Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.
Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.
Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Radit Marah
Mata Ari berbinar mendengar apa yang Kiran ucapkan. Meski sedikit banyaknya hal ini sudah bisa diprediksi sebelumnya namun tetap saja ketika kata-kata itu keluar dari bibir Kiran, hati Ari sumringah seketika.
Radit keluar dari kamar Ariana. Bara menelponnya. Padahal baru saja ia ingin mendekati Kiran dan meminta maaf pada gadis itu.
"Radit, sudah aku kirimkan informasi tentang Kiran ke emailmu."
Sebenarnya Radit malas membukanya karena situasi dan kondisi saat ini, membuatnya enggan menginvestigasi Kiran meskipun tidak secara langsung. Begitu pun akhirnya ia mengecek e-mail dari Bara. Lamat-lamat ia mendengar obrolan antara Ari, Kiran dan Ariana. Masih mendiskusikan pernikahan.
Informasi yang diberikan Bara sedemikian detail. Namanya Kiran Irmayasari. Usia 27 tahun. Lulusan Administrasi Perkantoran Perguruan Tinggi Swasta dengan nilai sempurna. Radit berdecak kagum.
Bekerja sebagai sekretaris selama tiga tahun di perusahaan kecil, PT Gold Ribbon Indonesia Corporation ( GRI Corporation ), sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang yang sama dengan perusahan yang Ari pimpin.
Cerdas, ia memilih perusahaan di bidang yang sama agar memiliki pengalaman. Setelah pengalaman itu ia dapatkan, ia segera melamar ke perusahaan Ari.
Gadis itu sedari awal sudah punya target!
Perusahaan terbesar di bidang agrobisnis dan food hanya ada dua di Indonesia. Perusahaan yang Ari pimpin dan perusahaan keluarga Widjaja. Selebihnya perusahaan-perusahaan kecil yang jangkauan pasarnya terbatas.
Agar bisa masuk apalagi menempati posisi yang lumayan bergengsi di perusahaan besar tidak cukup hanya dengan predikat sempurna saja. Fresh Graduate tidaklah cukup.
Kiran mengerti benar akan hal ini, maka sebelum ia melamar di perusahaan Ari, ia menimba pengalaman dulu selama tiga tahun menjadi sekretaris di perusahaan yang lebih kecil. Usahanya tidak sia-sia. Ia sudah di perusahaan Ari sekarang.
Radit menaikkan sebelah alisnya. Informasi itu kini mengungkapkan bahwa Kiran telah memiliki kekasih selama empat tahun. Ia berdecak dalam hati. Mendapati gadis itu sudah sedemikian lama berhubungan dengan lelaki lain namun malah memilih adiknya, Ari. Meskipun tampak jelas bahwa Ari lah yang sangat menginginkannya.
Radit mengernyit membaca tentang apa yang terjadi ketika perjalanan dinas antara Ari dan Kiran lengkap beserta waktunya.
Ternyata mereka sudah tidur sekamar berdua.
Radit menarik senyum sinis di bibirnya. Ternyata Kiran memang tak jauh dari prasangkanya. Wanita mana yang sudah dekat dengan lelaki selama empat tahun lalu rela tidur dengan lelaki lain. Bukankah pasti ada sesuatu dibalik itu semua?
Radit menarik benang merah. Langkah Kiran sudah terbaca. Radit tersentak. Kiran bukanlah gadis polos seperti apa yang kelihatannya.
Jangan-jangan air mata tadi juga kebohongan?
Radit menggeleng pelan. Merasa tak percaya. Adakah gadis mengerikan seperti itu? Apa motivasinya melakukan semua ini?
Radit memijat pangkal hidungnya. Mengingat wajah berbinar Ari dan wajah nanar Ariana. Begitu tergila-gila adiknya pada perempuan itu dan begitu inginnya sang mama untuk punya menantu.
"Ahhh!" Radit mendengkus kesal.
