Azalea gadis pendiam yang bekerja disebuah penerbitan buku. Hidupnya berubah ketika dia bertemu laki-laki bernama Ray.Pada satu malam yang tidak disengaja mereka terjebak dalam jalinan cinta yang lebih intim yang mengawali hubungan terlarang. Azalea terjebak diantara pilihan yang sulit,melanjutkan hubungan atau berpisah. tapi sanggupkah dia meninggalkan Ray, laki-laki pertama yang mengenalkannya pada dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risky Rafiyani Sembiring, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu?
Ruangan itu tampak redup dengan lampu kecil diatas meja yang menjadi satu-satunya penerangan diruangan itu. Bayangan dua orang terpantul jelas di dinding ruangan yang menunjukkan keduanya sedang sibuk bergumul.
Ray menghentikan kecupannya terhadap gadis dalam pangkuannya dan kini beralih menatap dalam-dalam wajah gadis itu.
Azalea membuka mata perlahan ketika Ray tiba-tiba menghentikan permainannya,Sekarang Azalea mendapati pria itu sedang menatapnya dengan tatapan penuh gairah. keringat mengalir dari kening mereka dan sudah membasahi tubuh keduanya,bahkan dengan jarak sedekat itu Azalea bisa mendengar dengan jelas suara napas Ray yang memburu.
Mereka berdiam diri beberapa saat dengan posisi Ray di pinggir kasur dan Azalea duduk dalam pangkuannya.Pakaian mereka masih utuh, hanya kerah kemeja pria itu yang tampak tersingkap,Tentu saja mereka belum melakukan apa-apa, hanya ciuman beberapa saat yang terlalu bersemangat.
Sesuatu baru saja menyadarkan Azalea, kenapa ia ada dikamar tidur pria itu untuk kedua kalinya? bahkan keduanya baru saja melakukan ciuman gila yang tidak jauh berbeda dengan malam sebelumnya. perbedaan yang membedakannya adalah Azalea melakukannya dengan sukarela tanpa ada paksaan siapapun.
Semua berawal sore itu, langit tampak mendung dengan awan hitam yang bergumul.kini angin berhembus pelan melalui celah jendela sambil membawa aroma hujan.
Azalea sedang melamun disudut ruang baca, matanya lekat memandang keluar sana melalui jendela kaca yang berdebu.Entah apa sebenarnya yang dipikirkannya namun raut wajahnya terlihat murung. Tentu saja pikiran terjebak kepada pria yang beberapa waktu ini terus bersamanya.Ray, pria itu sudah tak menemuinya beberapa hari ini dan hanya mengabarinya dengan beberapa pesan kecil dari seluler. Ada perasaannya aneh menerpanya, namun Azalea tak mengetahui dengan pasti perasaan apa itu.sesuatu yang tak mengenakkan dan menjadi perasaan sedih yang tak menentu.Gejolak perasaan itu kadang berubah menjadi keinginan kuat untuk bertemu dengan pria itu dan terkadang juga berubah menjadi perasaan kosong yang sulit dimengerti. Dengan apa sih orang-orang menyebutnya, rindu mungkin?
Dalam Kegundahan hati yang tak tahu penyebab pastinya,tiba-tiba saja Raut wajah Azalea berubah saat melihat sebuah BMW silver berbelok menuju toko buku dan kini memasuki tempat parkir. Mobil maupun pemiliknya sama familiarnya.
Ray pria yang menjadi penyebab kegelisahan hati Azalea turun dari mobil. pria itu melirik ke sekeliling sebentar, pandangannya akhirnya berhenti tepat kearah gadis dibalik jendela yang juga sedang memandanginya dengan lekat.
Ray tersenyum sambil melambaikan tangan, tidak ada ekspresi bersalah sedikit pun terlihat dari wajahnya.
Tanpa menunggu lama, Azalea membalas senyuman pria itu yang juga diikuti lambaian kecil. Wajah gadis itu terlihat sumringah dan sangat berbeda dengan ekspresinya tadi. seolah Azalea bukan gadis yang beberapa saat lalu tampak gundah dan menyedihkan karena menunggu kedatangan pria itu. Bagaimana bisa kehadiran Ray bisa merubahnya se-drastis itu.
Jam menunjukkan pukul enam lebih, Ray masih duduk di teras sebuah toko buku. Matanya masih menoleh lekat kearah gadis didalam sana yang tampak sibuk membereskan mejanya.setelah merasa lehernya sedikit pegal pria itu kembali pada posisi awalnya, menatap kearah depan sana.
