NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Tiba-Tiba Dekat Dengan Anak

Minggu pagi itu Samira sudah sibuk di dapur sejak matahari belum sepenuhnya naik. Hari libur biasanya identik dengan suasana santai, tapi tidak baginya. Pagi ini ia justru terlihat bersemangat menyiapkan masakan, apalagi ia ditemani oleh Binar yang entah mengapa bangun jauh lebih pagi dari biasanya.

Samira sempat heran. Tumben sekali anaknya sudah terjaga di pagi hari Minggu, padahal biasanya di hari libur Binar masih terlelap di balik selimut hingga matahari tinggi. Namun ia tidak banyak bertanya. Baginya, melihat Binar duduk di dekatnya saja sudah cukup membuat suasana dapur terasa lebih hidup.

Sementara Samira sibuk mengiris sayur dan mengaduk kuah di atas kompor, Binar duduk di lantai dapur dengan alas karpet kecil, asyik merakit mainannya sendiri. Tangannya bergerak cekatan menyusun potongan-potongan kecil dengan ekspresi serius, sesekali bergumam pelan seolah sedang berdiskusi dengan imajinasinya.

Pagi ini Samira memasak sop hangat. Pilihan yang terasa pas untuk cuaca hari itu setelah semalaman hujan turun deras, udara pagi masih menyisakan dingin yang menempel di kulit. Uap tipis dari panci mengepul pelan, membawa aroma kaldu yang menenangkan dan membuat suasana rumah terasa semakin hangat.

@@@

Kalau hari libur, biasanya Samudra justru bangun lebih siang. Seperti pagi ini jam sudah menunjukkan pukul tujuh ketika ia akhirnya membuka mata. Sinar matahari tipis menembus celah tirai, menyentuh wajahnya yang masih terlihat lelah.

Sebenarnya ia masih malas bangun. Kantuk masih terasa berat di pelupuk matanya. Namun setelah beberapa detik menatap langit-langit kamar, ia menghela napas pelan lalu bangkit. Ia memutuskan mandi, berharap air dingin bisa mengusir sisa rasa kantuk yang masih menempel.

“Bibi jam segini udah bangun belum ya…” gumamnya pada diri sendiri sambil mengeringkan rambut.

Ia terdiam sebentar.

“Tapi kayaknya udah bangun deh. Kalau Samira bangun, dia pasti ikut bangun juga.”

Sejak ia memberikan boneka itu pada Binar dan melihat sendiri bagaimana anaknya menyambut hadiah kecil itu dengan mata berbinarada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Samudra jadi ingin melihat senyum itu lagi. Jujur saja, ia ingin sekali membelikan mainan lain untuk Binar. Mainan yang diberikannya sendiri tanpa dimintai.

Setelah selesai bersiap, Samudra melangkah keluar kamar dan menuju tangga. Baru beberapa anak tangga ia turuni, pandangannya langsung menangkap sosok kecil di ruang tengah.

Binar.

Gadis kecil itu duduk di lantai dengan mainan rakitannya, wajahnya serius tapi penuh semangat. Di sampingnya, boneka kelinci pemberian Samudra tergeletak rapi seolah sudah menjadi teman setia.

Senyum tipis langsung tersungging di wajah Samudra.

Tanpa sadar langkahnya jadi lebih cepat menuruni tangga. Begitu sampai di bawah, ia langsung menghampiri.

“Selamat pagi, Bibi,” sapa Samudra lembut tapi sedikit canggung.

Binar yang tadi fokus pada mainannya langsung menoleh. Seketika wajahnya berubah cerah.

“Papa! Selamat pagi juga!” serunya riang. Suaranya penuh semangat, jauh berbeda dari ekspresi seriusnya tadi.

Samudra sedikit tertegun melihat perubahan ekspresi itu seolah kehadirannya benar-benar berarti dan sedang dinantikan.

“Lagi bikin apa?” tanyanya sambil berjongkok di samping Binar.

“Ini,” jawab Binar antusias, menunjukkan rakitan kecil di tangannya. “Bibi lagi bikin rumah buat Upi.”

Samudra melirik boneka kelinci itu. “Oh ya? Upi mau pindah rumah? Bukannya rumahnya dikamar Bibi?”

