Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Noda Darah di Balik Jaket dan Dinding yang Kembali Meninggi
Di bawah temaram lampu kamarnya yang menguning, Jenawa duduk di tepi ranjang dengan napas tertahan. Bau anyir darah bercampur dengan aroma menyengat dari cairan antiseptik memenuhi udara ruangan. Dengan sebelah tangan yang gemetar—bukan karena rasa sakit, melainkan karena gejolak batin yang tak menentu—ia membebat lengannya yang terkoyak dengan perban putih. Luka gores akibat cincin besi bergerigi milik Agam itu cukup dalam, berdenyut nyeri setiap kali ia menggerakkan persendiannya.
Namun, nyeri di lengannya malam itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa ngilu yang meremas dadanya.
Bayangan wajah Sinaca Tina yang meneteskan air mata siang tadi terus berputar layaknya kaset rusak di kepalanya. Kemenangan mutlak SMA Bangsa atas SMA Pelita di pabrik tua seharusnya menjadi puncak kejayaannya sebagai seorang panglima jalanan. Namun, bagi Jenawa, aspal tak lagi memberikan kebanggaan. Ia telah menumbangkan Agam, namun ia tahu, besok pagi ia harus berhadapan dengan hakim yang sesungguhnya.
Pagi turun di pelataran SMA Bangsa bersamaan dengan rintik gerimis yang meremangkan cuaca. Udara dingin memaksa sebagian besar siswa untuk mengenakan jaket atau sweter, tak terkecuali Jenawa. Pemuda itu mengenakan jaket almamaternya dengan ritsleting yang ditarik hingga ke dada, menyembunyikan perban tebal di lengan kirinya dengan rapat.
Sekolah berdengung oleh euforia. Kisah kepahlawanan Jenawa di pabrik tua telah menjadi legenda baru. Kawan-kawannya menatapnya dengan rasa hormat yang berlipat ganda, dan tak ada lagi kasak-kusuk keraguan di sepanjang lorong. Jenawa adalah raja yang tak terbantahkan.
Namun, sang raja berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang teramat berat. Ia mengabaikan sapaan dan tepukan bangga dari Seno dan barisannya, matanya hanya sibuk mencari satu presensi yang sejak ia tiba belum juga terlihat.
Langkah Jenawa membawanya menuju taman bougenvil. Di sana, di bawah payung beton kecil dekat kolam ikan yang menampung rintik hujan, berdirilah Sinaca.
Gadis itu berdiri mematung, menatap rintik hujan yang jatuh memecah permukaan air kolam. Seragamnya rapi seperti biasa, namun ada kelelahan yang tergurat jelas di wajahnya. Ia tak menoleh saat Jenawa melangkah mendekat, seolah instingnya sudah mengetahui siapa yang datang membawa hawa dingin tersebut.
"Hujan pagi ini terlalu menusuk tulang untuk dinikmati sendirian di luar kelas, Sinaca," sapa Jenawa, suaranya mengalun parau, memecah ritme suara gerimis.
Sinaca tak segera menjawab. Ia membiarkan keheningan mengambil alih sejenak, membiarkan gerimis menjadi saksi atas jarak yang mendadak terasa membentang luas di antara mereka berdua.
"Aku lebih memilih udara dingin di sini, daripada berada di dalam kelas dan mendengar puji-pujian tentang bagaimana seorang Jenawa Adraw menghancurkan lawannya tanpa ampun kemarin petang," balas Sinaca akhirnya. Nada suaranya datar, tanpa emosi, namun justru di situlah letak sayatan yang paling tajam. Gadis itu perlahan memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Jenawa.
Tatapannya menelisik, turun dari wajah pemuda itu, menyapu bahunya yang sedikit tegang, hingga akhirnya berhenti pada lengan kiri Jenawa yang tak menggantung senatural biasanya. Insting dan kecerdasan Sinaca tak bisa dikelabui.
"Apakah kau kedinginan, Jenawa? Atau ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan rapat-rapat di balik ritsleting jaket itu?" tanya Sinaca lugas.
Jenawa menelan ludah. Ia mencoba menggerakkan lengan kirinya untuk membuktikan bahwa tak ada yang salah, namun ringisan kecil tanpa sadar lolos dari bibirnya saat ototnya yang robek tertarik paksa.
