Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.
Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.
Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Ujian di Lembah Kabut
Di hari berikutnya, ternyata pelatihan itu tidak melambat sama sekali, malah sebaliknya, membuat tekanannya justru meningkat.
Guruh menghentikan latihan rutin yang selama ini dijalankan, namun sudah tidak ada lagi pola yang bisa ditebak seperti sebelumnya, bahkan tidak ada lagi urutan yang bisa dipelajari.
Setiap hari dimulai dengan perintah berbeda, dan setiap malam akan berakhir dengan tubuh yang semakin sulit digerakkan.
Akhirnya Yuda mulai menyadari bahwa lembah ini bukanlah tempat untuk mendidik murid, tapi ini adalah tempat seperti untuk sebuah penyaringan.
Pagi hari dimulai lagi tanpa sebuah aba-aba.
Saat Yuda baru saja membuka matanya, udara di sekitarnya terasa lebih berat.
Sedangkan tanah di bawah tubuhnya untuk tidur terasa dingin dan lembap, namun di pagi ini ada sebuah tekanan asing yang membuat dadanya sulit mengembang untuk bernapas.
Ia pun akhirnya bangkit dengan setengah sadar.
Sedangkan di lapangan batu, kini terlihat seluruh rekrutan sudah berdiri, dan terlihat di setiap wajah mereka di penuhi ketegangan.
Di barisan itu juga terlihat Sagara yang berdiri beberapa langkah di depan Yuda.
Rahangnya mengeras dengan tatapan yang tidak lagi meremehkan, melainkan penuh kewaspadaan terhadap Yuda.
Saat ini terlihat juga sosok Guruh yang sedang berdiri di tengah-tengah para rekrutan, menatap mereka semua dengan datar namun terlihat tegas dan tajam.
“Mulai hari ini, kalian tidak akan berlatih untuk menjadi kuat.” ucapnya dengan datar.
Ia kemudia mengangkat tongkat kayunya perlahan lalu menghentakkannya kembali.
“Kalian akan berlatih untuk bertahan dan agar tidak mudah tumbang.” lanjutnya kembali.
Ujian pun dimulai kembali dengan sederhana.
Mereka semua diminta berjalan ke dalam lembah bagian dalam, yang terletak di wilayah yang selama ini tertutup oleh kabut tipis.
Entah tempat seperti apa itu, namun bahkan penghuni disana tidak ada yang bisa menjelaskannya, karena tempat itu seolah seperti tidak ada batas waktu.
Dan seperti hari-hari sebelumnya, ujian itu memiliki aturan, akan tetapi hanya sebuah satu aturan.
“ Hanya ada satu aturan! Yang jatuh, akan ditinggal.” ucap Guruh pelan.
Kalimat itu menggantung di udara, semua orang langsung paham.
Sedangkan terlihat dari beberapa rekrutan seketika menelan ludah.
Mereka semua khawatir, karena ini adalah tempat yang asing, jika memang benar aturannya seperti itu, maka pasti akan ada korban jiwa.
Tara yang ternyata sedari tadi mengamati, akhirnya berdiri dan melompat di bahu Yuda.
“Hei bocah bebal, ini bukanlah pelatihan, ini seperti sebuah seleksi kasar, hanya untuk melihat potensi lain dari tubuh kalian.” bisiknya di telinga Yuda.
Yuda yang mendengar itu hanya mengangguk diam, lalu mulai melangkah.
Di hadapannya kini terlihat sebuah kabut tipis.
Kabut di dalam lembah itu bukanlah kabut biasa, kabut itu bahkan bisa menekan setiap pikiran.
Setiap langkah akan terasa seperti berjalan melawan arus sungai yang tidak terlihat.
Yuda dan lainnya mulai melangkah pelan.
Napas mereka seketika menjadi berat, dan pikiran mereka akan di hasut dipenuhi suara-suara samar yang bukanlah suara nyata, tapi sebuah suara yang seperti sebuah mantra, sehingga membuat kepingan-kepingan ingatan muncul dengan tiba-tiba.
Setelah memasuki lembah kabut itu, Yuda pun langsung melihat kilasan masa kecil.
Wajah ibunya, punggung ayahnya yang mulai menjauh, ada sebuah kobaran api dan teriakan jeritan yang menyayat hati.
Kini terlihat langkahnya sedikit goyah.
Sedangkan Sagara yang ada di depannya terlihat tersandung dan hampir terjatuh.
Melihat itu, dengan sisa kesadarannya, Yuda pun refleks untuk meraih lengannya, dan menopang tubuh Sagara.
Merasakan ada sebuah tangan yang mencoba membantunya, Sagara malah berteriak kesal, dengan mata yang sudah memerah.
Entah ingatan apa yang ia ingat, hingga membuat tatapannya terlihat sangat sedih dan menyakitkan.
“Lepaskan, aturannya adalah yang jatuh akan ditinggal.” ucap Sagara dengan kesal, namun dalam hatinya ada sedikit rasa lega.
“Hei..hei... Tenanglah kau belum terjatuh,” jawab Yuda singkat menenangkan.
Mendengar itu, Sagara hanya terdiam dengan tatapan aneh, ia akhrinya saling mengangguk dan melangkah bersama kembali.
Namun di sisi lain, tidak semua seberuntung Sagara.
Seketika ada sebuah teriakan yang terdengar dari belakang mereka.
Seorang rekrutan lain terlihat ambruk, dengan tubuhnya bergetar hebat, dan matanya memiliki tatapan kosong, seperti akan menjadi mayat hidup.