Menyalahkan dirinya telah begitu lalai mengawasi pergerakan Ari. Ia hanya mencontoh sang papa dalam mendidiknya dulu. Namun ternyata metode itu tidak cocok buat Ari. Buktinya ia kecolongan.
Haruskah aku cerita pada Papa?
Radit menimang ponselnya beberapa saat, lalu mengurungkannya. Mengingat sang papa pasti sedang sibuk sekarang. Mengurus rencana expand perusahaan di luar negeri.
Wajah sumringah Ari, tatapan nanar Ariana terngiang lagi dalam ingatannya. Radit mengambil nafas kasar. Memijit pangkal hidungnya lagi.
Baiklah. Ia tak perlu ambil pusing dengan Kiran sekarang. Biarkan saja wanita itu. Ia hanya tidak ingin melihat wajah dua orang yang dicintainya kehilangan harapan. Radit menekan tombol panggil pada ponselnya.
"Bara, pelajari tawaran kerjasama dari pihak bahan baku selain Regan Company. Tawarkan kemungkinan mereka bisa menerima harga yang sama seperti yang ditawarkan pihak Regan. Jika memungkinkan maka tawarkan harga yang lebih murah." Perintah Radit pada Bara melalui ponselnya.
"Ok!" terdengar jawaban dari seberang.
Radit memutuskan sambungan telpon kemudian beranjak ke kamarnya. Ia tidak jadi meminta maaf pada Kiran. Tentu saja, Ia sudah berubah pikiran.
"Tidakkah kita harus berdiskusi dulu dengan Kak Radit, Ma?" tanya Ari di akhir mereka menetapkan sebuah keputusan.
"Mama yang akan bicara pada Radit dan Papa."
Ari menghela nafas lega. Kalau sudah Ariana yang berbicara begitu maka sudah amanlah semua. Karena Papa dan Radit tidak bisa berkutik dengan Ariana.
"Pulanglah, Nak. Kamu tampak lelah sekali," tatap Ariana pada Kiran. Ia memperhatikan wajah sembab dan kuyu gadis di hadapannya ini. Gurat-gurat kelelahan terlihat dengan jelas di sana. Kiran mengangguk.
"Kalau begitu Kiran permisi pulang ya, Nyonya." Mencium punggung tangan Ariana.
"Panggil tante aja Kiran. Ahad nanti kau sudah memanggil tante dengan sebutan mama." Menahan tangan Kiran.
Kiran mengangguk lagi. Kemudian ia bangkit beranjak pergi, Ari mengikuti.
"Ari antar Kiran ya, Ma." Ariana mengangguk mengiyakan.
"Kiran...," panggilnya pelan sebelum Ari dan Kiran keluar dari kamar.
Kiran berbalik, menoleh menatap Ariana. "Terima Kasih sudah menerima Ari."
Kiran mengangguk, melemparkan senyum manis kemudian melangkah pergi.
❇❇❇
Kiran memandang ke luar jendela. Memperhatikan barisan rumah yang seakan bergerak ketika dilewati. Ari tidak jadi mengantarnya karena Radit memanggilnya. Ada yang ingin dibicarakan oleh kakak beradik itu. Kiran akhirnya pulang diantar supir.
Kiran menarik nafas pelan. Ia merasa sangat lelah sekali. Banyak sekali yang terjadi hari ini. Mulai dari kejadian dengan Radit di kantor hingga pingsannya Ariana yang membuat ingatannya terkenang akan kematian papanya.
Peristiwa itu begitu menggores hatinya. Menyebabkan luka menganga yang teramat besar. Luka yang memantiknya menjadi wanita dingin penuh luka. Luka yang ingin ia tulari pada si pembuat luka.
Kesabaran Rangga menemani hari-hari sepinya, menutup sedikit luka itu. Meski tetap saja ia masih menutup diri dan luka itu masihlah menganga dalam hatinya. Menyisakan trauma ketika bersentuhan dengan peristiwa yang mengingatkannya akan peristiwa kematian papanya.
Sementara itu di kamar Radit ....