Melihat reaksi itu, sepasang mata kecokelatan Sinaca meredup seketika. Pertahanan yang coba ia bangun hancur berguguran. Dengan langkah cepat, gadis itu mendekati Jenawa. Tanpa meminta izin, tangannya yang lentik menyentuh lengan kiri jaket pemuda itu, sedikit menekan bagian kainnya.
Jenawa memejamkan mata, menahan rasa perih.
Saat Sinaca menarik tangannya, ia menemukan noda kemerahan yang samar menembus kain jaket pemuda tersebut. Darah.
Napas Sinaca tercekat. Ia menatap telapak tangannya, lalu menatap manik mata Jenawa dengan sorot kecewa yang tak lagi bisa dijabarkan oleh kata-kata.
"Kau menang, bukan?" suara Sinaca bergetar hebat. Matanya mulai berkaca-kaca, memantulkan langit yang mendung. "Kau membungkam bualan mereka, kau menegakkan kehormatan sekolahmu, dan kau pulang sebagai seorang pahlawan di mata kawan-kawanmu. Tapi lihatlah dirimu... kau terluka, Jenawa."
"Sinaca, dengarkan aku," Jenawa meraih pergelangan tangan gadis itu dengan tangan kanannya, suaranya memohon dengan amat sangat. "Agam bermain kotor. Ia menggunakan senjata tajam. Aku tak berniat..."
"Bukan masalah bagaimana ia menggunakan senjata tajam!" potong Sinaca tajam, menarik tangannya dari genggaman Jenawa. Air mata akhirnya luruh membasahi pipinya. "Masalahnya adalah kau berada di sana! Kau memilih untuk kembali menginjakkan kakimu di medan perkelahian itu setelah apa yang kita bicarakan!"
Dada Jenawa terasa sesak, seakan pasokan oksigen di sekitarnya direnggut paksa. "Aku melakukannya agar ini menjadi yang terakhir kalinya! Agar tak ada lagi yang mengganggu barisanku, dan agar Agam tak pernah lagi memiliki keberanian untuk mengusik ketenanganmu saat berjalan di jalan utama!"
"Lalu apa bedanya kau dengan mereka?!" isak Sinaca, memecah kebisuan taman itu. "Aku sudah berulang kali mengatakan, aku tak butuh perlindungan jika harus ditebus dengan darahmu! Kau pikir aku bisa tidur nyenyak membayangkanmu saling menghancurkan di luar sana? Kau pikir aku bahagia melihatmu datang kepadaku dengan luka yang kau sembunyikan seperti ini?!"
Jenawa terbungkam. Kata-kata Sinaca menghantamnya dengan telak, tak menyisakan celah untuk membela diri. Pemuda yang tak pernah gentar menghadapi puluhan kepalan tangan itu kini tertunduk lemah di hadapan air mata seorang gadis.
"Kau menang di jalanan, Jenawa," ucap Sinaca lirih, suaranya kini dipenuhi oleh kepasrahan yang menyayat hati. "Namun kau kalah telak dalam menjaga sebuah kepercayaan. Dan jika duniamu selalu memaksamu untuk menyelesaikan segalanya dengan melukai diri sendiri dan orang lain... maka aku ragu, apakah duniaku bisa berjalan bersisian dengan duniamu."
Kalimat itu layaknya vonis mati bagi Jenawa. Ia mendongak, menatap Sinaca dengan keputusasaan yang nyata. "Sinaca, kumohon..."
"Tinggalkan aku sendiri, Jenawa. Urus lukamu, dan rayakanlah kemenanganmu dengan mereka yang bisa menghargai darah yang kau tumpahkan. Karena aku... aku tak sanggup melihatnya."
Tanpa menoleh lagi, Sinaca membalikkan badan dan berjalan menembus rintik gerimis yang kian menderas, meninggalkan Jenawa yang mematung di bawah payung beton. Pagi itu, Sang Panglima SMA Bangsa tak merayakan apa pun. Ia berdiri dalam diam, membiarkan perih di lengannya bersatu dengan kehampaan di dadanya, menyadari bahwa membangun kembali tembok kepercayaan yang runtuh, jauh lebih mustahil daripada meruntuhkan pertahanan seribu musuh.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