"Kau tidak punya pilihan lain selain menikah dengan ku Embun."ucap Alfaro.
Sementara gadis yang kini tengah menundukkan kepalanya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Hanya karena satu peristiwa yang terjadi di malam kelahirannya gadis itu harus terjebak bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Seharian dibawa ke tempat ini dan itu membuat Embun merasa sangat lelah hingga akhirnya ia terlelap dalam tidurnya di perjalanan pulang.
Alfaro yang melihat Embun terlelap dalam tidurnya pun langsung dia selimuti dengan jas yang ia kenakan saat itu juga dia menghentikan laju mobilnya dan melepaskan jas yang ia kenakan dan langsung menyelimuti Embun dengan jas itu.
"Sayang maaf sikapku yang terkadang berlebihan aku sangat mencintaimu."ucap Alfaro.
Alfaro pun kembali membawa Embun ke rumah mereka.
Setelah tiba dan mereka membersihkan diri bersama, Alfaro pun meminta Embun untuk berbaring bersama dengan nya.
Sementara itu sejak tadi siang ponsel Alfaro dimatikan hingga dia tidak menerima pesanan atau panggilan termasuk memeriksa email yang masuk.
Dia sengaja ingin menikmati waktu nya bersama wanita yang sangat ia cintai sebelum dia benar-benar menikah dengan wanita yang akan hidup selamanya dengannya seumur hidup nya nanti.
Ya, Alfaro sudah kembali dijodohkan dengan gadis lain yang kini masih berada di luar negeri.
Alfaro pun tidak bisa menolak perjodohan itu karena dia adalah anak sah yang ada di keluarga nya yang menjadi pewaris tahta kerajaan bisnis keluarga Wijaya.
"Babe aku berharap aku bisa mengubah dunia ku agar aku bisa membawa mu kedalam nya."ucap Alfaro.
"Hmm..."lirih Embun yang kini berada di dalam dekapan Alfaro.
"Babe apa kamu mencintai ku?"tanya Alfaro.
"Al cinta atau tidak kita tetap akan berpisah bukan jadi semua itu tidak penting."ucap Embun yang membuat Alfaro menggeser tubuhnya agar bisa menatap wajah Embun yang menyebut cinta itu tidak penting.
"Babe kenapa jawaban mu seperti itu."ucap Alfaro.
"Tapi itu fakta nya Al, aku cinta kamu atau tidak kita tetap tidak akan lagi bersama setelah kontrak kita selesai."ucap Embun.
"Tapi setidaknya aku harus tau kamu mencintai aku atau tidak babe."ujar Alfaro lagi.
"Al jika kamu katakan bahwa aku mencintaimu apa kamu akan mengubah status pernikahan kita menjadi pernikahan resmi atau tidak?"tanya Embun.
"Aku akan pertimbangkan itu babe."ujar Alfaro yang sudah tidak tahan ingin mendengar jawaban pasti dari wanita yang sangat ia cintai.
"Aku mencintaimu Al."ucap Embun yang kini membuat Alfaro bahagia dan langsung meraup bibir Azura sampai ciuman itu berujung percintaan dimana Alfaro berulang kali menanam benih nya di dalam rahim Alfaro yang kini memenuhi rahim Embun saat masa suburnya itu.
Embun pun sudah pasrah jika nanti dia mengandung anak dari pria yang selama ini menjerat dirinya untuk terus berada di sisinya sampai kontrak itu selesai.
Mereka pun terlelap dalam tidurnya hingga pagi menjelma, saat ini cuaca begitu mendung dan Alfaro nekad pergi untuk menuju ke luar kota setelah ia pamit pada Embun dan berpesan untuk selalu menunggu dirinya kembali.
Embun merasakan keanehan dari sikap Alfaro yang terlihat enggan untuk pergi tapi dia harus menyelesaikan urusan pekerjaan nya di luar kota saat ini hingga satu minggu kedepan.
Embun pun hanya bisa berdoa agar semua baik-baik saja dan kekhawatiran nya tidak terbukti. Wanita itu langsung bergegas menuju boutique setelah Alfaro pergi dari rumah.