Wajah Ari tegang, memucat. Ia berjinjit menyender kuat ke daun pintu kamar Radit. Satu kaki kanan Radit masih menggantung di udara dan hampir mengenai lehernya.
Ari baru saja ingin masuk ke dalam kamar Radit, ketika Radit memanggilnya tadi. Namun baru saja ia memasuki kamar, kaki Radit sudah menyambutnya. Radit menanyakan kejadian ketika dirinya dan Kiran tidur bersama di dalam kamar hotel.
"Katakan sejujurnya! Kau tau sendiri. Kakak paling benci kebohongan!" bentak Radit.
"Iya Kak." Menjawab cepat. Tak peduli bagaimana akhirnya. Ari hanya ingin jujur. Bohong pun percuma jika sudah berhadapan dengan Radit.
"Iya apanya?!" tanya Radit.
"Iya. Ari tidur sama Kiran di sana." Mata Radit membulat.
Radit menurunkan kakinya dengan cepat. Lalu menarik kepala Ari dan menghimpitnya di bawah ketiak kiri. Sementara tangan kanannya menjitak kepala Ari.
Pletak!!
"Aww!! Ampun Kaaak!" teriak Ari, meringis menahan sakit. Nafasnya sesak.
"Kau masih ingat pesan Papa, kan? Kau tau konsekuensi melakukan itu, hah?!" pekik Radit garang.
"Iya. Maaf, Kak. Ari khilaf!" jawab Ari lirih.
Radit melepaskan pitingannya pada kepala Ari dengan kasar. Ari bernafas lega. Radit masih menatap Ari murka.
"Kau sudah dewasa. Sudah diberi tahu juga dosa melakukan zina. Dampak yang kau rasakan bukan hanya pada dirimu, tapi juga anak yang mungkin hadir karena perbuatanmu. Kau masih ingat itu, kan?!" bentak Radit.
"Iya kak. Insya Allah gak sampe ada anak kok, Kak," sahut Ari menunduk dalam. Takut menatap mata elang Radit.
"Kau masih bisa menjawab seperti itu, hah?!" mengayunkan tangan, menjitak kepala Ari lagi.
Pletak!!
"Auw!!" Ari meringis, mengusap kepalanya.
"Jangan begini dong, Kak. Ari bisa oon nanti," ucap Ari memelas.
"Kalau pintar, Kau tidak akan melakukan itu!" sahut Radit ketus.
Ari terdiam. Tak berani menjawab lagi. Ia sadar sudah melakukan kesalahan. Namun, jika ia tidak melakukannya maka Kiran tidak akan mau menikah dengannya.
"Aku akan memperhatikanmu. Apa pun yang kau lakukan setelah ini, aku akan tahu. Kau ingat itu, Ari!" bentak Radit.
"Iya Kak. Ari janji. Kejadian itu tidak akan terjadi lagi," sahut Ari.
Radit menatap Ari tajam. "Penuhi janjimu."
Ari mengangguk menatap Radit dengan penuh kesungguhan. Radit menghela nafas pelan. Ia berjalan mendekati sofa lalu duduk di atasnya.
"Masalah dengan Regan, akan Kakak cari jalan keluarnya. Meski sejujurnya Kakak tidak suka dengan Kiran, namun mengumumkan pernikahan akan lebih baik dibandingkan dengan melakukannya secara sembunyi-sembunyi."
Ari menatap Radit tak percaya. Perasaannya membuncah bahagia. Ia menghampiri Radit kemudian memeluknya erat.
"Terima kasih, Kak."
Jika boleh ia ingin menangis sekarang. Namun air mata itu ditahannya. Radit benci jika Ari menangis di depannya. Radit akan mengatainya cengeng. Apapun itu, Ari sangat terharu sekarang.
❇❇❇
Bumi sudah setengah gelap, matahari mulai terbenam, piringan matahari telah hilang keseluruhan dari cakrawala ketika Kiran sampai di ujung gang rumahnya. Mobil tidak bisa masuk ke dalam.
