Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Pagi di koridor Universitas Los Angeles terasa lebih dingin dari biasanya bagi Nyx Morrigan. Ia baru saja turun dari bus kota—tetap menolak diantar Knox agar identitas mereka tidak terhubung—ketika sebuah bayangan tinggi menghalangi jalannya di dekat lobi fakultas sastra.
Brilian Beckham berdiri di sana dengan gaya angkuh yang memuakkan. Jaket desainer mahalnya tersampir di bahu, dan senyum sinis-nya tampak seperti luka yang menganga.
"Lihat siapa yang kita temukan di sini," sapa Brilian, suaranya mengandung racun yang kental. "Si anak haram yang hilang. Kudengar kau sudah tidak di asrama lagi, Nyx? Wah, cepat sekali kau menemukan 'sarang' baru."
Nyx berhenti melangkah, menatap saudaranya dengan tatapan datar yang dingin. "Bukan urusanmu, Brilian."
"Oh, tentu saja jadi urusanku kalau kau membawa malu pada nama keluarga kita di kota ini," Brilian melangkah mendekat, memojokkan Nyx ke arah pilar beton. "Kulihat kau sering keluar-masuk apartemen mewah di Wilshire. Siapa pria tua yang menampung mu? Seorang Sugar Daddy? Atau kau hanya menjadi pelacur murahan untuk om-om kesepian? Yah, aku tidak kaget sih. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ibumu juga menjual dirinya pada ayahku untuk posisi itu, kan? Darah pelacur memang mengalir deras di nadi mu."
Nyx mengepalkan tinjunya, namun ia justru tersenyum tipis—sebuah senyum yang membuat Brilian sedikit tersentak. "Apa rumah mewah mu terasa sepi karena aku tidak ada di sana untuk kau siksa, Brilian? Apa kau merindukanku?"
Brilian terkekeh, suaranya parau penuh kebencian. "Tentu saja. Laura sama sekali tidak asyik, dia terlalu lembek. Menyiksamu adalah hobi favoritku. Oh ya, apa kau sudah tahu kabar ibumu yang gila itu? Kudengar dia sering merangkak di lantai rumah sakit jiwa sambil memanggil namamu. Tragis sekali, Nyx. Kau di sini bersenang-senang dengan pria kaya, sementara ibumu membusuk di sel rehabilitasi. Kau benar-benar sampah tak berperasaan."
Brilian terus memberi rentetan hinaan, kata-kata kotor tentang bagaimana Nyx seharusnya lenyap dari muka bumi agar garis keturunan Beckham tetap "bersih".
Di kejauhan, di balik kemudi Lamborghini-nya yang baru saja memasuki gerbang kampus, Knox Lambert Riccardo membeku. Ia melihat Nyx berdiri sangat dekat dengan seorang pria tampan yang tampak emosional. Knox tidak mengenal Brilian. Di matanya, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang terlibat pertengkaran hebat—atau ketegangan romantis yang nyata.
"Siapa pria itu?" gumam Knox, cengkeramannya pada setir menguat hingga buku jarinya memutih. "Apa itu kekasihnya?"
Rasa panas yang asing mulai membakar dada Knox. Rasa posesif yang selama ini ia tekan meledak seketika melihat pria lain menyudutkan Nyx seperti itu.
...****************...
Sore harinya, Nyx pulang lebih dulu. Seperti biasa, ia menyiapkan makan malam—pasta creamy dengan udang segar, aroma yang biasanya akan membuat Knox langsung menyerbunya dengan pelukan mesum. Namun, saat pintu apartemen terbuka, Knox masuk dengan langkah berat dan wajah sedingin es.
Ia bahkan tidak melirik Nyx.
"Knox? Kau sudah pulang?" tanya Nyx bingung. "Ada masalah pada proyek teknik mu?"
Knox tidak menjawab. Ia melemparkan tasnya ke sofa dan langsung berjalan menuju kamarnya, membanting pintu dengan cukup keras hingga Nyx terlonjak. Suara air shower yang mengalir deras terdengar beberapa menit kemudian.
Nyx berdiri mematung di dapur. "Ada apa dengannya?"
Saat Knox keluar, ia hanya mengenakan celana training hitam, tanpa atasan, memperlihatkan otot-pantasnya yang tegang. Ia duduk di meja makan dengan gerakan kaku. Suasana begitu mencekik. Nyx takut salah bicara, namun ia memberanikan diri.
"Ada apa, Knox? Kau tampak marah."
Knox meletakkan garpunya dengan denting yang tajam. Ia menatap Nyx dengan mata biru yang berkilat tajam—bukan kilat nakal, tapi kilat cemburu yang menyakitkan.
"Aku melihatmu bersama kekasihmu tadi pagi," ucap Knox dingin, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Dan aku rasa kekasihmu itu cukup kaya untuk menampung mu. Mobilnya bagus, pakaiannya mahal. Kenapa tidak tinggal dengannya saja?"
