Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak adil
Hari-hari yang di lewati Ruoling di tempat menempuh pendidikan tidak lepas dari ejekan serta penyiksaan yang tidak ada habisnya. Apa lagi jika Putra mahkota tidak bisa mengikuti pendidikan karna kesibukannya kerajaan maka mereka dengan alasan atas perintah Ruoyi semakin memperlakukannya dengan semaunya.
Tapi hari ini Ruoling bisa bernafas lega karna Zhinyun mengikuti kelas latihan musik serta memahami lebih banyak pelajaran penting yang mungkin sudah di pelajarinya bersama guru di istana.
Saat ini anak-anak yang selalu mengejeknya sebagai anak pembunuh bahkan tak jarang mereka mendorongnya tanpa perasaan tiba-tiba saja menjadi malaikat yang baik.
"Saya duduk di sini karna Tuan Putri mengaku sakit kepala kalau di paksa menyimak pelajaran terlalu banyak, Yang Mulia." Jelas Feixue yang sudah pasti kebohongan pada Zhinyun. "Tapi saya akan pindah jika anda merasa tidak nyaman."
"Tidak usah, di sini saja." Balas Zhinyun tidak enak lalu menoleh pada Ruoling yang ada tepat di meja belakangnya. "Apa yang dia katakan benar?"
Ruoling mengangguk sebagai jawaban tanpa melirik Feixue atau Ruoyi yang ada di sisi kanan Zhinyun. Jika mengatakan yang sejujurnya maka di saat Putra mahkota tidak ada di kelas mereka pasti menyiksanya secara fisik atau mental hingga membuatnya kelelahan.
Saat ini Ruoling hanya bisa menikmati masa-masa di mana mereka yang selalu memanggilnya Tuan Putri Ruoling dengan benar, menarikkan kursinya, membantunya untuk memahami pelajaran bahkan menanyakan apakah ia sudah sarapan.
Tapi semua itu pasti berubah ketika Zhinyun absen di kelas. Hal itu sebenarnya sangat memuakkan, tapi setiap kali ingin mengatakan yang sebenarnya maka Ruoyi yang akan mendapatkan hukumannya dan Ruoling tidak ingin itu terjadi.
Walaupun adiknya itu sangat membencinya setelah apa yang terjadi pada Selir Yan, ibunya Ruoyi, tapi Ruoling sangat menyayanginya.
"Akhir-akhir ini aku lihat kau lebih banyak diam," kata Zhinyun setelah guru keluar kelas serta teman di samping kakaknya itu pergi. Selama ini Zhinyun tidak pernah ketinggalan pelajaran sambil mengurus tugas istana yang kian banyak hingga tidak bisa menjalani kehidupan layaknya anak normal lainnya.
"Ibuku tidak bersalah, tapi dia di hukum mati bagaimana bisa aku tidak sedih?" Balas Ruoling sebenarnya tidak ingin menyembunyikan apapun dari sosok yang sebenarnya lebih muda dua tahun darinya, tapi nyatanya ia tidak ingin menambah beban adiknya hingga menyembunyikan beberapa rahasia.
"Aku minta maaf karna tidak bisa membantu apa-apa, kak." Ungkap Zhinyun dengan bersalah. "Tapi jika suatu hari nanti ketika aku menjadi Kaisar, aku pastikan akan mengungkap kasus ini."
"Apakah tugasnya sudah selesai?" Tanya seorang Guru kembali memasuk kelas, membuat Ruoling mengurungkan niat untuk bicara.
"Sudah!" Balas semua anak di dalam kelas serentak terkecuali Ruoling dan Zhinyun karna mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Kalau begitu kumpulkan di sini."
Semua anak-anak masuk meletakkan gulungan di depan meja Guru dan kembali ke tempat duduk masing-masing termasuk juga dengan Zhinyun.
Lagi-lagi Ruoling menjadi yang terkahir mengumpulkan tugas dan berjalan kembali ke mejanya, tapi tiba-tiba saja ia tersandung hingga membuat lututnya menghantam lantai.
"Maafkan saya, Tuan Putri." Kata Feixue sembari buru-buru bangkit dari duduknya dan membantu Ruoling berdiri. "Saya benar-benar tidak tahu kaki saya akan menghalangi jalan Anda."
"Tidak masalah," balas Ruoling datar lalu memberikan sedikit jarak dari salah satu teman adiknya yang sudah pasti sengaja. "Kau bisa kembali duduk, aku ingin kembali ke mejaku."
"Perlu ban–"
"Tidak perlu," balas Ruoling cepat lalu lebih dulu meninggalkan Feixue yang masih menatapnya penuh arti.
"Hari ini pelajaran kita cukup sampai di sini saja, kalian semua boleh kembali." Tutup seorang wanita dan membiarkan Putra Mahkota lebih dulu keluar lalu di susul dengan yang lainnya.
"Kak Zhinyun!" Panggil Ruoyi tak jauh dari lingkungan sekolah, membuat Zhinyun beriringan dengan Ruoling menghentikan langkahnya. "Kenapa tidak menungguku lebih dulu?"
"Aku tidak tahu kalau kamu ingin keluar bersamaku," balas Putra mahkota sambil menatap sekitarnya di mana mereka menjadi pusat perhatian anak-anak yang akan dan baru menyelesaikan kelas. "Biasanya kamu selalu bersama teman-temanmu jadi–"
"Kakak tidak adil!" Sela Ruoyi tidak sopan lalu menatap tajam Ruoling yang membalas dengan bingung. "Selalu saja lebih menyayangi dan mementingkan Kak Ruoling sementara aku selalu di abaikan!"
"Sepertinya ada yang salah di sini, aku tidak selalu seperti itu pada Kak Ruoling karna nyatanya aku juga menyayangi semua saudaraku. Namun, memang ada hal-hal yang membuat kami jadi lebih dekat bahkan jadi teman." Jelas putra mahkota dengan lembut, tapi melihat ekspresi tidak terima dari adiknya itu membuat Zhinyun menghela nafas kasar. "Ruoyi, jangan seperti ini. Cobalah untuk menyikapi semua yang di dengar dan di lihat dengan dewasa."
Alih-alih membuat Ruoyi tenang hal itu semakin membuat gadis muda itu terlihat emosi, tapi berusaha di tahannya karna tidak ingin menjadi pembicaraan seluruh orang di istana.
"Kalian jahat karna sudah mempermalukan aku!" Ruoyi berjalan lebih dulu meninggalkan kedua saudaranya yang menatap kepergian adik mereka dengan lelah.