Dari kecil Perlita Cascata selalu di perlakukan tidak baik oleh keluarganya, dan sekarang dia juga harus merasakan sakitnya penghianatan dari kedua orang terdekatnya tepat di hari pernikahannya. Perlita harus merelakan calon suaminya menikahi kakak perempuannya yang bernama Ariana karena saat dirinya akan melaksanakan akad nikah, sang Kakak ketahuan hamil anak dari calon suaminya Perlita. Berharap mendapat simpati dari keluarganya tapi apa yang Perlita dapatkan, mereka semua malah mendukung pernikahan tersebut dan meminta Perlita untuk mengalah.
Bagaimana kehidupan Perlita selanjutnya? Apakah dia bisa melupakan pria yang sudah menyakitinya?
Ikuti terus kisahnya di sini ya!!😊
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyesal
"Kita harus nemuin Perlita Pa, Mama nggak terima dia memperlakukan Ariana seperti ini. Mana sampai minta ganti rugi sebanyak dua ratus lima puluh juta lagi. Enak banget hidupnya. Sebaiknya kita langsung pergi ke rumahnya aja Pa," ajak Diana yang merasa kesal dengan kelakuan putri bungsunya itu.
"Kamu benar, itu anak memang harus kita kasih pelajaran. Mana Riana lagi hamil lagi, kan kasihan kalau harus tidur di penjara. Bagaimana kalau Riana sampai jatuh sakit karena tidur di penjara? Kalau itu sampai terjadi, Papa nggak bakalan memaafkan dia," ujar Roby mempercepat laju mobilnya menuju perumahan milik Perlita. Saat sampai di gerbang perumahan, mereka tidak bisa masuk ke dalam. Perlita memang sudah berpesan kepada security perumahan untuk melarang Roby dan Diana masuk ke perumahan tersebut. Perlita memberikan foto kedua orang tuanya serta plat mobil Papanya.
"Kami ini mau ke rumah anak saya loh Pak. Apa hak bapak melarang kami buat berkunjung ke rumah putri kami?"
"Maaf Pak, kami hanya menjalankan tugas saja. Anak bapak dan ibu sendiri yang memerintahkan kami untuk melarang bapak dan ibu masuk ke dalam. Kalau begitu silakan dihubungi anaknya Pak!" Kata salah satu security tersebut.
"Apa?" Teriak Diana dengan raut semakin marah. "Makin kurang ajar aja si Perlita. Dasar anak durhaka. Mama nggak terima dia memperlakukan kita seperti ini Pa. Mama sumpahin si Perlita hidupnya nggak bakalan bahagia karena memperlakukan orang tuanya seperti ini," kesal Diana.
Roby dan Diana akhirnya kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan perumahan tersebut dengan rasa marah kepada Perlita.
"Bener-bener itu anak yah Pa. Baru segitu aja suksesnya sudah memperlakukan kita seperti ini. Apa nggak takut kualat dia, karena durhaka sama kita."
"Sekarang kita jual dulu perhiasan dan mobil milik Ariana Ma. Biar Ariana nggak lama-lama mendekam di penjara. Papa benar-benar enggak tega melihat putri kita tidur di penjara."
"Sebenarnya Mama rasanya berat loh Pa jual semua perhiasan mama. Perhiasan itu Mama kumpulkan dengan susah payah tapi mama juga nggak tega dengan Ariana. Si Vito mana nggak bisa diandalkan lagi. Heran mama lihat si Vito ini, apa semiskin itu dia? Sampai-sampai uang dua ratus lima puluh juta aja dia nggak punya."
"Papa kalau tau kayak gini, mungkin papa nggak bakalan ngizinin Ariana nikah sama si Vito ini Ma. Sudah numpang di rumah kita, sekarang istrinya di penjara dia tidak bisa bantu. Ini mah namanya tanggungan kita bertambah Ma."
"Mau bagaimana lagi, anak kita cinta sama dia Pa. Bahkan sampai hamil diluar nikah lagi. Entah apa lah pikiran Ariana ini. Seharusnya Ariana bisa dapat yang lebih loh dari si Vito ini. Seharusnya dia mencari suami yang seorang pengusaha. Buat apa dapat menantu dokter tapi kere."
"Mama bakal coba ngomong sama Vito agar dia berusaha mencari uang dua ratus lima puluh juta ini. Seharusnya duit segitu kecil bagi dia."
"Iya Ma."
Sesampainya di rumahnya, Diana dan Roby langsung masuk ke dalam rumah.
