Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Han, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Harus Minjam Ke Siapa?
Siang hari ini matahari sedang terik-teriknya, terasa begitu gerah saat di luar rumah. Maka, siska melangkah masuk ke dalam rumah dengan napas sedikit terengah, wajahnya tampak agak kuyu karena panasnya cuaca. Begitu masuk, tujuan pertamanya adalah mencari kakak iparnya.
"Kak Ren! Kak..." panggil Siska sambil mengedarkan pandangan ke ruang tengah.
Renata yang sedang duduk santai di sofa sambil membaca majalah menoleh. "Eh, Siska. Sudah pulang?"
"Ini, Kak. Aku barusan beli buah, disuruh Mamah tadi pas aku lewat toko buah," ucap Siska sambil menyodorkan sebuah kantong plastik putih yang cukup berat. Di dalamnya terlihat warna merah ranum dari buah apel dan kuning cerah dari pir.
Renata menerima bungkusan itu dengan senyum hangat. "Oh ya, Siska? Makasih banyak ya. Kebetulan banget Kakak lagi pengen yang segar-segar."
"Sama-sama, Kak," sahut Siska singkat. Ia segera memutar tumit, hendak melangkah menuju kamarnya di lantai atas untuk segera merebahkan diri.
Namun, baru saja Siska mengambil dua langkah, Renata tiba-tiba berdiri dan menarik lengan adiknya itu dengan lembut namun pasti. Langkah Siska terhenti seketika.
"Tunggu dulu..." Renata memicingkan matanya, menatap Siska dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kamu kok sudah pulang jam segini? Tumben banget, Sis. Biasanya jam segini kamu masih ada kelas, baru pulang sore kan?"
Suara Renata yang mengandung nada curiga itu membuat jantung Siska berdegup sedikit lebih kencang. Ia berusaha mengatur raut wajahnya agar tetap terlihat normal, meski tangannya terasa sedikit dingin.
"Anu, Kak... aku pulang karena sekarang emang lagi pulang cepat," jawab Siska, otaknya berputar cepat mencari alasan yang logis. "Terus juga kan sekarang hari Sabtu, Kak. Jadwal kelas emang nggak padat, cuma setengah hari doang. Gitu..."
Renata terdiam sejenak, masih menatap Siska seolah sedang mendeteksi adanya kebohongan. Namun, melihat wajah adiknya yang tampak sangat lelah, Renata akhirnya melonggarkan pegangannya.
"Ehm... ya sudah kalau gitu. Kamu istirahat sana, mandi gih biar segar," ujar Renata akhirnya.
"Iya, Kak. Aku masuk dulu ya," balas Siska.
Siska berjalan menjauh dengan langkah yang diatur setenang mungkin. Namun, begitu punggungnya tak lagi terlihat oleh Renata, ia menggerutu pelan. Dalam hatinya, ia merasa sangat dongkol dan kesal.
"Duh, Kak Renata kenapa sih sekarang jadi curigaan banget? Kayak detektif aja nanyanya sampai sedetail itu. Bisa gawat kalau dia tahu alasan sebenarnya aku pulang cepat," batin Siska kesal sambil menutup pintu kamarnya dengan sedikit hentakan.
Di dalam kamar, Siska melemparkan tasnya ke atas tempat tidur dan mengunci pintu. Ia tidak tahu bahwa rasa penasaran Renata bukanlah tanpa alasan, dan sekecil apa pun celah yang ia tinggalkan, kebenaran tentang apa yang sebenarnya ia lakukan di kampus, atau di luar kampus—mungkin akan segera terbongkar.
Kemudian Siska segera meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Ia tidak membuka aplikasi pesan singkat untuk mengancam siapa pun, melainkan membuka sebuah aplikasi perbankan. Matanya nanar menatap angka yang tertera di sana. Saldonya nyaris menyentuh angka nol.
"Sial... kalau begini terus, gimana gue bisa bayar ganti rugi itu?" bisiknya frustrasi.
Ia kemudian membuka sebuah folder foto yang dikunci dengan kata sandi. Isinya bukan foto skandal Reno dan Maya, melainkan foto sebuah mobil mewah yang bagian depannya ringsek parah. Itu adalah mobil milik salah satu dosen senior di kampusnya yang secara tidak sengaja ia serempet minggu lalu saat meminjam mobil temannya. Siska telah berjanji akan mengganti biaya perbaikan secara pribadi tanpa melibatkan polisi atau kakaknya, Bara.
Siska mondar-mandir di dalam kamar yang luas itu. Ia merasa terhimpit. Di satu sisi, ia tidak ingin mengecewakan Kakaknya yang selama ini sudah sangat memanjakannya. Di sisi lain, ia butuh uang cepat dalam jumlah besar.
"Apa gue pinjam ke Kak Reno aja ya? Dia biasanya lebih santai kalau soal duit dibanding Kak Bara," gumamnya.
Ia pun mengetik sebuah pesan untuk Reno.
"Kak Reno, sibuk nggak? Sore ini aku mau ke kantor, ada yang mau aku omongin penting banget. Tolong banget ya, Mas, ini soal hidup dan mati Siska."
