NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh!!

Menikah Dengan Musuh!!

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NaNa/ji-eun

not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,

cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska

ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kepergian Al setiap malam selama seminggu terakhir menjadi jawaban telak bagi Ayana. Keyakinannya mengental—bahwa suaminya kini lebih mencintai bayang-bayang perempuan itu daripada keberadaannya di rumah

......................

"reva kalau mama pergi kamu bakalan sedih gk" ucapan ayana spontan membuat reva langsung menatap ayana

"sedih, sedih banget leva gk bakalan mau makan kalau mama tinggalin leva" Mendengar penuturan Reva, keraguan Ayana menguap seketika. Kini, semangatnya berkobar kembali, memperkuat niatnya untuk tetap menjaga tempatnya di sisi Al

ayana sangat ingin menangis tapi ia tahan, karena Ayana memilih menyimpan dukanya sendiri, sebab baginya, melihat anaknya ikut bersedih jauh lebih menyakitkan daripada air mata itu sendiri.

...****************...

"Mah, Mama nggak mau ke ruang tamu? Di sana ada Papa sama Tante," ucap Reva polos.

"Tante? Siapa, Reva?" tanya Ayana heran.

Ayana mengira sosok 'tante' itu adalah salah satu kerabat Al. Namun, saat ia mengintip dari balik anak tangga, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ternyata, 'tante' yang dimaksud Reva adalah wanita yang sama—wanita yang selama seminggu ini diam-diam ditemui suaminya.

Langkah Ayana terasa berat namun pasti. Ia tak ingin lagi menghindar; hari ini, ia akan menatap langsung mata wanita yang telah menyita waktu suaminya di belakangnya.

 Begitu Ayana muncul, semua mata di ruangan itu—Al, Syefana, dan seorang pria bernama Rendi—seketika tertuju padanya.

"Hai! Dia siapa, Al?" tanya Syefana santai.

Al melirik Ayana sejenak, tampak ragu. "Dia..."

"Saya istrinya Al," potong Ayana dengan suara tegas sebelum Al sempat menyelesaikan kalimatnya.

Syefana dan Rendi terlonjak kaget. "Oalah! Kamu istrinya? Cantik banget!" seru Syefana antusias. "Eh, sini duduk dekat aku. Al nggak pernah cerita tahu kalau kalian sudah nikah!"

Ucapan Syefana membuat Ayana bingung.

Mengapa wanita ini memperlakukannya begitu ramah? Bukankah dia menyukai Al?

"Oh... jadi ini orangnya! Dulu Al sering cerita kalau dia punya seseorang yang paling dia sayang dari zaman SMA, ternyata ini toh istrinya," sahut Rendi sambil terkekeh.

Ayana semakin heran hingga ia memberanikan diri untuk bertanya, "Bukannya... Syefana menyukai Al?"

"HAH? Nggak ya! Aku sudah pacaran sama Rendi!" ucap Syefana kaget mendengar asumsi Ayana.

Ayana menoleh ke arah Al dengan tatapan menuntut penjelasan. "Jadi selama ini kamu ngapain sering keluar malam, Al?"

"Hmm... aku berusaha mendekatkan mereka berdua sampai akhirnya mereka resmi pacaran," jawab Al pelan sambil menggaruk

tengkuknya yang tidak gatal.

Hati Ayana seketika terasa sejuk. Ternyata selama ini ia hanya salah paham terhadap suaminya. Rasa cemburu yang membakar hatinya seminggu ini luntur seketika.

"Ehh, kalian berdua... ini anak kalian?" tanya Syefana saat melihat Reva yang asyik bermain di karpet.

"SebenarNya bukan, tapi kami berdua sudah menganggapnya sebagai anak sendiri," jawab Ayana tulus.

"Loh, tapi kok mukanya mirip kalian banget ya? Terus ini sebenarnya anak siapa?" tanya Syefana penasaran.

"Reva itu anak Alya. Tapi Alya belum pernah pulang lagi untuk menjemput gadis kecil ini," jelas Al dengan nada sedikit prihatin.

...****************...

Setelah berbincang begitu lama Syefana tersenyum geli melihat wajah Ayana yang memerah karena malu. Ia pun mendekat dan memegang pundak Ayana dengan akrab.

"Ayana, kamu jangan cemburu lagi ya sama Al. Aku sama Rendi itu baru aja jadian, dan itu semua berkat bantuan Al," ucap Syefana tulus.

Rendi pun ikut menimpali, "Iya, Ayana. Al itu rela keluar malam-malam cuma buat kasih saran ke aku gimana cara nembak Syefana. Dia bener-bener sahabat yang suportif banget. Tanpa Al, mungkin aku nggak bakal berani nyatain perasaan ke Syefana sampai sekarang."

Ayana tertegun, rasa bersalah semakin menghimpit dadanya. Ternyata selama ini Al bukan sedang asyik bersenang-senang, melainkan sedang sibuk menyatukan dua sahabatnya yang selama ini hanya saling pendam perasaan.

"Lain kali, kalau ada yang ganjel di hati, langsung tanya aja ke Al. Jangan dipendam sendiri sampai mogok bicara seminggu gitu," nasihat Syefana sambil tertawa kecil. "Al itu tipe cowok yang setia. Dia sering banget loh cerita betapa bersyukurnya dia punya kamu di hidupnya."

