Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Telat Datang Bulan
"Nin, Kamu kenapa murung gitu? Bagaimana dengan lukamu? Apakah sudah baikan?"
Melihat sahabatnya berdiam diri dengan mengaduk-ngaduk bakso yang ada di mangkoknya membuat Sania langsung memberikan teguran padanya. Sudah tiga hari Nina tidak masuk kampus, dan kini saat masuk dia menunjukkan wajah yang menyedihkan.
"A—ku nggak apa-apa kok! Lukaku juga mulai mengering. Aku hanya kurang enak badan," jawab Nina gugup buyar dari lamunannya.
Sania menarik kursi dan menghenyakkan panggulnya di samping Nina. Suasana kantin yang cukup ramai membuat gadis itu tidak nyaman. Dia buru-buru ingin segera menyudahi makan siangnya.
"San..., kita balik ke ruangan yuk? Di sini berisik banget!"
Sania tercengang dengan mulutnya terbuka. "Lah, aku kan belum selesai makan non. Baksomu sendiri juga masih utuh. Kenapa nggak dimakan?"
"Perutku lagi nggak enak San, kayaknya mau datang bulan deh."
"Loh, bukannya kamu selalu barengan sama aku? Aku loh udah kelar tiga Minggu yang lalu. Memangnya kamu belum bulanan?"
Dari menginjak masa remaja mereka berdua selalu berdampingan satu menjelang datang bulan. Biasanya Nina terlebih dulu dan disusul oleh Sania, tapi kini jarak mereka jauh lebih dari dua Minggu lamanya.
"Aku belum bulanan San, aku pikir kamu juga belum. Biasanya kan aku duluan."
Nina menggigit bibirnya gelisah. Dia teringat kembali akan ucapan Rendra yang memintanya untuk mengecek.
"Waduh Nin, atau jangan-jangan kamu hamil? Apa sebelumnya kamu pernah tidur sama Bagas?"
Nina menggeleng dengan raut wajah cemas. "Aku nggak pernah tidur sama dia," jawabnya lirih.
"Lah terus...?" Sania terbengong.
"Aku nggak tahu San..., mungkin jadwalnya aja lagi nggak barengan. Udah ah! Aku mau ke kelas dulu!"
Nina beranjak dari tempat duduknya. Sania bahkan ditinggalkannya begitu saja.
Di koridor menuju ruang kelasnya tak sengaja Nina berpapasan dengan Maura bersama dengan temannya. Meskipun wanita itu sudah meminta maaf, dia tak mau berbasa-basi dengannya. Hatinya masih sakit dilukai secara fisik maupun mental. Jika saja ia tak kasihan pada orang tuanya Maura mungkin ia bakalan memilih jalur hukum.
"Guys, kenalin nih, anak konglomerat!"
Kembali Maura mulai mengusiknya. Nina yakin wanita itu tidak tulus meminta maaf padanya, buktinya saja masih ingin menganggunya.
"Anak konglomerat? Serius kamu Ra? Bukankah kamu bilang sendiri kalau dia itu cuma wanita kampung yang senang mengganggu hubungan orang? Bukankah pacarmu juga diembatnya?"
Teman-teman Maura ikut-ikutan meledek, sengaja mereka memancing keributan dengannya.
"Awalnya aku pikir dia itu cuma anak kampungan seperti yang dikatakan oleh Bagas. Saat aku berkunjung ke rumahnya ternyata dia anaknya orang tajir. Kalau nggak percaya kalian boleh coba minta uang jajan sama dia."
Tangan Nina mengepal dengan rahang mengeras. Selama ini ternyata Bagas hanya pura-pura peduli padanya, ternyata pria itu lebih licik dari seekor bunglon.
'Bagas! Andai saja aku masih dikasih kesempatan buat bertemu sama kamu, maka akan ku buktikan kalau aku juga bisa memberimu pelajaran!'
Dalam hatinya Nina ingin sekali bertemu kembali dengan mantan kekasihnya. Bertemu bukan berarti ingin mengajaknya balikan, tapi ingin memberinya pelajaran.
'kau itu hanyalah pecundang yang suka memanfaatkan kebaikan orang. Lihat saja, tidak lama lagi aku bakalan hancurkan hidupmu!'
Maura mengitarinya. Dia memegang pundaknya sembari berkata. "Nina sayang..., bukankah kamu putri kesayangan Om Hermawan. Orang tuamu memiliki kekuasaan penuh di kota ini. Nggak ada salahnya kan, kalau sesekali kamu jajanin teman-temanku ini?"