Ray sudah tidak pergi ketempat itu selama beberapa hari ini,hal itu disebabkan ia terlalu sibuk untuk mengurus beberapa pekerjaan mendesak dikantornya belakangan ini.Namun belum berapa lama tak bertemu Azalea,Ray sudah merindukannya saja. Dan hari ini adalah puncaknya, ketika ia meninggalkan rapat penting dengan kliennya hanya untuk menemui gadis itu.Ray bahkan tak bisa mengingat kapan terakhir kali ia bertindak segila itu.
Ray awalnya berniat mengajak gadis itu pergi makan malam tetapi sepertinya cuaca tak mendukungnya. Terlihat dari hujan yang turun sangat lebat dan belum berhenti sedikit pun sejak ia tiba ditempat itu, seolah alam sedang mengingatkannya untuk tidak bertindak lebih jauh. Tetapi begitulah cinta, kadang hanya orang yang merasakannya yang dapat8 memahaminya.
"hai, pak.. "
suara pelan dan lembut menyadarkan Ray dari lamunannya. Ray menoleh cepat dan melihat Azalea sudah berdiri disampingnya dengan raut bingung.
"kok, belum pulang? " tanya Azalea sambil memperbaiki posisi tas selempangnya.
Ray bangkit dari duduknya sambil memasang ekspresi kecewa
" Aku udah nungguin kamu lama, lea. kok malah disuruh pulang"jawab Ray tak terima
"Aku kira udah pulang, soalnya hujan lebat banget" ucap Azalea sambil menatap kearah langit.
Ray tak segera menjawab dan kembali melemparkan pandang kearah gadis itu. Azalea kini berdiri tepat dibatas teras dan tampak sibuk memainkan air hujan ditangannya. senyum kecil terukir diwajah cantiknya, begitu indah, begitu menarik, begitu mendebarkan.
Ray tertegun, bagaimana bisa gadis secantik itu menyimpan begitu banyak kesedihan. usianya bahkan belum menginjak dua puluh tahun tapi sepertinya gadis itu sudah menanggung banyak hal.
"leaa," panggil Ray lembut
"hmmm" Azalea menjawab pelan tanpa berniat menoleh kearah pria yang memanggilnya
"Mau makan malam? Aku tahu restoran enak disini."
Azalea menoleh sedikit sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
"Maaf pak, Aku gak suka keramaian. lagian hujannya deras sekali, Aku makan malam dirumah aja" tolak gadis itu dan membuat Ray sedikit kecewa.
Membiarkan Azalea pergi berarti perjuangannya untuk bertemu dengan gadis itu akan berakhir sia-sia.Ray bahkan rela meluangkan waktunya yang sibuk hanya untuk menghabiskan waktu dengan Azalea, jadi ia tak boleh membiarkan gadis itu pergi begitu saja, harus ada sesuatu yang menahannya.Apa pun itu.
"Aku masakin, deh." tawar Ray asal-asalan berharap gadis itu menyetujuinya.
"Mau masak dimana? "tanya Azalea terlihat polos.
"Dirumahku aja" jawab Ray singkat dan berhasil membuat Azalea menoleh cepat kearahnya.
Gadis itu mengkerutkan dahi, terlihat bingung dengan alis yang naik sebelah.
Ray menyadari perkataan terakhirnya sepertinya mengundang salah paham gadis itu. terbukti dari ekspresinya yang tampak kebingungan.Tatapan gadis itu sekarang penuh kecurigaan seolah mencari niat terselubung dari pria didepannya.
Ray menggelang cepat dan berusaha meluruskan kesalahpahaman Azalea.
"Aku gak bermaksud apa-apa kok" jelas Ray yang terlihat lebih panik daripada Azalea
"kalau kamu gak mau, gak apa-apa kok, lea. sungguh aku gak berniat macam-macam kok" ucap Ray lagi dan terdengar sungguh-sungguh.
Azalea tertawa kecil melihat Ray yang terlihat begitu panik.
"Aku tau kok, bapak gak mungkin macam-macam kan. "
Ray menghela napas lega ketika melihat respon Azalea yang diluar perkiraannya.Ray kira gadis itu akan marah karena ajakannya tadi, tapi seperti nya gadis kecil itu tak terlalu memperdulikannya.Meski begitu Ray tak berhenti mengutuk dirinya sendiri dalam hati, Bagaimana bisa ia bertindak ceroboh dengan mengajak gadis itu pergi kerumahnya lagi,setelah apa yang dilakukannya tempo lalu kepada gadis itu. Tentu saja gadis itu akan menolak.
Azalea dan Ray terdiam beberapa saat dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku mau makan masakan bapak.. " ucap Azalea pelan hampir tak terdengar
Ray menoleh cepat, tak percaya.