"Vit, mau ke mana kamu?"tanya Diana ketika mereka berpapasan di ruang tamu.
"Mau ketemu temen Ma."
"Sini dulu mama mau ngomong dulu sama kamu. Seharusnya kamu itu nggak kelayapan dulu Vit, kita harus usahain uang dua ratus lima puluh juta itu supaya Ariana segera bebas. Ini mama sama papa udah pusing tapi kamu malah santai begini," ucap Diana merasa kesal dengan menantu nya yang terlihat santai dan tidak ada beban sama sekali ketika istrinya yang sedang hamil mendekam di penjara.
"Bukannya buat dapat uangnya udah ada jalan yah Ma. Terus kenapa harus pusing lagi sih Ma?"
"Kata siapa udah dapat hah? Itu mobil Ariana aja belum laku dan belum dijual. Perhiasan Mama juga belum tentu cukup buat nambahin kekurangan uangnya. Seharusnya kamu sebagai suami akalin dan usahain dong uangnya."
"Aku mana ada uang sebanyak itu Ma."
"Makanya kamu usahain, kamu minta orang tua kamu atau kamu pinjam ke keluarga kamu kek. Kan keluarga mama kamu itu orang kaya. Uang dua ratus lima puluh juta itu sedikit lah buat mereka. Pasti mereka bakalan kasih lah."
"Ya nggak bisa gitu lah Ma, aku bisa malu kalau minta ke orang tua atau ke keluarga aku yang lain. Mau ditaruh dimana muka aku. Lagian kan Ariana yang bikin masalah yah itu udah tanggung jawab mama dan papa lah. Masa nikah baru dua hari tapi aku udah disusahin seperti ini. Mana mau aku Ma," jawab Vito sontak memancing emosi Diana dan Roby yang memang sudah tinggi.
"Apa kata kamu? Hei Vito, anak perempuan kalau udah menikah itu udah menjadi tanggung jawab suaminya. Jadi menyesal saya punya menantu yang nggak bisa di andalkan. Jangankan mengeluarkan Ariana dari penjara, buat ngasih makan Ariana aja kamu nggak mampu. Selama dua hari ini bahkan kamu masih menumpang hidup dan makan dengan kami. Bukannya berkurang tanggung jawab kami malah jadi bertambah. Dasar laki-laki kere," kata Diana yang sudah tidak mampu lagi menahan emosinya sampai-sampai kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan pun akhirnya keluar juga.
"Mama pikir aku bahagia menikah dengan anak manja kalian itu hah. Bisa apa anak manja kalian itu? Nggak bisa apa-apa. Lagian yang duluan menggoda aku itu adalah anak manja kalian. Kalau saja dia tidak menggodaku, mungkin sekarang hidup aku lebih bahagia bersama Perlita. Anak yang kalian buang dan kalian benci itu adalah gadis yang mandiri. Bahkan tanpa kalian, dia bisa punya usaha dan rumah sendiri. Mungkin saat ini aku sudah tinggal di perumahan elit. Baiklah kalau memang ini yang kalian mau, aku akan pergi dari sini."
Vito kembali ke kamarnya untuk mengemasi pakaiannya. Vito lebih memilih keluar dari rumah mertuanya karena merasa terhina dengan kata-kata mertuanya.
"Ma, nanti kalau Ariana nanyain suaminya gimana?"
"Biarin aja lah Pa. Muak mama punya menantu seperti itu. Papa bisa lihat kan aslinya. Nanti kita suruh aja Ariana gugurin kandungannya itu. Nanti mama sendiri yang mencarikan dia laki-laki kaya raya. Buat apa mempertahankan laki-laki kere seperti itu. Yang ada hidup Ariana akan serba kekurangan nantinya dan kita juga yang bakalan ikut susah jadinya."
Vito melewati mertuanya begitu saja dengan menarik kopernya keluar dari rumah mertuanya. Untuk sementara, Vito akan mencari kos-kosan dan tinggal di sana. Untuk selanjutnya Vito akan memikirkan cara untuk menemui Perlita. Vito tentu tidak akan berpisah dengan Ariana secepat ini. Bisa malu dirinya kalau orang lain sampai tahu pernikahan yang dia lakukan dengan menyakiti orang lain cuma bertahan dua hari. Tapi dia benar-benar menyesal menikah dengan Ariana.
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
Thor jangan di bikin apes mulu peran utama pls aku baru selesai baca yg peran utama dari awal Ampe ending apes mulu