“Iya. Soalnya Upi tadi bilang dia kedinginan jadi Bibi bikinin rumah aja,” jawab Binar polos.

Samudra menahan senyum. “Gitu ya…”

Ia duduk di lantai, masih sedikit canggung, tapi kali ini tidak terasa asing seperti sebelumnya. Binar langsung merapat ke sampingnya tanpa ragu, melanjutkan merakit sambil sesekali menunjukkan hasilnya.

Tak lama kemudian suara Samira terdengar dari dapur.

“Mas? Udah bangun?”

“Iya,” jawab Samudra.

Samira muncul sambil membawa mangkuk kecil berisi potongan wortel. Ia sempat berhenti di ambang dapur saat melihat pemandangan itu, Samudra duduk di lantai di samping Binar, memperhatikan anaknya bermain.

Pemandangan yang dulu terasa mustahil… kini ada di depan matanya.

“Tumben bangun pagi,” ujar Samira pelan, nada suaranya ringan tapi hangat.

Samudra mengangkat bahu sedikit. “Kebangun.”

Binar tiba-tiba menarik lengan Samudra. “Papa bantuin, dong. Ini susah.”

Samudra melirik mainan itu. Potongan kecil, warna-warni, dengan bentuk yang cukup rumit.

Ia sebenarnya tidak terlalu paham cara merakitnya.

Namun…

“Oke. Mana Papa coba lihat.”

Samira memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya saat melihat Samudra berusaha memahami instruksi mainan itu demi membantu anaknya.

Beberapa menit kemudian—

“Papa hebat!” seru Binar tiba-tiba ketika bagian atap berhasil terpasang.

Samudra menatap hasil rakitan mereka. Tidak sempurna. Sedikit miring.

Tapi berdiri.

Dan entah kenapa… ia merasa bangga.

Sangat bangga.

Ia menoleh ke arah Binar yang tersenyum lebar, lalu tanpa sadar mengusap puncak kepala anak itu pelan.

Samira tersenyum melihatnya.

Namun di balik senyum itu… ada perasaan lain yang perlahan tumbuh.

Harapan.

Karena ia bisa melihat Samudra tidak hanya hadir di rumah. Tapi juga hadir untuk mereka. Lebih tepatnya untuk Binar Senja Nandika putri semata wayang mereka.

@@@

“Mas, sarapannya sudah siap. Mau makan sekarang atau nanti?” tanya Samira lembut dari arah dapur.

Samudra tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh pada Binar yang masih duduk di sampingnya.

“Bibi sudah lapar belum?” tanyanya pelan.

Binar mengangguk cepat. “Sudah. Bibi lapar. Papa mau makan sekarang?”

Sudut bibir Samudra terangkat tipis. “Kalau Bibi lapar, ya sudah. Kita makan sekarang, yuk. Makan sama Papa.”

“Iyaaa!” seru Binar senang, langsung berdiri sambil menggenggam tangan Samudra.

Samira yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa tersenyum kecil. Ia sadar Samudra bahkan tidak menjawab pertanyaannya tadi. Namun anehnya, ia tidak merasa tersisih. Justru hatinya terasa hangat melihat kedekatan ayah dan anak itu.

Baginya, pemandangan seperti ini jauh lebih berharga daripada sekadar jawaban.

“Cuci tangan dulu,” ujar Samira mengingatkan.

Binar langsung mengangguk patuh. “Ayo, Papa!” katanya menarik tangan Samudra menuju wastafel.

Samudra menurut tanpa protes. Ia membiarkan tangan kecil itu menariknya, bahkan menunggu dengan sabar saat Binar sibuk menggosok tangan dengan sabun sampai berbusa banyak.

“Udah bersih?” tanya Samudra.

Binar mengangkat kedua tangan basahnya. “Bersih!”

Samudra mengambil handuk kecil lalu mengeringkan tangan anaknya pelan. Gerakan sederhana, tapi penuh kehati-hatian seolah ia takut membuat kesalahan sekecil apa pun.

Samira memperhatikan dari belakang, diam-diam. Dadanya terasa sesak… bukan karena sedih. Tapi karena haru.

@@@

Mereka bertiga duduk di meja makan. Semangkuk sup hangat mengepul di tengah meja, aromanya lembut menenangkan. Cuaca pagi yang masih dingin membuat hidangan itu terasa sempurna.

