Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini baru permulaan
Di salah satu restoran mewah di Eldoria City, ruangan VIP itu dipenuhi nuansa elegan, lampu kristal menggantung redup, meja panjang tertata rapi, dan suasana hening yang terasa berkelas namun menekan.
Bima Mahendra duduk tegap di kursinya, aura wibawa terpancar jelas. Di sampingnya, Bisma berdiri sedikit menunduk, siap dengan segala kebutuhan atasannya.
“Bisma, kamu telah menyiapkan berkas-berkasnya?” ucap Bima dengan nada penuh kendali.
“Iya, Tuan. Semua sudah lengkap, sesuai arahan Tuan,” balas Bisma sambil menyerahkan map.
Bima membukanya, membaca dengan saksama, sesekali mengangguk pelan.
“Hm… bagus.”
Tak lama—
Pintu VIP terbuka.
Bima dan Bisma menoleh bersamaan.
Dan untuk sesaat—
Bima terpaku.
Sorot matanya langsung menangkap satu sosok yang tak asing.
Xavero.
Datang bersama Naura.
Namun, hanya sepersekian detik.
Ekspresi itu hilang secepat datangnya.
Bima kembali memasang wajah datar, seolah tidak terjadi apa-apa.
Naura melangkah masuk dengan anggun, diikuti Xavero di sampingnya, kali ini sejajar, bukan sekadar bayangan di belakang.
“Maaf membuat Anda menunggu, Tuan Bima," ucap Naura tenang.
Bima mengangguk tipis.
“Tidak masalah.”
Tatapan mereka bertemu.
Formal. Dingin.
Seolah tidak ada masa lalu.
Xavero berdiri dengan sikap profesional, menunduk sedikit sebagai bentuk sopan santun.
“Selamat siang,” ucapnya singkat.
Bima hanya membalas dengan anggukan kecil.
Tidak lebih.
Meeting pun dimulai.
Bisma mulai membuka berkas, menjelaskan proposal kerja sama dari Mahendra Group. Suaranya teratur, penuh perhitungan.
Bima sesekali menambahkan poin, memperkuat posisi tawaran mereka.
Namun—
Di balik sikap tenangnya, tatapan Bima beberapa kali mengarah ke Xavero.
Dingin.
Sinis.
Seolah menilai, sekaligus merendahkan.
Xavero menyadari itu.
Namun ia tetap diam.
Fokus.
Naura yang duduk di sampingnya… juga menyadari.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Senyum miring.
Ia tahu betul hubungan di antara mereka.
Dan ia, memilih menikmati situasi itu.
Penjelasan selesai.
Bisma menutup berkasnya.
“Demikian penawaran dari kami, Nona Naura,” ucapnya.
Hening sejenak.
Semua mata tertuju pada Naura.
Namun—
Naura tidak langsung menjawab.
Ia melirik ke samping.
“Kamu sudah pelajari ini?” tanyanya pada Xavero.
Xavero mengangguk pelan.
“Sudah, Nona.”
“Pendapatmu?” tanya Naura singkat.
Hening sejenak.
Xavero membuka berkas di depannya, lalu mulai berbicara dengan tenang.
“Secara struktur, penawaran ini terlihat kuat,” ucapnya.
“Tapi, ada beberapa poin yang tidak sejalan dengan prinsip Pramudya Corp.”
Bima langsung mengangkat pandangan.
Tatapannya menajam.
Xavero tetap melanjutkan.
“Terutama pada bagian ekspansi dan pengelolaan aset,” lanjutnya.
“Pendekatan Mahendra Group cenderung agresif dan berisiko tinggi.”
Ia menggeser sedikit berkasnya.
“Sementara Pramudya Corp lebih mengutamakan stabilitas jangka panjang.”
Hening.
Suasana berubah.
Lebih tegang.
Xavero menoleh sedikit ke arah Naura.
“Saya tidak merekomendasikan kerja sama ini, Nona.”
Kalimat itu jatuh dengan tenang, tapi tajam.
Naura menatapnya beberapa detik.
Lalu—
ia mengangguk.
“Kesimpulan yang tepat,” ucapnya singkat.
Ia menoleh ke arah Bima.
“Sepertinya… untuk saat ini, kerja sama ini belum bisa kami lanjutkan.”
Bima terdiam.
Tangannya mengepal pelan di atas meja.
Namun wajahnya tetap tenang.
Terlalu tenang.
“Begitu…” ucapnya rendah.
Tatapannya kembali mengarah pada Xavero.
Lebih tajam dari sebelumnya.
Namun Xavero tidak menghindar.
Ia tetap menatap lurus, tanpa gentar.
Bima menarik napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya.
“Saya tidak menyangka,” ucapnya pelan.
“Pramudya Corp sekarang… mempercayakan keputusan penting pada seseorang seperti dia.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Tapi maknanya jelas.
Sindiran.
Naura tersenyum tipis.
“Kami menilai berdasarkan kemampuan, bukan latar belakang,” balasnya tenang.
“Nona Naura, apa alasan Anda lebih memilih keputusan asisten baru Anda?” ucap Bima dengan nada halus namun terselip merendahkan. Tatapannya melirik sekilas ke arah Xavero yang tetap membalas dengan pandangan datar. “Dia hanya asisten baru Anda… untuk hal seperti ini, rasanya dia belum cukup memahami.”
Naura tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Bima beberapa detik, tenang, tanpa emosi, namun cukup untuk membuat suasana semakin menekan.
Lalu, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Karena,” ucapnya akhirnya, suaranya halus tapi tegas, “pendapatnya… sejalan dengan analisa saya.”
