Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Pengorbanan yang Tak Dihargai"
Dewi masih duduk di tepi kasur, mata memandang surat Arif yang sudah kusam karena terkena air mata. Saat kata-kata Bu Siti masih terngiang-ngiang di telinganya, bayangan masa lalu lagi-lagi menyergapnya—bayangan ketika ia merasa segala sesuatu mulai berjalan baik, sebelum kenyataan kembali memukulnya dengan keras.
Itu adalah masa ketika ia sudah setahun bekerja. Setiap bulan, ia menabung sebagian gajinya dengan tekun, sambil Arif juga memberi modal sedikit dari pekerjaan serabutan yang jarang ia lakukan. Akhirnya, mereka bisa membeli motor baru dengan cicilan setahun—motor yang akan diangsur oleh Dewi dari gajinya, seperti yang ia janjikan. Saat motor itu pertama kali tiba di rumah, mereka berdua tersenyum lebar, berfoto bersama, dan Arif bahkan membawanya berkeliling desa untuk menunjukkan kebanggaan mereka.
“akhirnya kita punya motor baru juga , sayang,” ujar Arif dengan senang hati, memegang setir motor. Dewi duduk di belakangnya, menggenggam pinggangnya dengan erat. Ia merasa seperti semua kerja kerasnya selama setahun itu berharga—ini adalah bukti bahwa mereka bisa membangun sesuatu bersama, meskipun kecil. “Terima kasih, Arif. Semoga kita bisa membeli lebih banyak hal yang baik nanti,” katanya dengan senyum.
Namun kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa bulan. Pada suatu pagi, Bu Siti tiba-tiba datang ke rumah dengan wajah pucat dan berkeringat. Ia membawa tas anyaman yang sama, tapi kali ini isinya bukan makanan atau hadiah—melainkan tumpukan surat hutang yang tebal.
“Arif, Arto, aku punya masalah besar,” ujar Bu Siti dengan suara yang bergetar, menangis. “Aku punya hutang yang lumayan besar. Bukan cuma di bank, tapi juga di beberapa tempat lain.”
Arif terkejut, berdiri dengan cepat. “Berapa banyak, Bu? Bagaimana bisa sampai begini?” tanyanya dengan suara yang gemetar. Sedikit kemudian, Arto juga datang—disertai istri nya Nia yang sedang membawa anak balita mereka. Nia adalah anak dari keluarga yang dikenal suka bekerja kasar, tapi di rumahnya sendiri, ia tidak pernah membantu pekerjaan rumah sedikitpun. Bu Siti juga tak pernah berani menyuruhnya, karena ibunya Nia terkenal sebagai orang yang “sangat mengerti adat” dengan kesan sok tahu yang sulit dihindari.
“Sama-sama denger ya, Arif, Arto. Hutang aku sekitar 20 juta selain hutang bank yang 15 juta,” ujar Bu Siti, mengeluarkan semua surat hutang. “Aku tidak tahu bagaimana mau membayarnya. Kalau tidak dibayar bulan depan, mereka akan mengambil motor kita,”
Saat itu, ruangan menjadi penuh dengan kegaduhan. Arto marah, menunjuk jari ke ibunya. “Kenapa kamu tidak bilang duluan, Bu? Kok sampe segini baru kabarin? Kita juga punya kebutuhan sendiri loh!” teriaknya. Nia yang berdiri di belakangnya langsung menyela, matanya menyala dengan kemarahan. “Aku tidak mau ikut terlibat dalam hutang ini, Arto! Kita sudah punya anak yang masih kecil, dan gajimu juga tidak banyak. Jangan bawa masalah orang tua ke rumah kita!”
“Tapi dia ibuku, Nia! Bagaimana bisa aku tinggalkan dia?” jawab Arto, suara juga mulai naik. Pertengkaran antara Arto dan Nia semakin memanas, sementara Bu Siti hanya menangis di sudut ruang tamu. Arif berdiri tertekan, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dewi yang mendengar semua itu dari dapur pun keluar, wajahnya penuh kekhawatiran.
“Kenapa bisa ada hutang begini, Bu?” tanya Dewi dengan suara yang lemah. Bu Siti hanya mengangguk, menangis semakin deras. “Aku butuh uang untuk perawatan kaki yang sakit, sayang. Dan juga untuk kebutuhan lain yang tidak terduga. Aku tidak punya siapa-siapa kecuali anak-anakku.”
Tanpa disadari, Arif dan Arto mulai bertengkar juga—saling menyalahkan siapa yang lebih harus menanggung hutang ibunya. Arto berkata bahwa ia sudah punya anak balita yang membutuhkan banyak biaya, sedangkan Arif belum ada anak. Arif membalas dengan mengatakan bahwa gajinya tidak tetap, sedangkan Arto bekerja di kantor yang lebih stabil. Mereka saling memaki, benda-benda kecil terjatuh, dan anak balita Nia mulai menangis karena takut.
