Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertelan (Bag 30)
Hutan kian menumpuk lapisan kegelapannya, seolah langit telah runtuh dan menutup segala harapan. Mereka berjalan bukan lagi mencari jalan keluar, tapi sekadar mencari tempat di mana kematian tidak segera menyusul. Napas mereka terdengar menjerit, menekan kasar, bercampur dengan keluh kesah yang diredam.
Herman berjalan di belakang. Matanya merah, pandangannya kosong. Bayangan Deri yang dimakan kalajengking terus berputar di kepalanya. Suara desisan sssszzz... sssszzz... seakan terus terdengar di telinganya, tak pernah hilang. Dadanya sesak, campuran antara rasa bersalah, duka, dan teror yang belum reda.
"Pak... kita mau sampai kapan..." gumam Herman pelan, suaranya parau. "Deri... Deri masih di bawah sana..."
Sulaiman tidak menoleh, tangannya erat menggenggam tangan Umar. "Jangan pikirkan dia lagi. Fokus jalan. Kita harus cari tempat tinggi."
Namun kata-kata itu seakan tidak masuk ke akal sehat Herman. Perlahan, pemandangan di depannya mulai berubah. Udara di sekitar mereka terasa semakin tebal, berubah menjadi kabut kelabu yang menyesakkan.
Herman mengerjap.
Dan saat ia membuka mata kembali, dunia tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk.
Sosok di depannya yang ia kenal sebagai Sulaiman dan Umar... bukan lagi manusia.
Yang ia lihat hanyalah dua sosok tinggi besar, kulit mereka hitam mengkilap seperti punggung kalajengking, wajah mereka menyeringai dengan mulut penuh gigi tajam, dan dari punggung mereka menjulur ekor-ekor berbisa yang siap menyengat. Mereka bukan teman, bukan keluarga. Mereka adalah monster yang membawa kematian. Mereka adalah dalang di balik kematian Deri.
"Mereka mau membunuh kita... mereka mau makan kita..." bisik suara setan di kepala Herman. "Bunuh mereka! Sebelum mereka membunuh kamu!"
Mata Herman membelalak liar, wajahnya memerah padat penuh amarah dan kegilaan. Tanpa suara, tanpa peringatan, dia mencabut parang besar yang terselip di pinggangnya. Baja itu berkilau mengerikan di tengah gelapnya hutan.
WUSH!
"MATIIII!!!"
Dengan kekuatan yang tidak wajar, Herman mengayunkan parang itu sekuat tenaga tepat ke arah leher Sulaiman. Serangan itu begitu cepat dan tiba-tiba, namun Sulaiman yang tubuhnya terlatih dan refleknya setajam harimau.. seolah merasakan datangnya angin maut.
Dia mendobrak tubuh Umar menjauh, sementara tubuhnya sendiri miring secepat kilat.
TRANG!
Bilah parang menghantam batang pohon kosong, membelah kulit kayu hingga serpihan kayu beterbangan. Suara benturan baja dan kayu itu memekakkan telinga.
"HERMAN! GILA KAU?!" teriak Sulaiman, mundur selangkah dengan napas menanjak.
Namun Herman tidak mendengar. Di matanya, monster itu sedang mencoba melawan. Dia meraung seperti binatang buas, menerjang kembali dengan ayunan bertubi-tubi.
WUSH! WUSH! WUSH!!
Parang itu bergerak begitu cepat, menebas ke segala arah. Napasnya memompa, air liur menetes dari sudut bibirnya. Kekuatannya tak wajar, jauh melebihi manusia normal. Otot-otot lengannya menonjol keras, urat-urat di lehernya menonjol seperti ular-ular kecil. Seakan ada roh jahat yang merasuki tubuhnya, membuatnya menjadi mesin pembunuh yang buta.
Sulaiman terus mengelak, melompat ke kiri, menunduk ke kanan. Setiap ayunan parang itu hanya berjarak sehelai rambut dari tubuhnya. Dia terkejut melihat keganasan anak buahnya ini. Herman yang biasanya penurut, kini berubah menjadi anjing yang tak kenal ampun.
"HERMAN! INI AKU! SULAIMANI!!" teriak Sulaiman berusaha menyadarkannya, tapi sia-sia.
Herman mengaum, "KALIAN SETAN!!! KALIAN YANG BUNUH DERI!!!"
Dia melompat, mengarahkan tebasan mematikan bukan ke arah Sulaiman, tapi kali ini tepat ke arah Umar yang berdiri terpaku ketakutan di samping pohon.
