Wanita modern yang bertransmigrasi ke dalam sebuah novel kuno. Berjuang dari nol sampai akhirnya menjadi immortal, bagaimana kisahnya? Ikuti terus perjalanannya!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empatbelas
“SUP DAGING MURAH!!!! SATU PORSI 20 YEN GRATIS BAKPAO KUKUS!!! STOK TERBATAS SIAPA CEPAT DIA DAPAT!!! DI JAMIN BERSIH DAN ENAK, TIDAK ENAK TIDAK USAH BAYAR!!.” Teriak Jessy dengan lantang dan jelas.
Apa? sup daging satu porsi 20 Yen?
Bukankah itu terlalu murah?
Daging perkati saja 500 Yen
Dia pasti pembohong
Daging apa yang dia jual
“TENANG-TENANG!!! SUP YANG AKU JUAL INI BERISI DAGING CINCANG DAN JEROAN SAPI. TENANG SAJA KALIAN BOLEH MENCICIPI LEBIH DULU, TIDAK PERLU MEMBELI JIKA TIDAK ENAK.” Jessy sudah tau marketing nya.
Kau dengar tidak? gratis mencicip?
Memangnya dia tidak rugi?
Jeroan sapi itu sampah, untuk apa di jual
Menjijikan sekali.
Tapi bau nya harum, aku mau coba
Aku juga, lagipula itu gratis
Karena dari satu orang yang maju mencicip semua orang jadi ikut. Dan semua orang tahu betapa lezat masakan Jessy, mereka langsung berebut untuk bisa membeli sup.
Berikan padaku dua porsi
Aku mau lima porsi
Berikan juga untukku
Hei aku juga
Sisakan untukku
Aku datang lebih dulu
Situasi mulai tidak kondusif, Jessy merasa senang mereka tertarik untuk membeli tapi jika rusuh seperti ini bisa-bisa memicu keributan.
“TENANG-TENANG!! SILAHKAN BARIS YANG RAPIH, YANG TIDAK MAU BERBARIS DAN MEMBUAT KERIBUTAN TIDAK AKAN KAMI LAYANI. INGAT JUMLAH TERBATAS JADI TOLONG JANGAN MEMBUAT KERIBUTAN!!!!.” Teriak Jessy membuat semua langsung senyap dan baris dengan patuh.
Jessy dibantu Ziang melayani pembeli, sedangkan Zhao bertugas mencuci mangkok dan sumpit sambil menggerutu. Alasan Jessy melakukannya karena jika Zhao ikut melayani maka dia pasti akan diam-diam memakannya.
Dalam waktu 2 jam dagangan Jessy langsung ludes tak bersisa, benar-benar tinggal bakpao rusak dan sedikit kuah sup saja. Jessy mengelap keringat, melelahkan tapi juga menyenangkan sekali rasanya.
“Syukurlah semua berjalan lancar, aku jadi memiliki banyak ide.” Ucap Jessy, otak bisnis nya berjalan dengan baik.
“Ibu, yang ini boleh dimakan?.” Zhao ingin memakan sisa bakpao.
“Astaga apa kau lapar? itu sudah rusak jadi beli jajanan di pasar saja.” Ucap Jessy.
“Tidak mau, aku mau makan bakpao dengan sisa sup itu.” Rengek Zhao, dia sudah mengincar moment ini.
“Astaga ya sudah duduk dengan tenang.” Jessy memberikan bakpao dengan sisa kuah untuk Zhao, bocah itu makan dengan lahap.
Jessy dan Ziang merapihkan dagangan mereka, syukurlah untuk hari pertama mereka laris manis dan semua pekerja pelabuhan sudah mengenal masakan mereka. Pasti besok mereka akan datang lagi, Jessy harus banyak-banyak mencari suplai usus sapi yang masih segar dan fresh.
Rumor tentang usus sapi yang di masak dengan sangat lezat langsung meledak dari pelabuhan sampai pasar. Para penjual daging sapi langsung berbondong-bondong menemui Jessy dan Ziang di pelabuhan, mereka ingin menawarkan kerja sama.
“Kami memang sedang mencari suplai tapi hanya usus berkualitas yang kami terima. Usus yang masih sangat segar, warna nya masih merah dan bau nya tidak terlalu menyengat. Jika kalian ingin menawarkan kerja sama, berikan saja usus terbaik milik kalian. Kami akan membelinya setelah selesai berdagang.” Ucap Jessy.