Nyx tertegun. "Kekasih? Apa maksudmu?"
"Jangan berpura-pura, Nyx!" Knox tiba-tiba berdiri, suaranya meninggi seiring dengan rasa cemburu yang meluap. "Tadi saat aku ingin memarkir mobil, aku melihatmu disudutkan oleh pria itu di koridor. Kalian tampak sangat intim, sangat tegang. Aku bertanya-tanya, kenapa kau harus tinggal di sini bersamaku? Kenapa tidak di tempatnya saja? Kau bisa menghabiskan malam-malam indah bersamanya, bukan denganku yang kau panggil mesum setiap saat!"
Knox berjalan mendekati Nyx, memojokkannya ke meja dapur, persis seperti yang dilakukan Brilian pagi tadi—namun kali ini auranya berbeda.
"Apa dia yang selama ini kau pikirkan saat aku memelukmu? Apa kau membandingkan sentuhanku dengan sentuhannya? Katakan padaku, Nyx! Jika kau sudah punya pria sekaya itu, untuk apa kau menjadi 'pelayan' di sini? Apa kau hanya ingin mempermainkan ku?"
Nyx menatap Knox dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Knox akan meledak seperti ini. "Jadi... kau tidak ingin menampungku lagi? Kau ingin aku pergi?"
Knox terdiam. Kata-kata itu menghantamnya. Sejujurnya, pikiran Nyx pergi adalah hal yang paling menakutkan baginya, namun egonya yang terluka menutup akal sehatnya.
"Aku tidak pernah memiliki kekasih, Knox," ucap Nyx pelan, suaranya bergetar. "Kau orang pertama yang mencium ku. Kau orang pertama yang menyentuhku... tidak ada malam-malam indah bersama pria lain. Hanya kau."
Nyx menarik napas panjang, menelan ludahnya yang terasa pahit. "Dan dia bukan kekasihku. Dia adalah saudaraku... Brilian Beckham. Pria yang sangat membenciku dan ingin aku lenyap dari dunia ini."
Deg.
Dunia Knox seolah berhenti berputar. Semua api cemburu yang tadi membara langsung tersiram air es. Ia menatap mata Nyx, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang rapuh.
"Bukan kekasihmu?" tanya Knox parau, suaranya melunak seketika.
Nyx menggeleng. "Hanya kau yang yang menyentuh ku, Knox."
"Hanya aku?" tanya Knox lagi, melangkah satu langkah lebih dekat hingga tubuh mereka bersentuhan.
Nyx mengangguk lagi.
Tanpa peringatan, Knox langsung menarik Nyx ke dalam pelukannya. Erat. Sangat erat seolah ia takut gadis itu akan menguap jika ia melonggarkannya sedikit saja. Knox menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nyx, menghirup aroma mawar yang menenangkan. Namun kali ini, hirupan-nya tidak biasa. Ia memberikan lumatan-lumatan tipis dan kecupan-kecupan kecil di sana, membuat Nyx bergidik geli sekaligus menegang.
"Knox... apa yang kau lakukan?" bisik Nyx pelan.
"Hanya memastikan kau benar-benar di sini," gumam Knox di lehernya. "Maafkan aku... aku benar-benar gila tadi. Aku hanya... aku tidak tahan membayangkan mu bersama pria lain."
Nyx mencoba melepaskan diri sedikit. "Knox... makanannya akan dingin. Ayo makan dulu."
Knox mendongak, matanya menatap bibir Nyx dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. Bukan candaan mesum yang sering ia lontarkan. "Tapi aku ingin memakan mu, Nyx. Sangat."
Suasana mendadak menjadi sangat panas. Keheningan di antara mereka terasa berat dengan gairah yang tidak lagi bisa disembunyikan. Namun, Knox tiba-tiba melepaskan pelukannya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengendalikan dirinya yang sudah berada di ambang batas.
"Bisa-bisanya aku 'on' hanya karena sebuah pelukan," gumam Knox gila pada dirinya sendiri. Ia terkekeh kecil, lalu mencium pipi Nyx dengan gemas sebelum tiba-tiba berbalik dan berlari menuju kamar mandi. "Sial! Aku butuh air dingin lagi!"
Nyx terpaku sejenak, lalu tawa pecah dari bibirnya. Ia melihat Knox yang panik dengan kondisinya sendiri.
Dari arah kamar mandi, suara Knox berteriak mengatasi bunyi air. "Tunggu nanti malam, Sayang! Kau tidak akan kulepaskan! Aku akan menagih semua 'malam indah' yang tidak kau berikan pada pria lain itu!"
Nyx menggelengkan kepala sambil tersenyum, kembali menata piring dengan hati yang jauh lebih ringan. Ia tahu, malam ini akan menjadi malam yang panjang, namun ia tidak lagi merasa takut. Karena di balik pintu kamar mandi itu, ada pria mesum yang menginginkan nya dengan cara yang paling tulus yang pernah ia kenal.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