Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Hukum Merah di Atas Langit
CRACK! ZZZTTT!
Petir berwarna ungu kemerahan menyambar ujung-ujung tebing Ngarai Serigala Merah, meninggalkan bekas hangus yang melelehkan batu-batu kuarsa. Di angkasa, Yu Fan berdiri tegak tanpa bertumpu pada apa pun.
Jubah zirah kunonya mendengung rendah, melepaskan riak batin yang begitu pekat hingga membuat udara di sekeliling raga peraknya tampak mendistorsi secara visual. Rambut putihnya yang panjang berkibar rapi, membingkai sepasang lensa mata merah menyala yang tertanam di atas sklera hitam pekat.
Meskipun penampilannya menyerupai iblis yang merangkak dari dasar neraka terjauh, sepasang mata itu tidak kosong ataupun dipenuhi kegilaan. Tidak ada raungan liar.
Tatapan Yu Fan teramat dingin, jernih, dan tajam—sebuah tanda absolut bahwa kesadarannya sama sekali tidak terserap oleh sang Asura. Ia telah menaklukkan angkara tersebut, memaksanya menjadi sumber kekuatan murni yang kini tunduk seratus persen di bawah kendali kehendaknya.
Jauh di garis belakang, di atas kereta kencana emas raksasa milik Kekaisaran Tianhuang, atmosfer kemegahan seketika runtuh menjadi keheningan yang mencekam.
Kaisar Xuanyuan Lie, seorang penguasa tirani yang memegang kultivasi Ranah Master Tingkat 6 Tahap Puncak, mencengkeram pegangan takhtanya begitu keras hingga logam emas murni tersebut melesat retak.
Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, membasahi jubah naga kebesarannya.
"Kekuatan macam apa ini... Bagaimana mungkin seorang bocah dari kerajaan kecil bisa memanggil entitas purba dengan tekanan batin sepadat ini?!" desis Xuanyuan Lie, suaranya bergetar menahan amarah bercampur kengerian yang dalam.
Di sampingnya, Pangeran Pertama, Xuanyuan Cheng, yang terkenal dengan kelicikannya, melangkah mundur selangkah. Wajahnya yang semula penuh senyum kepuasan kini pucat pasi. "Ayahanda... ini di luar perhitungan mata-mata kita. Formasi pembantaian kita tidak dirancang untuk menahan monster yang mampu membelah dimensi spasial secara mandiri!"
Sementara itu, Putri Kedua, Xuanyuan Qing, yang dikenal karena kebijaksanaannya, hanya terpaku di tepi kereta perang. Sepasang matanya yang indah menatap sosok Yu Fan di langit jauh dengan campuran rasa kagum yang mendalam dan kengerian yang teramat sangat nyata. Ia melihat bagaimana angin badai sekalipun seolah bertekuk lutut di bawah kaki pemuda itu.
"Keserakahan..." gumam Xuanyuan Qing dengan suara yang teramat lirih, hampir tenggelam dalam gemuruh petir. "Ayahanda, lihatlah dia. Pemuda itu bukan lagi perisai yang bisa kita hancurkan dengan angka. Apakah ini akhir dari Kekaisaran Tianhuang? Apakah keserakahan mu pada akhirnya melahirkan dewa kematian yang akan meratakan takhta kita menjadi abu?"
Di sisi lain kereta, Pangeran Kedua—anak ketiga kaisar—Xuanyuan Feng, tetap diam seribu bahasa. Tangannya yang menggenggam gagang pedang pusaka kekaisaran bergetar ringan.
Sebagai seorang genius bela diri, ia tercengang murni. Ia tahu betul berapa besar usaha yang dibutuhkan untuk mengendalikan seperseribu energi alam, namun melihat Yu Fan mengendalikan energi Asura yang begitu masif dengan ketenangan mutlak tanpa lepas kendali membuat seluruh harga dirinya sebagai pangeran hancur berkeping-keping.
Yu Fan tidak memberikan waktu bagi musuh-musuhnya untuk berpikir. Ia menurunkan pandangannya ke arah barisan baja jutaan pasukan zirah hitam Tianhuang yang berada di dasar ngarai.
Tangan kanannya bergerak perlahan, mengayunkan Pedang Asura dalam satu garis horizontal yang teramat tipis di udara.
"Seni Asura: Sapuan Bilah Kepunahan."
SREEEET—
Tidak ada suara ledakan yang menggelegar. Yang terjadi berikutnya adalah sebuah kengerian yang membuat bulu kuduk berdiri. Sebuah garis cahaya merah tua melesat horizontal setinggi dada manusia, bergerak dengan kecepatan yang melampaui batas suara menembus barisan terdepan pasukan kekaisaran.
CRASH! CRASH! CRASH!
