Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Hening. Hanya suara gesekan ban mobil Alphard dengan aspal basah yang terdengar di kabin luas itu. Isvara masih memejamkan mata, namun ia tidak benar-benar tidur. Ia bisa merasakan jemari Andra yang besar dan kokoh masih mengunci jemarinya yang pucat. Genggaman itu tidak erat, namun cukup kuat untuk membuat Isvara merasa tidak bisa melarikan diri ke mana pun.
Andra memutuskan untuk membawa Isvara pulang ke rumah orang tuanya malam ini. Alasan logisnya adalah karena besok pagi ada rapat koordinasi penting di rumah itu sebelum berangkat ke kantor, namun jauh di dalam lubuk hatinya, Andra merasa perlu ada "saksi" yang melihat bahwa ia masih memegang kendali penuh atas Isvara, terutama setelah kemunculan Dewa yang mengusik harga dirinya.
Andra menatap ke arah jendela, memperhatikan lampu-lampu jalanan Jakarta yang temaram, namun fokusnya tetap pada napas Isvara yang terasa berat di sampingnya. Pikirannya kembali melayang pada tatapan Dewa di panti asuhan tadi. Ada rasa puas yang ganjil saat ia berhasil menunjukkan "kepemilikannya" atas Isvara, namun di sisi lain, ada rasa sakit yang menyelinap saat menyadari bahwa istrinya ini memang benar-benar hancur. Bukan sandiwara, bukan pura-pura.
"Sejak kapan dia menjadi seringkih ini?" batin Andra bertanya-tanya.
Selama dua jam perjalanan kembali ke kediaman Prayudha, tak ada satu pun kata yang terucap. Isvara lebih memilih tenggelam dalam memorinya tentang mobil ini mobil yang dulu menjadi saksi bisu saat mereka tertawa bersama merencanakan masa depan. Kini, kenyataan justru membantingnya ke titik di mana bernapas saja terasa seperti perjuangan berat.
Saat gerbang megah kediaman Prayudha terbuka otomatis, Isvara merasakan tubuhnya kembali menegang. Rumah ini bukan lagi rumah baginya. Ini adalah medan perang di mana ia harus selalu tampil sempurna sebagai arsitek andalan keluarga, sekaligus menjadi sasaran empuk cemoohan mertuanya.
Mobil berhenti dengan halus di depan lobi rumah yang luas. Begitu mesin mati, Andra tidak langsung melepaskan tangan Isvara. Ia menatap wajah istrinya yang masih terpejam, lalu berbisik dingin, "Kita sudah sampai. Jangan tunjukkan wajah sakitmu di depan Mama jika kamu tidak mau mendengar ceramah panjangnya malam-malam begini."
Isvara membuka matanya perlahan. Senyum getir kembali terukir di bibirnya yang kering. "Tentu, Tuan Adrian. Saya tahu peran saya."
Andra turun lebih dulu, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Isvara. Ia kembali merangkul pinggang Isvara dengan protektif saat wanita itu melangkah keluar. Tubuh Isvara hampir limbung saat menginjak lantai marmer teras rumah yang dingin, namun Andra dengan sigap menahan berat badannya.
Begitu mereka melangkah masuk ke lobi utama, suasana rumah itu terasa sunyi namun menekan. Marmer putih yang mengkilap di bawah lampu kristal besar seolah menertawakan kondisi Isvara yang berantakan. Nyonya Sofia sudah berdiri di dekat tangga, mengenakan gaun tidur sutra yang mewah, dengan tangan terlipat di dada. Matanya yang tajam langsung memindai penampilan menantunya.
"Jam berapa ini, Andra? Dan kenapa Isvara penampilannya seperti itu? Berantakan sekali," sindir Nyonya Sofia tanpa salam pembuka. Suaranya bergema di ruangan yang sunyi, terdengar begitu tajam.
"Isvara sedang tidak enak badan, Ma. Kami baru saja dari perjalanan jauh," jawab Andra singkat. Ia tidak berhenti, terus menuntun Isvara melewati ibunya menuju lantai dua.
"Tidak enak badan atau hanya mencari alasan untuk menghindari tugas besok pagi?" Nyonya Sofia berbalik, suaranya naik satu oktav. "Ingat Isvara, besok adalah rapat penentuan untuk proyek Bali. Jangan sampai drama sakitmu ini mengacaukan segalanya. Keluarga Prayudha tidak punya tempat untuk orang yang lemah dan tidak kompeten."
Isvara hanya bisa menunduk, mencengkeram erat lengan jas Andra yang masih tersampir di bahunya. Setiap kata mertuanya terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya yang sudah terluka. Ia tidak menjawab, karena ia tahu, satu kata saja keluar dari mulutnya, itu hanya akan memicu perdebatan panjang yang tidak sanggup ia hadapi sekarang.
Sesampainya di kamar Andra yang dulu kamar yang luas dengan interior minimalis modern namun terasa dingin Andra menutup pintu dengan kaki. Ia melepaskan rangkulannya, membiarkan Isvara duduk di tepi ranjang berukuran king size tersebut.
Isvara menatap sekeliling. Kamar ini asing baginya, meski ia sudah beberapa kali menginap di sini. Ia merasa seperti tamu tak diundang di rumah suaminya sendiri.
"Bersihkan dirimu dan tidurlah," ucap Andra sambil meletakkan tas selempang Isvara di atas meja kerja. "Besok dokter pribadi keluarga akan datang jam tujuh pagi untuk memeriksa kondisimu. Saya tidak mau ada masalah lagi saat kita berangkat ke Bali lusa."
Isvara hanya mengangguk pelan tanpa menatap Andra. Ia mulai melepas jas hitam milik suaminya, meletakkannya dengan rapi di sisi ranjang. "Terima kasih... untuk yang tadi dan untuk dokter tidak usah aku baik-baik saja."
Andra yang hendak melangkah menuju kamar mandi, terhenti sejenak. Ia tidak menjawab, hanya memberikan tatapan datar sebelum menghilang di balik pintu kaca. Karena penolakan Isvara yang menolak di periksa dokter keluarga.
Isvara memutuskan merebahkan tubuhnya di atas kasur king size yang terasa terlalu luas untuknya sendiri. Ia menarik selimut hingga ke leher, meringkuk di bawah hawa AC yang dingin. Di bawah pencahayaan lampu kamar yang redup, Isvara kembali merasakan perih yang luar biasa di dadanya. Bukan hanya karena jantungnya yang bermasalah, tapi karena ia menyadari bahwa perhatian yang diberikan Andra malam ini hanyalah bentuk perlindungan terhadap "properti" miliknya, bukan karena cinta yang ia dambakan.
Malam itu, di dalam rumah megah yang terasa seperti penjara, Isvara menangis tanpa suara, membiarkan air matanya membasahi bantal sutra, sementara di dalam kamar mandi, Andra berdiri di bawah pancuran air dingin, berusaha menghapus bayangan wajah pucat istrinya yang mulai menghantui pikirannya.
Crazy up nya ditunggu thor, pengennya isvara bisa balik keadaan