Setelah kerjasama di buat akhrinya Jessy sudah mendapatkan stok usus segar untuk dirinya jual besok. Hanya menjual sup dan bakpao saja ternyata sangat melelahkan sekali, andai saja dia memiliki karyawan atau sebuah pabrik besar pasti akan sangat menyenangkan.
Sampai di rumah Zhao langsung tidur karena kelelahan, Ziang membantu Jessy membersihkan usus dan memotongnya kecil-kecil. Setelah itu usus yang sudah bersih akan di rendah dengan potongan jeruk nipis agar mengurangi bau dan bakteri.
“Ayo kita hitung pendapatan kita hari ini, semoga saja balik modal.” Ucap Jessy.
“Seharusnya kau bisa menjualnya dengan lebih mahal.” Ucap Ziang.
“Tidak perlu, aku hanya menjual sesuai harga.” Tolak Jessy, tidak mau jadi penjual serakah.
Mereka mulai menghitung uang koin tembaga yang telah mereka dapatkan hari ini. Ada dua kantung kain besar yang berisi koin penuh, menghitung satu demi satu dengan teliti membutuhkan waktu yang cukup lama.
...Note: Ini adalah mata uang buatan author ya....
...1 koin perak \= 1.000 Koin tembaga....
...1 koin emas \= 1.000 koin perak....
...1 tael emas \= 1.000 koin emas....
...Koin tembaga (Yen)...
...Tael emas (mirip emas batangan)....
1 jam berlalu akhirnya mereka selesai menghitung uang pendapatan hari ini. 2 kantung kain penuh ternyata berjumlah 3.120 yen, yang artinya di hari pertama mereka berhasil menjual 312 porsi sup.
“Pantas saja kau membuat bakpao lebih sedikit dari porsi, ini pasti untuk menarik perhatian mereka ya?.” Ucap Ziang.
“Benar, yang jumlahnya terbatas itu bakpao nya bukan sup hahaha.” Jessy tertawa.
“Tapi anehnya mereka tidak keberatan saat kehabisan bakpao, sejak awal mereka memang mengincar sup nya.” Ucap Ziang.
“Kemarin modal kita untuk membeli 5 kg usus sapi 150 yen karena 1kg nya 30 yen. Untuk kelapa dan bumbu mungkin jika di hitung sekitar 100 yen, dengan modal 250 yen kita bisa mendapatkan 3.120 yen artinya kita untung 2.880 tapi itu sepadan dengan tenaga yang sudah kita keluarkan.” Ucap Jessy.
“Sebenarnya itu terlalu murah dan tidak sepadan dengan tenaga yang kau keluarkan. 2.880 itu bahkan kurang dari 3 koin perak, padahal prajurit kroco saja pendapatan harian mereka paling sedikit 10 koin perak.” Ucap Ziang.
“Bagaiamana bisa kau menyamakanku dengan prajurit? aku kan tidak perlu mengorbankan nyawa hanya untuk memasak?.” Jessy geleng-geleng kepala.
“Tapi memangnya ada orang dengan penghasilan sekecil ini?.” Ziang tidak tahu karena dia seorang pangeran.
“Lalu menurutmu para penjual bakpao dan jajanan murah di pasar itu mendapat untung berapa? mereka mencari uang untuk makan.” Ucap Jessy bicara fakta.
“Padahal uang hasil menjual belati emas waktu itu masih tersisa banyak, kenapa kau memilih berdagang demi uang sekecil ini?.” Ucap Ziang.
“Sadarlah. Saat ini kau bukan pangeran atau pun jendral, sebanyak apapun uang yang kita punya pasti akan habis untuk keperluan hidup. Kita butuh penghasilan untuk memutar uang itu, dan yang terpenting uang itu milik Zhao bukan milik kita. Kita harus bekerja keras untuk mencari uang, karena itu tanggung jawab kita.” Ucap Jessy tegas.
Deg.
Ziang tersadar akan kenyataan yang ada, kenapa dia bersantai? kenapa insting berburu nya tiba-tiba hilang? apa yang sudah dia lakukan selama ini, kenapa dia justru bergantung pada istri nya yang lemah.
“Aku akan mencari pekerjaan.” Ucap Ziang serius.
“Kemana? akan berbahaya jika ada yang mengenalmu, lebih baik kau di rumah saja membantuku berdagang.” Ucap Jessy.
“Tidak bisa terus seperti ini, seharusnya yang mencari uang itu aku. Aku pasti akan mendapatkan pekerjaan dan memberikan uang bulanan besar untukmu, kau tidak perlu lagi melakukan hal melelahkan seperti ini.” Ucap Ziang.