Tapi baru saja dua jam Embun berada di boutique tersebut, dia dikagetkan dengan berita kecelakaan yang melibatkan suami kontrak nya Alfaro yang kini dilarikan ke rumah sakit terbesar yang ada di kota tujuan Alfaro.
Tubuh Embun bergetar hebat saat itu sampai Ciko datang untuk memastikan semuanya dia langsung memeluk Embun yang sedari tadi menangis sesenggukan dengan tubuh bergetar hebat.
"Uncle hiks Alfaro tidak meninggal kan uncle, dia tidak apa-apa kan uncle hiks..."pertanyaan Embun yang kini dipeluk erat oleh Ciko tidak mendapatkan jawaban apapun dari Ciko mengingat kecelakaan yang dialami oleh Alfaro sangat serius hingga mobil tersebut kerusakan parah dan hampir seluruh bagian mobil nya ringsek.
"Kita tunggu berita selanjutnya Embun, kita berdoa saja semoga dia tetap selamat meskipun itu mustahil."ucap Ciko.
"Aku ingin kesana uncle, aku ingin kesana."ucap Embun lagi.
"Sayang percuma juga kita kesana karena kamu juga tidak akan bisa bertemu dengan Alfaro karena rumah sakit itu sudah pasti akan dijaga ketat dan siapapun tidak akan bisa masuk kesana kamu tidak tahu keluarga Alfaro seperti apa?"ucap Ciko.
"Hiks... aku hanya ingin melihat keadaan nya uncle, aku takut Alfaro kenapa-napa."ucap Embun.
"Iya tapi kita kesana sebagai apa sayang, kita bukan kerabat ataupun keluarga mereka yang jelas-jelas tidak akan pernah diterima di sana oleh mereka."ucap Ciko.
"Al aku mencintaimu. Bukankah pertanyaan mu sudah aku jawab tapi kenapa kamu seperti ini, Al aku harap kamu akan baik-baik saja."ucap Embun yang kini hanya bisa berdoa dalam hati semoga Alfaro selamat.
"Ikut uncle pulang."ucap Ciko yang kini membawa Embun pulang ke rumahnya.
"Uncle aku ingin pulang ke rumah kami Alfaro bilang bahwa aku harus menunggu dia sampai dia kembali."ucap Embun.
"Sayang kamu tidak aman berada di sana karena suatu hari nanti kelurga Wijaya akan mengetahui tentang keberadaan mu."ucap Ciko.
Embun pun akhirnya hanya datang ke rumah itu untuk mengambil semua barang-barang nya dan juga beberapa barang milik Alfaro yang tidak dibawa oleh nya saat pergi termasuk sebuah kalung yang sering pria itu kenakan yang sempat ia pasangkan di leher Embun.
Tapi tidak dengan barang berharga lainnya selain foto kebersamaan mereka.
Embun kini tinggal bersama Ciko di rumah peninggalan nenek nya, dia tidak tau sampai kapan dia akan disana.
Sementara Alfaro sendiri kini baru saja keluar dari ruang operasi setelah ia berjam-jam lamanya berada di ruangan tersebut.
Alfaro mengalami patah tulang di bagian tangan kiri nya dan luka-luka di bagian kepala dan patahan di satu tulang rusuknya.
Operasi bedah itu dilakukan secara serempak karena nyawa Alfaro harus diselamatkan, beruntung nya disana dokter spesialis bedah yang merupakan ahli di bagian tertentu pun ada hingga nyawa Alfaro bisa terselamatkan meskipun kini masih dalam masa kritis setidaknya harapan hidup Alfaro cukup besar.
Alfaro berada di ruang perawatan intensif dia masih di pantau oleh dokter spesialis yang berjaga di sana dan atas permintaan keluarga besar rumah sakit itu dikosongkan dan pasien yang ada di sana dikirim ke rumah sakit lain semua itu demi keamanan dan kenyamanan Alfaro dan keluarga yang kini berada di sana.