Naura menyandarkan punggungnya dengan elegan, tetap mempertahankan kontak mata dengan Bima.
“Xavero tidak berbicara tanpa dasar,” lanjutnya. “Apa yang dia sampaikan, sudah melalui pertimbangan yang sama dengan yang saya miliki.”
Ia menggeser sedikit berkas di depannya.
“Dan dalam hal ini, saya melihat, dia cukup objektif untuk menilai tanpa dipengaruhi hal lain.”
Kalimat itu terdengar profesional.
Namun, cukup tajam untuk terasa sebagai tamparan halus.
Naura kemudian melanjutkan, kali ini lebih fokus pada inti pembahasan.
“Selain itu,” ucapnya, “ada beberapa poin dari Mahendra Group yang memang tidak bisa kami terima.”
Ia mengangkat selembar dokumen.
“Strategi ekspansi yang terlalu agresif,” jelasnya. “Risikonya terlalu tinggi untuk jangka panjang.”
Ia menurunkan kembali kertas itu.
“Lalu, sistem pengelolaan aset yang terlalu menekan pada profit cepat… tanpa mempertimbangkan stabilitas.”
Tatapannya kembali ke arah Bima.
“Pramudya Corp tidak berjalan dengan prinsip seperti itu.”
Hening kembali turun.
Naura melipat tangannya di atas meja.
“Dan satu hal lagi,” tambahnya, kali ini lebih pelan namun jelas, “kami tidak bekerja sama hanya karena nama besar.”
Kalimat itu, langsung mengenai sasaran.
Bima terdiam.
Rahangnya mengeras, tapi ia tetap menahan ekspresi.
Sementara itu, Xavero duduk di samping Naura dengan tenang.
Namun kali ini, posisinya bukan lagi sekadar asisten.
Melainkan seseorang, yang suaranya diperhitungkan.
Naura melirik sekilas ke arah Xavero.
Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
“Jadi,” ucapnya menutup, “keputusan kami tetap sama.”
“Kerja sama ini, tidak bisa dilanjutkan.”
Suasana ruangan terasa semakin dingin.
“Tapi, Nona Naura… kerja sama ini sangat menguntungkan bagi Pramudya Corp,” ucap Bisma hati-hati, berusaha menjaga nada tetap profesional meski situasi mulai menegang.
Naura menoleh padanya, sorot matanya tenang namun tegas.
“Saya tahu itu,” balasnya singkat. “Tapi Pramudya Corp tidak berjalan hanya untuk keuntungan jangka pendek.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih dalam,
“Tanpa perlu saya jelaskan secara rinci… saya yakin Anda paham maksud saya.”
Bisma terdiam. Bibirnya sedikit terkatup, menyadari bahwa ucapannya barusan justru tidak tepat sasaran.
“Cukup sampai di sini pertemuan kita,” lanjut Naura, kemudian beranjak dari duduknya dengan anggun.
Kursi bergeser pelan.
Xavero yang sejak tadi diam, langsung bergerak sigap membereskan berkas-berkas di atas meja dengan rapi.
“Nona Naura, berikan kami kesempatan kedua…” ucap Bima, kali ini dengan nada yang sedikit lebih ditekan.
Naura mengangkat tangannya, menghentikan kalimat itu sebelum berlanjut.
“Maaf, Tuan Bima. Saya hanya bisa memberikan satu kesempatan lagi,” ucapnya tegas.
Tatapannya lurus, tidak goyah sedikit pun.
“Jika Anda masih ingin bekerja sama dengan kami… revisi dengan benar dan saksama misi serta tujuan perusahaan Anda.”
Hening sesaat menyelimuti ruangan.
Naura lalu melirik ke arah Xavero—sebuah isyarat halus.
Xavero mengangguk patuh, merapikan berkas terakhir, lalu berdiri tegak.
Namun sebelum berbalik—
Ia menatap Bima.
Senyum tipis terangkat di sudut bibirnya. Dingin. Tajam.
“Ini baru permulaan,” ucapnya pelan… namun cukup jelas untuk terdengar.
Kalimat itu menggantung di udara.
Tanpa menunggu respons, Xavero berbalik dan melangkah keluar, menyusul Naura yang lebih dulu meninggalkan ruangan VIP.
Pintu tertutup.
Klik.
“Brengsek!” desis Bima, emosinya akhirnya pecah.
Tangannya mengepal di atas meja, rahangnya mengeras. Tatapannya tertuju tajam pada pintu yang sudah tertutup rapat.
“Anak itu… sudah mulai berani.”
Nada suaranya rendah, tapi penuh amarah yang tertahan.
“Bisma!”
“Iya, Tuan?” jawab Bisma sigap, sedikit menegakkan tubuhnya.
Bima menyandarkan punggungnya perlahan, namun sorot matanya masih menyala penuh emosi.
“Bagaimana bisa… Xavero menjadi asisten Naura?”
Bisma sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
Ia menunduk lebih dalam, berusaha menjaga nada bicaranya tetap stabil.
“Menurut informasi yang saya dapat, Tuan… keputusan itu langsung dari Tuan Nathan,” jawabnya hati-hati.
Bima terdiam.
Rahangnya mengeras.
“Nathan…” gumamnya pelan, sorot matanya berubah lebih dalam, penuh perhitungan.
Bisma melanjutkan, kali ini lebih pelan.
“Xavero melalui proses seleksi langsung. Katanya… hasilnya sangat memuaskan.”
Kalimat itu justru membuat ekspresi Bima semakin dingin.
“Memuaskan?” ulangnya rendah.
Ia terkekeh pelan, tanpa senyum.
“Sejak kapan… orang seperti dia bisa berdiri di level itu?"