NovelToon NovelToon
Voice From The Future

Voice From The Future

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Romansa Fantasi / Teen School/College / Time Travel / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Amamimi

Renjiro Sato, cowok SMA biasa, menemukan MP3 player tuanya bisa menangkap siaran dari masa depan. Suara wanita di seberang sana mengaku sebagai istrinya dan memberinya "kunci jawaban" untuk mendekati Marika Tsukishima, ketua kelas paling galak dan dingin di sekolah. Tapi, apakah suara itu benar-benar membawanya pada happy ending, atau justru menjebaknya ke dalam takdir yang lebih kelam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amamimi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Studio Rahasia dan Dua Sisi Bulan

Tiga hari berlalu sejak Ren dan Marika membuat perjanjian rahasia itu.

Ruang OSIS kini memiliki fungsi ganda. Dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, itu adalah pusat administrasi sekolah. Tapi begitu jarum jam menyentuh angka 4 lewat 15—saat Sugawara dan anggota lain sudah pulang—ruangan itu berubah.

Tirai jendela ditutup rapat. Bau kertas berganti dengan bau cat akrilik dan penghapus karet.

Renjiro Sato duduk di meja Marika, dikelilingi tumpukan proposal kegiatan klub yang menggunung. Dia sedang mengetik rekapitulasi mingguan—tugas yang seharusnya dikerjakan Ketua. Matanya lelah, tapi dia bekerja dalam diam, hanya suara keyboard yang terdengar.

Di sudut ruangan, Marika duduk menghadap kanvas berukuran sedang. Dia mengenakan celemek tua di atas seragam sekolahnya agar tidak kotor. Rambutnya diikat asal-asalan dengan jepit rambut, menyisakan beberapa helai yang jatuh menutupi wajahnya.

Sret. Sret. Hapus. Sret lagi.

Suara kuas yang beradu dengan kanvas terdengar kasar. Marika mendesah frustrasi untuk kesekian kalinya.

Ren berhenti mengetik. Dia tidak langsung berkomentar. Dia hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap layar laptopnya. Dia tahu seniman butuh ruang, bukan gangguan.

"Warnanya salah," gumam Marika pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Ini terlalu... kaku."

Marika meletakkan kuasnya dengan kasar. Dia memijat pelipisnya. Bahunya merosot turun.

Melihat itu, Ren akhirnya berdiri. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia berjalan ke lemari pendingin kecil di pojok ruangan, mengambil dua botol teh hijau.

Dia berjalan mendekati Marika, lalu meletakkan satu botol dingin itu di meja kecil di samping kanvas.

"Istirahat dulu," kata Ren tenang. "Matamu udah merah."

Marika mendongak. Wajahnya tampak lelah, ada noda cat kecil di pipinya.

"Terima kasih," jawab Marika singkat. Dia membuka botol itu dan meminumnya sedikit. "Aku... aku merasa macet. Waktunya tinggal sedikit, tapi konsepnya belum matang."

Ren menarik kursi lipat dan duduk di jarak yang wajar di samping Marika. Dia menatap kanvas itu.

Lukisan itu berjudul "Dua Sisi Bulan".

Di tengah kanvas, ada gambar seorang gadis yang terbelah dua. Sisi kiri gadis itu terlihat sempurna: seragam rapi, postur tegak, dengan latar belakang rak buku yang tertata simetris. Warnanya didominasi abu-abu, putih, dan biru dingin.

Sisi kanan gadis itu berbeda. Rambutnya terurai berantakan, matanya tertutup seolah sedang bermimpi. Latar belakangnya adalah ledakan warna—merah, kuning, ungu—yang abstrak dan liar.

"Bagus kok," komentar Ren jujur. "Kontrasnya kerasa banget."

"Bukan itu masalahnya," Marika menatap lukisannya dengan tatapan kritis. "Sisi yang 'liar' ini... rasanya palsu. Aku nggak pernah benar-benar merasa bebas. Jadi pas aku coba gambar kebebasan, hasilnya malah kelihatan maksa."

Marika menunduk menatap tangannya yang belepotan cat.

"Mungkin Ibu benar. Aku cuma bisa jadi anak penurut. Aku nggak punya jiwa seni yang asli."

Ren diam sejenak, membiarkan Marika mengeluarkan uneg-unegnya. Ren yang sekarang tidak akan mengeluarkan gombalan. Dia memilih pendekatan realistis.

"Kamu tau nggak, Marika," kata Ren pelan. "Orang yang paling pengen bebas itu biasanya orang yang paling terkekang. Rasa frustrasi kamu, rasa capek kamu jadi anak penurut... itu juga bentuk emosi."

Ren menunjuk sisi kanan lukisan yang penuh warna itu.

"Jangan coba gambar 'kebebasan' kalau kamu belum ngerasain itu. Gambar aja apa yang kamu rasain sekarang. Marah? Capek? Pengen teriak? Tumpahin aja di situ."

Marika tertegun. Dia menatap Ren, lalu kembali menatap lukisannya.

"Tumpahkan amarah..." gumamnya.

Marika mengambil pisau palet (alat untuk mencampur cat). Dia mengambil gumpalan cat merah tua yang tebal.

Dengan ragu-ragu, dia menggoreskan cat itu ke bagian latar belakang yang warna-warni. Goresannya kasar, menimpa warna-warna cerah yang sudah ada.

Lalu dia melakukannya lagi. Dan lagi.

Gerakannya semakin cepat. Napasnya memburu. Dia tidak lagi mencoba membuat gambar yang indah. Dia melampiaskan kekesalannya pada semua aturan, pada ibunya, pada ekspektasi orang-orang.

