Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Perang Bunga dan Siasat Genta
.. Pagi ini kantor Wijaya Tower mendadak berubah menjadi toko bunga berjalan. Bagaimana tidak? Di depan lobi utama terparkir sebuah truk besar yang isinya penuh dengan bunga mawar merah yang aromanya sangat menyengat sampai ke lantai sepuluh. Di tengah tumpukan bunga itu, ada sebuah spanduk besar bertuliskan: "Untuk Clarissa, Dari Adrian yang Takkan Menyerah."
.. Aku yang baru saja sampai di kantor sambil menenteng plastik berisi gorengan dan kopi plastik hanya bisa melongo. "Waduh, ini mau ada acara pelantikan bupati apa gimana? Kok bunganya sampai bikin lobi jadi kayak hutan rimba begini?" gumamku sambil mengunyah bakwan jagung yang sudah dingin.
.. Tak lama kemudian, Clarissa turun dari mobil dengan wajah yang langsung ditekuk seribu begitu melihat pemandangan di depannya. Matanya berkilat marah, tangannya mengepal kuat di samping tas mahalnya. "Genta! Bereskan semua ini sekarang juga! Saya tidak mau lihat satu tangkai bunga pun saat saya keluar kantor nanti sore!" teriaknya sambil melangkah cepat masuk ke lift.
.. Aku hanya bisa menggaruk kepala. Membereskan bunga sebanyak ini sendirian? Wah, ini namanya kerja paksa gaya baru. Tapi kemudian, otak premanku yang encer mulai bekerja. Aku melihat ke arah satpam-satpam yang juga sedang bingung, lalu melihat ke arah jalan raya yang ramai dengan ojek online dan tukang sapu jalanan.
.. "Pak Bambang, Anto, sini sebentar!" panggilku pada para satpam. "Kalian mau dapet pahala sekaligus dapet uang rokok nggak? Ini bunga-bunga mahal, daripada dibuang mubazir, mending kita bagikan saja!"
.. "Bagikan ke siapa Mas Genta? Masa kita jualan bunga di pinggir jalan?" tanya Anto bingung.
.. "Bukan jualan, Nto. Kita kasihkan ke semua driver ojol yang lewat, ke ibu-ibu yang lagi belanja, sama ke tukang sapu. Bilang saja ini program 'Jumat Berkah' dari Kantor Wijaya Tower. Tapi syaratnya satu, kartu ucapan dari Adrian itu harus dikumpulkan semua dan dibakar!" perintahku dengan gaya komandan perang.
.. Dalam sekejap, lobi kantor yang tadinya penuh bunga jadi riuh rendah. Para driver ojol senang bukan main karena bisa membawa pulang bunga mahal untuk istri atau pacar mereka. Ibu-ibu di pasar depan kantor juga berebut mawar merah yang setangkainya mungkin seharga makan siangku tiga hari.
.. Sementara itu, aku duduk di pos satpam sambil asyik memotret kerumunan itu. Aku mengirimkan foto-foto tersebut ke nomor asisten Adrian yang kemarin sempat aku minta diam-diam. Aku menulis pesan singkat: "Terima kasih Mas Adrian bunganya, sangat bermanfaat bagi warga Jakarta yang sedang kurang kasih sayang. Salam dari rakyat jelata!"
.. Tak sampai lima menit, ponselku bergetar hebat. Pasti Adrian sedang ngamuk-ngamuk di sana. Tapi aku tidak peduli. Tugas bodyguard itu kan menjaga kebersihan hati bos dari sampah-sampah masa lalu, dan bunga-bunga itu bagi Clarissa adalah sampah yang sangat mengganggu.
.. Sore harinya, saat Clarissa turun untuk pulang, dia tertegun melihat lobi kantornya sudah bersih kembali. Tidak ada satu kelopak bunga pun yang tersisa. Hanya ada aroma harum mawar yang samar-samar tertinggal di udara.
.. "Genta, kamu buang ke mana bunga-bunga tadi? Kok cepat sekali?" tanya Clarissa heran sambil menatapku yang sedang bersandar di mobil dengan wajah tanpa dosa.
.. "Nggak dibuang kok, Mbak Bos. Cuma saya pindah tangankan ke orang-orang yang lebih membutuhkan. Tadi banyak driver ojol yang bilang terima kasih buat Mbak Bos, katanya istrinya seneng banget dapet bunga mahal," jawabku santai.
.. Clarissa terdiam, lalu tiba-tiba dia tertawa lepas. "Kamu benar-benar luar biasa ya, Genta. Orang lain pasti akan membuangnya ke tempat sampah, tapi kamu malah menjadikannya ajang sedekah. Adrian pasti sedang gila sekarang kalau tahu bunganya dibagikan secara gratis."
.. "Yah, itulah bedanya saya sama dia, Mbak Bos. Kalau dia cuma tahu cara pamer harta, kalau saya tahu cara bikin Mbak Bos bangga tanpa harus keluar biaya," kataku sambil membukakan pintu mobil untuknya.
.. Kami pun meninggalkan kantor dengan suasana hati yang sangat cerah. Namun, saat di tengah jalan, sebuah mobil sport merah tiba-tiba menyalip dan menghadang jalan kami dengan kasar. Aku langsung menginjak rem mendadak sampai Clarissa hampir terbentur dasbor.