“Waa… enak baunya ya, Bibi,” komentar Samudra singkat.

Samira tersenyum tipis. “Sup aja. Cocok sama cuaca.”

Binar sudah lebih dulu duduk rapi di kursinya. “Mama, Bibi boleh yang banyak wortelnya.”

“Boleh,” jawab Samira sambil mengambilkan.

Samudra memperhatikan interaksi itu diam-diam. Ia baru sadar sesuatu Samira hafal detail kecil tentang anak mereka. Dari bagian makanan favorit sampai kebiasaan kecilnya.

Hal-hal yang… ia sendiri belum tahu.

Perasaan itu kembali muncul. Hangat sekaligus menyesakkan.

Samudra lalu mengambil mangkuk kecil dan menyendokkan sup untuk Binar. Gerakannya masih kaku, tapi hati-hati.

“Nih. Tiup dulu, masih panas,” katanya.

Binar menatapnya dengan mata berbinar. “Papa yang tiupin?”

Samudra terdiam sepersekian detik. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia meniup sendok sup itu pelan sebelum menyodorkannya.

Binar membuka mulut. “Aaaa…”

Samira langsung menunduk sedikit, pura-pura merapikan sendoknya.

Padahal sebenarnya—

Ia sedang menahan senyum haru.

Karena pemandangan itu… terlalu indah untuk tidak membuat hatinya bergetar.

@@@

“Enak?” tanya Samudra setelah Binar menelan suapan pertama.

Binar mengangguk cepat. “Enak! Papa juga makan.”

Samudra akhirnya menyuap makanannya sendiri. Sup hangat itu terasa sederhana… tapi entah kenapa terasa jauh lebih nikmat dari makanan restoran mahal yang biasa ia makan di luar.

Mungkin karena suasananya.

Atau mungkin karena…

Ia makan bersama mereka.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan nyaman. Tidak ada percakapan panjang, tapi juga tidak ada kecanggungan.

Hanya suara sendok beradu pelan dengan mangkuk, dan sesekali tawa kecil Binar.

Lalu tiba-tiba—

“Papa,” panggil Binar.

“Hm?”

“Nanti habis makan… Papa main lagi sama Bibi, ya?”

Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Samudra berhenti.

Ia menatap anaknya.

Mata kecil itu penuh harap. Tidak memaksa. Tidak menuntut.

Hanya berharap.

Samudra menelan pelan. Lalu mengangguk.

“Iya. Hari ini Papa seharian untuk Bibi."

Jawaban singkat itu langsung membuat wajah Binar berseri-seri.

Samira yang melihatnya menunduk lagi, kali ini benar-benar tersenyum.

Namun di balik senyum itu, ada satu pikiran yang terlintas pelan di benaknya. Kalau kebahagiaan Binar sesederhana ini kenapa dulu rasanya begitu sulit terjadi?

@@@

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Fina Silaban Tio II
cerita luar biasa
Favmatcha_girl
akhirnya ya🥺
Favmatcha_girl
Betul itu😍
Favmatcha_girl
Biarin😝
Favmatcha_girl
Gak jadi kayaknya mah, anaknya lagi kecintaan🤭
Favmatcha_girl
Tumben amat🤭
Favmatcha_girl
Gampang ya nyuruh² orang😅
Favmatcha_girl
Huhuhu🥺 kasihan nya
Favmatcha_girl
Lagi bahagia sayang🥺
Favmatcha_girl
Lagi kasmaran mungkin😅
Favmatcha_girl
Masakin batu dan kayu aja🤭
Favmatcha_girl
Baik dong kan ajaran ibu yang baik😍
Favmatcha_girl
Anak lagi masa pertumbuhan🥺
Itz_zara: Iya nih makannya makan banyak
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben ngomong maaf🤭
Itz_zara: Jarang ya😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gengsi aja digedhein😑
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Emang cantik, baru tau ya, lo🤭
Itz_zara: Selama ini dia tutup mata🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gas lah ma jodohin aja Samira sama duda kaya raya🤭
Itz_zara: Hahaha Duren kan ya🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Rasain deh🤭 gak diinget anak
Itz_zara: Rasakan😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gemes banget si kamu😍
Itz_zara: Maacih🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Santai Pak jawabnya 😡
Itz_zara: Gak bisa😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!