“Tidak, jangan bilang kau akan pergi?.” Jessy tidak mau di tinggal merantau.
“Aku memiliki ilmu bela diri dan ilmu lainnya yang bisa dimanfaatkan, mungkin menjadi guru les anak-anak bangsawan tidak buruk. Aku akan mencobanya, dengan begitu kau tidak perlu hidup susah.” Ucap Ziang, harga dirinya terluka karena tidak berguna.
“Aku takut kau akan jatuh cinta dengan bangsawan dan melupakan kami, aku tidak suka menunggu hal yang tidak pasti. Kau tau itu menyedihkan bukan?.” Lirih Jessy, dia jadi sedih.
“Aku tidak akan melakukan itu, aku pasti akan kembali. Aku juga akan mengirim uang bulanan padamu, percayalah aku bisa menjadi suami yang bisa diandalkan.” Ucap Ziang berusaha meyakinkan.
“Kalau begitu pergi lah setelah kau sudah menjadi suami yang sesungguhnya.” Ucap Jessy, air matanya luruh.
“Apa maksudmu?.” Ziang tidak mengerti.
“Aku bukan hanya membutuhkan nafkah uang, aku juga membutuhkan nafkah batin darimu.” Ucap Jessy.
Deg.
“Aku mengerti, terimakasih sudah bertahan di sisiku. Padahal kau bisa saja kabur untuk menikah dengan pria lain, tapi kau lebih memilih bertahan dan bekerja keras. Melihatmu yang seperti ini membuatku sedih, aku tidak bisa melihat istriku harus bekerja keras karena aku yang tidak bisa diandalkan.” Ucap Ziang.
Greb
“Aku pasti akan memberikan nafkah yang layak untukmu, kau tidak akan hidup susah setelah menikah denganku. Lalu aku berharap bisa memiliki anak yang lahir dari rahim mu.” Ucap Ziang menggenggam tangan Jessy.
“Sampai mati pun aku penganut monogami.” Ucap Jessy tajam.
“Ya?.” Ziang terkejut dengan tatapan Jessy.
“Aku lebih rela menjadi janda daripada melihat suamiku berpoligami, aku tidak suka berebut barang dengan wanita lain. Aku tidak akan pernah mengejar, karena banyak pria yang akan mengejarku. Karena itu berjanji lah padaku jika kau hanya akan menikah satu kali seumur hidup mu.” Ucap Jessy tidak bisa diganggu gugat.
“Ya, bahkan aku tidak pernah berfikir untuk menikah. Saat malam kudeta itu terjadi, aku sudah bersiap dengan segala resiko nya.” Ucap Ziang.
“Meskipun aku menerimamu bukan berarti aku percaya padamu.” Jujur Jessy.
“Sejak usia 8 tahun aku sudah bertahan hidup di medan perang. Aku tidak pernah dekat dengan wanita ataupun berteman dengan sesama pria, aku suka sendirian dan tidak senang jika ada yang mendekat padaku. Hingga saat aku mendengar kabar jika Kakakku tewas, aku langsung merencanakan kudeta untuk merebut tahta kaisar Mo. Aku melakukannya karena keponakanku sama sekali tidak bisa diandalkan untuk memimpin sebuah negara. Meskipun aku membenci keputusan Ayahku yang lebih memilih Kakakku sebagai penerus tahta, aku tetap ingin melindungi tanah kelahiranku dari kehancuran. Cukup sekali saja Mo di pimpin oleh Kaisar bodoh seperti Kakakku, tapi jika anaknya juga memimpin sudah pasti Mo akan jatuh sejatuh-jatuhnya.” Ucap Ziang, sepertinya masih tidak terima akan kekalahannya dalam kudeta.
“Tapi, ada rumor yang mengatakan jika keponakanmu itu jenius.” Ucap Jessy, di cerita asli pangeran ke 3 Mo di deskripsikan sebagai pria perfect.
“Dia memang berbakat dalam pedang, tapi dia tidak bisa mengambil keputusan dan mudah di hasut oranglain. Dia tidak punya pendirian karena sejak awal tidak di berikan wewenang untuk memutuskan sesuatu sendiri.” Ucap Ziang.
“Bukankah umur kalian hanya terpaut 5 tahun? lalu berapa selisih umurmu dengan kakakmu itu?.” Tanya Jessy penasaran.
