Charol Voldemir adalah seorang permaisuri yang kejam di Kekaisaran Behati. Diakhir hidupnya, ia dihukum oleh suaminya sendiri, yaitu Kaisar Rudine Voldemir lantaran menyiksa selir kesayangan raja. Merasa tidak adil, Charol bertobat di depan tiang gantungan. Ia mendapat kesempatan mengulang hidup, tetapi ini bukan yang diimpikan. Kejadian masa lalu tidak seperti gambarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seorang Penyihir
"Ratu sungguh keterlaluan. Dia harusnya tahu posisi. Dengan 100 keping emas, itu sama saja beliau ingin Permaisuri menderita," ucap Asha, dengan raut wajah sedih. "Yang Mulia, hal seperti ini harus dilaporkan kepada kaisar."
"Meski aku melapor, Kaisar Rudine hanya akan diam saja. Asha, kau tidak perlu khawatir dengan biaya pengeluaran istana permaisuri. Uang dari perhiasan yang kita jual akan dikirim secara bertahap. Untuk selanjutnya, aku akan cari cara. Kita hanya perlu bertahan sebentar lagi saja," ucap Charol.
"Maaf, Yang Mulia. Jika dibiarkan, maka ratu akan semena-mena pada kita," kata Ariel Deroza.
"Karena memang itulah tujuannya. Aku menamparnya, lalu dia membalas dengan pemotongan anggaran. Jika aku melapor kepada Kaisar Rudine, dia mungkin hanya tertawa. Jadi, percuma saja kita protes. Malam ini, ikutlah bersamaku, Ariel," ucap Charol.
"Baik, Yang Mulia."
Satu keuntungan bagi Charol karena kaisar tidak akan pernah berkunjung ke istana permaisuri ini. Meski ada jadwal kunjungan, Rudine tidak akan pernah datang. Dengan begini, Charol dapat keluar dari Istana Behati.
"Kau sudah siap, Ariel?" tanya Charol.
"Ya, Yang Mulia."
Charol membuka pintu teleportasi dengan sebuah token yang ia punya. Token biasa akan cepat habis dan harus diisi sihir pengisian oleh penyihir di menara kekaisaran. Harganya juga mahal. Namun, Charol tidak perlu repot karena ia punya sihir sendiri.
"Yang Mulia, hati-hati. Ksatria Ariel, aku mohon padamu untuk menjaga Permaisuri," ucap Asha.
"Kau tenang saja." Ariel mempersilakan Charol masuk lebih dulu, barulah ia menyusul. Pintu teleportasi itu lenyap begitu saja bersama permaisuri dan pengawalnya.
Dalam sekejap, keduanya tiba di gang sepi. Charol mengajak Ariel untuk mengikutinya. Keadaan pasar masih ramai di malam hari begini, bahkan anak-anak malang masih menawarkan dagangannya.
"Nyonya, belilah bunga ini. Harganya hanya 1 tembaga saja." Gadis cantik yang malang menawarkan bunga di keranjangnya.
Charol berjongkok agar sejajar dengan anak yang usianya mungkin 6 tahun. "Siapa namamu dan di mana kau tinggal?"
"Namaku Lili dan aku tinggal di bawah gedung itu bersama temanku yang lain." Anak perempuan itu menunjuk gedung kosong yang sudah reot.
"Apa kau sudah makan?" tanya Charol.
"Bungaku belum terjual. Aku bisa makan kalau semuanya laku."
Charol tersenyum. Bunga-bunga di keranjang itu adalah bunga liar yang didapat dari hutan. Anak perempuan ini pergi ke sana tanpa takut pada hewan buas atau monster demi sesuap roti.
"Ikut denganku." Charol mengiringi anak itu menuju kedai makan. Ia membelikannya sebungkus roti, telur dan susu. Charol juga membelikannya kaus kaki wol dan baju hangat, menggantikan pakaian anak itu yang telah rombeng. "Ambillah." Charol memberinya 5 keping uang emas.
"Ini sangat banyak, Nyonya."
"Simpan uangmu untuk beberapa waktu. Kau harus menyimpannya dengan benar," ucap Charol.
"Terima kasih, Nyonya. Terima kasih banyak."
Charol melambaikan tangan, ia pergi meninggalkan anak itu. Tujuannya kali ini adalah kedai minum. Ariel Deroza dibuat kaget karena Charol malah pergi ke tempat yang dihuni banyak pria.
"Yang Mulia, ini tempat yang tidak baik," ucap Ariel.
"Di tempat ini kita bisa menghasilkan uang. Ikut saja denganku." Charol lebih dulu melangkah masuk.
Tempat minum ini memang didatangi oleh pria, tetapi bukan berarti tidak ada wanita. Pemilik kedai minum juga menyewa mereka agar para pria di sini terhibur.
"Mau pesan apa, Tuan-Tuan?" tanya pria berbadan gemuk yang bertugas sebagai penyedia minuman memabukkan.
"Aku ingin menawarkan jasa," ucap Charol.
"Kau perempuan? Kami tidak menerima pelacur lagi."
"Kurang ajar!" Ariel Deroza menghunus pedangnya, ia menawan pria yang berkata tidak sopan itu. Tindakannya ini menjadi pusat perhatian bagi orang lain dan mereka siap dengan pedang sendiri.
"Turunkan pedangmu, Ariel," pinta Charol. Pemuda itu menuruti perintahnya.
"Kalian ini berani sekali membuat keributan di kedai milikku!" Pria gendut ini gusar.
"Kau tidak akan lagi marah setelah ini. Aku menawarkan jasa sihir. Setengah harga dari menara kekaisaran," ucap Charol sembari menunjukkan simbol penyihir di pergelangan tangannya. Simbol itu bisa disembunyikan dan diperlihatkan bila Charol menginginkannya.
"Apa?!" Pemilik kedai ini melirik kiri dan kanan. Ternyata mereka masih menjadi pusat perhatian. "Lanjutkan lagi minum-minumnya, Kawan. Ini hanya kesalahpahaman." Pemilik bar ini menatap wanita di depannya, meski wajah Charol tidak terlalu jelas terlihat. "Maaf atas perkataanku tadi. Ikuti aku, kalian bisa bicara kepada pemilik tempat yang sesungguhnya."
lagi sibuk mungking🤭🦾 kk ren