Dalam satu kedipan mata, sepuluh ribu prajurit berzirah besi hitam di barisan depan terhenti di tempat. Detik berikutnya, tubuh mereka terbelah menjadi dua bagian secara rapi tepat di bagian pinggang. Zirah baja yang diklaim mampu menahan hantaman master Tingkat 3 terpotong bagai kertas basah.
Darah menyembur serentak, menciptakan kabut merah yang langsung diserap oleh bilah Pedang Asura yang bergetar puas.
Yu Fan meluncur turun dari langit bagai meteor hitam. Begitu kakinya menyentuh tanah, gelombang kejut berwarna merah darah meledak melingkar, menghancurkan tubuh ratusan prajurit di sekitarnya hingga menjadi serpihan debu tulang dalam hitungan sekejap.
TING! BANG! CRASH!
Pertarungan brutal yang paling brutal dalam sejarah Benua Timur pun pecah, namun itu lebih tepat disebut sebagai ladang pembantaian satu arah. Yu Fan bergerak menembus ribuan pasukan bagai hantu putih yang tak tertangkap mata. Setiap tebasan Pedang Asura memotong zirah, menghancurkan perisai, dan membelah raga musuh tanpa ada satu pun yang mampu menahan lajunya selama lebih dari satu detik
.
"Tahan dia! Bentuk Formasi Perisai Naga Hitam!" teriak seorang jenderal bintang tiga Tianhuang yang memegang Ranah Master Tingkat 4.
Lima ratus prajurit elit langsung berkumpul, menyatukan perisai raksasa mereka yang dialiri energi bumi padat hingga membentuk dinding perisai raksasa setebal dua meter.
Yu Fan muncul tepat di depan dinding tersebut. Sepasang mata merahnya menatap datar. Tanpa menggunakan pedangnya, tangan kiri Yu Fan memanifestasikan cakar energi merah tua raksasa, lalu menghantamkannya dari atas.
"Hancur."
BOOOOOOMMMM!
Dinding perisai tersebut, bersama dengan lima ratus prajurit elit dan sang jenderal Tingkat 4 di belakangnya, rata dengan tanah, hancur menjadi bubur daging dan serpihan logam berkarat dalam satu hantaman murni. Darah mengalir deras memenuhi parit-parit alami Ngarai Serigala Merah, mengubah tempat itu menjadi neraka yang sesungguhnya.
Bagian III: Mundurnya Teratai Putih
Melihat pembantaian massal yang begitu efisien dan mengerikan, Han Bingyan, Ketua Sekte Teratai Putih, merasakan firasat buruk yang teramat sangat tajam di dalam dantiannya. Seluruh bulu kuduknya berdiri.
Sebagai seorang master Tingkat 5 Tahap Puncak, ia tahu betul bahwa aura yang dipancarkan Yu Fan saat ini berada di ranah yang tidak bisa ia sentuh, bahkan jika ia mengorbankan seluruh basis kultivasinya.
"Seluruh penatua dan murid Sekte Teratai Putih, dengar perintahku!" suara Han Bingyan melengking tajam melalui transmisi batin, memotong jeritan perang di sekitarnya.
"Mundur sekarang juga! Tinggalkan medan perang ini! Pemuda itu bukan lagi makhluk yang bisa kita lawan dengan taktik fana!"
Para murid dan tetua sekte yang berada di sayap kiri seketika bergerak mundur dengan wajah panik, melompat ke atas kereta-kereta perang mereka untuk melarikan diri dari jangkauan aura merah Yu Fan.
Namun, salah satu murid inti yang berada di dekat Han Bingyan menoleh ke belakang, menatap ke arah dasar ngarai di mana sosok seorang gadis bercat gaun hitam bersulam teratai darah tengah bersimpuh lemas di dekat genangan darah.
"Ketua Sekte... Bagaimana dengan Saudari Seperguruan Lin Xueru? Dia masih berada di pusat ngarai, dekat dengan lintasan pemuda itu!" tanya murid tersebut dengan suara bergetar ketakutan.
Han Bingyan menatap sekilas ke arah Lin Xueru dengan pandangan yang teramat dingin dan tanpa belas kasihan sedikit pun. Baginya, boneka yang telah gagal menyelesaikan ritual dan membiarkan musuh membangkitkan kekuatan sejati tidak lagi memiliki nilai guna bagi masa depan sekte.
"Biarkan jalang kecil itu mati di sana," desis Han Bingyan dengan nada yang kejam. "Dia telah gagal mengunci hati pemuda itu dan justru merusak rencana agung kita. Jika dia mati di tangan Yu Fan, itu adalah akhir yang pantas untuk kegagalannya. Seluruh pasukan, percepat langkah mundur!"