Siska tidak menyadari bahwa pesan "hidup dan mati" yang ia kirimkan ke Reno, di saat Reno sedang diteror oleh orang misterius, adalah sebuah kebetulan yang fatal.
Di ruang kerjanya, Reno yang baru saja menerima pesan dari Siska langsung terduduk lemas. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.
"Siska? Kenapa dia tiba-tiba mau ketemu dan bilang soal hidup mati? Apa... apa jangan-jangan ada terkaitan dengan masalah ini semuanya?" pikir Reno liar.
Keanehan sikap Siska belakangan ini—sering pulang telat, mendadak pendiam, dan sekarang mengirim pesan mendesak yanh membuat Reno mulai menaruh curiga pada adik sepupunya sendiri. Reno tidak tahu bahwa Siska hanya sedang terlilit masalah kecelakaan kecil, sementara Siska tidak tahu kalau pesannya itu justru membuatnya tampak seperti pemerasan di mata Reno.
Di luar kamar, Renata masih berdiri dengan perasaan tidak tenang. Ia mendengar langkah kaki Siska yang mondar-mandir dengan gelisah di dalam kamar yang terkunci.
"Ada yang nggak beres sama anak itu," batin Renata sambil menggigit bibir bawahnya.
Berbalik ke dalam kamar, Siska menghempaskan tubuhnya ke kursi meja belajar, menatap layar ponsel yang masih menampilkan ruang obrolan dengan Reno. Tidak ada balasan. Statusnya hanya centang biru, namun pria itu tidak mengetik sepatah kata pun.
"Kenapa Kak Reno nggak balas ya? Padahal biasanya dia yang paling cepat kalau aku butuh bantuan," gumam Siska dengan perasaan yang makin karut-marut.
Ia tidak tahu bahwa di tempat yang berbeda, Reno sedang mengalami ke panikan. Sedangkan pesan Siska yang terdengar mendesak itu dianggap Reno sebagai kode bahwa adik sepupunya itulah sang pemeras.
Siska pun memutuskan untuk bersiap. Ia mengganti pakaian santainya dengan blus yang lebih rapi. Ia harus menemui Reno hari ini juga, sebelum tagihan dari bengkel itu dikirimkan ke rumah dan sampai ke tangan Bara. Jika Bara tahu adiknya merusakkan mobil orang dan berusaha menutupinya, habislah sudah.
Saat Siska keluar kamar dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa, ia kembali berpapasan dengan Renata yang sedang membawa piring berisi irisan buah, berjalan menuju ke ruang makan.
"Mau ke mana lagi, Siska? Katanya tadi mau istirahat?" tanya Renata, suaranya terdengar tenang namun matanya menatap tajam ke arah tas yang disampirkan Siska di bahu.
Siska tersentak, langkahnya terhenti di anak tangga terakhir. "Ah... itu, Kak. Ada buku yang ketinggalan di kampus. Teman aku udah nungguin di depan kompleks buat barengan balik ke kampus sebentar."
"Sekarang? Kenapa nggak besok aja ambilnya?" pancing Renata.
Siska memaksakan senyum tipis, senyum yang terlihat sangat kaku di mata Renata. "Kalau besok, Kak. Takutnya nanti malah hilang bukunya.
"Begitu toh... Ya sudah." Renata tidak bertanya lebih.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, Kak. Jangan bilang Kak Bara ya kalau aku keluar lagi, nanti dia malah bawel."
Siska langsung melesat keluar sebelum Renata sempat bertanya lebih jauh. Ia segera memesan ojek online menuju kantor Bara, tempat di mana ia yakin Reno berada.
Di ruang makan, Renata meletakkan piring buahnya dengan perlahan. Ia mengambil ponselnya sendiri, lalu mengetikkan sebuah pesan singkat untuk suaminya, Bara.
"Mas, Siska tadi udah pulang yah... Tapi tadi baru saja pergi lagi. Katanya mau ke kampus, Mas. Tapi aku rasa gelagat adik kamu aneh sekali. Dia kayak orang ketakutan. Terus Kamu coba lihat-lihat di kantor deh, siapa tau adik kamu nggak ke kampus malah mampir ke kantor"
Satu benang kecurigaan kini mulai terikat. Siska yang merasa terjepit karena kecelakaan kecil, Reno yang merasa terancam karena skandal panas, dan Renata yang mulai mencium bau kebohongan di rumahnya sendiri. Ketiganya menuju satu titik temu yang sama: Kantor pusat perusahaan Adiwangsa Group. Di sana, sebuah ledakan besar sedang menunggu untuk dipicu oleh satu kesalahpahaman.
Setibanya di kantor, motor berhenti tepat di depan pintu lobi utama, kemudian Siska turun dengan terburu-buru. Ia menyodorkan selembar uang tanpa menunggu kembalian. "Ini, Bang, ambil saja kembaliannya," ucapnya singkat.