Sisi kanan lukisan itu berubah. Bukan lagi warna-warni ceria yang palsu, tapi menjadi campuran warna gelap dan intens yang bergejolak. Terlihat kacau, tapi sangat bertenaga. Sangat jujur.

Marika berhenti, napasnya tersengal. Dia mundur selangkah.

Lukisan itu kini terlihat jauh lebih hidup. Sisi "rapi" yang dingin kontras sekali dengan sisi "emosional" yang meledak-ledak.

"Ini..." Marika menatap karyanya sendiri dengan mata membelalak. "Ini berantakan."

"Tapi keren," kata Ren simpel. "Itu baru jujur."

Marika menoleh ke Ren. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tulus. Bukan senyum sopan Ketua OSIS, tapi senyum lega seorang Marika.

"Makasih, Ren," katanya pelan. Panggilan 'Ren' keluar begitu saja tanpa dia sadari.

Ren hanya mengangguk. "Sama-sama."

TOK. TOK. TOK.

Suara ketukan pintu membuyarkan momen itu. Ren dan Marika membeku.

"Ketua? Sato-kun?" Suara Sugawara terdengar dari luar. "Kalian masih di dalam? Lampunya menyala."

Marika panik. "Sugawara! Kalau dia masuk dan lihat ini..."

Dia menunjuk kanvas dan celemek kotornya. Kalau Sugawara yang taat aturan tahu ruang OSIS dipakai untuk kepentingan pribadi, dia pasti akan merasa wajib melaporkannya ke pembina OSIS.

"Tenang," bisik Ren. Dia berdiri dengan tenang. "Kamu diem di sini. Umpetin celemeknya di balik meja."

Ren berjalan menuju pintu. Dia membuka pintu itu sedikit, hanya cukup untuk kepalanya menyembul keluar, menghalangi pandangan Sugawara ke dalam ruangan.

"Yo, Sugawara," sapa Ren santai.

Sugawara berdiri di sana sambil memegang buku catatan. "Sato? Sedang apa kalian sampai jam segini?"

"Lembur," jawab Ren lancar, wajahnya datar tanpa kepanikan. "Ketua lagi nggak enak badan, jadi kerjanya agak lambat. Aku nemenin dia beresin proposal festival olahraga bulan depan."

Sugawara mengerutkan kening, mencoba mengintip ke dalam. "Sakit? Perlu saya panggilkan dokter? Atau saya bantu?"

Ren menggeser badannya sedikit, benar-benar memblokir celah pintu.

"Nggak usah. Dia cuma butuh ketenangan. Tahu sendiri kan kalau dia lagi bad mood karena kerjaan numpuk? Kalau diganggu, bisa meledak."

Sugawara bergidik ngeri membayangkan amukan Marika. "Ah... saya mengerti. Baiklah kalau begitu. Saya cuma mau ambil buku paket yang ketinggalan."

"Besok aja," kata Ren tegas. "Sekarang mending kamu pulang. Biar aku yang urus di sini. Aman kok."

Sugawara menatap Ren sejenak. Ada keraguan di matanya, tapi kemudian dia mengangguk. Dia percaya pada Ren.

"Baiklah. Titip salam buat Ketua. Jangan dipaksa kalau sakit."

"Sip. Hati-hati di jalan."

Ren menutup pintu dan menguncinya kembali. Klik.

Dia bersandar di pintu sambil menghela napas panjang.

"Aman," kata Ren pada Marika.

Marika keluar dari balik meja, wajahnya pucat. "Hampir saja..."

"Sugawara itu teliti, tapi untungnya dia gampang percaya sama temen," kata Ren sambil berjalan kembali ke mejanya.

Marika menatap Ren yang langsung duduk dan bersiap mengetik lagi.

"Kamu bohong demi aku," kata Marika pelan.

"Bohong demi kebaikan," koreksi Ren tanpa menoleh. "Lagipula, aku nggak sepenuhnya bohong. Kamu emang lagi ngerjain sesuatu yang penting, kan?"

Marika menatap lukisannya yang setengah jadi, lalu menatap punggung Ren yang sedang mengerjakan tugas-tugas OSIS miliknya.

Dadanya terasa hangat. Perasaan ini... rasa aman ini... belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia selalu merasa harus berjuang sendirian melawan dunia. Tapi sekarang, ada seseorang yang berdiri di pintu, melindunginya agar dia bisa menjadi dirinya sendiri.

"Ren," panggil Marika.

"Ya?"

"Besok... ajari aku main game itu."

Ren menoleh bingung. "Game apa?"

"Game robot yang sering kamu bahas sama Sugawara," kata Marika, wajahnya memerah samar. "Sepertinya... aku butuh hobi lain selain melukis untuk... melepas stres."

Ren tersenyum tipis. Dia tahu Marika cuma ingin punya topik obrolan yang sama dengan dia dan Sugawara.

"Oke. Tapi jangan kaget kalau susah," kata Ren.

"Aku pasti bisa menguasainya dalam sehari," jawab Marika percaya diri, kembali memegang kuasnya.

Malam itu, di ruang OSIS yang sunyi, mereka kembali bekerja. Satu melukis jiwa, satu mengetik laporan. Tidak banyak kata yang terucap, tapi kebersamaan mereka terasa lebih kuat dari sebelumnya.

1
penggemar rahasia
SEMANGATT!!
penggemar rahasia
/Facepalm/
penggemar rahasia
AHAHAH
Celeste Banegas
Bikin nagih bacanya 😍
Starling04
Gemes banget sama karakternya, ketawa-ketiwi sendiri.
Murniyati Mommy
Asyik banget bacanya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!