Kedua orang tua Alfaro masih terlihat sangat khawatir saat ini, bahkan keduanya terus menatap kearah jendela kaca ruang ICU tersebut.
...🪵🪵🪵...
Lima bulan sudah Embun tinggal bersama Ciko, dia masih terus berharap Alfaro bisa kembali mengingat dirinya kini tengah hamil lima lima bulan.
Embun sudah berulang kali mendatangi rumah milik Alfaro yang selama ini ditempati oleh nya, tapi tidak ada satupun tanda-tanda bahwa Alfaro datang kesana.
Bahkan sejak kecelakaan itu terjadi sampai saat ini Alfaro tidak pernah terdengar kabarnya lagi.
Embun masih mengelola boutique tersebut karena itu juga hasil kerja keras nya selain modal usaha yang diberikan oleh Alfaro padanya.
Kegiatan Embun masih dihabiskan dengan mendesain baju, dan merancang nya secara langsung bersama karyawan nya yang kini semakin bertambah.
Seakan tuhan sedang berbaik hati padanya karena usahanya sudah membuahkan hasil.
Embun yang kini dibantu oleh Ciko dalam mengelola keuangan nya dia sudah membeli sebuah hunian yang sangat nyaman bagi Embun meskipun rumah nya tidak semewah rumah yang dibelikan Alfaro, tapi setidaknya itu akan menjadi tempat tinggal nya setelah ia melahirkan nanti.
Beruntung nya Ciko selalu mendampingi dirinya dalam keadaan apapun hingga saat Embun mengadakan syukuran rumah baru sekaligus tujuh bulanan kehamilan nya yang kini dihadiri oleh tetangga dekat dan karyawan boutique nya itu.
Suasana terasa khidmat meskipun tetes air mata Embun sesekali jatuh membasahi pipi saat mengingat bahwa ayah si jabang bayi tidak ada di sisinya.
Sepasang bayi kembar di dalam perutnya membuat Embun kembali tegar, apalagi Ciko selalu menguatkan dirinya bahwa nanti Embun tidak akan sendirian lagi di dunia ini ada mereka yang akan menemani hidup Embun kedepannya nanti.
Sementara itu bersamaan dengan prosesi tujuh bulanan, Alfaro muncul di media bersama keluarga untuk mengumumkan tanggal pernikahan nya dengan wanita cantik bernama Fabiola tengker anak dari tuan Yoga Tengker yang merupakan teman kuliah tuan Arkan Wijaya.
Fabiola satu tahun lebih muda dari Alfaro dan lima tahun lebih tua dari Embun, wanita itu terlihat sangat anggun dan elegan dihadapan wartawan yang kini tengah mengabadikan momen kebersamaan mereka.
Alfaro pun terlihat menatap wanita itu dengan penuh perasaan, dan mereka yang hadir di sana menobatkan keduanya sebagai pasangan paling serasi di tahun ini.
Baik media cetak atau elektronik semua sedang memberitakan kabar baik tersebut, dan Embun hanya bisa berpegangan erat pada kursi kayu yang ada di rumah nya itu saat dia melihat siaran langsung kabar rencana pernikahan Alfaro dengan Fabiola saat ini.
Embun pun sekuat tenaga menahan perih di hati nya melihat pria yang sangat ia cintai kini tengah berbahagia di sana.
"Aku tau aku tidak punya ikatan resmi yang bisa membuat ku terus berada di sisimu Al, tapi rasanya sungguh sangat menyakitkan."lirih Embun yang kini mencoba untuk tetap tegar dan terus menarik nafas dan menghembuskan nya saat itu juga.
Hingga keesokan harinya Ciko tau kenapa mata Embun sedikit bengkak dan wajah nya sembab karena dia juga sudah melihat kabar tersebut.
Embun tidak banyak bicara saat Ciko datang ke rumah nya, dia hanya menawari Ciko sarapan pagi tapi Ciko menolak hal itu karena dia sudah sarapan.
"Yang sabar Embun uncle yakin kelak kamu pun akan mendapatkan kebahagiaan selain dengan kedua anak mu ini."ucap Ciko.
