Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
##
Hari itu tidak berjalan seperti biasanya. Alya baru saja selesai kelas terakhirnya ketika hujan turun tiba-tiba, deras tanpa peringatan. Langit yang sejak siang masih terang berubah gelap dalam hitungan menit, dan suara rintik yang awalnya pelan berubah menjadi hujan lebat yang memenuhi seluruh area kampus.
Mahasiswa yang hendak pulang langsung tertahan di koridor. Beberapa berlari kecil sambil tertawa, sebagian lagi memilih berteduh sambil mengeluh.
Alya berdiri di dekat pintu, memandang ke luar. Air hujan jatuh tanpa jeda, membasahi halaman kampus hingga tampak buram.
Ia menghela napas pelan.
“Bener-bener timing-nya…” gumamnya.
Ia tidak membawa payung. Biasanya ia selalu menyiapkan, tapi entah kenapa hari ini ia lupa. Namun yang membuatnya heran, ia tidak benar-benar merasa terganggu.
Justru sebaliknya.
Ia memilih diam di sana, seolah-olah tidak masalah jika harus menunggu lama.
Beberapa mahasiswa di sampingnya mulai mengobrol, tertawa, bahkan ada yang sudah memesan ojek online. Suasana cukup ramai, tapi Alya tetap berada dalam dunianya sendiri. Pikirannya tidak sepenuhnya ada di hujan.
Ada hal lain yang ia pikirkan. tiba-tiba ada Seseorang yang menghampirinya
“Belum pulang?”
Suara itu membuatnya menoleh.
Arka berdiri tidak jauh darinya. Kemejanya masih rapi seperti biasa, hanya saja lengan bajunya sedikit digulung. Hal kecil yang membuatnya terlihat berbeda dari biasanya lebih santai, lebih… manusiawi.
“Belum, Pak. Hujan.”
Arka mengangguk pelan, lalu berdiri di sampingnya, ikut memandang ke luar.
Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Hanya suara hujan yang mengisi. Namun anehnya, Alya tidak merasa canggung.
Justru ada ketenangan yang tidak bisa ia jelaskan.
“Kamu nunggu reda?” tanya Arka.
“Iya pak.”
Arka diam sejenak, lalu menjawab singkat, “Saya juga.”
Alya menoleh sedikit. Ia tahu, sebagai dosen, Arka punya banyak pilihan bisa menunggu di ruangan, bisa dijemput, atau bahkan sudah punya kendaraan sendiri. Namun ia memilih berdiri di sana, Bersama Alya.
Hujan semakin deras. Angin membawa percikan air hingga ke dalam koridor. Alya sedikit mundur agar tidak terkena air, dan tanpa sadar, jarak mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya.
Ia bisa merasakan keberadaan Arka dengan lebih jelas bukan hanya melihat, tapi juga merasakan kehadirannya.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Namun kali ini ia tidak menjauh.
“Alya.”
“Iya, Pak?”
Arka menatap ke depan, seolah menyusun kata. “Kamu pernah ngerasa sesuatu berubah tanpa kamu siap?”
Pertanyaan itu membuat Alya terdiam beberapa detik. Ia menatap hujan di depannya sebelum menjawab.
“Sekarang lagi ngerasain, Pak.”
Nada suaranya pelan, namun jujur.
Arka mengangguk. “Dan kamu gak bisa nolak?”
Alya menggeleng pelan. “Udah coba. Tapi… malah makin kepikiran.”
Hening kembali datang. Namun hening itu terasa penuh arti. Untuk pertama kalinya, mereka tidak berbicara sebagai dosen dan mahasiswa.
Tidak ada batasan formal, Tidak ada jarak yang dibuat-buat.
Hanya dua orang yang sama-sama berada di situasi yang tidak mereka rencanakan.
Beberapa mahasiswa mulai meninggalkan koridor. Suasana perlahan menjadi lebih sepi.
“Kamu tinggal di mana?” tanya Arka.
“Dekat kampus, Pak. Jalan kaki juga bisa.”
Arka mengangguk pelan. Ia menatap ke arah hujan, lalu kembali menatap Alya.
Tanpa banyak kata, ia melepas jas tipis yang ia kenakan.
Alya langsung menoleh. “Pak…?”
Arka mengulurkan jas itu. “Pakai ini.”
Alya menggeleng cepat. “Gak usah, Pak, saya—”
“Hujannya gak akan cepat reda.”
Nada suaranya tenang, tapi tidak memberi ruang untuk penolakan.
Alya terdiam.
Ia menatap jas itu beberapa detik, lalu perlahan menerimanya.
“…Makasih pak”
Saat jas itu menyentuh tubuhnya, ia merasakan kehangatan yang tidak biasa. Bukan hanya karena kainnya cukup tebal, tapi karena makna di baliknya.
Perhatian.
Yang diberikan tanpa diminta,vTanpa alasan formal, Dan tanpa jarak seperti sebelumnya.
Hujan mulai sedikit mereda. Tidak lagi sederas tadi, tapi masih cukup untuk membuat orang berpikir dua kali untuk keluar.
Alya melangkah maju, bersiap untuk pergi.
Namun langkahnya terhenti, Ia menoleh kembali.
“Pak.”
“Iya?”
Alya ragu sejenak, lalu berkata pelan, “…Bapak gak apa-apa?”
Arka sedikit mengernyit. “Maksudnya?”
Alya tersenyum kecil. “Kehujanan.”
Arka terdiam sejenak, lalu tertawa pelan. Tawa yang ringan, tanpa beban.
“Saya gak selemah itu.”
Alya ikut tersenyum.
Namun senyumnya kali ini berbeda. Lebih tulus,lebih hangat.
Ia kemudian melangkah keluar, menembus sisa hujan. Air masih membasahi jalan, namun jas itu cukup melindunginya.
Setiap langkah terasa ringan,namun pikirannya penuh. Tentang apa yang baru saja terjadi. Tentang bagaimana semuanya terasa… berbeda.
Beberapa langkah kemudian, ia berhenti.
Tanpa sadar ia menoleh ke belakang.
Arka masih berdiri di tempat yang sama, menatap ke arahnya.
Tidak bergerak,tidak memanggil.
Hanya melihat dan itu cukup.
Alya menatapnya beberapa detik, lalu perlahan melanjutkan langkahnya. Namun kali ini, ia tahu. Sesuatu sudah berubah.
Bukan lagi sekadar perasaan yang ia simpan sendiri. Namun sesuatu yang mulai terlihat.
Mulai terasa....
Mulai nyata.......
Dan mungkin tanpa mereka sadari ini adalah langkah pertama dari sesuatu yang tidak akan mudah dihentikan.
maaf lancang🙏🙏🙏