"Waduh, terima kasih banyak ya, Neng!" seru abang ojek itu dengan wajah sumringah, namun Siska sudah tidak mendengarnya. Ia melangkah cepat dengan sepatu hak rendahnya yang berbunyi nyaring di atas lantai marmer lobi utama.
Namun, langkahnya terhenti saat seorang satpam berbadan tegap menghadangnya di depan pintu masuk. "Maaf, Dek. Kamu ada keperluan apa ya ke sini?" tanya satpam itu dengan nada formal namun tegas.
Ekspresi Siska seketika berubah. Rasa panik yang bercampur dengan rasa dongkol karena dicecar Renata di rumah tadi kini meledak menjadi raut wajah yang jutek. ia menatap satpam itu dari atas ke bawah.
"Pak, saya ini adik kandungnya dari seorang CEO perusahaan ini. Emang Bapak tidak tahu, ya?" sahut Siska dengan nada meninggi, tangannya bersedekap di dada.
Satpam itu tampak sedikit ragu, namun ia tetap menjalankan prosedur. "Maaf, Dek, saya bukan tidak tahu. Tapi apa benar kamu adiknya Bapak Bara? Saya cuma memastikan karena tidak ada janji di buku tamu."
Baru saja Siska hendak membalas dengan kalimat yang lebih pedas, sebuah suara berat yang sangat dikenalnya menyela dari arah belakang.
"Permisi, Pak. Biar saya saja yang mengurus anak ini."
Reno muncul dengan wajah yang tampak pucat dan mata yang sedikit sembab, seolah ia baru saja melewati badai hebat di ruangannya sendiri. Melihat kedatangan Reno, satpam itu langsung mundur selangkah dan menunduk hormat.
"Maaf, Pak Reno. Tapi anak ini mengaku adiknya dari Bapak Bara, Pak. Apa itu benar?" tanya satpam itu memastikan.
Reno menatap Siska dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara waspada, takut, dan selidik. "Iya, Pak. Ini adik sepupu saya juga. Adiknya Bara," jawab Reno dingin.
Satpam itu seketika merasa bersalah. Wajahnya memucat karena sadar ia baru saja menahan anggota keluarga pemilik perusahaan. "A-aduuh, maafkan saya, Dek. Saya benar-benar tidak tahu. Silahkan masuk."
Reno tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat dengan kepalanya agar Siska mengikutinya. Tanpa sepatah kata pun, Reno menarik lengan Siska menjauh dari lobi menuju area lift khusus petinggi yang lebih sepi.
Suasana di dalam lift itu benar-benar terasa seperti sedang terjepit di antara dinding es. Siska yang biasanya cerewet, kini hanya bisa menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. Ia meremas tali tasnya kuat-kuat, berusaha mengusir rasa cemas yang makin menggunung.
"Kak, sebenarnya aku ke sini mau—"
Kalimat Siska menggantung di udara. Ia baru saja ingin mengutarakan maksudnya soal biaya perbaikan mobil itu sebelum pintu lift terbuka.
"Udah, nanti aja jelasinnya di ruangan gue," potong Reno cepat. Suaranya datar, tanpa emosi, dan matanya terus tertuju pada angka lantai yang bergerak naik di panel lift.
"I-iya, Kak," jawab Siska menciut. Ia merasa ada yang sangat aneh. Biasanya Reno akan menyapanya dengan candaan atau setidaknya bertanya kabar kuliahnya, tapi kali ini, Reno seolah sedang mengawal seorang tahanan.
Ting!
Saat pintu lift terbuka. Reno lebih dulu melangkah keluar dengan langkah lebar dan tergesa-gesa, membiarkan Siska membuntuti di belakangnya seperti anak ayam yang kehilangan induk. Sehingga menarik perhatian beberapa staf yang berpapasan hanya bisa menunduk hormat, tidak berani menyapa melihat wajah marah sang Wakil Direktur.
Sesampainya di depan pintu ruangannya, Reno membukanya dengan sentakan pelan lalu mempersilakan Siska masuk. Begitu Siska melangkah melewati ambang pintu, Reno segera menutupnya rapat dan mengunci slot pintu dari dalam.
Klik.
Bunyi kunci itu terdengar seperti vonis bagi Siska. Ia berbalik dan mendapati Reno sudah berdiri di depan mejanya, menatapnya dengan pandangan mengintimidasi yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Langsung aja," tuntut Reno sambil melemparkan ponselnya ke atas meja. " Apa maksud lo kirim pesan begitu ke gue di saat kondisi gue kayak gini? Lo mau apa sebenarnya sampai datang kesini, buat ketemu sama gue?"
Siska tersentak. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Reno tampak begitu marah, bahkan sampai menatapnya dengan pandangan yang seolah ingin menelanjangi semua rahasianya. Membuat bulu kuduknya meremang; ia merasa seperti sedang berhadapan dengan orang asing, bukan Reno yang biasanya sering baik samanya.
"Apa Kak Reno tahu masalah aku, selain aku saja yang tahu? Tapi Kalau benar Kak Reno tahu masalah aku nih... Darimana dia tahu semuanya?" Batinnya sedang berpikir.