.. "Waduh, lalat merah itu datang lagi, Mbak Bos. Sepertinya dia belum kapok saya kasih pelajaran tadi pagi," kataku sambil melepas sabuk pengaman dan bersiap keluar. Kali ini, sepertinya urusannya tidak akan selesai hanya dengan membagikan bunga. Aku harus memastikan kalau Adrian benar-benar tahu siapa Genta Arjuna sebenarnya.
.. "Genta, hati-hati! Dia bawa orang banyak!" teriak Clarissa dengan nada khawatir. Aku menoleh ke arahnya dan mengedipkan mata. "Tenang saja, Mbak Bos. Di Sidoarjo, saya biasa menghadapi lima orang sendirian sambil makan kerupuk. Yang begini mah cuma cemilan sore buat saya!"
.. Aku keluar dari mobil dengan tenang, menghadapi Adrian yang sudah berdiri di sana dengan tiga orang berbadan besar yang mukanya sangar-sangar. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini aku akan memastikan kalau preman sengklek tidak akan pernah kalah dari pengusaha sombong!
.. Adrian berdiri di depan mobil sport-nya dengan tangan bersedekap, merasa di atas angin karena membawa tiga pria berotot yang tingginya hampir menyentuh atap mobil. "Genta, kamu sudah keterlaluan! Bunga seharga ratusan juta kamu bagikan gratis ke tukang ojek? Kamu pikir kamu siapa, hah?!" teriaknya dengan wajah yang sudah berubah ungu karena marah.
.. Aku hanya tertawa kecil sambil merenggangkan otot-otot leherku. "Waduh Mas Adrian, daripada bunganya layu di tong sampah, mending jadi pahala buat Mbak Bos saya. Lagian, Mas ini kok pelit amat sih sama rakyat kecil?" jawabku santai sambil melangkah mendekat.
.. Salah satu anak buah Adrian yang kepalanya botak licin maju ke depan, mencoba mengintimidasi aku dengan dadanya yang bidang. "Jangan banyak bicara, bocah! Minta maaf sekarang atau saya buat kamu nggak bisa jalan lagi!" bentaknya dengan suara berat.
.. "Wah, Mas Botak ini galak juga ya. Tapi maaf Mas, saya ini penganut aliran santai. Kalau Mas mau gelut, mending kita suit dulu gimana? Yang kalah harus traktir bakso di depan," kataku sambil memasang posisi suit jempol.
.. Penonton yang merupakan orang-orang di pinggir jalan mulai berkumpul. Adrian yang merasa dipermalukan langsung memberi perintah, "Hajar dia! Jangan kasih ampun!"
.. Si Botak melayangkan pukulan lurus ke arah wajahku. Dengan gerakan refleks hasil didikan pasar Sidoarjo, aku merunduk sedikit lalu memutar tubuhku ke belakangnya. Aku tidak membalas dengan pukulan, tapi aku cuma menyentil telinganya dengan keras sampai dia kaget dan kehilangan keseimbangan.
.. "Waduh, telinganya Mas Botak sensitif ya? Baru disentil sudah mau jatuh," ejekku yang membuat kedua temannya yang lain ikut maju menyerang secara bersamaan.
.. Pertarungan jadi semakin seru. Aku melompat ke atas kap mobil sport Adrian—yang langsung membuat Adrian berteriak histeris takut mobilnya lecet—dan menggunakan pijakan itu untuk menendang bahu salah satu lawan. Gerakanku memang tidak seperti atlet karate, lebih mirip orang yang lagi nari jaranan tapi sangat efektif.
.. Dalam waktu kurang dari lima menit, ketiga anak buah Adrian sudah terkapar di aspal, mengaduh kesakitan karena aku serang di titik-titik saraf yang bikin lemes. Aku berdiri tegak di depan Adrian yang sekarang wajahnya sudah pucat pasi, gemetaran sampai kacamata mahalnya hampir jatuh.
.. "Gimana Mas Adrian? Masih mau lanjut atau mau saya kasih 'hadiah' juga kayak anak buahnya tadi?" tanyaku sambil merapikan kerah bajuku yang sedikit berantakan.
.. Adrian tidak menjawab, dia langsung masuk ke mobilnya dan tancap gas meninggalkan tempat itu dengan ban yang berdecit keras. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat pengecut seperti dia. Aku berbalik ke arah mobil Clarissa, di mana Mbak Bos cantik itu sedang menatapku dengan mulut sedikit terbuka karena tidak percaya.
.. "Genta... kamu... kamu belajar bela diri di mana?" tanya Clarissa saat aku kembali masuk ke kursi pengemudi.
.. "Belajar di pasar, Mbak Bos. Guru saya itu tukang jagal ayam dan preman terminal. Mereka bilang, kalau mau menang jangan cuma pakai otot, tapi pakai otak dan sedikit gaya sengklek biar lawan bingung," jawabku sambil kembali menyalakan mesin mobil.
.. Clarissa tersenyum, tapi kali ini senyumnya terasa sangat berbeda. Ada rasa kagum dan mungkin... rasa sayang yang mulai terselip di sana. "Terima kasih ya, Genta. Sekali lagi, kamu sudah melindungi saya dari orang yang cuma bisa pamer."
.. "Sama-sama, Mbak Bos. Pokoknya selama saya masih jadi bodyguard Mbak Bos, Jakarta ini bakal terasa aman seperti di pelukan ibu sendiri," balasku mantap. Kami pun melaju pulang, meninggalkan keramaian jalanan dengan hati yang lebih tenang.