangat berat dan dalam. "Aku masih sangat mengantuk. Kampus tadi membuat otakku berasap."
Nyx membeku sejenak, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. "Knox... ini hampir malam, astaga," bisik Nyx, mencoba melepaskan kaitan tangan pria itu. "Bangun, Knox. Tanganmu berat sekali. Kau pikir aku ini bantal gulingmu?"
Knox justru semakin mempererat pelukannya, seolah tidak rela kehilangan kehangatan itu. "Ah, kau menyebalkan, Nyx. Biarkan aku lima menit lagi. Sofa di ruang tamu tidak selembut ranjang ini."
Nyx mendengus, meski ia tidak bisa memungkiri bahwa pelukan itu memberikan rasa aman yang gila. Selama sembilan belas tahun, ia selalu tidur dengan kewaspadaan penuh, takut Agnesia akan datang membawa gunting atau takut ayahnya akan mengusirnya di tengah malam. Namun di sini, di bawah lengan pria yang baru dikenalnya dua hari, ia merasa... terlindungi.
"Lepaskan, Knox," Nyx akhirnya berhasil menyikut pelan perut keras Knox. "Aku harus memasak untuk makan malam. Kau ingin makan apa?"
Knox perlahan membuka matanya. Ia menyanggah kepalanya dengan satu tangan, menatap Nyx dengan tatapan sayu yang penuh dengan sisa mimpi. Seringai nakal mulai terukir di sudut bibirnya yang masih sedikit lebam.
"Makan apa?" Knox mengulang pertanyaan itu dengan nada menggoda. Ia memajukan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Bagaimana kalau... memakan mu saja?"
Nyx tertegun, wajahnya memanas seketika. Ia segera bangkit dari ranjang, menghindari tatapan predator Knox. "Jangan mulai lagi, Dasar Mesum. Aku akan ke dapur."
Nyx berdiri di balik bar dapur, memotong sayuran dengan gerakan cepat untuk menutupi kegugupannya. Knox menyusul beberapa menit kemudian, sudah mengenakan celana pendek hitam namun tetap membiarkan dada bidangnya terbuka. Ia duduk di kursi tinggi, memperhatikan setiap gerak-gerik Nyx dengan dagu bertumpu pada tangan.
"Knox," panggil Nyx tanpa menoleh. "Apa kau tidak punya kekasih? Maksudku, dengan apartemen sesempurna ini dan wajah yang... yah, lumayan, tidak mungkin kau tidak memiliki kekasih, kan?"
Knox mengambil sebuah apel dari keranjang dan menggigitnya dengan suara renyah. "Aku baru saja putus."
"Oh? Karena apa?"
"Aku sedang fokus pada proyekku. Aku anak Teknik Mesin, Nyx. Tugas-tugasku bukan sekadar membaca puisi atau menganalisis novel seperti jurusan mu. Aku harus berkutat dengan mesin, kalkulus tingkat tinggi, dan desain struktur," Knox menjelaskan dengan nada datar namun ada sedikit kekesalan di sana. "Aku selalu memutuskan pacarku saat dihadapkan dengan kesibukan tugas. Kau tahu kenapa?"
Nyx menaikkan sebelah alisnya, menunggu kelanjutan.
"Wanita itu menyebalkan," lanjut Knox sambil memutar-mutar apel di tangannya. "Mereka menuntut kami, para pria, untuk menjawab setiap telepon di tengah praktikum, dan harus membalas cepat semua pesannya. Mereka tidak paham bahwa kunci Inggris tidak bisa memegang ponsel di saat yang sama."
Nyx terkekeh kecil. "Jadi kau lebih memilih mesin daripada wanita?"
"Tepat. Dan jangan lupakan satu hal lagi yang paling konyol," Knox mendengus geli. "Kekasih-kekasihku sebelumnya selalu meminta foto mirror selfie tanpa atasan. Mereka bilang ingin melihat progres latihanku. Melelahkan sekali."
Nyx berhenti mengaduk masakannya. "Lalu apa yang kau lakukan?"
Knox menyeringai bangga, sebuah ide yang menurutnya jenius namun menurut orang lain mungkin gila. "Agar kekasihku yang berikutnya tidak meminta hal itu lagi, aku sengaja mengunggah foto-foto itu di akun Instagram milikku. Aku buat publik. Jadi, kalau mereka ingin melihat, lihat saja di sana. Tidak perlu meneror ku setiap malam untuk mengirim foto pribadi. Ide yang bagus, bukan? Efisiensi teknik, Nyx."
Nyx mematung, menatap Knox dengan tatapan tak percaya. Pria ini baru saja mengakui bahwa ia mengunggah foto bertelanjang dada di media sosial hanya agar pacarnya tidak "berisik".
"Ternyata kau sangat menyebalkan ya, Knox," ujar Nyx sambil menggelengkan kepala. "Logika macam apa itu? Kau hanya memamerkan tubuhmu pada dunia."
Knox tertawa terbahak-bahak, suaranya memenuhi ruang dapur yang elegan itu. "Aku memang menyebalkan, Nyx. Tapi setidaknya aku jujur. Aku tidak suka basa-basi. Dan aku tidak suka dikekang oleh tuntutan yang tidak logis."
Nyx terdiam, kembali fokus pada masakannya. Ia baru tahu bahwa Knox adalah mahasiswa teknik. Itu menjelaskan kenapa pria ini begitu praktis, to-the-point, dan sedikit kasar namun presisi dalam bertindak.
"Lalu kau?" Knox balik bertanya, matanya menatap tajam ke arah tato sayap di tangan Nyx. "Kau bilang kau tinggal dengan 'kekasihmu' pada seseorang di telepon tadi. Apa itu aku?"
Nyx hampir saja menjatuhkan Spatula-nya. "Kau... kau mendengarnya?"
"Tidak," Knox berdiri dan berjalan mendekat ke arah Nyx, berdiri tepat di sampingnya. Menunjukkan CCTV disudut kamarnya.
"Jadi, aku ini kekasihmu sekarang? Untuk seseorang yang menganggap ku mesum, kau cukup cepat mengklaim ku, Nyx."
Nyx merasakan jantungnya berdegup kencang. Kebohongan yang ia katakan pada Laura kini berbalik menyerangnya. Ia menatap Knox, mencoba mencari sisa-sisa ejekan di wajah pria itu, namun yang ia temukan hanyalah rasa ingin tahu yang dalam.
"Itu hanya alasan agar keluargaku tidak mencari ku," jawab Nyx pelan.
"Alasan yang berbahaya," bisik Knox. Ia mengambil sejumput masakan Nyx dan mencicipinya. "Tapi aku tidak keberatan memerankannya jika itu artinya aku bisa mendapatkan masakan enak dan teman tidur yang hangat setiap malam."
Nyx melotot ke arahnya, namun Knox hanya membalas dengan kedipan mata sebelum berlalu menuju meja makan dengan piring di tangannya.
Malam itu, di bawah temaram lampu apartemen, Nyx menyadari bahwa Knox Lambert Riccardo bukan sekadar pria teknik yang menyebalkan. Ia adalah badai yang masuk ke dalam hidupnya secara tiba-tiba, menghancurkan semua tembok pertahanan yang ia bangun, dan anehnya, Nyx tidak keberatan berada di tengah pusaran badai itu.
Status "kekasih" yang awalnya hanya sebuah kebohongan untuk menghindari David Beckham, kini mulai terasa seperti sebuah kemungkinan yang menakutkan sekaligus mendebarkan di hati Nyx Morrigan.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