Namun meskipun ada sebuah jeritan dan teriakan di belakang mereka, semua yang ada di depan tidak ada yang menoleh satu pun.
Sedangkan Guruh yang melihat dari kejauhan tidak menghentikan ujian itu, ia hanya mengangguk kepada sosok bayangan lain di balik kabut tipis.
Sosok bayang lain itu kemudian melesat menghampiri rekrutan yang terjatuh.
Ada beberapa orang juga yang mengawasi dari balik kabut, karena mereka semua berasal dari tempat itu, maka sudah tahu dan memiliki penawar dari efek kabut tipis itu.
Kabut tipis akhirnya perlahan mulai menutup sosok yang terjatuh di belakang.
Yuda yang ada di depan hanya mampu menggertakkan giginya.
Ia tidak berani melihat kebelakang, ia hanya takut akan lengah dan malah terjatuh seperti orang di belakangnya.
Di dalam tubuhnya, sebuah ruang kosong mulai kembali terbuka, dan mulai menyerap tekanan kabut sedikit demi sedikit.
Tubuh Yuda terlihat tidak menolak, dan tidak melawannya, hanya membiarkan semuanya masuk terserap dan mengalir kedalam tubuhnya melalui setiap pori-pori kecil pada kulitnya.
Dan retakan dalam tubuhnya yang tadinya hanya terbuka kecil, saat ini terlihat retakan itu mulai melebar secara perlahan.
Waktu pun berlalu dengan cepat, akhirnya mereka keluar dari lembah kabut itu.
Ketika mereka keluar dari lembah kabut, kini hanya terlihat lima orang yang tersisa.
Sisanya hilang entah kemana, yang tahu hanya Guruh saja.
Tidak diketahui mereka saat ini pingsan, mati, atau terkena sesuatu yang lebih buruk.
Sagara yang keluar paling pertama kini langsung berlutut untuk menopang tubuhnya dengan napasnya yang terengah.
“Kenapa kau tidak jatuh, bahkan goyah sedikitpun?” tanyanya lirih kepada Yuda karena melihat sosok dihadapannya ini seperti tidak terkena dampak sama sekali.
Yuda yang mendengar pertanyaan itu hanya mampu menggeleng, karena ia sendiri pun juga tidak tahu penyebabnya apa.
“Aku juga tidak tahu.” jawabnya dengan tatapan yang juga terlihat sedikit bingung.
Tara yang ternyata sedari tadi bersama Yuda di bahunya, kini akhirnya melompat turun.
Meskipun Tara bersama Yuda memasuki lembah kabut, namun untuk kucing buntal itu, ujian seperti itu tidaklah berarti, mengingat kekuatannya yang memang sudah terlampau tinggi.
“Umm, tubuhnya ini tidak memilih mana yang boleh masuk, tubuhnya tidak menolak sama sekali, yang ada hanya menerima semuanya saja.” jawab Tara di samping kaki Yuda.
Mendengar itu, Sagara pun hanya mampu menatap Yuda dengan lama.
Banyak sekali pertanyaan yang mulai muncul di kepala Sagara terhadap Yuda.
Seperti, apakah orang ini memang sudah pernah melewati jalan hidup dan mati, atau memang tidak punya ingatan yang spesial.
Namun meskipun begitu, ia hanya mampu memendamnya, karena saat ini tubuhnya sudah cukup lelah untuk memikirkan itu.
Dan saat ini juga, untuk pertama kalinya, tidak ada rasa meremehkan di matanya.
Malam pun tiba, dan di malam itu juga, Guruh memanggil Yuda sendirian.
Mereka berdua terlihat berdiri di tepi lembah, dengan hanya di sinari oleh cahaya dari rembulan malam.
“Apa kau tahu, tubuhmu ini adalah sebuah wadah, dan bukanlah wadah yang biasa.” ucap Guruh membuka suara.
“Untuk apa?” tanya Yuda singkat.
“Ummm.. Mungkin untuk sesuatu yang belum lahir, atau sesuatu yang seharusnya tidak pernah lahir.” geleng Guruh lalu menerka apa yang ada di pikirannya.
Kalimat yang keluar dari Guruh itu seketika membuat udara terasa lebih dingin.
“Apa aku akan menjadi berbahaya,?” tanya Yuda dengan tatapan yang terlihat sangat khawatir.
Ia khawatir akan membahayakan makhluk hidup lainnya, sedangkan tujuannya untuk menjadi lebih kuat itu karena ia ingin membela kebenaran, dan membantu setiap makhluk yang membutuhkan.
Guruh pun terdiam sesaat, tidak langsung menjawabnya.
“Mungkin belum, tapi kau akan menjadi lebih dari manusia pada umumnya, semoga saja akal pikiranmu nanti selalu bisa kau kendalikan” jawab Guruh dengan serius sembari menatap Yuda dengan tatapan berharap.
Di balik gelapnya malam, dari kejauhan, terlihat sosok Ragha saat ini sedang mengamati mereka berdua.
Ia mencatat kembali apa yang ia ketahui.
Ada satu keberhasilan yang menurutnya ini adalah hasil yang besar.
Ujian hari ini, Yuda tetap berdiri, bahkan ia masih mampu membantu Sagara juga untuk tetap berdiri.
Dan bagi orang-orang seperti Ragha, itu adalah satu-satunya hal yang penting.
Akhirnya malam pun berlalu dengan cepat.
Ragha kembali menghilang dalam kegelapan setelah melihat Guruh dan Yuda juga berjalan pergi ketempat istirahat masing-masing.
......................