Ayana mengangguk pelan, ia merasa sangat kecil saat ini. "Iya Syefana, makasih ya nasihatnya. Aku... aku cuma takut kehilangan aja," bisik Ayana jujur.

Setelah Syefana dan Rendi berpamitan pulang, suasana rumah kembali hening. Ayana berdiri di depan Al yang masih terdiam di ruang tamu. Reva sudah digendong oleh Oma ke dalam kamar, menyisakan mereka berdua dalam suasana yang sedikit kaku namun penuh kelegaan.

Al hanya diam, memperhatikan Ayana yang tampak gelisah sambil meremas ujung bajunya sendiri.

"Al..." panggil Ayana pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan.

Al berdehem singkat, "Ya?"

Ayana memberanikan diri mendongak, menatap mata Al yang tenang. "Aku... aku mau minta maaf. Maaf karena udah diemin kamu minggu ini. Maaf juga karena aku udah berpikiran buruk tentang kamu sama Syefana."

Ayana menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di suaranya. "Aku dengar waktu di mall kamu bilang belum nikah ke Syefana, makanya aku sakit hati banget. Aku pikir kamu malu punya istri kayak aku, atau kamu mau balik lagi sama cinta lama kamu."

Mendengar kejujuran Ayana, raut wajah Al yang kaku perlahan melunak. Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal.

"Soal di mall itu... saya cuma tidak ingin Syefana banyak tanya dulu sebelum saya tahu tujuannya menghubungi saya lagi. Saya tidak bermaksud menyembunyikan kamu karena malu," jelas Al dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.

Ayana menunduk lagi, air matanya hampir jatuh. "Aku tahu aku salah karena nggak langsung nanya ke kamu. Aku malah milih buat curiga sendiri dan buntutin kamu tadi. Aku bener-bener minta maaf, Al."

Al menghela napas panjang, lalu perlahan tangannya terulur untuk menepuk pundak Ayana dengan canggung namun menenangkan. "Ya sudah, jangan diulangi lagi. Lain kali kalau ada yang mengganjal, bicara langsung. Jangan membuat Reva bingung melihat Mamanya diam terus."

Ayana mengangguk cepat, merasa bebannya terangkat seketika. "Iya, janji. Makasih ya, Al, udah sabar banget sama aku."

Melihat Mama dan Papanya sudah nempel lagi, Reva langsung nyelip di tengah-tengah. "Mama! Papa! Jangan galak-galak lagi ya!" seru Reva sambil memeluk kaki mereka berdua sekaligus.

Ayana tertawa lepas, ia berjongkok diikuti oleh Al. Mereka bertiga akhirnya pelukan bareng di karpet ruang tamu. Rasa sesak di dada Ayana hilang total, digantikan rasa hangat karena Al ternyata masih sosok yang sama, yang selalu menjaga perasaannya meski dengan cara yang sedikit kaku.

"Besok kita pakai baju couple yang aku beli itu ya? Kita jalan-jalan bertiga," ajak Ayana semangat.

Al mengangguk mantap sambil mengelus kepala Reva. "Boleh. Ke mana pun yang kamu mau."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi itu, suasana di kamar terasa jauh lebih ceria. Matahari yang masuk lewat celah jendela seolah ikut menyambut perdamaian mereka. Ayana dengan semangat mengeluarkan tiga potong baju couple yang sudah lama ia simpan di lemari.

"Al, bangun! Ayo siap-siap, hari ini kan kita mau jalan-jalan pakai baju ini," seru Ayana sambil menggoyangkan bahu Al yang masih setengah mengantuk.

Al membuka matanya perlahan, lalu menatap baju yang disodorkan Ayana—sebuah kaus berwarna krem senada dengan desain minimalis yang sangat kekinian. "Beneran jadi pakai ini?" tanya Al memastikan.

"Jadi dong! Reva juga udah semangat tuh," tunjuk Ayana ke arah Reva yang sudah duduk di atas kasur sambil memegang baju kecilnya.

"Papa... ayo pakai baju samaan!" seru Reva girang.

Akhirnya, mereka bertiga dandan bersama di depan cermin besar. Ayana membantu memakaikan baju Reva, sementara Al merapikan kemeja luaran yang serasi dengan kaus mereka. Saat mereka berdiri berjajar di depan cermin, Ayana tidak bisa menahan senyumnya. Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga kecil yang sangat harmonis.

"Wah, anak Papa ganteng banget... eh, cantik maksud Papa," canda Al sambil menggendong Reva.

"Mama juga cantik, kan?" tanya Ayana sambil berputar kecil menunjukkan penampilannya.

Al tertegun sejenak menatap Ayana yang terlihat sangat segar dan bahagia pagi itu. "Iya, kamu cantik," jawab Al tulus, membuat pipi Ayana mendadak merona merah.

Saat mereka turun ke lantai bawah, Mama Al (Oma) langsung terpana melihat kekompakan mereka. "Ya ampun! Ini keluarga selebriti dari mana nih? Kompak banget pakai baju kembaran!" goda Oma sambil mengambil ponsel untuk memotret mereka.

"Oma, kita mau jalan-jalan!" celetuk Reva polos.

"kamu gm ajak oma"

"gk hehe"

Mereka pun melangkah keluar rumah dengan perasaan ringan. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi cemburu buta. Hari itu, mereka siap mengukir kenangan baru sebagai keluarga yang utuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!