Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.
Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.
Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.
Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.
Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?
Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Michelle berjalan-jalan mencari keberadaan Sisca. Namun sudah sekitar satu jam dia berkeliaran di hutan itu dan tidak menemukan jejak Sisca sedikitpun.
"Akh! Kemana lagi itu orang? Kok bisa dia melarikan diri secepat itu? Sepertinya dia sudah keluar dari dalam hutan ini. Mungkin lebih baik aku langsung pulang saja."
Michelle meninggalkan hutan itu. Dia sudah kembali ke rumahnya. Pikirannya sangat kacau. Dia memikirkan bagaimana nanti jika rahasianya sampai bocor dan diketahui oleh banyak orang. Hancur sudah reputasinya.
Orla datang di saat itu juga. Dia melihat gadis itu sedang duduk di tepi ranjang dan mengobati luka di telapak tangannya.
"Kamu kenapa? Apa kau sedang terluka?" tanyanya. Dia mendekati Michelle.
"Iya. Sahabatku sudah mengetahui semua rahasiaku. Aku tadi ingin menghabisi nyawanya juga. Tapi gagal. Dan sekarang dia berhasil lolos. Aku khawatir dia akan melaporkan masalah ini ke polisi."
"Kamu tenang saja. Mari kita buat rencana baru untuk membunuh dia. Omong-omong, bagaimana dia bisa tau semua rahasiamu?"
"Dia memasuki ruangan koleksi mayat. Dia melihat ada mayat Kimberly di dalam sana. Tentu saja dia menaruh curiga dan berpikir yang buruk terhadap ku. Lalu aku mengaku bahwa memang aku yang sudah membunuhnya."
"Lebih baik sekarang kamu langsung istirahat. Jika perlu besok kau harus berobat ke rumah sakit. Takutnya lukamu itu akan infeksi."
"Ya, terimakasih."
"Aku pergi dulu."
...****************...
Tubuh Sisca hanyut hingga ke tepi sungai yang terletak tidak jauh dari permukiman warga. Kesadarannya sudah mulai kembali.
Dia memegangi lengan kirinya yang sudah tidak utuh lagi itu. Setidaknya ia masih bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan.
"Akh, sakit sekali. Michelle memang benar-benar sangat kejam. Bahkan aku yang sahabatnya saja dia tetap tega ingin membunuhku juga. Benar-benar keterlaluan."
"Aku tidak akan membiarkan dia hidup tenang begitu saja. Aku akan melaporkannya ke polisi. Biar dia tau rasa bagaimana mendekam di balik jeruji besi."
"Lagian hidupku juga enggak bakal sempurna lagi karna dia. Tanganku sudah putus. Untung nyawaku tidak ikutan putus."
"Aku tau. Mungkin aku bisa meminta pertolongan kepada Edward. Istrinya kan meninggal karna dibunuh oleh Michelle. Aku bisa mengajak lelaki itu untuk bekerjasama denganku."
"Rasakan pembalasan dendamku, Michelle. Kamu sudah sangat keterlaluan. Jadi kamu pantas mendapatkannya." ucapnya dengan tersenyum menyeringai.
Dia berjalan dengan terhuyung-huyung. Dia berharap dirinya akan bertemu dengan orang baik yang benar-benar ingin membantunya.
Ada dua orang pria sedang berjalan dengan membawa cangkul beserta keranjang yang berisikan bibit-bibit tanaman.
Mereka melihat keadaan Sisca yang mengenaskan. Mereka tampak tidak tega melihat gadis itu yang berjalan terhuyung-huyung sambil memegangi lengannya.
"Mbak, tangannya kenapa? Apa ada yang bisa kami bantu?"
"Tangan saya terpotong. Malam tadi saya hampir dibunuh oleh seseorang. Saya mohon tolong bantu saya. Saya tidak ingin bertemu dengan orang jahat itu lagi. Tolong bantu saya."
"Baiklah mbak. Kami akan membantu mbak. Mari ikuti kami."
Mereka membawa Sisca ke salah satu rumah dari rumah mereka berdua. Mereka memberi gadis itu makanan dan minuman. Serta mengobati lukanya dan membalutnya dengan perban.
"Terimakasih atas bantuan ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian. Saya tidak tau kalau tidak ada kalian bagaimana dengan nasib saya kedepannya. Saya berterimakasih yang sebesar-besarnya."
"Sama-sama, mbak. Memang sudah kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling menolong."
