Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Matahari Dubai mulai merayap naik, menyinari hamparan gedung pencakar langit yang berkilauan. Di dalam kantornya yang mewah, Anindya berdiri mematung di depan jendela kaca besar yang menghadap ke arah Teluk Persia.
Di tangannya, sebuah cangkir kopi mengepulkan uap tipis, namun pikirannya melayang jauh melintasi samudra, kembali ke masa-masa di mana ketenangan bukanlah sebuah kemewahan, melainkan keseharian.
Anindya memejamkan matanya rapat-rapat. Seketika, udara hangat Dubai berganti menjadi hembusan angin dingin yang menusuk tulang. Ia teringat kembali momen bulan madunya bersama Arlan di Swiss, enam tahun yang lalu.
-Flashback On-
Di sebuah kabin kayu hangat di desa Grindelwald, salju turun dengan lebat di luar jendela. Arlan datang dari arah belakang, melingkarkan lengannya di pinggang Anindya yang sedang menatap pegunungan Eiger yang tertutup putih.
"Anin, kenapa melamun? Dingin, Sayang," bisik Arlan lembut, lalu mengecup bahunya dengan penuh kasih sayang.
"Aku hanya merasa... ini seperti mimpi, Arlan. Aku takut bangun dan menyadari semua ini hilang," jawab Anindya sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Arlan memutar tubuh Anindya, menangkup wajahnya dengan telapak tangan yang hangat. Tatapan matanya begitu tulus, sebuah oase di tengah dunia Praditya yang penuh intrik.
"Selama aku masih bernapas, aku akan menjadi rumahmu. Di mana pun kita berada, asalkan kita bersama, kau akan selalu aman."
Malam itu, mereka duduk di depan perapian. Arlan menyelimutinya dengan selimut wol tebal, lalu menyuapinya cokelat hangat sembari membacakan bait-bait puisi.
Tak ada paksaan, tak ada teriakan, hanya ada rasa saling memiliki yang begitu murni. Arlan adalah pria yang selalu bertanya,
"Boleh aku menciummu?" sangat berbeda dengan Kenzo yang selalu merampas apa pun yang ia inginkan.
-Flashback Off-
"Nyonya? Nyonya Dian?"
Suara Sarah memecah keheningan ruangan itu. Anindya tersentak, kelopak matanya terbuka cepat, menyadari bahwa ia tidak lagi di Swiss. Ia berada di Dubai, dan pria yang menjadi pelindungnya telah lama beristirahat di bawah gundukan tanah.
"Maaf, Sarah. Ada apa?" Anindya mengusap sudut matanya yang sedikit lembap dengan gerakan sangat halus, berharap asistennya tidak menyadari kerinduan yang baru saja tumpah.
"Mr. Zayed sudah menunggu di ruang rapat utama, Nyonya. Beliau datang lebih awal dan membawakan buket bunga Lily putih. Katanya, itu untuk menyegarkan suasana rapat pagi ini," lapor Sarah dengan nada sedikit menggoda.
Anindya menarik napas panjang, mengencangkan kembali topeng wibawanya. "Katakan padanya aku segera ke sana. Dan Sarah... simpan bunganya di ruang tamu, jangan dibawa ke meja rapat."
Di ruang rapat, Zayed Al-Maktoum tampak sangat berbeda. Ia tidak mengenakan jas formal seperti biasanya, melainkan kandura putih bersih yang membuatnya terlihat seperti bangsawan sejati.
Saat Anindya masuk, Zayed berdiri dengan senyum yang bisa melelehkan hati wanita mana pun.
"Anda terlihat sangat cantik pagi ini, Madam Dian. Tapi ada kesedihan yang tertinggal di mata Anda. Apa mimpimu semalam kurang indah?" Zayed menyapa dengan suara berat yang merayu, sembari menggeserkan kursi untuk Anindya.
Anindya duduk dengan sikap kaku. "Mimpi adalah urusan pribadi, Mr. Zayed. Bisnis adalah alasan kita di sini. Mari kita bahas mengenai akuisisi lahan di Dubai South."
Zayed justru condong ke depan, menopang dagunya dengan tangan, mengabaikan map dokumen di depannya.
",Lahan itu tidak akan lari ke mana-mana, Dian. Tapi waktu sedang berlari. Aku telah memesan meja di Atmosphere, Burj Khalifa, untuk makan malam besok. Hanya kita berdua. Tanpa bicara angka, tanpa bicara kontrak. Hanya kau dan aku."