"JANGAN!!!"
Saat itulah insting bertahan hidup seorang ayah mengambil alih.
Sulaiman tidak lagi mengelak. Dia maju selangkah, tangan kanannya yang besar dan kuat menangkap pergelangan tangan Herman yang memegang gagang parang dengan cengkeraman maut.
GRRAAKK!!
Terjadi pergolakan dahsyat. Dua kekuatan besar bertarung dalam jarak sejengkal. Wajah mereka berhadapan. Sulaiman menatap mata Herman yang sudah putih dan kosong, penuh kegilaan. Herman mendorong sekuat tenaga, parang itu perlahan terdorong mendekat ke dada Sulaiman.
"LEPAS!!! LEPAS GOBLOKKK!!!" raung Herman, keringat bercampur air mata mengalir deras. Tenaganya benar-benar tidak manusiawi, seakan kekuatannya meningkat lima kali lipat. Dia mendorong parang itu dengan ganas, mencoba melawan kekuatan Sulaiman.
Tapi Sulaiman bukanlah orang biasa. Dia adalah pemimpin yang terbiasa menghadapi bahaya maut. Dengan mengerahkan seluruh tenaga sisa yang ada di tubuhnya, dia memutar pergelangan tangannya dengan gerakan cepat dan mematikan.
KRAK!
Terdengar suara patah tulang halus dari pergelangan tangan Herman.
"AKHH!!!" Herman meringis kesakitan, cengkeramannya sedikit melemah.
Itu celah yang ditunggu Sulaiman. Dengan satu tarikan keras dan dorongan brutal, dia membalikkan arah parang itu.
Dan dalam kebingungan serta perlawanan Herman yang masih terus mendorong maju...
Syeeek!!!
Bilah tajam itu menembus masuk dengan mudah.
Menancap dalam hingga gagangnya kokoh di perut kiri Herman.
Dunia seakan berhenti sejenak.
Herman terdiam. Matanya yang liar perlahan membelalak, kali ini bukan karena marah, tapi karena rasa sakit dan kenyataan yang tiba-tiba kembali menyergap kesadarannya.
Kabut ilusi itu lenyap seketika. Dia melihat kembali wajah Sulaiman yang penuh amarah dan kekecewaan. Dia melihat Umar yang menangis ketakutan.
Dia sadar... dia baru saja menyerang orang yang melindunginya.
"Hah... hah... hah..." napasnya memburu tak beraturan. Darah segar mulai membasahi baju tebalnya, mengalir deras membasahi tangan Sulaiman yang masih memegang gagang parang itu.
"P Pak... sa saya..." suaranya pecah, lemah. Matanya berkaca-kaca, rasa bersalah dan penderitaan bercampur menjadi satu. Kekuatan buasnya lenyap seketika, berganti menjadi kelemahan total.
Sulaiman melepaskan pegangannya perlahan.
Herman menatap perutnya sendiri di mana bilah besi itu menonjol keluar. Tubuhnya limbung. Kakinya yang tadi sekuat batu kini lemas seperti mie basah.
"A a aku... mau pulang..." bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Wajahnya pucat pasi, kakinya tak sanggup lagi menopang berat badan. Dengan bunyi jatuh yang berat dan menyedihkan, tubuh gempitanya tumbang mencium tanah hutan.
BRUK!
Darinya darah terus membanjir, meresap ke dalam tanah, bercampur dengan lumpur dan daun-daun busuk. Matanya menatap ke arah dedaunan yang gelap, perlahan kehilangan sorot kehidupan. Gerakan dadanya semakin lambat, hingga akhirnya... berhenti total.
Hening.
Hanya tersisa suara angin yang menderu pilu, dan isak tangis Umar yang memeluk paha ayahnya.
Sulaiman berdiri terpaku di tengah genangan darah anak buahnya sendiri. Tangannya gemetar, terasa berat dan lengket oleh merah segar. Dia baru saja membunuh orang kepercayaannya sendiri. Di hutan terkutuk ini, kawan menjadi lawan, dan bertahan hidup berarti harus melukai orang-orangnya sendiri.
Dia menunduk menatap mayat Herman, lalu menatap ke dalam kegelapan hutan yang semakin dalam dan menakutkan.
Dua orang telah tiada, pergi dalam rentang waktu yang sangat singkat. Sekarang... hanya tinggal dia dan putranya.
Dua jiwa yang tersesat di tempat yang tidak dapat dipastikan di mana lokasinya.
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?