Saat pertengkaran mencapai puncaknya, pintu rumah dibuka dengan keras. Masuklah Pak Hasan, tetua desa yang diundang oleh tetangga yang mendengar kegaduhan. “Cukup! Semua diam!” teriaknya dengan suara yang tegas, membuat semua orang berhenti seketika.
Pak Hasan mendengarkan semua cerita dengan tenang, lalu melihat Bu Siti dan kedua anaknya. “Hutang ini adalah tanggung jawab semua anak, tapi karena anak perempuanmu sudah menikah di luar desa dan sulit dihubungi, maka tanggung jawabnya jatuh pada kedua anak laki-laki,” ujarnya. “Hutang selain bank (20 juta) akan dibagi dua—masing-masing 10 juta. Hutang bank (15 juta) juga dibagi dua. Begitu keputusannya. Tidak ada pertanyaan lagi.”
Kabar itu membuat Dewi syok. Mereka masih punya cicilan motor yang belum lunas dan sekarang harus menanggung hutang mertua sebanyak 17,5 juta. Tapi meskipun begitu, ia tidak mengeluh. Ia merasa sudah menjadi kewajiban sebagai anak kepada orang tua mertua, meskipun ia bukan anak kandungnya. “Baiklah, Bu. Kita akan cari cara untuk membayarnya bersama Arif,” katanya dengan tenang, meskipun hatinya terasa berat.
Sejak itu, Dewi mulai bekerja lebih keras. Ia sering lembur di kantor sampai larut malam, hanya untuk mendapatkan uang lembur yang bisa ditambahkan ke uang cicilan dan hutang. Setiap hari, ia bangun lebih awal dan pulang lebih malam, tidak punya waktu lagi untuk merawat dirinya sendiri atau bersantai bersama Arif. Arif kadang membantu dengan pekerjaan serabutan, tapi hanya sesekali—ia masih lebih suka keluar bersama teman-temannya.
Akibat terlalu sering lembur, tubuh Dewi mulai melemah. Ia sering merasa pusing, pingsan tanpa alasan, dan nyeri di perut yang disebabkan tumornya semakin parah. Suami dan mertuanya hanya menyuruh ia istirahat sebentar, tapi tidak pernah benar-benar memperhatikan kesakitannya. “Kamu cuma lelah doang, Dewi. Istirahat sehari pasti baik lagi,” ujar Bu Siti sekali ketika ia pingsan di dapur.
Pada akhirnya, tubuh Dewi tidak bisa menahannya lagi. Dokter menyuruh ia berhenti bekerja sepenuhnya, karena tumornya sudah semakin memburuk dan butuh perawatan yang lebih intensif. Dewi merasa putus asa—hanya 2 bulan lagi cicilan motornya lunas, tapi ia tidak bisa melanjutkan bekerja. Hutang mertua untuk bagian Arif juga baru setengah lunas, dan Arif tidak punya uang cukup untuk membayarnya sendirian.
“Mau bagaimana lagi, sayang? Aku sudah tak sanggup kerja lagi,” katanya kepada Arif dengan suara yang lemah. Arif hanya mengangkat bahu, terlihat tertekan tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. “Ya sudah, kita cari cara lain aja. Mungkin aku minta pinjaman ke teman.”
Dan sekarang, di kamar yang kosong itu, Dewi tersadar. Ia sudah mati-matian bekerja untuk membayar hutang mertua, bahkan sampai tubuhnya melemah dan harus berhenti kerja. Tapi apa balasannya? Bu Siti datang dan menyalahkannya karena terlalu keras kepada Arif, seolah semua kesalahan yang terjadi adalah karena dirinya. Tidak ada yang menghargai usahanya—tidak Arif, tidak Bu Siti, bahkan tidak Arto dan Nia.
Ia memegang surat Arif lagi, kata-kata “aku akan kembali besok” terasa semakin hampa. Semua masa lalu yang penuh kerja keras dan pengorbanan itu seolah tidak berarti apa-apa. Ia menangis lagi, tangis yang penuh kesedihan dan kekecewaan. Mengapa ia selalu harus mengorbankan dirinya untuk orang lain, padahal tidak ada yang mau mengorbankan diri untuknya? Mengapa kebahagiaan yang ia inginkan selalu begitu jauh dari jangkauan?
Jam di dinding menunjukkan jam sepuluh pagi. Hari masih panjang, dan ia harus menghadapinya sendirian. walaupun sekarang cicilan motor nya sudah lunas beberapa bulan yang lalu, ia masih kepikiran dengan hutang nya yang masih belum selesai, dan tentang Arif , Dewi pun sudah tidak tau. Hatinya terjebak di antara masa lalu yang penuh pengorbanan dan masa depan yang tidak jelas—seperti orang yang hilang di hutan tanpa kompas, tidak tahu arah mana yang harus diambil.