“Ibu ku seorang permaisuri, tapi dia tidak bisa memberikan anak hingga Ayahku akhirnya mengangkat selir. Selir kesayangan Ayahku melahirkan Kakakku, semua beban penerus langsung di berikan pada Kakakku tanpa mereka mengerti betapa hancur perasaan Ibuku. Lalu 20 tahun kemudian aku lahir saat Ibu ku berusia 42 tahun. Ibu ku tewas karena resiko melahirkan di usia tua, dan aku harus menerima takdir hidup menjadi pangeran kedua seumur hidupku. Saat Ayahku tewas, saat itu aku baru berusia 6 tahun jadi otomatis Kakakku lebih layak naik tahta karena masih memiliki dukungan berbeda denganku yang sebatang kara. Intinya setelah Kakakku naik tahta aku di kirim ke medan perang tanpa henti, seperti itu kisah hidupku.” Ucap Ziang, mungkin pertama kalinya bercerita.
“Jadi, kau masih memiliki keinginan merebut tahta itu kembali?.” Tanya Jessy.
“Tentu saja__
“Apa kau tidak takut mati? apa kau tidak memikirkan bagaimana nasib istri dan anakmu setelah kau mati?.” Kesal Jessy.
“Aku minta maaf. Tapi tahta itu sejak awal milikku, aku hanya mengambil kembali milikku.” Ucap Ziang.
“Baiklah, aku akan mendukung balas dendam
mu ini. Tapi berjanji lah padaku bahwa kau hanya akan menikah satu kali seumur hidupmu. Tidak akan pernah ada Selir, simpanan atau gundik dalam pernikahan kita.” Ucap Jessy memutuskan.
“Aku berjanji. Apa aku harus memotong satu jari ku untuk membuktikan kesungguhanku?.” Ucap Ziang serius.
“Aku tidak suka pria cacat.” Ucap Jessy, takut sekali benar-benar ada pertumpahan darah disini.
“Lalu bagaimana caraku meyakinkan mu?.” Ziang bingung.
“Entahlah.” Jessy pergi ke kamarnya begitu saja.
Setelah bicara panjang lebar siang tadi, kini Ziang sedang sibuk mengirim surat entah kepada siapa. Sepertinya dia masih memiliki koneksi dengan nama samaran di wilayah ini, Jessy memberikan ruang privasi bagi Ziang.
Hingga malam ini sebelum tidur, Jessy sengaja berdandan lebih menggoda dengan gaun tidurnya yang tipis. Bahkan sangat terawang, senagaja ingin menggoda dengan ganas.
Saat Ziang masuk ke kamar dia langsung mematung terkejut. Mungkin ini pertama kalinya Ziang melihat betapa ganas Jessy saat sedang mode Mommy.
“Haii tampan, kau tau? aku sangat menyukai sesuatu yang besar dan hangat. Membayangkan kehangatan mu memenuhi diriku yang kosong, aku jadi tidak sabar.” Jessy mengigit jari telunjuknya centil.
“Jessy.. apa yang kau lakukan.” Ziang berusaha menahan diri mati-matian.
“Hmmm kenapa sayang? suamiku yang tampan. Ohhh duniaku, semestaku apa aku tau? dulu hidupku hanya punya dua warna yaitu hitam dan putih. Tapi setelah kau datang hidupku langsung berwarna.” Jessy mendekat sambil menatap Ziang nakal.
“J-jessy… menjauhlah, kenapa kau tiba-tiba seperti ini.” Wajah Ziang sudah memerah.
“Awhhh benda keras besar dan panjang apa yang aku tabrak tadi? boleh aku melihatnya?.” Jessy sengaja pura-pura jatuh.
“Jessy.. kau akan menyesal jika bertindak lebih jauh dari ini.” Ucap Ziang menggeram.
“Suamiku sayang, suamiku yang sangat tampan dan besar. Apa istrimu ini cantik?.” Jessy dengan berani mengalungkan tangannya di leher Ziang, dia berjinjit karena perbedaan tinggi badan.
Ziang awalnya terkejut tapi kemudian dia tersenyum smirk. Tangannya yang kekar memeluk pinggang Jessy, dia menundukan wajahnya untuk melihat Jessy lebih dekat.
“Tentu saja. Istriku memang sangat cantik, aku bahkan tergila-gila padanya tanpa sadar.” Ucap Ziang sudah terbawa arus.
Keduanya saling tatap dengan dalam, dan seperti pada halnya pasangan suami istri. Mereka pun akhirnya melakukan penyatuan yang telah sekian lama tertunda. Sedikit informasi, malam ini Jessy lah yang memimpin permainan.