Sisca sudah bisa pulang ke rumahnya. Namun dia tak ingin langsung pulang ke sana. Takutnya Michelle nanti malah mendatangi rumahnya untuk menghabisi nyawanya.
Maka dari itu ia lebih memilih untuk pulang ke apartemen miliknya yang tidak diketahui oleh Michelle.
Singkat cerita, dia sudah sampai di apartemennya. Dia pikir dengan ia tinggal disini untuk sementara waktu itu jauh lebih aman dibandingkan pulang ke rumahnya yang berada di kota B.
Sisca langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Ia sudah sangat kelelahan. Bahkan nyawanya belum terkumpul semua.
Dia sudah menelepon dokter pribadinya untuk datang ke sini tanpa sepengetahuan yang lainnya. Bahkan dia bilang ke dokter itu untuk tidak memberitahu Michelle juga tentang kesehatannya ataupun keberadaannya.
Dikarenakan dokter itu adalah sahabat dekatnya semenjak SMA. Dokter itu bernama Chris. Dia juga merupakan sahabatnya Michelle.
Mereka bertiga sudah lama bersahabat semenjak SMA. Dulu mereka sering bermain bersama. Nongkrong dan minum kopi di basecamp.
Namun, karena Chris harus pindah melanjutkan kuliah di luar negeri, mereka bertiga jadi jarang ketemu. Apalagi sekarang mereka bertiga sudah sibuk dengan karier masing-masing.
Dulu dokter Chris sempat bekerja di rumah sakit yang berada di Singapore selama kurang lebih satu tahun sebelum akhirnya pulang ke Indonesia.
Dokter Chris sudah tiba. Sisca membukakan pintu untuk lelaki itu. Ia mempersilakannya untuk masuk ke dalam.
"Halo Sisca"
"Ini sangat menyedihkan. Kita kembali bertemu karna kau menjadi pasienku. Dan,..terlebih lagi karna tanganmu terpotong seperti ini."
"Rasanya sangat sakit, Chris. Lengan kiriku bahkan sudah mati rasa."
"Tenang saja aku akan segera mengobatinya." ucapnya sambil memeriksa perlengkapan pengobatan yang dibawanya tadi.
"Kenapa bisa sampai seperti ini, Sis? Ini kamu yang ceroboh atau orang lain yang melukaimu?"tanyanya sambil mengobati luka gadis itu.
"Ada seseorang yang melukaiku. Kau bahkan sangat mengenal orang itu, Chris. Bahkan dia termasuk serangkai dengan kita."
"Serangkai dengan kita? Apa maksudmu Michelle? Ah, aku tidak yakin Michelle melakukan ini."
"Terserah kau saja mau percaya atau tidak. Tapi begitulah kenyataannya. Dia yang sudah melukaiku."
"Bahkan asal kau tau, dia sekarang sudah jadi psikopat. Kau tau tentang berita kematian Kim?"
"Iya, kenapa?"
"Dialah dalang di balik kematiannya Kim. Dia yang sudah membunuh Kim hanya karna dia mencintai Edward. Aku sangat menyesal pernah bersahabat dengan seorang psikopat sepertinya."
"Kalau benar begitu faktanya, aku sungguh tidak respect lagi kepadanya. Dia seorang gadis baik yang kukenal ternyata tega melakukan itu semua."
"Lalu, apa langkahmu selanjutnya? Apa kau akan melaporkan ini ke pihak yang berwajib?"
"Tentu saja aku tidak akan tinggal diam. Tapi, aku butuh bukti yang cukup untuk menjebloskan nya ke penjara. Aku juga sudah hampir mati karna dia."
"Michelle mengoleksi mayat Kimberly di sebuah ruangan khusus di rumahnya. Jika itu dijadikan bukti, tentu saja tidak semudah itu. Karna sudah pasti dia akan memindahkannya saat ini juga. Aku yakin itu." tambahnya.
"Kamu tenang saja, Sisca. Aku akan membantumu untuk menyelesaikan masalah ini. Orang seperti dia memang harus dihukum mati. Sebelum korbannya jadi tambah banyak."
"Terimakasih Chris kamu sudah mendukung dan berpihak kepadaku."
"Sama-sama. Kita teman. Kita harus saling membantu. Kabari saja aku jika kamu butuh bantuan. Kapanpun dan dimanapun itu aku pasti akan datang."