"Terima kasih ya, Pak." Menutup pintu mobil, tersenyum ke arah supir. Supir Ari hanya mengangguk kemudian melajukan mobilnya kembali.
Kiran berjalan dengan cepat, ingin segera sampai ke rumah. Tidak ingin ketinggalan sholat maghrib.
Kiran segera masuk ke dalam rumah, begitu ia sampai. Masuk kamar mandi kemudian sholat.
Terdengar ketukan di pintu setelah Kiran menyelesaikan salatnya. Kiran melepas mukenanya dengan cepat, memakai hijab lalu membuka pintu.
Kiran mematung seketika pintu terbuka. "Assalamualaikum, Kiran." Kiran tersenyum kecut menatap lelaki di hadapannya.
"Wa'alaikumussalam," jawabnya datar. Dadanya bergetar hebat. Aku harus bagaimana?
"Kamu kenapa kesini?" tanyanya menetralkan perasaannya.
Rangga menarik nafas pelan. "Boleh aku masuk, Kiran?"
Kiran menggeleng. "Tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan. Aku akan menikah pekan depan."
Rangga terkesiap. Matanya membulat. "Kamu serius, Kiran?" tanyanya tidak percaya.
"Tentu saja," sahutnya ketus.
"Kamu tidak bisa seperti ini, Kiran!" Rangga mencengkram bahu Kiran.
"Aku bisa. Ini hidupku. Apa hakmu?" Menepiskan tangan Rangga dari bahunya.
"Kenapa kamu jadi tega seperti ini?" menatap Kiran nanar.
Kiran membuang muka, "Siapa pun bisa berubah, tak terkecuali aku."
"Kenapa? Karena uang?" Rangga menaikkan satu sudut bibirnya ke atas.
"Tentu saja. Ari begitu mapan. Perempuan mana yang akan menolaknya," jawabnya asal.
Tangan Rangga mengepal. Rahangnya mengeras. "Kamu mau berapa? sebutkan padaku?"
Kiran tersenyum kecut. Hati kecilnya berontak. Ia merasa seperti wanita murahan yang melakukan apapun demi uang. Tapi apa pun itu, dia harus menjalankan peran ini agar Rangga percaya.
"Gak usah belagak. Kau tidak akan sanggup." Kiran ingin menampar mulutnya sendiri sekarang. Ia benci dirinya.
Rangga masih terpaku ditempatnya. Menatap Kiran tak percaya.
"Lebih baik kau pulang sekarang."
Tanpa menunggu jawaban Rangga, Kiran menutup pintu. Berlari kecil menuju kamar. Kemudian terisak pelan.
Bencilah aku, Rangga. Itu lebih baik bagimu. Kau akan bahagia dengan kebencian yang aku ciptakan. Sementara aku akan merasa berdosa dengan semua ini.
Rangga masih membeku dengan pintu yang telah tertutup di depannya. Hatinya menjerit. Ia ingin tidak percaya jika Kirannya bisa berubah. Namun fakta itulah yang kini didapatinya.
Ia merasa terhina. Ia merasa direndahkan. Demi apapun itu, ini lebih sakit dibanding dengan ketika Kiran selalu menolaknya dengan alasan ingin serius belajar.
Rangga ingin marah dan membenci Kiran. Ingin segera menghapus nama Kiran dalam hatinya. Namun pria itu tak mampu melakukannya.
Rangga tersentak ketika seorang pria paruh baya menegurnya. "Kenapa tidak diketuk, Dek? Bapak rasa, Kiran ada di rumah."
Pria paruh baya itu baru keluar dari rumahnya, mendapati Rangga melamun di depan rumah Kiran dengan pintu tertutup. Ia tidak tahu bahwa yang punya rumah baru saja menutup pintunya beberapa saat yang lalu.
Rangga menghapus sudut matanya yang basah. Menoleh ke asal suara yang sudah menyadarkannya. "Tidak usah, Pak. Saya pulang aja," katanya lemah kemudian berjalan pelan pergi dari sana.
❤❤❤💖