Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.
Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.
Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.
Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Sugar Daddy KR
Pukul 07.30 malam. Rasa lelah setelah menganalisis berkas Tuan Dirga membuat Ayu sangat mendambakan istirahat. Ia kembali ke apartemen studionya. Setelah mematikan keran di dapur, ia memutuskan untuk langsung mandi.
Ia baru saja melilitkan handuk mandi di rambutnya dan mengenakan bathrobe katun putih yang disediakan apartemen—sebuah barang mewah yang baru ia sentuh—saat suara gemericik air yang sangat keras mulai terdengar. Tiba-tiba, air berwarna keruh mengucur deras dari langit-langit kamar mandi. Pipa bocor.
Ayu panik, segera mematikan katup air utama seperti instruksi cepat dari Ken melalui telepon. Lantai apartemennya sudah tergenang.
Dengan putus asa, Ayu menyadari ia harus segera menghubungi Lingga, sang pemilik bangunan. Ia tidak sempat berganti pakaian. Satu-satunya yang ia kenakan adalah bathrobe putih tebal yang sudah sedikit basah di bagian bawah.
Ia bergegas naik lift ke Lantai 30. Ia berdiri di depan pintu penthouse Lingga, mengatur napas, dan menekan bel.
Pintu terbuka. Lingga Mahardika berdiri di ambang pintu, hanya mengenakan celana jogger hitam dan kaus abu-abu yang menampakkan lengan yang berotot. Ia baru saja selesai berolahraga, dan ada kehangatan serta kelelahan fisik yang terlihat jelas di wajahnya yang biasanya dingin.
"Ayu?" tanya Lingga, heran melihat asistennya datang di luar jam kerja.
Namun, perhatian Lingga segera tertuju pada penampilan Ayu.
Ayu berdiri di hadapannya, bukan dalam rok pensil dan blus sutra, melainkan dibalut bathrobe putih tebal. Ikatan longgar di pinggangnya, rambutnya basah oleh handuk yang melilit di kepala, dan wajahnya tanpa riasan sama sekali.
Di mata Lingga, penampilan Ayu sangat kontras dengan citra profesionalnya di kantor—dia terlihat sangat rentan, sangat murni, dan tanpa pertahanan.
Lingga merasakan debaran yang jauh lebih kuat daripada yang ia rasakan saat berhadapan dengan Tuan Dirga. Pemandangan Ayu yang tiba-tiba muncul di penthouse-nya hanya mengenakan bathrobe memicu sesuatu yang terlarang di dalam dirinya.
Pria yang baru saja ia sadari menyimpan perasaan tersembunyi pada Ayu itu langsung merasa panas dingin. Ini bukan lagi cemburu pada Ken, ini adalah ketertarikan yang sangat dilarang.
Dia. Dia tidak seharusnya terlihat seperti ini di hadapanku. Lingga segera menekan semua pikiran itu, memaksakan wajahnya kembali ke mode CEO.
"Kenapa kau hanya memakai itu?" tanya Lingga, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya.
Ayu, yang sudah panik karena air bocor, tidak memperhatikan perubahan nada bicara Lingga. "Maaf, Tuan. Saya tidak sempat berganti. Pipa kamar mandi saya bocor. Besar. Ken bilang itu mungkin berasal dari pipa Anda."
Ekspresi Lingga langsung kembali serius, fokus pada masalah. Ia segera membuka pintu lebih lebar. "Masuk. Jelaskan detailnya."
Lingga memaksa pandangannya untuk fokus ke langit-langit, ke pipa, ke masalah logistik, apa pun kecuali gadis ber-bathrobe di hadapannya.
Ayu masuk. Ia menjelaskan situasi bocornya air. Lingga segera menelepon teknisi darurat, memberikan instruksi cepat dan tegas.
"Teknisi akan datang dalam satu jam. Sementara itu, kau tidak bisa kembali ke sana," kata Lingga, menatap Ayu yang masih berdiri. "Kau harus tinggal di sini."
"Tinggal? Tidak, Tuan. Saya bisa tidur di sofa—"
"Tidak ada sofa. Kau tidur di kamar tamu," potong Lingga, berjalan cepat untuk mengambil handuk dan perlengkapan mandi. Ia membutuhkan jarak fisik dan tugas untuk memecah ketegangan ini. "Aku butuh kau tetap di sini agar aku bisa memantaumu—dan berkas-berkas pentingku—tetap aman."
Lingga menunjukkan pintu kamar tamu. "Itu kamar tamu. Ada kamar mandi di dalamnya. Dan ini," Lingga menyerahkan handuk tebal dan botol sampo baru.
Ayu merasa canggung. Ia sekarang harus berbagi penthouse dengan pria yang matanya baru saja menunjukkan sesuatu yang bukan urusan profesional.
"Saya butuh pakaian, Tuan. Saya tidak bisa memakai bathrobe ini semalaman," kata Ayu.
Lingga kembali ke lemari pakaiannya, mengambil t-shirt putih polos dan sepasang celana training baru. Jaraknya yang dekat dengan lemari itu hanya beberapa langkah dari Ayu.
"Ini," Lingga menyerahkannya ke Ayu, menghindari kontak mata. "Bawaan pabrik, belum pernah kupakai. Ukuran ini seharusnya tenggelam di tubuhku, tapi mungkin pas untukmu."
Ayu mengambil pakaian itu. Ia memasuki kamar tamu yang besar itu dan segera mengunci pintu.
Satu jam kemudian, Ayu keluar. Ia mengenakan kaus kebesaran Lingga yang melorot di bahunya dan celana training yang harus ia ikat kencang di pinggang. Lingga sedang duduk di sofa ruang tamu.
Lingga, yang sedang meninjau dokumen di sofa ruang tamu, mendongak. Matanya yang tajam langsung terpaku pada penampilan Ayu.
Ia mengenakan kaus oversized Lingga yang melorot di bahu kanannya dan celana training hitam yang harus ia ikat kencang-kencang di pinggang agar tidak melorot.
Kaos itu tidak hanya kebesaran, tetapi juga sangat... longgar.
Lingga segera menguasai ekspresinya, mengambil napas, dan menahan setiap reaksi fisik yang mendesak. "Kau terlihat... seperti remaja yang kabur dari rumah," komentarnya, berusaha terdengar datar.
Namun, di dalam diri Lingga, ada kekacauan yang tiba-tiba meledak.
Melihat Ayu dalam kaus tipis yang kebesaran itu, mata Lingga tanpa sengaja menangkap garis bahu yang terekspos dan, yang jauh lebih berbahaya, siluet di balik kain kaus.
Kaus itu melambai lembut, dan terlihat jelas olehnya bahwa Ayu tidak mengenakan bra.
Bahaya!
***
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....