"Semoga saja uncle, aku terkesan seperti wanita tidak tau diri jika aku terus berharap dia kembali."ucap Embun yang kini tersenyum kecut.
"Semua itu wajar Embun sayang karena kamu pun memiliki ikatan yang tidak akan pernah putus dengan nya saat ini yaitu anak kalian."ucap Ciko.
"Tidak uncle aku tidak ingin dia tau tentang keberadaan mereka."ucap Embun yang kini sudah bangkit dan bersiap untuk pergi ke boutique diantar oleh Ciko.
"Embun uncle ingin memberitahu kamu sesuatu tapi uncle harap kamu juga tidak menjadikan hal ini sebagai beban fikiran. Uncle mengalami masalah di perusahan dan terpaksa rumah peninggalan grandma uncle jual untuk menutupi masalah tersebut. Semua ini terjadi akibat perbuatan kakak tiri mu yang selalu bertindak semaunya."ucap Ciko.
"Mereka selalu berulah karena daddy tidak pernah bisa bersikap tegas pada mereka selama ratunya itu tidak memberikan kesempatan pada daddy untuk mendidik mereka dengan baik selama ini kehadiran ku selalu dijadikan alasan dari kelemahan daddy, itulah kenapa mereka tidak ada satupun yang menghormati peraturan dari daddy dan aku pun pergi karena sudah tidak mau lagi dijadikan sebagai kelemahan nya."ucap Embun.
"Ya kau benar, dan sekarang kakak perempuan mu mendekam di penjara karena telah menabrak saingan cinta nya hingga tewas, sebentar lagi kejatuhan mereka akan alami jika mereka tidak bisa berubah."ucap Ciko.
"Hmm..."lirih Embun sambil mengangguk pelan.
"Embun ikut uncle ke luar negeri ya, uncle tidak bisa menjaga mu jika kita berjauhan."ucap Ciko.
"Uncle akan pergi lagi?"ucap Embun yang kini terlihat kaget dan sedih.
"Aku harus mengurus perusahan milik ku disana, kita bisa buka boutique disana jika kamu mau."ucap Ciko.
"Uncle rasanya itu tidak mungkin, belum lagi saat ini aku sedang hamil tua."ucap Embun.
"Tapi siapa yang akan membantu mu menghadapi persalinan nanti jika aku tidak disisimu?"ucap Ciko yang terlihat sangat khawatir.
"Semoga saja semua nya dimudahkan uncle, aku tidak mungkin meninggalkan semua yang sudah aku raih dengan susah payah ini."ucap Embun.
"Baiklah jika seperti itu sayang jangan pernah matikan handphone mu, setiap hari setiap saat jika kamu butuh apapun hubungi uncle, dan mulai besok asisten rumah grandma akan tinggal bersama mu untuk mengurus segala keperluan mu."ucap Ciko yang dibalas anggukan kepala oleh Embun.
Ciko pun sedikit merasa lega setidaknya ada orang yang akan menjadi asisten nya untuk mengurus segala keperluan Embun sebelum dan sesudah melahirkan nantinya.
Hingga Ciko pergi ke negara asal keluarga nya itu, Embun sempat ngotot untuk ikut mengantar Ciko hingga ke bandara dan Ciko pun tidak bisa menolak keinginan Embun hingga saat Embun berpapasan dengan Alfaro yang kini menatap kearah nya.
"Embun hati-hati di jalan, ingat untuk menghubungi ku jika ada masalah aku pergi dulu."ucap Ciko yang kini memeluk erat Embun kemudian mengusap puncak kepala nya dengan lembut.
"Hati-hati di jalan uncle."ucap Embun.
"Ya sayang kamu juga hati-hati, gunakan mobil itu untuk berpergian."ucap Ciko yang sengaja memberikan mobil Alphard miliknya untuk Embun agar keponakan nya bisa menggunakan nya sehari-hari.
Sementara itu tatapan mata Alfaro yang kini tengah duduk di ruang tunggu pun masih tertuju pada Embun yang kini pergi dari area bandara dengan menggunakan mobil tersebut.
ajaran dari mana itu ????????