Yu Fan tidak memedulikan mundurnya pasukan Sekte Teratai Putih. Langkah kakinya yang tenang kini terhenti tepat di tengah ngarai. Di depannya, dua sosok berzirah —Dua Jenderal Legendaris Mayat Hidup Ranah Master Tingkat 7—kini melangkah maju bersamaan, mengesampingkan pertarungan mereka dengan Leluhur Jin Taixu di atas tebing.
Jenderal Mayat Hidup pertama mengangkat kapak yang membara dengan api kematian merah tua, sementara jenderal kedua mengayunkan gada besi berduri yang mengembuskan uap pembusukan kelam.
"Bocah berambut putih..." suara Jenderal Mayat Hidup pertama bergaung bagai gesekan batu makam. "Kau membawa hawa Alam Iblis yang sangat pekat, namun ragamu tetap raga manusia fana. Mati di tangan kami akan menjadi kehormatan bagi jiwamu!"
Yu Fan mengangkat Pedang Asura sejajar dengan dadanya. Ujung bilah pedang hitam itu mendenging rendah, seolah menantang otoritas dua kematian purba di depannya.
"Dua tulang tua yang merayap keluar dari kubur demi perintah tiran..." ucap Yu Fan, suaranya pelan namun terdengar dengan sangat jelas di telinga setiap orang di ngarai.
"Hari ini, aku akan mengembalikan kalian ke dasar tanah terdalam, tempat di mana kalian seharusnya membusuk."
WUZHUUUUU!
Kedua jenderal itu melompat serentak dari dua arah yang berbeda. Kecepatan mereka memotong udara menciptakan ledakan sonic yang meruntuhkan dinding-dinding batu di sekitarnya. Kapak perang dan gada besi dijatuhkan bersamaan, mengunci ruang pelarian Yu Fan dalam radius lima puluh meter.
"Seni Kematian: Pembelah Jiwa Sembilan Lapis!"
"Seni Kematian: Gada Pemutus Siklus Hidup!"
BOOOOOOMMMM!
Hantaman kedua senjata Tingkat 7 itu menghantam tepat di titik Yu Fan berdiri, menciptakan kawah raksasa sedalam sepuluh meter dengan diameter seratus meter. Tanah ngarai hancur lebur menjadi kerikil halus, dan gelombang debu hitam pekat membubung tinggi menutupi langit.
Namun, di dalam kawah tersebut, mata kedua jenderal mayat hidup mendadak membelalak lebar.
Yu Fan berdiri tegak di tengah benturan. Tangan kanannya menahan mata kapak dengan bilah Pedang Asura, sementara tangan kirinya yang dilapisi zirah kuno mencengkeram erat ujung gada besi berduri milik jenderal kedua. Tidak ada setetes pun darah yang keluar dari tubuh Yu Fan. Tekanan batin Tingkat 7 dari kedua monster purba itu tertahan sepenuhnya oleh pelindung batin merah tua yang membungkus rapat sekujur tubuhnya.
"Hanya sebatas ini kekuatan dari seribu tahun lalu?" ucap Yu Fan dingin.
Sebelum kedua jenderal sempat menarik senjata mereka, Yu Fan menghentakkan kedua lengannya dengan kekuatan fisik murni Asura yang tak terbatas.
CRACK!
Gada besi berduri milik jenderal kedua retak seribu lalu hancur berkeping-keping di dalam cengkeraman tangan kiri Yu Fan.
Memanfaatkan momentum keterkejutan musuh, Yu Fan memutar tubuhnya, mengayunkan Pedang Asura dalam satu gerakan menebas yang teramat cepat dari bawah ke atas.
"Seni Asura: Tebasan Pembalik Langit!"
SHUUUT! BANG!
Lengan kanan Jenderal Mayat Hidup pertama yang memegang kapak perang terpotong sepenuhnya dari bahunya, melayang ke udara bersama dengan semburan darah hitam berbau busuk. Jenderal itu meraung kesakitan, tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah ke belakang.
"Yu... Fan..." suara rintihan samar terdengar dari balik reruntuhan batu di dekat kawah. Lin Xueru menatap sosok berambut putih itu dengan air mata yang terus mengalir, memanggil namanya dengan kepedihan yang nyata.
Di atas tebing yang runtuh, Putri Jin Yuexin juga mengepalkan tangannya ke dada, bibirnya bergetar memanggil nama yang sama. "Yu Fan... tolong, kembalilah sebagai dirimu yang dulu..."
Namun, penguasa langit kelam itu tidak menoleh. Yu Fan kembali melesat naik ke udara, Pedang Asura di tangannya diarahkan lurus ke arah langit, memicu badai petir merah yang kian menggila di atas awan gulita.
Langkah penghancuran total bagi Kekaisaran Tianhuang baru saja dimulai, dan tidak ada satu pun kekuatan di Benua Timur yang mampu menghentikan laju sang Angkara yang kini telah bangkit sepenuhnya.