Anindya menatap mata cokelat gelap Zayed dengan datar. "Terima kasih, Mr. Zayed. Tapi besok malam saya harus menemani Elang mengerjakan tugas sekolahnya. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak tertarik pada jamuan yang bersifat personal."
"Kau sangat sulit ditembus," Zayed tertawa kecil, namun matanya memancarkan rasa penasaran yang semakin besar. "Semakin kau menolak, semakin aku menyadari bahwa kau adalah permata yang paling berharga di kota ini. Apa pria itu... suamimu... begitu hebat sehingga kau menutup seluruh pintu hatimu?"
"Dia bukan sekadar hebat, Mr. Zayed," suara Anindya bergetar oleh ketegasan. "Dia adalah satu-satunya. Dan sampai kapan pun, tempatnya tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun, bahkan oleh pria sepertimu."
Zayed tertegun. Untuk pertama kalinya, seorang Al-Maktoum merasa kalah telak oleh sebuah kesetiaan. Namun, alih-alih menyerah, rasa hormatnya pada Anindya justru melonjak tajam.
~~
Ribuan mil dari kemewahan Dubai, sebuah badai meledak di kediaman Praditya.
"APA MAKSUDMU DIBLOKIR?!" raung Kenzo di depan meja kerjanya.
Ia baru saja mencoba mentransfer sejumlah dana besar kepada informan gelapnya di Eropa, namun transaksi itu ditolak mentah-mentah oleh sistem bank.
"Maaf, Tuan Kenzo. Ini perintah langsung dari Tuan Praditya Senior di London. Semua akses rekening pribadi dan kartu kredit Anda telah dibekukan. Anda hanya diizinkan menggunakan dana operasional kantor untuk keperluan mendesak perusahaan," lapor sekretarisnya melalui sambungan telepon dengan suara gemetar.
Kenzo membanting ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Ia meraih botol minuman di sampingnya dan meneguknya hingga habis, namun rasa haus akan Anindya tidak juga terobati.
"BRENGSEK! TUA BANGKA ITU!"
Kenzo menyapu semua barang di atas mejanya. Laptop, dokumen, hingga lampu meja berjatuhan dan hancur. Ia merasa seperti singa yang dikurung di dalam kandang emas tanpa kunci.
Tanpa uang, ia tidak bisa membayar detektif. Tanpa detektif, ia kehilangan jejak Anindya.
Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka kasar. Beberapa pengawal masuk dengan wajah panik.
"Tuan Kenzo! Para detektif swasta itu... mereka menolak melanjutkan pencarian. Mereka bilang kontrak diputus karena pembayaran termin kedua tidak kunjung cair!"
"KEMBALI KERJA! CARI CARA LAIN!" teriak Kenzo dengan mata melotot.
"Tapi Tuan, tanpa dana, kami tidak bisa menyuap pihak bandara untuk membuka manifes rahasia..."
Kenzo meraih kursi jati di dekatnya dan menghantamkannya ke lemari kaca hingga suaranya memekakkan telinga. Ia jatuh terduduk di tengah reruntuhan barang-barangnya.
Napasnya memburu, keringat bercucuran, dan untuk pertama kalinya, Kenzo merasa benar-benar buntu.
"Anin... kau pikir kau bisa menang?" bisiknya dengan suara parau yang mengerikan. "Meskipun aku harus menjual jiwaku pada iblis, aku akan menemukanmu. Kau adalah milikku. Kau tidak boleh bahagia tanpa aku!"
Kenzo merangkak di lantai, mencari sisa-sisa botol minuman. Obsesinya kini telah berubah menjadi kegilaan murni.
Di tengah kegelapan ruangan itu, Kenzo bersumpah akan melakukan hal yang paling nekat sekalipun untuk menjangkau Barat tempat di mana ia yakin Anindya bersembunyi.
~~
Malam itu, Anindya berdiri di balkon penthousenya, memeluk dirinya sendiri. Ia menatap bintang-bintang, merasa bahwa Arlan sedang menatapnya dari salah satu cahaya di atas sana.
"Aku merindukanmu, Arlan," bisiknya lirih. "Tapi aku akan kuat. Untuk Elang, dan untuk keadilan yang harus kuberikan padamu."
Anindya kembali masuk ke dalam, menutup pintu kaca rapat-rapat. Ia tidak tahu bahwa di Jakarta, Kenzo sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih gelap untuk menembus blokade ayahnya.
Namun, bagi Anindya, perang ini bukan lagi tentang melarikan diri, melainkan tentang menghancurkan monster yang telah merusak hidupnya.
...----------------...
To Be Continue ....