Nina memicingkan matanya dengan tersenyum smirk. "Kamu nggak malu ngemis sama aku? Bukankah kamu jauh lebih kaya dibandingkan diriku?"
"Kau!" Maura mengangkat tangannya hendak menamparnya, namun dia teringat bagaimana Hermawan memberikan ancaman kepada keluarganya.
"Kenapa Maura? Kamu nggak jadi nampar aku," celetuknya santai. "Kamu tentu masih ingat kan, apa yang orang tuaku katakan tadi malam? Kalau kau sudah lupa, aku akan ingatkan kembali."
Maura diam dengan mengedarkan matanya ke arah lain, sedangkan eman-temannya saling berbisik mendesaknya untuk memberikan penjelasan.
"Maura, memangnya apa yang sudah terjadi? Apa yang dikatakan oleh keluarga Nina padamu?" tanya mereka bergantian. Mereka mulai curiga, ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh Maura.
"Tidak ada, mereka tidak mengatakan apapun padaku," bantah Maura.
Nina tersenyum smirk melihat wajah pucat wanita itu. "Sudahlah Maura, berhenti membuat kerusuhan denganku. Ayahmu saja takut pada papaku, kenapa kamu masih juga ingin membuat masalah denganku?"
"Maura! Bisakah kau ceritakan pada kami?" Mereka sahabat dekat Maura mendesaknya untuk berbagi cerita, namun Maura masih enggan untuk menjelaskan.
"Tidak akan ada asap kalau tidak ada api, Maura! Kau sendiri yang memercikkan api hingga berkobar. Aku kau buat terluka, bahkan harga diriku kau permalukan di muka umum, di situ aku masih diam, tapi saat papaku bertindak, keluargamu bakalan hancur. Kurasa peringatan malam itu cukup membuatmu mengerti, terkecuali kalau hatimu terbuat dari batu!"
Nina langsung melenggang pergi menyisakan tiga wanita yang masih dihinggapi ribuan pertanyaan.
"Sial! Anak itu benar-benar menguras kesabaranku!" Maura mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras menatap punggungnya yang sudah menghilang dibalik pembatas.
"Maura, sebenarnya ada apa sih? Kok kamu marah-marah gitu? Apa yang membuatmu diam dan tak membalas omongannya?"
Maura tak menjawab. Dia masih ingat betul bagaimana Wiryo mengancamnya akan mengembalikan pada orang tuanya yang kini diasingkan ke desa semenjak melahirkannya. Jika sampai ia menyinggung gadis itu kembali maka bisa dipastikan hidupnya bakalan hancur.
"Sudahlah..., aku sedang tidak ingin membuat masalah dengannya. Ayo kita pergi!"
Di ruang kelasnya Nina duduk berdiam diri dengan pikiran yang tak tenang. Dia masih kepikiran dengan siklus haidnya yang tiba-tiba berhenti. Memang saat ini sudah ada tanda-tanda akan datang bulan, punggungnya mulai nyeri serta merasakan begah tak nyaman. Namun ada hal yang cukup mengkhawatirkannya. Biasanya ia selalu beriringan dengan Sania, tapi kenapa tiba-tiba berjarak cukup lama.
Ting
Suara notifikasi di handphonenya. Buru-buru ia membuka dan ternyata chat dari kakak tirinya.
("Masih lama nggak? Aku mau jemput.")
Dengan cepat Nina mengetik membalasnya. ("Nggak perlu dijemput kak, aku bisa pulang bareng temanku.")
("Aku nggak terima penolakan. Cepat katakan, berapa lama lagi ada kelas! Jangan sampai membuatku menunggu.")
Nina menarik nafasnya. Sebenarnya ia kurang nyaman hampir setiap hari diantar jemput oleh kakak tirinya. Ia hanya takut banyak orang berprasangka buruk padanya.
("Yaudah, setengah jam lagi datanglah ke sini.")
("Baiklah..., setengah jam lagi aku nyampe. Jangan pergi sebelum aku datang.")
("Oh ya..., aku ada sesuatu untukmu.")
Sebuah foto terkirim. Nina terbelalak mengamatinya. 'tespek? Kok dia nekat banget beliin tespek buat aku?'
Notifikasi kembali masuk. (" Aku yakin kamu nggak bakalan berani ke apotik buat membelinya. Jadi aku berinisiatif untuk membelinya. Gimana? Kamu suka nggak?")