---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Langit kota kecil itu sudah hampir gelap ketika suara mobil berhenti di depan rumah besar keluarga Nirmala. Lampu-lampu taman menyala, memberikan nuansa hangat yang menenangkan.
Namun suasana hati Daren sama sekali tidak tenang. Begitu ia turun dari mobil, langkahnya langsung cepat memasuki halaman.
Pintu depan terbuka. Nirmala keluar dengan wajah pucat bercampur lega. Mata mereka bertemu—dan tanpa menunggu, ia langsung menghampirinya.
“Daren…” ucapnya lirih.
Daren mengulurkan tangan, menyentuh bahunya. “Kamu nggak apa-apa?”
Nirmala menggeleng pelan. “Tadi aku takut sekali. Dia… benar-benar ada di sini.”
Daren menarik napas tajam, rahangnya mengeras. “Aku nggak akan biarkan dia sentuh kamu lagi. Tidak sekarang, tidak nanti.”
Walau kata-katanya tegas, Nirmala bisa merasakan kekhawatiran dalam suara itu. Untuk sesaat, ketakutannya memang mereda. Ada seseorang yang datang untuknya. Ada seseorang yang ia tahu tidak akan membiarkannya sendirian dalam bahaya.
---
Di dalam rumah, Ayah Nirmala keluar dari ruang kerja begitu mendengar suara mobil. Begitu melihat Daren berdiri di ruang tamu bersama anaknya, ia tahu bahwa apa pun yang terjadi sebelumnya pasti serius.
“Kamu datang cepat sekali,” ucap Pak Wira, ayah Nirmala, dengan tatapan penuh kekhawatiran.
“Ada sesuatu yang mengikuti Mala,” jawab Daren lugas. “Saya nggak bisa diam saja di ibu kota.”
Ayahnya terdiam sesaat, lalu menatap putrinya. “Mala… benar itu?”
Nirmala mengangguk pelan. “Aku rasa mereka mulai bergerak, Yah.”
Kekhawatiran yang sudah lama tertahan di mata Pak Wira langsung terlihat jelas. Selama ini ia tahu istrinya—Melisa Sundari—dan anak tirinya, Aurelia, punya kebencian tak masuk akal kepada Nirmala.
Ia tahu Melisa ingin mengambil semua harta, dan ia tahu istrinya itu mampu melakukan lebih dari sekadar siasat kotor. Namun ia tidak pernah menyangka semua ini akan sampai pada tahap membahayakan nyawa.
“Kita masuk ke ruang kerja,” ujar Pak Wira akhirnya. “Di sana lebih aman.”
---
Ruang kerja besar itu kedap suara, dengan dinding tebal dan jendela kecil yang sulit diintip dari luar. Di situlah mereka akhirnya duduk bertiga—Pak Wira di kursinya, Daren dan Nirmala di kursi tamu berhadapan dengan meja besar.
“Ayah rasa… keadaan sudah semakin berbahaya,” ucap Pak Wira perlahan. “Kamu benar memanggil Daren.”
Mala menunduk, memeluk kedua tangannya. “Aku takut, Yah. Dia muncul di kebun teh. Dia menatap aku seperti waktu itu… ”
Daren mengepalkan tangan. “Saya nggak bisa biarkan hal itu terjadi lagi. Dan saya sudah punya satu usulan.”
Mata Pak Wira terangkat. “Apa itu?”
“Bodyguard.”
Nirmala langsung menoleh cepat. “Bodyguard? Untuk aku? Terlalu mencolok, Ren.”
“Justru itu gunanya,” balas Daren tegas. “Kamu sedang dalam ancaman. Saya sudah lihat sendiri bagaimana Roy bisa mendekat tanpa kamu sadari. Kalau dia bisa datang sekali, dia bisa datang lagi.”
Pak Wira menghela napas, wajahnya semakin serius. “Ayah setuju dengan Daren.”
Nirmala memandang ayahnya tidak percaya. “Yah… aku nggak suka dikawal. Aku bisa jaga diri. Lagi pula aku takut bodyguardnya malah bikin orang-orang curiga.”
“Mala,” ucap ayahnya pelan, “ayah tidak mau kehilangan kamu. Ayah sudah lihat bahaya ini semakin besar. Melisa bukan hanya serakah. Ia sudah mulai nekat.”
Nama itu membuat ruangan terasa lebih dingin.
Melisa Sundari, ibu tiri Nirmala, sudah lama berambisi mengambil seluruh harta keluarga. Dan kedatangan Daren—seorang pria yang tidak dikenal Melisa—membuat perempuan itu semakin yakin bahwa semua warisan akan jatuh ke tangan Nirmala sepenuhnya.
Dan itu membuat rencananya semakin gelap.
---
Sementara mereka berbicara, di rumah besar keluarga sebelah kota, Melisa duduk di ruangannya sambil mengepalkan tangan.
“Dia datang lagi?” Melisa mengulang perkataan anak buahnya.
“Ya, Bu. Pria itu kembali. Sepertinya dia suami Nirmala, tapi… kami belum tahu pasti.”
Melisa tertawa kecil, sinis. “Tentu saja dia datang. Gadis itu memang pembawa sial. Bahkan suaminya pun ikut menghambat rencanaku.”
Aurelia, anak kandung Melisa, duduk di sofa dengan wajah kesal. “Mama, kalau terus begini, harta itu nggak akan pernah kita dapat!”
Melisa menatap putrinya dengan mata tajam. “Tenang. Kita akan dapat semuanya. Ayahmu sudah terlalu lama mengabaikan kita dan memihak anak perempuan itu.”
Ia berdiri, mendekati jendela sambil berkata, “Sekarang kita butuh sekutu baru. Seseorang yang tidak punya belas kasihan.”
“Siapa?” tanya Aurelia ragu.
“Namanya…” Melisa tersenyum dingin. “Gio Arman. Dia bisa melakukan apa pun—asal dibayar.”
---
Kembali ke ruang kerja, suasana semakin tegang.
“Jadi kamu setuju pakai bodyguard?” tanya Daren, menatap Nirmala tanpa berkedip.
Nirmala menggigit bibir. “Hmm… tapi jangan terlalu mencolok. Aku nggak mau jalan-jalan ke pasar aja diikuti orang bertubuh besar pakai kaca hitam.”
“Tenang,” jawab Daren, agak tersenyum untuk pertama kalinya sejak datang. “Saya akan pilihkan yang profesional, tapi tidak mencolok. Bisa menyamar sebagai pekerja kebun, supir, atau apa pun yang tidak menarik perhatian.”
Pak Wira mengangguk mantap. “Itu ide bagus. Ayah setuju.”
Nirmala akhirnya menyerah. “Baik… aku setuju. Asal mereka tidak membuat orang curiga.”
Daren mengangguk. “Saya yang urus semuanya. Mulai besok, kamu tidak akan sendirian lagi.”
Meski masih merasa canggung, Nirmala akhirnya mengembuskan napas lega. Dengan adanya Daren, ayahnya, dan nanti bodyguard yang tersembunyi, ia merasa sedikit lebih aman.
Namun di luar sana, rencana Melisa sudah berkembang jauh lebih gelap dari dugaan mereka.
Dan kedatangan Daren… justru membuat Melisa semakin yakin bahwa waktunya untuk menyerang sudah tiba.
Assalamualaikum selamat pagi
Selamat membaca ..